<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5343438090319808433</id><updated>2012-02-10T09:27:09.026-08:00</updated><category term='Budidaya Ikan'/><category term='Budidaya Kecipir'/><category term='Budidaya Lebah'/><category term='Tanaman Obat'/><category term='Budidaya Kodok'/><category term='Budidaya Terong'/><category term='Budidaya Kacang'/><category term='Budidaya Rumput Laut'/><category term='Budidaya Udang'/><category term='Budidaya Tebu'/><category term='Budidaya Sapi'/><category term='Budidaya Kunyit'/><category term='Budidaya Pertanian'/><category term='Budidaya Jagung'/><category term='Budidaya Jamur'/><category term='Budidaya Tomat'/><category term='Budidaya Cabe'/><category term='Budidaya Lada'/><category term='Budidaya Timun'/><category term='Lain-lain'/><category term='Budidaya Sayuran'/><category term='Budidaya Burung'/><category term='Budidaya Belut'/><category term='Budidaya Wortel'/><category term='Budidaya Sukun'/><category term='Budidaya Jati'/><category term='Budidaya Sawit'/><category term='Budidaya Singkong'/><category term='Budidaya Itik'/><category term='Budidaya Buah'/><category term='Tanaman Lada'/><category term='Budidaya Jahe'/><category term='Budidaya Ayam'/><title type='text'>Budidaya Ikan  |  Budidaya Tanaman</title><subtitle type='html'>Kumpulan budidaya Pertanian, budidaya ikan lele, budidaya peternakan, budidaya tanaman,  perikanan, dan lain-lain.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://budidaya-di.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Budidaya Pertanian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02468176543501833983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>65</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5343438090319808433.post-5730826249388529934</id><published>2010-12-11T18:17:00.000-08:00</published><updated>2010-12-13T07:35:34.648-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Singkong'/><title type='text'>Budidaya Singkong</title><content type='html'>&lt;b&gt;Budidaya Singkong&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Singkong yang juga dikenal sebagai ketela pohon atau ubi kayu, adalah pohon tahunan tropika dan subtropika dari keluarga Euphorbiaceae. Umbinya dikenal luas sebagai makanan pokok penghasil karbohidrat dan daunnya sebagai sayuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Syarat Tumbuh Tanaman Singkong&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Tanaman Singkong tumbuh optimal pada ketinggian antara 10-700m dpl. Tanah yang sesuai adalah tanah yang berstruktur remah, gembur, tidak liat juga tidak poros. Selain itu kaya akan unsure hara. Jenis tanah yang sesuai adalah tanah alluvial, latosol, podsolik merah kuning, mediteran, grumosol dan andosol. Sementara itu pH yang dibutuhkan antara 4,5-8, dan untuk pH idealnya adalah 5,8.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Curah hujan yang yang diperlukan antara 1.500 – 2500 mm/tahun. Kelembaban udara optimal untuuk tanaman antara 60%-65%. Suhu udara minimal 10’C. Kebutuhan akan sinar matahari sekitar 10 jam tiap hari. Hidup tanpa naungan.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Persiapan Bibit Singkong&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ubu kayu paling mudah untuk diperbanyak. Cara yang lazim digunakan adalah perbanyakan dengan cara setek batang dari batang panenan sebelumnya. Setek yang baik diambil dari batang bagian tengah tanaman agar matanya tidak terlalu tua maupun tidak terlalu tua. Batang yang baik berdiameter 2-3 cm. Pemotongan batang stek dapat dilakukan dengan menggunakan pisau atau sabit yang tajam dan steril. Jangan memakai gergaji untuk memotongnya karena gesekan gergaji akan menimbulkan panas yang akan merusak bagian pangkal dari batang. Potongan batang untuk setek yang baik adala 3-4 ruas mata atau 15-20 cm. Bagian bawah dari batang stek dipotong miring dengan maksud untuk menambah dan memperluas daerah perakaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Persiapan Lahan &lt;a href="http://budidaya-di.blogspot.com/2010/12/budidaya-singkong.html"&gt;Budidaya Singkong&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Untuk menanam ubi kayu ini tidak begitu sulit. Untuk daerah yang mempunyai curah hujan cukup tinggi ataupun terlalu banyak air, penanaman dilakukan dalam sebuah guludan atau bedeng. Selain itu, dengan menggunakan guludan memudahkan kita dalam pemanenan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk daerah yang mempunyai curah hujan sedikit atau kering, penanaman tidak perlu dilakukan dengan membuat guludan. Penanaman dapat dilakukan pada tanah yang rata. Tanah di cangkul dan di remahkan kemudian diratakan dan pengguludan dapat dilakukan setelah tanaman berumur 2-3 bulan setelah tanam. Pada saat perataan dapat pula disebarkan pupuk kandang atau kompos untuk penambahan unsure hara. Pengolahan tanah yang sempurna diikuti dengan pembuatan guludan yang dibuat searah dengan kontur tanah sebagai upaya pengendalian erosi. Selain itu dengan pembuatan guludan juga dapat memaksimalkan hasil dibandingkan dengan system tanpa olah tanah setelah tanam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Penanaman Ubi Kayu&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Waktu penanaman yang baik dilakukan pada awal musim kering atau kemarau dengan maksud untuk hasil penanaman dapat dipanen pada awal musim hujan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Batang yang telah dipotong tadi kemudian ditanamkan dalam tanah. Jangan sampai terbalik, tanda yang dapat kita lihat dari arah mata dari tiap ruas batang yang disetek. Arah mata menuju ke atas dibawahnya bekas tangkai daun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batang setek di tanam agak miring dengan kedalaman 8-12 cm. Pada lahan tanaman yang subur dapat digunakan populasi tanaman 10.000 batang/ha dan untuk lahan yang kurang begitu subur dapat digunakan populasi 14.500 batang/ha. Jarak tanam dengan system monokultur adalah 100 x 50 cm. Untuk system tumpang sari, penanaman dapat menyesuaikan dengan lahan dan tanaman lainnya.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Pemeliharaan Tanaman Singkong&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Tanaman ini termasuk tanaman yang dapat mandiri sehingga, tanaman ini menjadi mudah dalam pemeliharaanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Penyulaman dapat kita lakukan 2-3 minggu setelah tanam. Bibit penyulaman seharusnya sudah disediakan ketika pengadaan bibit tanaman yang dapat pula ditanam pada pinggir lahan pertanaman. Hal ini untuk membuat tanaman ini seragam dalam pemanennya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar tanaman dapat tumbuh baik dan optimal dilakukan dengan pengurangan mata tunas saat awal tunas itu muncul atau 1-1,5 bulan setelah tanam. Sisakan maksimal 2 tunas yang paling baik dan sehat dalam satu tanaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyiangan dilakukan pada umur 2-3 bulan setelah tanam dan menjelang panen. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan pemanenan serta mencegah kehilangan hasil panen selain mengendalikan populasi gulma yang tumbuh. Selain itu saat penyiangan dilakukan dengan membumbuni batang tanaman sehingga dapat menjadi guludan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Hama dan penyakit Tanaman Singkong&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Hama yang sering menyerang tanaman ini biasanya adalah hama tungau merah (Tetranus urticae) dan serangan bakteri layu (Xanthomonas campestis) serta penyakit Hawar Daun (Cassava Bacterial Bligh / CBB)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Panen Singkong&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Kriteria ubi kayu yang optimal adalah pada saaat kadar pati optimal. Yakni ketika tanaman itu berumur 6-9 bulan apabila untuk konsumsi. Untuk pembuatan produk seperti tepung sebaiknya ubi kayu dipanen pada umur lebih dari 10 bulan, dan itu juga tergantung akan varietas yang ditanam. Ciri saat panen adalah warna daun menguning dan banya yang rontok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara pemanenan dilakukan dengan membuat atau memangkas batang ubi kayu terlebih dahulu dengan tetap meninggalkan batang sekitar 15 cm untuk mempermudah pencabutan. Batang dicabut dengan tangan atau alat pengungkit dari batang kayu atau linggis. Hindari pemakaian cangkul, karena permukaannya yang lebar yang tanpa disadari dapat memotong ubi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umbi yang baik setelah panen hanya berumu 1-3 hari tergantung penyimpanan. Setelah itu umbi sudah melakukan banyak perombakan kalori. Bahkan, kadang umbi berwarna kebiruan apabila kandungan HCNnya tinggi. Dan munculnya warna ini sangat mempengaruhi kualitas tepung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5343438090319808433-5730826249388529934?l=budidaya-di.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://budidaya-di.blogspot.com/feeds/5730826249388529934/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2010/12/budidaya-singkong.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/5730826249388529934'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/5730826249388529934'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2010/12/budidaya-singkong.html' title='Budidaya Singkong'/><author><name>Budidaya Pertanian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02468176543501833983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5343438090319808433.post-5716444241257711405</id><published>2010-12-02T19:58:00.000-08:00</published><updated>2010-12-13T07:35:50.096-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Ikan'/><title type='text'>Budidaya Ikan Mujair</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Budidaya Ikan Mujair&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Mujair merupakan sejenis ikan air tawar yang biasa dikonsumsi. Penyebaran alami ikan ini adalah perairan Afrika dan di Indonesia&amp;nbsp; pertama kali ditemukan oleh Pak Mujair di muara Sungai Serang pantai selatan Blitar, Jawa Timur pada tahun 1939. Meski masih menjadi misteri, bagaimana ikan itu bisa sampai ke muara terpencil di selatan Blitar, tak urung ikan tersebut dinamai ‘mujair’ untuk mengenang sang penemu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;u&gt;&lt;b&gt;Budidaya Ikan Mujair&lt;/b&gt;&lt;/u&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pedoman Teknis Budidaya Mujair&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kolam&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sarana berupa kolam yang perlu disediakan dalam usaha budidaya ikanmujair tergantung dari sistim pemeliharaannya (sistim 1 kolam, 2 kolam dlsb). Adapun jenis kolam yang umum dipergunakan dalam budidaya ikan mujair antara lain:&lt;br /&gt;1). Kolam pemeliharaan induk/kolam pemijahan&lt;br /&gt;Kolam ini berfungsi sebagai kolam pemijahan, kolam sebaiknya berupa kolam tanah yang luasnya 50-100 meter persegi dan kepadatan kolam induk hanya 2 ekor/m2. Adapun syarat kolam pemijahan adalah suhu air berkisar antara 20-22 derajat C; kedalaman air 40-60 cm; dasar kolam sebaiknya berpasir.&lt;br /&gt;2). Kolam pemeliharaan benih/kolam pendederan&lt;br /&gt;Luas kolam tidak lebih dari 50-100 meter persegi. Kedalaman air kolam antara 30-50 cm. Kepadatan sebaiknya 5-50 ekor/meter persegi. Lama pemeliharaan di dalam kolam pendederan/ipukan antara 3-4 minggu, pada saat benih ikan berukuran 3-5 cm.&lt;br /&gt;3). Kolam pembesaran&lt;br /&gt;Kolam pembesaran berfungsi sebagai tempat untuk memelihara dan membesarkan benih selepas dari kolam pendederan. Adakalanya dalam pemeliharaan ini diperlukan beberapa kolam pembesaran, yaitu:&lt;br /&gt;- Kolam pembesaran tahap I berfungsi untuk memelihara benih ikan selepas dari kolam pendederan. Kolam ini sebaiknya berjumlah antara 2-4 buah dengan luas maksimum 250-500 meter persegi/kolam.&lt;br /&gt;Pembesaran tahap I ini tidak dianjurkan memakai kolam semen, sebab benih ukuran ini memerlukan ruang yang luas. Setelah benih menjadi gelondongan kecil maka benih memasuki pembesaran tahap kedua atau langsung dijual kepada pera petani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Kolam pembesaran tahap II berfungsi untuk memelihara benih gelondongan besar. Kolam dapat berupa kolam tanah atau sawah.&lt;br /&gt;Keramba apung juga dapat digunakan dengan mata jaring 1,25–1,5 cm.&lt;br /&gt;Jumlah penebaran pembesaran tahap II sebaiknya tidak lebih dari 10 ekor/meter persegi.&lt;br /&gt;- Pembesaran tahap III berfungsi untuk membesarkan benih. Diperlukan kolam tanah antara 80-100 cm dengan luas 500-2.000 meter persegi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4). Kolam/tempat pemberokan&lt;br /&gt;Merupakan tempat pembersihan ikan sebelum dipasarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Persiapan Media Budidaya Mujair&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan persiapan adalah melakukan penyiapan media untuk pemeliharaan ikan, terutama mengenai pengeringan, pemupukan dan lain-lain.Dalam menyiapkan media pemeliharaan ini, yang perlu dilakukan adalah pengeringan kolam selama beberapa hari, lalu dilakukan pengapuran untuk memberantas hama dan ikan-ikan liar sebanyak 25-200 gram/meter persegi, diberi pemupukan berupa pupuk buatan, yaitu urea dan TSP masing-masing dengan dosis 50-700 gram/meter persegi, bisa juga ditambahkan pupuk buatan yang berupa urea dan TSP masing-masing dengan dosis 15 gram dan 10 gram/meter persegi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pembibitan Ikan Mujair&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Untuk menyiapkan bibit ikan mujair yang akan dipelihara, perlu diperhatikan hal-hal penyiapan media pemeliharaan, pemilihan dan pemeliharaan induk, penetasan dan persyaratan bibit, ciri-ciri bibit dan induk unggul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Pemilihan Induk&lt;br /&gt;Ciri-ciri induk bibit mujair yang unggul adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;a. Mampu memproduksi benih dalam jumlah yang besar dengan kwalitas yang tinggi.&lt;br /&gt;b. Pertumbuhannya sangat cepat.&lt;br /&gt;c. Sangat responsif terhadap makanan buatan yang diberikan.&lt;br /&gt;d. Resisten terhadap serangan hama, parasit dan penyakit.&lt;br /&gt;e. Dapat hidup dan tumbuh baik pada lingkungan perairan yang relatif buruk.&lt;br /&gt;f. Ukuran induk yang baik untuk dipijahkan yaitu 100 gram lebih per ekornya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun ciri-ciri untuk membedakan induk jantan dan induk betina adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;a. Betina&lt;br /&gt;- Terdapat 3 buah lubang pada urogenetial yaitu: dubur, lubang pengeluaran telur dan lubang urine.&lt;br /&gt;- Ujung sirip berwarna kemerah-merahan pucat tidak jelas.&lt;br /&gt;- Warna perut lebih putih.&lt;br /&gt;- Warna dagu putih.&lt;br /&gt;- Jika perut distriping tidak mengeluarkan cairan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Jantan&lt;br /&gt;- Pada alat urogenetial terdapat 2 buah lubang yaitu: anus dan lubang sperma merangkap lubang urine.&lt;br /&gt;- Ujung sirip berwarna kemerah-merahan terang dan jelas.&lt;br /&gt;- Warna perut lebih gelap/kehitam-hitaman.&lt;br /&gt;- Warna dagu kehitam-hitaman dan kemerah-merahan.&lt;br /&gt;- Jika perut distriping mengeluarkan cairan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembibitan ikan mujair dapat dilakukan dengan 3 cara, yaitu:&lt;br /&gt;a. Sistim satu kolam&lt;br /&gt;Pada sistim ini kolam pemijahan/pembenihan disatukan dengan kolam pendederan/ pemeliharaan anak. Setelah dilakukan persiapan media pembibitan, tebarkan induk jantan dan betina dengan perbandingan 1:2 atau 1:4 dengan jumlah kepadatan 2 pasang/10 meter persegi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pamanenan dilakukan setiap 2 minggu sekali.&lt;br /&gt;b. Sistem dua kolam&lt;br /&gt;Pada sistim ini proses pemijahan dan pendederan dilakukan pada kolam terpisah, dengan perbandingan luas kolam pemijahan dengan kolam pendederan adalah 1:2 atau 1:4. Dasar kolam pendederan harus lebih rendah dari dasar kolam lainnya agar aliran air cukup deras mengalir dari kolam pemijahan ke kolam pendederan. Pada pintu kedua kolam tersebut dipasang saringan kasar agar hanya anak-anak ikan saja yang dapat lewat. Jumlah dan kepadatan induk jantan dan betina yang disebarkan sama dengan sistim satu kolam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Sistim platform&lt;br /&gt;Pada sistim ini kolam dibagi dalam 4 bagian, yaitu kolam pertama sebagai tempat induk jantan dan betina bertemu atau tempat pemijahan. Kolam kedua tempat induk betina dimana disekat oleh kisi atau krei bambu dengan ukuran lubang-lubang sebesar badan induk betina sehingga hanya induk betina yang dapat lolos ke kolam kedua ini. Kolam ketiga merupakan temapt pelepasan larva dan temapat yang ke empat adalah tempat pendederan. Persiapan media dan jumlah induk yang dilepas sama dengan sistim yang pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pembenihan Ikan Mujair&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pemijahan dan penetasan ikan mujair berlangsung sepanjang tahun pada kolam pemijahan dan tidak memerlukan lingkungan pemijahan secara khusus. Hal yang perlu dilakukan adalah penyiapan media pemeliharaan seperti pengerikan pengapuran dan pemupukan. Ketinggian air di kolam dipertahankan sekitar 50 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menambah tingkat produkivitas dan kesuburan, maka diberikan makanan tambahan dengan komposisi sebagai berikut: tepung ikan 25%, tepung kopra 10% dan dedak halus sebesar 65%. Komposisi ransum ini digunakan dalam usaha budidaya ikan mujair secara komersial. Dapat juga diberi makanan yang berupa pellet yang berkadar protein 20-30% dengan dosis 2-3% dari berat populasi per hari, diberikan sebanyak 2 kali/hari yaitu pada pagi dan sore hari. Pemijahan akan terjadi setelah induk jantan membuat lubang sarang yang berupa cekungan di dasar kolam dengan garis tengah sekitar 10-35 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pembuatan sarang pemijahan selesai, segera berlangsung proses pemijahan. Setelah proses pembuahan selesai, maka telur-telur hasil pemijahan segera dikumpulkan oleh induk betina ke dalam mulutnya untuk dierami hingga menetas. Pada saat tersebut induk betina tidak aktif makan sehingga terlihat tubuhnya kurus. Telur akan menetas setelah 3-5 hari pada suhu air sekitar 25-27 derajat C. Setelah sekitar 2 minggu sejak penetasan, induk betina baru melepaskan anak-anaknya, karena telah mampu mencari makanan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pemeliharaan Bibit Mujair&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pendederan atau pemeliharaan anak ikan mujair dilakukan setelah telur-telur hasil pemijahan menetas. Kegiatan ini dilakukan pada kolam pendederan yang sudah siap menerima anak ikan dimana kolam tersebut dikeringkan terlebih dahulu serta dibersihkan dari ikan-ikan liar. Kolam diberi kapur dan dipupuk sesuai ketentuan. Begitu pula dengan pemberian pakan untuk bibit diseuaikan dengan ketentuan. Jumlah penebaran dalam kolam pendederan tergantung dari ukuran benih ikan. Benih ikan ukuran 1-3 cm, jumlah penebarannya sekitar 30-50 ekor/meter persegi, ukuran 3-5 cm jumlah penebarannya berkisar 5-10 ekor/meter persegi. Sedangkan anak ikan ukuran 5-8 cm jumlah penebarannya 2-5 ekor/meter persegi. Untuk benih yang ukuran 5-8 cm ini, sebaiknya dilakukan secara monoseks kultur, karena pada ukuran tersebut benih ikan sudah dapat dibedakan yang berjenis kelamin jantan atau betina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemeliharaan Pembesaran Ikan Mujair&lt;br /&gt;Pemeliharaan pembesaran dapat dilakukan secara polikultur maupun monokultur.&lt;br /&gt;a) Polikultur&lt;br /&gt;1. ikan mujair 50%, ikan tawes 20%, dan mas 30%, atau&lt;br /&gt;2. ikan mujair 50%, ikan gurame 20% dan ikan mas 30%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b) Monokultur&lt;br /&gt;Pemeliharaan sistem ini merupakan pemeliharaan terbaik dibandingkan dengan polikultur dan pada sistem ini dilakukan pemisahan antara induk jantan dan betina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembesaran ikan mujair pun dapat pula dilakukan di jaring apung, berupa Hapa berukuran 1 x 2 m sampai 2 x 3 m dengan kedalaman 75-100 cm. Ukuran hapa dapat disesuaikan dengan kedalaman kolam. Selain itu sawah yang sedang diberokan dapat dipergunakan pula untuk pemijahan dan pemeliharaan benih ikan mujair. Sebelum digunakan petak sawah diperdalam dahulu agar dapat menampung air sedalam 50-60 cm, dibuat parit selebar 1-1,5 m dengan kedalaman 60-75 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Pemupukan&lt;br /&gt;Pemupukan kolam bertujuan untuk meningkatkan dan produktivitas kolam, yaitu dengan cara merangsang pertumbuhan makanan alami sebanyakbanyaknya. Pupuk yang biasa digunakan adalah pupuk kandang atau pupuk hijau dengan dosis 50–700 gram/m2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Pemberian Pakan&lt;br /&gt;Apabila tingkat produkivitas dan kesuburan kolam sudah semakin berkurang, maka bisa diberikan makanan tambahan dengan komposisi sebagai berikut: tepung ikan 25%, tepung kopra 10% dan dedak halus sebesar 65%. Komposisi ransum ini digunakan dalam usaha budidaya ikan munjair secara komersial. Dapat juga diberi makanan yang berupa pellet yang berkadar protein 20-30% dengan dosis 2-3% dari berat populasi per hari, diberikan sebanyak dua kali per hari yaitu pada pagi dan sore hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping itu juga kondisi pakan dalam perairan tersebut sesuai dengan dosis atau ketentuan yang ada. Yaitu selain pakan dari media dasar juga perlu diberi makanan tambahan berupa hancuran pellet atau remah dengan dosis 10% dari berat populasi per hari. Pemberiannya 2-3 kali/hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Pemeliharaan Kolam/Tambak&lt;br /&gt;Dalam hal pemeliharaan ikan mujair yang tidak boleh terabaikan adalah menjaga kondisi perairan agar kualitas air cukup stabil dan bersih serta tidak tercemari/teracuni oleh zat beracun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Hama dan Penyakit Ikan Mujair&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Hama Ikan Mujair&lt;br /&gt;1) Bebeasan (Notonecta)&lt;br /&gt;Berbahaya bagi benih karena sengatannya. &lt;br /&gt;Pengendalian: menuangkan minyak tanah ke permukaan air 500 cc/100 meter persegi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Ucrit (Larva cybister)&lt;br /&gt;Menjepit badan ikan dengan taringnya hingga robek. &lt;br /&gt;Pengendalian: sulit diberantas; hindari bahan organik menumpuk di sekitar kolam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Kodok&lt;br /&gt;Makan telur telur ikan. Pengendalian: sering membuang telur yang mengapung; menagkap dan membuang hidup-hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Ular&lt;br /&gt;Menyerang benih dan ikan kecil. Pengendalian: lakukan penangkapan; pemagaran kolam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5) Lingsang&lt;br /&gt;Memakan ikan pada malam hari. Pengendalian:pasang jebakan berumpun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6) Burung&lt;br /&gt;Memakan benih yang berwarna menyala seperti merah, kuning.&lt;br /&gt;Pengendalian: diberi penghalang bambu agar supaya sulit menerkam; diberi rumbai-rumbai atau tali penghalang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyakit Ikan Mujair:&lt;br /&gt;Secara umum hal-hal yang dilakukan untuk dapat mencegah timbulnya penyakit dan hama pada budidaya ikan mujair:&lt;br /&gt;a) Pengeringan dasar kolam secara teratur setiap selesai panen.&lt;br /&gt;b) Pemeliharaan ikan yang benar-benar bebas penyakit.&lt;br /&gt;c) Hindari penebaran ikan secara berlebihan melebihi kapasitas.&lt;br /&gt;d) Sistem pemasukan air yang ideal adalah paralel, tiap kolam diberi satu pintu pemasukan air.&lt;br /&gt;e) Pemberian pakan cukup, baik kualitas maupun kuantitasnya.&lt;br /&gt;f) Penanganan saat panen atau pemindahan benih hendaknya dilakukan secara hati-hati dan benar.&lt;br /&gt;g) Binatang seperti burung, siput, ikan seribu (lebistus reticulatus peters) sebagai pembawa penyakit jangan dibiarkan masuk ke areal perkolaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Panen Ikan Mujair&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pemanenan ikan mujair dapat dilakukan dengan cara: panen total dan panen sebagian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Panen sebagian atau panen selektif&lt;br /&gt;Panen selektif dilakukan tanpa pengeringan kolam, ikan yang akan dipanen dipilih dengan ukuran tertentu (untuk pemanenan benih). Ukuran benih yang akan dipanen (umur 1-1,5 bulan) tergantung dari permintaan konsumen, umumnya digolongkan untuk ukuran: 1-3 cm; 3-5 cm dan 5-8 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemanenan dilakukan dengan menggunakan waring yang di atasnya telah ditaburi umpan (dedak). Ikan yang tidak terpilih (biasanya terluka akibat jaring), sebelum dikembalikan ke kolam sebaiknya dipisahkan dan diberi obat dengan larutan malachite green 0,5-1,0 ppm selama 1 jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Panen total&lt;br /&gt;Umumnya panen total dilakukan untuk menangkap/memanen ikan hasil pembesaran. Umumnya umur ikan mujair yang dipanen berkisar antara 5 bulan dengan berat berkisar antara 30-45 gram/ekor. Panen total dilakukan dengan cara mengeringkan kolam, hingga ketinggian air tinggal 10-20 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petak pemanenan/petak penangkapan dibuat seluas 1 m persegi di depan pintu pengeluaran (monnik), sehingga memudahkan dalam penangkapan ikan. Pemanenan dilakukan pagi hari saat keadaan tidak panas dengan menggunakan waring atau scoopnet yang halus. Lakukan pemanenan secepatnya dan hati-hati untuk menghindari lukanya ikan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pasca Panen &lt;a href="http://budidaya-di.blogspot.com/2010/12/budidaya-ikan-mujair.html"&gt;Budidaya Ikan Mujair&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Penanganan pascapanen ikan mujair dapat dilakukan dengan cara penanganan ikan hidup maupun ikan segar.&lt;br /&gt;1) Penanganan ikan hidup&lt;br /&gt;Adakalanya ikan konsumsi ini akan lebih mahal harganya bila dijual dalam keadaan hidup. Hal yang perlu diperhatikan agar ikan tersebut sampai ke&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;konsumen dalam keadaan hidup, segar dan sehat antara lain:&lt;br /&gt;a. Dalam pengangkutan gunakan air yang bersuhu rendah sekitar 20 derajatC.&lt;br /&gt;b. Waktu pengangkutan hendaknya pada pagi hari atau sore hari.&lt;br /&gt;c. Jumlah kepadatan ikan dalam alat pengangkutan tidak terlalu padat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Penanganan ikan segar&lt;br /&gt;Ikan segar mas merupakan produk yang cepat turun kualitasnya. Hal yang perlu diperhatikan untuk mempertahankan kesegaran antara lain:&lt;br /&gt;a. Penangkapan harus dilakukan hati-hati agar ikan-ikan tidak luka.&lt;br /&gt;b. Sebelum dikemas, ikan harus dicuci agar bersih dan lendir.&lt;br /&gt;c. Wadah pengangkut harus bersih dan tertutup. Untuk pengangkutan jarak dekat (2 jam perjalanan), dapat digunakan keranjang yang dilapisi dengan daun pisang/plastik. Untuk pengangkutan jarak jauh digunakan kotak dan seng atau fiberglass. Kapasitas kotak maksimum 50 kg dengan tinggi kotak maksimum 50 cm.&lt;br /&gt;d. Ikan diletakkan di dalam wadah yang diberi es dengan suhu 6-7 derajat C.&lt;br /&gt;Gunakan es berupa potongan kecil-kecil (es curai) dengan perbandingan jumlah es dan ikan=1:1. Dasar kotak dilapisi es setebal 4-5 cm. Kemudian ikan disusun di atas lapisan es ini setebal 5-10 cm, lalu disusul lapisan es lagi dan seterusnya. Antara ikan dengan dinding kotak diberi es, demikian juga antara ikan dengan penutup kotak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pananganan benih adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;1) Benih ikan harus dipilih yang sehat yaitu bebas dari penyakit, parasit dan tidak cacat. Setelah itu, benih ikan baru dimasukkan ke dalam kantong plastik (sistem tertutup) atau keramba (sistem terbuka).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Air yang dipakai media pengangkutan harus bersih, sehat, bebas hama dan penyakit serta bahan organik lainya. Sebagai contoh dapat digunakan air sumur yang telah diaerasi semalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Sebelum diangkut benih ikan harus diberok dahulu selama beberapa hari.&lt;br /&gt;Gunakan tempat pemberokan berupa bak yang berisi air bersih dan dengan aerasi yang baik. Bak pemberokan dapat dibuat dengan ukuran 1 m x 1 m atau 2 m x 0,5 m. Dengan ukuran tersebut, bak pemberokan dapat menampung benih ikan mas sejumlah 5000–6000 ekor dengan ukuran 3-5 cm. Jumlah benih dalam pemberokan harus disesuaikan dengan ukuran benihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Berdasarkan lama/jarak pengiriman, sistem pengangkutan benih terbagi menjadi dua bagian, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Sistem terbuka&lt;br /&gt;Dilakukan untuk mengangkut benih dalam jarak dekat atau tidak memerlukan waktu yang lama. Alat pengangkut berupa keramba. Setiap keramba dapat diisi air bersih 15 liter dan dapat untuk mengangkut sekitar 5000 ekor benih ukuran 3-5 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Sistem tertutup&lt;br /&gt;Dilakukan untuk pengangkutan benih jarak jauh yang memerlukan waktu lebih dari 4-5 jam, menggunakan kantong plastik. Volume media pengangkutan terdiri dari air bersih 5 liter yang diberi buffer Na2(hpo)4.1H2O sebanyak 9 gram. Cara pengemasan benih ikan yang diangkut dengan kantong plastik: (1) masukkan air bersih ke dalam kantong plastik kemudian benih; (3) hilangkan udara dengan menekan kantong plastik ke permukaan air; (3) alirkan oksigen dari tabung dialirkan ke kantong plastik sebanyak 2/3 volume keseluruhan rongga (air:oksigen=1:1); (4) kantong plastik lalu diikat. (5) kantong plastik dimasukkan ke dalam dos dengan posisi membujur atau ditidurkan. Dos yang berukuran panjang 0,50 m, lebar 0,35 m, dan tinggi 0,50 m dapat diisi 2 buah kantong plastik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hal yang perlu diperhatikan setelah benih sampai di tempat tujuan adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;1) Siapkan larutan tetrasiklin 25 ppm dalam waskom (1 kapsul tertasiklin dalam 10 liter air bersih).&lt;br /&gt;2) Buka kantong plastik, tambahkan air bersih yang berasal dari kolam setempat sedikit demi sedikit agar perubahan suhu air dalam kantong plastik terjadi perlahan-lahan.&lt;br /&gt;3) Pindahkan benih ikan ke waskom yang berisi larutan tetrasiklin selama 1-2 menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Masukan benih ikan ke dalam bak pemberokan. Dalam bak pemberokan&lt;br /&gt;benih ikan diberi pakan secukupnya. Selain itu, dilakukan pengobatan dengan tetrasiklin 25 ppm selama 3 hari berturut-turut. Selain tetrsikli dapat juga digunakan obat lain seperti KMNO4 sebanyak 20 ppm atau formalin sebanyak 4% selama 3-5 menit.&lt;br /&gt;5) Setelah 1 minggu dikarantina, tebar benih ikan di kolam budidaya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5343438090319808433-5716444241257711405?l=budidaya-di.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://budidaya-di.blogspot.com/feeds/5716444241257711405/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2010/12/budidaya-ikan-mujair.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/5716444241257711405'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/5716444241257711405'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2010/12/budidaya-ikan-mujair.html' title='Budidaya Ikan Mujair'/><author><name>Budidaya Pertanian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02468176543501833983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5343438090319808433.post-107171387986846058</id><published>2010-11-05T07:58:00.000-07:00</published><updated>2010-12-13T07:35:54.051-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Sukun'/><title type='text'>Tanaman Sukun</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Tanaman Sukun&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tanaman sukun diduga berasal dari Asia Tenggara, khususnya di Indonesia. &lt;u&gt;&lt;b&gt;Tanaman Sukun&lt;/b&gt;&lt;/u&gt; saat ini telah menyebar ke seluruh wilayah tropis yang bertipe iklim basah. Namun sukun sesuai dengan buahnya yang tidak berbiji sama sekali.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://budidaya-di.blogspot.com/2010/11/tanaman-sukun.html"&gt;&lt;b&gt;Tanaman Sukun&lt;/b&gt;&lt;/a&gt; merupakan tanaman hutan yang tingginya mencapai 20 m. Kayunya lunak, kulit kayunya berserat kasar, dan semua bagian tanaman bergetah encer. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bunga suku keluar dari ketiak daun pada ujung cabang dan ranting, tetapi masih dalam satu pohon (berumah satu). Bunga jantang berbentuk tongkat panjang yang biasa disebut ontel. Bunga Betina berbentu bulat bertangkai pendek yang biasa disebut babal. Bunga betina merupakan bunga majemuk sinkrapik seperti pada nangka. Kulit buah bertonjol rata sehingga tidak jelas yang merupakan bekas putik dari bungan sinkarpik tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penyerbukan bunga berlangsung melalui angin, sedangkan serangga yang sering berkunjung kurang berperan dalam penyerbukan bunga. Pada buah sukun, walaupun penyerbukan berlangsung, tetapi pembuahannya mengalami kegagalan sehingga buah yang berbentu ktidak berbiji.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Buah sukun yang telah tua dapat direbus, digoreng, dibuat tepung, dibuat keripik, dan dapat dibuat tape melalui fermentasi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5343438090319808433-107171387986846058?l=budidaya-di.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://budidaya-di.blogspot.com/feeds/107171387986846058/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2010/11/tanaman-sukun.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/107171387986846058'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/107171387986846058'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2010/11/tanaman-sukun.html' title='Tanaman Sukun'/><author><name>Budidaya Pertanian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02468176543501833983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5343438090319808433.post-8412039876277137129</id><published>2010-10-24T20:39:00.000-07:00</published><updated>2010-12-13T07:36:04.814-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Kunyit'/><title type='text'>Khasiat Kunyit</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Khasiat Kunyit&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_WtXCykFMI6Y/TMT70WT3XtI/AAAAAAAAACU/UC_3knn0D6w/s1600/Khasiat_Kunyit.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tanaman kunyit atau Curcuma Domestica Val adalah sejenis tanaman yang termasuk familia Zingiberaceae, tempat tumbuhnya terutama di pulau Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai bahan obat, kunyit yang terpenting adalah bagian akar tinggal yang memiliki bau khas dan rasanya agak pahit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mikroskopik Kunyit:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;1).Berbentuk bulat atau jorong, bergaris tengah kurang lebih 5 cm, panjangnya sekitar 2 cm sampai 6 cm, lebarnya sekitar 1-3 cm.&lt;br /&gt;2).Bagian tepinya berkerut, bagian luar berwarna coklat muda sedang dan bagian dalam berwarna coklat muda kemerah-merahan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Kandungan Zat pada Kunyit:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;a).Zat kuning kukumin&lt;br /&gt;b).Minyak Atsiri&lt;br /&gt;c).Hidrat arang, damar, gom dan pati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://budidaya-di.blogspot.com/2010/10/khasiat-kunyit.html"&gt;&lt;b&gt;Khasiat Kunyit&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;, dengan dosis antara 8 gram sampai 12 gram, baik sekali digunakan untuk obat diare, karminativa, kolagoga dan skabisida.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5343438090319808433-8412039876277137129?l=budidaya-di.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://budidaya-di.blogspot.com/feeds/8412039876277137129/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2010/10/khasiat-kunyit.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/8412039876277137129'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/8412039876277137129'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2010/10/khasiat-kunyit.html' title='Khasiat Kunyit'/><author><name>Budidaya Pertanian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02468176543501833983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5343438090319808433.post-4779232640743227130</id><published>2010-10-21T00:48:00.000-07:00</published><updated>2010-12-13T07:36:13.234-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Wortel'/><title type='text'>Tanaman Wortel</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Tanaman Wortel&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Wortel atau bahasa Latinnya Aconilum napellus L. adalah sejenis tanaman yang termasuk familia Ranunculaceae, yang penting adalah umbinya yang biasa kita sebut wortel. Tempat pertumbuhannya di Indonesia terutama didataran-dataran tinggi seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan lain-lain, yang memiliki hawa dan udara yang sejuk dan lemba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wortel mempunyai bau yang khas, pada mulanya akan terasa manis apabila digigit, namun kemudian akan terasa pedas.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Mikroskopik &lt;a href="http://budidaya-di.blogspot.com/2010/10/tanaman-wortel.html"&gt;Tanaman Wortel&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;:&lt;br /&gt;a).Bentuk umbi/wortel adalah seperti kerucut memanjang, pada umumnya dibagian ujung makin meruncing, dan sering mempunyai anak umbi.&lt;br /&gt;b).Bagian luar berwarna coklat agak muda, dan bagian dalamnya berwarna merah kecoklatan.&lt;br /&gt;c).Banyak akar serabut/parutnya, panjang wortel sekitar 4 cm sampai 10 cm, lebar puncaknya 1,5 cm - 3 cm.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Kandungan di dalam &lt;/b&gt;&lt;b&gt;Tanaman Wortel&lt;/b&gt;:&lt;br /&gt;1).Alkaloida akonitina atau asetbencilakonin.&lt;br /&gt;2).Benzoilakonina, akonina dan neopelina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5343438090319808433-4779232640743227130?l=budidaya-di.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://budidaya-di.blogspot.com/feeds/4779232640743227130/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2010/10/tanaman-wortel.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/4779232640743227130'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/4779232640743227130'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2010/10/tanaman-wortel.html' title='Tanaman Wortel'/><author><name>Budidaya Pertanian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02468176543501833983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5343438090319808433.post-8469898045805645083</id><published>2010-09-21T00:29:00.000-07:00</published><updated>2010-12-13T07:36:20.212-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Pertanian'/><title type='text'>Bentuk Pertanian Konservasi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Bentuk Pertanian Konservasi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Sistem perladangan berpindah bagi sebagian ahli dianggap sebagai pemborosan dari sumberdaya alam, atau sangat primitif (FAO Staff 1957), dan dikenal secara relatif mempunyai ouput yang rendah per unit areanya. Hal ini kalau ditinjau dari segi ekonomi, tetapi mungkin karena perhatian terhadap sistem inilah yang masih sangat kurang, yang sebenarnya membutuhkan tindakan yang lebih spesifik untuk menjadi sistem yang dapat diterima, untuk menjadi alternatif sistem pertanian konservasi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Perladangan berpindah tidak menyebabkan efek yang berbahaya terhadap lingkungan, bahkan mampu menyediakan alternatif yang aman dibandingkan dengan sistem pertanian lainnya di hutan tropis basah. Adapun kurangnya peningkatan produktivitas adalah merupakan konsekuensi dari pengabaian dari sistem ini di dalam kebanyakan penelitian pertanian. Hal ini bisa dilihat dari hasil penelitian Lahajir, yang menemukan bahwa hasil perladangan berpindah tidak sanggup lagi mencukupi kebutuhan subsisten mereka. Perladangan berpindah sebagai sistem pertanian yang menggunakan pemberaan sebagai hal yang utama dalam menjaga produktivitas. Sistem perladangan dikerjakan hanya 1 – 2 tahun dalam penanaman yang kemudian dilanjutkan dengan periode bera yang panjang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Erosi sudah lama disadari sebagai masalah utama dalam perladangan berpindah, tetapi sangat sedikit studi kuantitatif yang ada tentang erosi dari perladangan berpindah, sehingga masih begitu terbatas. Dari studi yang pernah dilakukan menunjukkan pembersihan lahan pada perladangan berpindah secara tradisional lebih rendah jumlah erosi dan kehilangan sedimin dari sistem dibandingkan pada beberapa bentuk pembersihan lahan (land clearing) dan sistem pengolahan tanah (tillage). Alasan &amp;nbsp;rendahnya erosi adalah sangat pendiknya periode terbukanya tanah (setelah pembakaran, sebelum tanaman mantap), tanpa atau sedikit pengolahan tanah (tillage), dan dengan membentangkan pohon-pohon yang tidak terbakar secara horisontal terhadap kemiringan (slope). Dengan sedikit sedimin yang hilang dari sistem dan pemakaian bahan kimia yang terbatas sekali, maka sumberdaya air tidak terpengaruh secara serius.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Selama penanam, nutrient kehilangan utamanya akibat pembakaran dan beberapa dari pencucian (leaching), tetapi hanya jumlah terbatas yang dipindahkan oleh tanaman sebagai sisa tanaman yang tertinggal di lapangan dan pertumbuhan kembali pada masa bera dapat menahan kembali nutrient.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Peningkatan penyimpanan karbon dalam jangka panjang, kalau bisa sampai 20 – 50 tahun di dalam tanah, tanaman dan produksi tanaman mempunyai efek menguntungkan terhadap lingkungan dan pertanian. Lahan tanaman budidaya, padang gembalaan dan hutan dapat dikelola baik untuk aspek produksi maupun penyimpanan karbon. Kedua pendekatan pengelolaan lahan tersebut dapat dicapai dengan penerapan pengelolaan lahan yang sudah banyak dikenal seperti pengolahan tanah konservasi, pengelolaan unsur hara yang efisien, pengontrolan erosi, penggunaan tanaman penutup tanah, dan restorasi lahan-lahan terdegradasi.&lt;br /&gt;Konservasi lahan melalui pemberaan (fallow) yang panjang dapat dengan cepat meningkatkan penyimpanan karbon dalam tanah. Peningkatan bahan organik tanah secara global dalam jangka waktu yang lama akan mampu memberikan efek yang menguntungkan terhadap penurunan rata-rata peningkatan CO2 atmosfer dan peningkatan produktivitas tanah, khususnya dalam banyak areal tanah yang telah terdegradasi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Pengolahan tanah merupakan kebudayaan yang tertua dalam pertanian dan tetap diperlukan dalam pertanian modern.&amp;nbsp; Menurut Arsjad (1989), yang mendefinisikan pengolahan tanah sebagai setiap manipulasi mekanik terhadap tanah yang diperlukan untuk menciptakan keadaan tanah yang baik bagi pertumbuhan tanaman.&amp;nbsp; Tujuan pengolahan tanah adalah untuk menyiapkan tempat pesemaian, tempat bertanam, menciptakan daerah perakaran yang baik, membenamkan sisa tanaman, dan memberantas gulma.&amp;nbsp; Cara pengolahan tanah sangat mempengaruhi struktur tanah alami yang baik yang terbentuk karena penetrasi akar, apabila pengolahan tanah terlalu intensif maka struktur tanah akan rusak.&amp;nbsp; Kebiasaan petani yang mengolah tanah secara berlebihan dimana tanah diolah sampai bersih permukaannya merupakan salah satu contoh pengolahan yang keliru karena kondisi seperti ini mengakibatkan butir tanah terdispersi oleh butir hujan, menyumbat pori-pori tanah.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Untuk mengatasi pengaruh buruk pengolahan tanah, maka dianjurkan beberapa cara pengolahan tanah konservasi yang dapat memperkecil terjadinya erosi.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Cara perladangan berpindah dengan :&lt;br /&gt;1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tanpa olah tanah (TOT), tanah yang akan ditanami tidak diolah dan sisa-sisa tanaman sebelumnya dibiarkan tersebar di permukaan, yang akan melindungi tanah dari ancaman erosi selama masa yang sangat rawan yaitu pada saat pertumbuhan awal tanaman.&amp;nbsp; Penanaman dilakukan dengan tugal&lt;br /&gt;2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pengolahan tanah minimal, tidak semua permukaan tanah diolah, hanya barisan tanaman saja yang diolah dan sebagian sisa-sisa tanaman dibiarkan pada permukaan tanah&lt;br /&gt;3.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pengolahan tanah menurut kontur, pengolahan tanah dilakukan memotong lereng sehingga terbentuk jalur-jalur tumpukan tanah atau dengan melintangkan pohon yang tidak terbakar (logs) dan alur yang menurut kontur atau melintang lereng.&amp;nbsp; Pengolahan tanah menurut kontur akan lebih efektif jika diikuti dengan penanaman menurut kontur juga yang memungkinkan penyerapan air dan menghindarkan pengangkutan tanah.&lt;br /&gt;Dari sistem perladangan berpindah, cara pengolahan tanah sudah diterapkan, sehingga dapat menggunakan sesuai dengan keperluan dan kemampuannya. Penyesuaian dengan ekologi setempat inilah yang menjadikan sistem perladangan berpindah dapat dikatakan sebagai sistem pertanian konservasi. Sistem ini memang perlu lebih ditingkatkan, atau diberikan sentuhan ilmu pengetahuan yang juga disesuaikan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan penggunaan teknik tradisional, perladangan berpindah sangat sesuai dengan lingkungan dan dapat lebih berkelanjutan dari sistem pertanian permanen dalam kondisi tropis basah. Kebanyakan studi tentang perladangan berpindah telah memfokuskan pada efek terhadap praktek manajemen dan sangat sedikit penelitian yang telah dilakukan untuk peningkatan&amp;nbsp; secara agronomi terhadap produksi tanaman di dalam sistem, karena sistem tersebut sudah melekat sebagai primitif dan anti pembangunan. Masalah lainnya, adalah bahwa perladangan berpindah lebih sering dibandingkan dengan kegiatan kehutanan (seperti agroforentry yang hampir sama dengan shifting cultivation) atau bahkan sumberdaya hutan daripada dengan sistem pertanian lainnya. Hal ini sangat tidak realistis&amp;nbsp; untuk mengharapkan perladangan berpindah menjadi sama tidak berbahaya seperti hutan alami. Ini adalah sistem pertanian, yang dibuat dengan menggunakan hutan dan harus disadari seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_WtXCykFMI6Y/TNQXGsQwDTI/AAAAAAAAACY/hSeAoaWZqdE/s1600/bubidaya.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="46" src="http://2.bp.blogspot.com/_WtXCykFMI6Y/TNQXGsQwDTI/AAAAAAAAACY/hSeAoaWZqdE/s320/bubidaya.png" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5343438090319808433-8469898045805645083?l=budidaya-di.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://budidaya-di.blogspot.com/feeds/8469898045805645083/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2010/09/bentuk-pertanian-konservasi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/8469898045805645083'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/8469898045805645083'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2010/09/bentuk-pertanian-konservasi.html' title='Bentuk Pertanian Konservasi'/><author><name>Budidaya Pertanian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02468176543501833983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_WtXCykFMI6Y/TNQXGsQwDTI/AAAAAAAAACY/hSeAoaWZqdE/s72-c/bubidaya.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5343438090319808433.post-1713523857546625700</id><published>2010-05-15T11:37:00.000-07:00</published><updated>2010-12-13T07:36:27.399-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Kacang'/><title type='text'>Budidaya Kacang hijau</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Budidaya Kacang hijau&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kacang hijau adalah sejenis tanaman budidaya dan palawija yang dikenal luas di daerah tropika. Tumbuhan yang termasuk suku polong-polongan (Fabaceae) ini memiliki banyak manfaat dalam kehidupan sehari-hari sebagai sumber bahan pangan berprotein nabati tinggi. Kacang hijau di Indonesia&amp;nbsp; menempati urutan ketiga terpenting sebagai tanaman pangan legum, setelah kedelai&amp;nbsp; dan kacang tanah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bagian paling bernilai ekonomi adalah bijinya. Biji kacang hijau direbus hingga lunak dan dimakan sebagai bubur atau dimakan langsung. Biji matang yang digerus dan dijadikan sebagai isi onde-onde, bakpau, atau gandas turi. Kecambah kacang hijau menjadi sayuran yang umum dimakan di kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara dan dikenal sebagai tauge. Kacang hijau bila direbus cukup lama akan pecah dan pati yang terkandung dalam bijinya akan keluar dan mengental, menjadi semacam bubur. Tepung biji kacang hijau, disebut di pasaran sebagai tepung hunkue, digunakan dalam pembuatan kue-kue dan cenderung membentuk gel. Tepung ini juga dapat diolah menjadi mi yang dikenal sebagai soun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kandungan gizi yang terdapat dalam kacang hijau, antara lain; dalam 110 gram kacang hijau mengandung 345 kalori, 22,2 gram protein, 1,2 gram lemak, vitamin A, B1, 1,157 IU, mineral berupa fosfor, zat besi, dan mg. Nah, selain kandungan gizi/vitamin, kacang hijau ternyata bisa menyembuhkan penyakit beri-beri, radang ginjal, melancarkan pencernaan, tekanan darah tinggi, mengatasi keracunan alkohol, pestisida, timah hitam, mengatasi gatal karena biang keringat, muntaber, menguatkan fungsi limpa dan lambung, impotensi, TBC paru-paru, jerawat, mengatasi flek hitam di wajah, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kacang hijau juga bisa menurunkan demam, bahkan menurut hasil penelitian, kacang hijau adalah penurun demam yang terbaik bila dibandingkan dengan penurun demam dari ramuan tradisional lainnya. Hebatnya lagi, biar direbus lama, sampai hancur, kacang hijau tetap berkhasiat, tidak terpengaruh dengan panas. Berbeda dengan kacang, sayur, buah, dan bahan ramuan tradisional lainnya yang bila direbus terlalu lama, akan menurunkan khasiat pengobatannya. Di kala obat-obatan sedang mahal harganya, apa salahnya mencoba resep tradisional dari kacang hijau ini. Inilah beberapa resep di antaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Peluruh kencing&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Rebus 30 gram kacang hijau dengan 30 gram daun sendok dalam air 400 cc. Ramuan dimasak dalam periuk tanah sampai matang. Sesudah dingin, tambahkan madu secukupnya. Minum ramuan ini secara teratur sampai kencing tidak tersendat-sendat lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sakit perut&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Banyak resep tradisional untuk mengatasi sakit perut, mulai dari daun jambu biji yang sudah terbukti ampuh dan ramuan lainnya. Sekali ini coba resep dari kacang hijau. Rebus 60 gram kacang hijau tambahkan 15 biji merica, 3 gram kayu manis, 3 gram pala, 3 gram kapulaga, 3 gram cengkih, dan 2 ruas jahe. Semua bahan direbus dengan air 1 liter. Panaskan terus sampai menjadi larutan sebanyak 1/2 liter, lalu minum teratur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Biang keringat anak-anak&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak yang terkena biang keringat sering rewel, wajar karena merasa gatal. Coba resep kacang hijau ini. Rebus 60 gram kacang hijau yang sudah dijadikan bubuk dulu, lalu tambahkan 50 gram tanaman krokot, rebus dengan air secukupnya. Setelah matang, saring, lalu minumkan 3 kali sehari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bisul&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Aduh, jengkelnya bila terserang bisul. Apalagi bila bisul itu bercokol di bagian bokong, mau duduk saja sulitnya bukan main. Banyak obat untuk bisul yang umumnya untuk pengobatan luar alias dioleskan pada tubuh yang ditumbuhi bisul. Nah, resep ini untuk pengobatan bisul dari dalam. Rebus 50 gram kacang merah kecil dengan 50 gram kacang hijau, 50 gram kacang hitam dan 2 ruas jahe. Semua bahan, kecuali jahe, direbus. Jahe direbus tersendiri dan hasil rebusan jahe dicampurkan ke rebusan kacang-kacangan tadi. Lalu minum teratur. Namun, ramuan ini hanya untuk bisul yang belum matang. Kalau bisul sudah matang, harus ditambahkan lagi madu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Menguatkan seksualitas pria&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Banyak sekali resep tradisional ditulis untuk mengatasi penyakit yang mengakibatkan pria tidak perkasa, mulai dari berbagai jamu sampai obat yang diimpor dengan harga — tentu saja — mahal. Bagaimana kalau mencoba resep kacang hijau plus ini? Rebus 30 gram kacang hijau bersama-sama 2 ruas jahe, 15 gram merica, 15 gram adas, 15 gram pulosari, 15 gram biji kucai, 15 gram biji paria, dan 15 gram biji ketumbar. Semua bahan direbus dengan air 600 cc dan jadikan 300 cc, minum teratur sampai terbukti khasiatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Rambut rontok&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Rambut Anda sedikit demi sedkit rontok? Coba resep ini. Kacang hijau direbus dengan 1 gelas air. Perhatikan saat merebus jangan sampai kacangnya pecah. Jadi setelah tampak agak matang, tetapi tidak pecah, segera angkat. Setelah dingin, air rebusan kacang hijau ini digunakan untuk membasahi kulit kepala sembari dipijit-pijit beberapa lama. Biarkan kering, baru keramas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mag&lt;br /&gt;Ramuan untuk mengatasi penyakit mag lumayan banyak. Setiap penderita merasa cocok dengan salah satu resep. Yang ini resep mengatasi penyakit mag dengan kacang hijau. Sekira 1/4 kg kacang hijau dijemur sampai kering lalu tumbuk sampai halus. Setelah itu ambil 1 sendok makan bubuk kacang hijau, lalu seduh dengan air hangat secukupnya, minum teratur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Varises&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Varises adalah tonjolan-tonjolan di bagian kaki. Kemunculan varises memang mengganggu keindahan kaki. Coba resep ini, 1 genggam kacang hijau direbus dengan 2 gelas air. Biarkan sampai airnya susut sebanyak 1 gelas. Minum rebusan ini 2 kali sehari, pagi dan menjelang tidur. Selain itu, saat akan tidur, angkat kaki dan tempatkan di tempat yang lebih tinggi dari kepala, diamkan selama 10 menit, lakukan dengan rajin sembari minum rebusan kacang hijau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bayi demam&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Berikan 1 gelas air rebusan kacang hijau ditambah 1 sendok makan madu untuk bayi yang terserang demam. Berikan rebusan ini sesendok demi sesendok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Anda yang hanya ingin mengonsumsi kacang hijau dengan cara dijadikan bubur, coba lakukan tips sederhana ini. Semua ibu rumah tangga sudah paham betul bahwa menggodok kacang hijau itu tidak sebentar, perlu makan waktu sampai kacang lunak betul. Bagaimana caranya supaya kacang cepat lunak? Rebus kacang sampai mendidih, lalu angkat. Diamkan beberapa lama sampai agak dingin. Setelah itu rebus kembali untuk kedua kalinya. Nah, hasilnya kacang hijau cepat lunak. Jadi mengirit waktu dan BBM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;Budidaya Kacang Hijau&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat Tumbuh Kacang Hijau&lt;br /&gt;a. Tanah&lt;br /&gt;* Tekstur : Liat berlempung banyak mengandung bahan organik, aerasi dan drainase yang baik.&lt;br /&gt;* Struktur tanah gembur&lt;br /&gt;* Ph 5,8&amp;nbsp; 7,0 optimal 6,7&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Iklim&lt;br /&gt;* Curah hujan optimal 50 - 200 mm/bln&lt;br /&gt;* Temperatur 25o - 27o C dengan kelembaban udara 50 - 80% dan cukup mendapat sinar matahari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;2. Teknologi Budidaya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengelolaan Tanah&lt;br /&gt;* Pada lahan sawah bekas tanaman padi tidak dilakukan pengolahan tanah&lt;br /&gt;&amp;nbsp;( TOT). Penyiapan lahan yang baik dilakukan sebelum tanam.&lt;br /&gt;* Pada tanah bertekstur ringan tidak perlu dilakukan pengolahan tanah.&lt;br /&gt;* Pada lahan kering (tegalan) pengolahan tanah dilakukan intensif dibersihkan dari rumput, dicangkul hingga gembur (untuk tanah tegalan yang berat pembajakan dilakukan sedalam 15-20 cm), dibuat petakan 3-4 m.&lt;br /&gt;* Tanah tegalan bekas tanaman jagung, kedelai atau padi gogo perlu pengolahan tanah minimal.&lt;br /&gt;* Pemberian mulsa jerami sekitar 5 ton/ha agar dapat menekan pertumbuhan gulma, mencegah penguapan air dan perbaikan struktur tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penanaman Kacang Hijau&lt;br /&gt;* Waktu Tanam&lt;br /&gt;Pada lahan sawah tanaman kacang hijau ditanam pada musim kemarau setelah padi. Sedangkan dilahan tegalan dilakukan pada awal musim hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Cara Tanam&lt;br /&gt;Benih ditanam dengan cara tugal, dengan jarak 40 cm x 10 cm atau 40 cm x 15 cm, tiap lubang diisi 2 biji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemupukan&lt;br /&gt;* Pada lahan sawah bekas tanaman padi tidak perlu dilakukan pemupukan.&lt;br /&gt;* Pada lahan kering diperlukan pemupukan dengan NPK.&lt;br /&gt;* Pada tanah yang kurang subur dilakukan pemupukan 45 kg Urea + 45 - 90 kg TSP + 50 kg KCL/ha.&lt;br /&gt;* Penambahan pupuk organik seperti pupuk kompos, pupuk kandang dapat meningkat kapasitas menahan air didalam tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengairan &lt;br /&gt;* Tanaman kacang hijau relatif tahan kering, namun tetap memerlukan pengairan terutama pada periode kritis pada waktu perkecambahan, menjelang berbungan dan pembentukan polong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyiangan&lt;br /&gt;* Penyiangan dilakukan seawal mungkin karena kacang hijau tidak tahan bersaing dengan gulma. Penyiangan dilakukan 2 kali pada umur 2 dan 4 minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pengendalian hama dan penyakit Kacang Hijau&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;1. Hama&lt;br /&gt;&amp;nbsp;* Hama yang sering menyerang adalah agromyza phaseolli (lalat kacang) meruca testualitis, spidoptera sp, Plusia chalsites (ulat) dan kutu trips.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;* Pengendalian hama dilakukan dengan menggunakan varietas unggul yang tahan hama penyakit.&lt;br /&gt;* Penggunaan pestisida dilakukan apabila serangan hama tidak dapat dikendalikan dengan cara biologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;2. Penyakit &lt;br /&gt;* Penyakit kacang hijau yang sering ditemui antara lain Scierotium rolfsii, Cercospora Canescens (bercak daun).&lt;br /&gt;* Pengendalian dilakukan dengan menanam varietas yang tahan penyakit atau dengan menggunakan fungisida.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;3. Panen dan Pasca panen Budidaya Kacang Hijau&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;a. Panen&lt;br /&gt;Kacang hijau dipanen sesuai dengan umur varietas, Tanda-tandaq lain bahwa kacang hijau telah siap untuk di panen adalah berubahnya warna polong dari hijau menjadi hitam atau coklat dan kering. Keterlambatan panen dapat mengakibatkan polong pecah saat dilapangan. Panen dilakukan dengan cara dipetik. Panen dapat dilakukan satu, dua atau tiga kali tergantung varietas. Jarak antara panen kesatu dan ke dua 3-5 hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Pasca Panen&lt;br /&gt;Pengeringan polong dilakukan selama 2-3 hari dibawah sinar matahari. Pembijian dilakukan secara manual yaitu dipukul-pukul dengan tongkat kayu. Pembijian dilakukan di dalam kantong atau karung untuk menghindari kehilangan hasil. Pembersihan niji dari kulit polong dilakukan dengan tampi. Sebelum disimpan biji kacang hijau di jemur kembali sampai mencapai kering simpan yaitu kadar air 8 - 10 %.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://sulsel.litbang.deptan.go.id/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=143:budidaya-kacang-hijau&amp;amp;catid=48:panduanpetunjuk-teknis-leaflet&amp;amp;Itemid=53&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://racik.wordpress.com/2007/04/07/kacang-hijau-sembuhkan-berbagai-penyakit/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://id.wikipedia.org/wiki/Kacang_hijau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5343438090319808433-1713523857546625700?l=budidaya-di.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://budidaya-di.blogspot.com/feeds/1713523857546625700/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2010/05/budidaya-kacang-hijau.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/1713523857546625700'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/1713523857546625700'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2010/05/budidaya-kacang-hijau.html' title='Budidaya Kacang hijau'/><author><name>Budidaya Pertanian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02468176543501833983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5343438090319808433.post-2026070228731571937</id><published>2010-05-15T11:20:00.000-07:00</published><updated>2010-12-13T07:36:29.955-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lain-lain'/><title type='text'>Persyaratan Umum Karantina Hewan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Persyaratan Umum Karantina Hewan &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Media pembawa yang dimasukan/dikeluarkan ke/dari dalam wilayah Negara Republik Indonesia, wajib :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;1. Dilengkapi sertifikasi kesehatan yang diterbitkan oleh pejabat yang berwenang dari negara/daerah asal dan negara/daerah transit.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;2. Dilengkapi surat keterangan asal dari tempat asalnya bagi media pembawa yang tergolong benda lain.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&amp;nbsp;3. Melalui tempat pemasukan dan pengeluaran yang telah ditetapkan.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;4. Dilaporkan dan diserahkan kepada petugas karantina hewan di tempat pemasukan atau tempat pengeluaran untuk keperluan tindakan karantina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi: bkppontianak.web.id&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5343438090319808433-2026070228731571937?l=budidaya-di.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://budidaya-di.blogspot.com/feeds/2026070228731571937/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2010/05/persyaratan-umum-karantina-hewan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/2026070228731571937'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/2026070228731571937'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2010/05/persyaratan-umum-karantina-hewan.html' title='Persyaratan Umum Karantina Hewan'/><author><name>Budidaya Pertanian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02468176543501833983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5343438090319808433.post-1819415275558852761</id><published>2010-05-15T11:05:00.001-07:00</published><updated>2010-12-13T07:36:33.964-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Ikan'/><title type='text'>Pemijahan (Ovulasi) Ikan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Pemijahan (Ovulasi) Ikan&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Persiapan tempat pemijahan &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar ikan memerlukan jenis substrat tertentu sebagai sarang untuk tempat pemijahan.&amp;nbsp; Tempat pemijahan dapat berupa cekungan, batu-batuan, vegetasi, lumpur, sarang busa dan sebagainya&amp;nbsp; (Helfman et al., 1997).&amp;nbsp; Keberhasilan proses pemijahan berhubungan erat dengan keberadaan substrat. Jika substrat yang sesuai tidak ditemukan, maka proses pemijahan akan mengalami kegagalan atau penundaan (Stacey, 1984).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ikan&lt;/b&gt; Nocomis sp., Semotilus sp. dan Exoglossum sp. biasanya membuat sarang dengan membuat timbunan kerikil, telur diletakkan di sela-sela kerikil kemudian ditimbun lagi dengan kerikil baru. Kemudian sarang akan dijaga oleh ikan jantan&amp;nbsp; (Helfman et al., 1997).&amp;nbsp; Ikan sepat (Trichogaster pectoralis) dan ikan cupang (Betta imbilis) membuat sarang busa sebelum memijah.&amp;nbsp; Pemijahan berlangsung di bawah sarang busa, kemudian telur-telur yang diserakkan diletakkan diantara sarang busa.&amp;nbsp; Ikan jantan akan menjaga telur-telur tersebut sampai menetas.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5343438090319808433-1819415275558852761?l=budidaya-di.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://budidaya-di.blogspot.com/feeds/1819415275558852761/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2010/05/pemijahan-ovulasi-ikan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/1819415275558852761'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/1819415275558852761'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2010/05/pemijahan-ovulasi-ikan.html' title='Pemijahan (Ovulasi) Ikan'/><author><name>Budidaya Pertanian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02468176543501833983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5343438090319808433.post-5370895495147586828</id><published>2010-05-09T22:08:00.000-07:00</published><updated>2010-12-13T07:36:45.436-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Jamur'/><title type='text'>Budidaya Jamur Tiram</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Budidaya Jamur Tiram&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di alam bebas, jamur tiram bisa dijumpai hampir sepanjang tahun di hutan pegunungan daerah yang sejuk. Tubuh buah terlihat saling bertumpuk di permukaan batang pohon yang sudah melapuk atau pokok batang pohon yang sudah ditebang karena jamur tiram adalah salah satu jenis jamur kayu. Untuk itu, saat ingin membudidayakan jamur ini, substrat yang dibuat harus memperhatikan habitat alaminya.Dalam budidaya jamur tiram dapat digunakan substrat, seperti kompos serbuk gergaji kayu, ampas tebu atau sekam. Hal yang perlu diperhatikan dalam budi daya jamur tiram adalah faktor ketinggian dan persyarataan lingkungan, sumber bahan baku untuk substrat tanam dan sumber bibit.Miselium dan tubuh buahnya tumbuh dan berkembang baik pada suhu 26-30 °C. Jamur tiram (Pleurotus ostreatus) mulai dibudidayakan pada tahun 1900. Budidaya jamur ini tergolong sederhana.Jamur tiram biasanya dipeliharan dengan media tanam serbuk gergaji steril yang dikemas dalam kantung plastik.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Media tanam Pleurotus ostreatus yang digunakan adalah jerami yang dicampur dengan air, dedak 10% dan kapur 1%.Fungsi dari jerami adalah sebagai bahan dasar dari pertumbuhan jamur. Jerami mengandung lignin, selulosa, karbohidrat, dan serat yang dapat didegradasi oleh jamur menjadi karbohidrat yang kemudian dapat digunakan untuk sintesis protein.Air pada jerami berfungsi sebagai pembentuk kelembapan dan sumber air bagi pertunbuhan jamur. Dedak dan kapur merupakan bahan tambahan pada media tanam Pleurotus ostreatus. Dedak ditambahkan pada media untuk meningkatkan nutrisi media tanam, terutama sebagai sumber karbohidrat, karbon, dan nitrogen.Kapur merupakan sumber kalsium bagi pertumbuhan jamur. Selain itu juga kapur berfungsi untuk mengatur pH media pertumbuhan jamur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selain jerami, ada beberapa media lain yang dapat digunakan seperti media serbuk gergaji yang mengandung selulosa, lignin, pentosan, zat ekstraktif, abu, jerami padi, media limbah kapas, alang-alang, daun pisang, tongkol jagung, klobot jagung, gabah padi, dan lain sebagainya. Tetapi, tetap saja pertumbuhan yang paling baik ada di media serbuk gergaji dan merang.Penyebabnya adalah karena jumlah lignoselulosa, lignin, dan serat pada serbuk gergaji dan merang memang lebih tinggi.Sebagai contohnya dalam pembuatan media jerami padi, bahan-bahan yang digunakan adalah 15-20% jerami padi, 2.5% bekatul kaya karbohidrat, karbon, dan vitamin B komplek yang bisa mempercepat pertumbuhan dan mendorong perkembangan tubuh buah jamur, 1-1.5% kalsium karbonat atau kapur menetralkan media sehingga dapat ditumbuhi oleh jamur (pH 6,8 – 7,0).Selain itu, kapur juga mengandung kalsium sebagai penguat batang / akar jamur agar tidak muda rontok.0.5% gips dapat memperkokoh struktus suatu bahan campuran, dan terakhir 0.25% pupuk TS sebagai nutrisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budi daya jamur tiram menggunakan substrat jerami dengan tahapan sebagai berikut: pembuatan media tanam dilakukan dengan memotong jerami menjadi berukuran 1-2 cm. Rendam jeraminya selama semalaman.Setelah itu, ditiriskan airnya sebelum ditambahkan dedak 10% dan kapur 1% sebagai zat hara pertumbuhan jamur.Semua bahan diaduk rata dan campuran bahan tadi dimasukkan ke dalam plastik yang tahan panas hingga terisi 2/3 bagian.Baru kemudian dipadatkan (dipukul-pukul dengan botol kaca).Setelah cukup padat, leher plastik bagian atas dimasukkan pipa paralon dan dibagian tengah media subtrat diberi lubang dan ditancapkan tips.Selanjutnya ditutupi dengan kapas lalu media substrat dilapisi dengan kertas dan diikat dengan karet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media tersebut disterilisasi pada 121˚C selama 20 menit di dalam auoklaf untuk memastikan bahwa tidak ada kontaminan yang tumbuh yang mungkin akan mengganggu pertumbuhan jamur.Setelah steril, media substrat dibuka secara aseptis, lalu tips di tengah-tengah media dan kapas diambil dengan pinset steril.Lubang yang terbentuk diisi dengan bibit jamur tiram yang ditumbuhkan pada biji sorgum pada botol (aseptis).Lalu media ditutup kapas lagi dan dibungkus dengan kertas.Media substrat diinkubasi pada suhu ruang selama beberapa minggu hingga tumbuh miselium.Setelah tumbuh miselium, kapas pada media dibuang dan media dibiarkan terbuka.Semprotkan air setiap hari pada tempat pertumbuhan jamur agar kondisi sekitar lembab dan mendukung pertumbuhannya.Tubuh buah jamur akan tumbuh secara perlahan-lahan ketika media lembab dalam waktu sekitar 1 bulan lebih.Tubuh buah yang sudah cukup besar diambil dan ditimbang untuk diamati pertumbuhannya setiap minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi: http://id.wikipedia.org/wiki/Jamur_tiram&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5343438090319808433-5370895495147586828?l=budidaya-di.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://budidaya-di.blogspot.com/feeds/5370895495147586828/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2010/05/budidaya-jamur-tiram.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/5370895495147586828'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/5370895495147586828'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2010/05/budidaya-jamur-tiram.html' title='Budidaya Jamur Tiram'/><author><name>Budidaya Pertanian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02468176543501833983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5343438090319808433.post-6144117016751243466</id><published>2010-05-01T07:32:00.001-07:00</published><updated>2010-05-01T07:32:21.999-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Ikan'/><title type='text'>Pembuahan (Fertilisasi) Pada Ikan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Pembuahan (Fertilisasi) Pada Ikan&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Pembuahan adalah bersatunya oosit (telur) dengan sperma membentuk zigot. Pada proses pembuahan ini terjadi percampuran inti sel telur dan inti sperma. Kedua inti ini masing-masing mengandung gen (pembawa sifat keturunan) sebanyak satu sel (haploid).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Hanya satu sperma yang dibutuhkan untuk membuahi satu sel telur (monosperm). Meskipun berjuta-juta spermatozoa dikeluarkan pada saat pemijahan dan menempel pada sel telur tetapi hanya satu yang dapat melewati mikrofil, satu-satunya lubang masuk spermatozoa pada sel telur. Kepala spermatozoa menerobos mikrofil dan bersatu dengan inti sel telur, sedangkan ekornya tertinggal pada saluran mikrofil tersebut dan berfungsi sebagai sumbat untuk mencegah spermatozoa yang lain masuk.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Cara lain yang digunakan sel telur mencegah sperma lain masuk adalah terjadinya reaksi kortikal mikrofil menjadi lebih sempit dan spermatozoa yang bertumpuk pada saluran mikrofil terdorong keluar. Reaksi korteks juga berfungsi membersihkan korion dari spermatozoa yang melekat karena akan mengganggu proses pernafasan zigot yang sedang berkembang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa hal yang mendukung berlangsungnya pembuahan yaitu spermatozoa yang tadinya tidak bergerak dalam cairan plasmanya, akan bergerak setelah bersentuhan dengan air dan dengan bantuan ekornya, bergerak ke arah telur. Selain itu, telur mengeluarkan zat gimnogamon yang berperan menarik spermatozoa ke arahnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5343438090319808433-6144117016751243466?l=budidaya-di.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://budidaya-di.blogspot.com/feeds/6144117016751243466/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2010/05/pembuahan-fertilisasi-pada-ikan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/6144117016751243466'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/6144117016751243466'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2010/05/pembuahan-fertilisasi-pada-ikan.html' title='Pembuahan (Fertilisasi) Pada Ikan'/><author><name>Budidaya Pertanian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02468176543501833983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5343438090319808433.post-6347668638346733712</id><published>2010-05-01T07:12:00.001-07:00</published><updated>2010-05-01T07:12:20.102-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Ikan'/><title type='text'>Perkembangan Gamet Jantan Pada Ikan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Perkembangan Gamet Jantan Pada Ikan&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Alat kelamin jantan meliputi kelenjar kelamin dan saluran-salurannya. Kelenjar kelamin jantan disebut testis. Pembungkus testikular yang mengelilingi testis, secara luas menghubungkan jaringan-jaringan testis, membentuk batasan-batasan lobular yang mengelilingi germinal epithelium. Spermatozoa dihasilkan dalam lobule yang dikelilingi sel-sel sertoli yang mempunyai fungsi nutritif.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Saluran sperma terdiri dari dua bagian. Bagian pertama berbatasan dengan testis, berguna untuk membuka lobule (juxta-testicular part) dan bagian lainnya adalah saluran sederhana yang menghubungkan bagian posterior testis ke genital papilla. Pada beberapa ikan, misalnya ikan salmon, tidak memiliki kantung seminal, tetapi pada bagian luar saluran sperma terdapat sel-sel yang berfungsi mengatur komposisi ion-ion cairan seminal dan mensekresi hormon.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5343438090319808433-6347668638346733712?l=budidaya-di.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://budidaya-di.blogspot.com/feeds/6347668638346733712/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2010/05/perkembangan-gamet-jantan-pada-ikan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/6347668638346733712'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/6347668638346733712'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2010/05/perkembangan-gamet-jantan-pada-ikan.html' title='Perkembangan Gamet Jantan Pada Ikan'/><author><name>Budidaya Pertanian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02468176543501833983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5343438090319808433.post-5843575579860321330</id><published>2010-04-25T06:51:00.001-07:00</published><updated>2010-04-25T06:51:46.883-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Ikan'/><title type='text'>Perkembangan Gamet Betina Pada Ikan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Perkembangan Gamet Betina Pada Ikan&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan gamet betina atau disebut juga oogenesis terjadi di dalam ovarium. Oogenesis diawali dengan perkembangbiakan oogonium beberapa kali melalui pembelahan mitosis, untuk memasuki tahap oosit primer. Selanjutnya terjadi pembelahan meiosis I, membentuk oosit sekunder dan polar body I melalui proses meiosis II oosit sekunder membelah menjadi oosit dan polar body II.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Oogenesis adalah proses kompleks yang secara keseluruhan merupakan pengumpulan kuning telur. Secara substansial, kuning telur terdiri atas tiga bentuk yaitu : kantung kuning telur (yolk vesicle), butiran kuning telur (yolk globule) dan tetesan minyak (oil droplet). Kantung kuning telur berisi glikoprotein dan pada perkembangan selanjutnya, menjadi kortikal alveoli. Butir-butir kuning telur terdiri atas lipoprotein, karbohidrat dan karoten. Oil droplet secara umum terdiri atas gliserol dan sejumlah kecil kolesterol.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5343438090319808433-5843575579860321330?l=budidaya-di.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://budidaya-di.blogspot.com/feeds/5843575579860321330/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2010/04/perkembangan-gamet-betina-pada-ikan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/5843575579860321330'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/5843575579860321330'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2010/04/perkembangan-gamet-betina-pada-ikan.html' title='Perkembangan Gamet Betina Pada Ikan'/><author><name>Budidaya Pertanian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02468176543501833983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5343438090319808433.post-6093349627001451217</id><published>2010-04-24T19:09:00.000-07:00</published><updated>2010-04-24T19:11:55.808-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Sayuran'/><title type='text'>Budidaya Kentang - Budidaya Tanaman</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Budidaya Kentang - Budidaya Tanaman&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah ini adalah daftar hasil pencarian di internet sesuai lewat google tentunya, dengan kata kunci yang Anda gunakan - &lt;b&gt;Budidaya Kentang&lt;/b&gt;-, Klik pada judul hasil pencarian untuk membaca informasi lebih detail mengenai &lt;i&gt;&lt;b&gt;Budidaya Kentang&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;, Kata kunci yang mungkin terkait adalah: &lt;i&gt;&lt;b&gt;Budidaya Tanaman Kentang&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;, &lt;b&gt;budidaya kentang ebook&lt;/b&gt;, &lt;i&gt;&lt;b&gt;petunjuk praktis budi daya kentang&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;a href="http://budidaya-di.blogspot.com/2010/04/budidaya-kentang-budidaya-tanaman.html"&gt;BUDIDAYA KENTANG&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;Kentang (Solanum tuberosum L) merupakan sumber utama karbohidrat, sehingga menjadi komoditi penting. PT. NATURAL NUSANTARA berupaya meningkatkan produksi kentang nasional secara kuantitas, kualitas dan tetap berdasarkan kelestarian lingkungan (Aspek 3K).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SYARAT PERTUMBUHAN&lt;br /&gt;2.1. Iklim&lt;br /&gt;Curah hujan rata-rata 1500 mm/tahun, lama penyinaran 9-10 jam/hari, suhu optimal 18-21 °C, kelembaban 80-90% dan ketinggian antara 1.000-3.000 m dpl.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Source: http://teknis-budidaya.blogspot.com/2007/10/budidaya-kentang.html&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/goog_1061297839"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://budidaya-di.blogspot.com/2010/04/budidaya-kentang-budidaya-tanaman.html"&gt;&lt;b&gt;Budidaya Kentang&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;( Solanun tuberosum L. )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. UMUM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1. Sejarah Singkat&lt;br /&gt;Tanaman ini berasal dari daerah subtropis di Eropa yang masuk ke Indonesia pada saat bangsa Eropa memasuki Indonesia di sekitar abad ke 17 atau 18.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.2. Sentra Penanaman&lt;br /&gt;Sentra tanaman yang utama adalah Lembang dan Pangalengan (Jawa Barat), Magelang (Jawa Timur), Bali. Produksi kentang pada tahun 1998 mencapai 1.011.316 ton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.3. Jenis Tanaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kentang (Solanum tuberosum L) termasuk jenis tanaman sayuran semusim, berumur pendek dan berbentuk perdu/semak. Kentang termasuk tanaman semusim karena hanya satu kali berproduksi, setelah itu mati. Umur tanaman kentang antara 90-180 hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Source: http://dimasadityaperdana.blogspot.com/2009/06/budidaya-kentang.html&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/goog_1061297843"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;a href="http://budidaya-di.blogspot.com/2010/04/budidaya-kentang-budidaya-tanaman.html"&gt;Budidaya Tanaman Kentang&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kentang (Solanum tuberosum L.) adalah tanaman dari suku Solanaceae yang memiliki umbi batang yang dapat dimakan dan disebut "kentang" pula. Umbi kentang sekarang telah menjadi salah satu makanan pokok penting di Eropa walaupun pada awalnya didatangkan dari Amerika Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjelajah Spanyol dan Portugis pertama kali membawa ke Eropa dan mengembangbiakkan tanaman ini pada abad XVI. Dengan cepat menu baru ini tersebar di seluruh bagian Eropa. Dalam sejarah migrasi orang Eropa ke Amerika, tanaman ini pernah menjadi pemicu utama perpindahan bangsa Irlandia ke Amerika pada abad ke-19, di kala terjadi wabah penyakit umbi di daratan Irlandia yang diakibatkan oleh jenis jamur yang disebut ergot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Source:http://cerianet-agricultur.blogspot.com/2008/11/budidaya-kentang.html&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/goog_1061297848"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://budidaya-di.blogspot.com/2010/04/budidaya-kentang-budidaya-tanaman.html"&gt;&lt;b&gt;Teknis Budidaya Kentang&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kentang (Solanum tuberosum L) merupakan sumber utama karbohidrat, sehingga menjadi komoditi penting. PT. NATURAL NUSANTARA berupaya meningkatkan produksi kentang nasional secara kuantitas, kualitas dan tetap berdasarkan kelestarian lingkungan (Aspek 3K). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Source: http://go-organik-2010.blogspot.com/2008/08/teknis-budidaya-kentang.html&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://budidaya-di.blogspot.com/2010/04/budidaya-kentang-budidaya-tanaman.html"&gt;&lt;b&gt;Syarat Tumbuh Tanaman Kentang&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kentang (Solanum tuberosum L)&amp;nbsp; merupakan sumber utama karbohidrat, sehingga menjadi salah satu komoditi penting. Kentang juga merupakan komoditas hortikultura yang paling berpeluang untuk pengembangan agribisnis dan agroindustri dibandingkan dengan komoditas hortikultura lainnya. Besarnya peluang ini disebabkan harga kentang relatif stabil, potensi bisnisnya tinggi, segmen usaha dapat dipilih sesuai dengan modal, pasar terjamin dan pasti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsumsi kentang untuk pasar tradisional mencakup 90 persen dari total pasar kentang di Indonesia, belum lagi peluang pasar lainnya seperti : pasar swalayan, restoran dan untuk bahan baku industri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanaman kentang dapat tumbuh dengan baik pada ketinggian antara 1.000-3.000 m dpl, curah hujan rata-rata 1500 mm/tahun, lama penyinaran 9-10 jam/hari, suhu optimal 18-21 °C, kelembaban 80-90% dan ketinggian antara 1.000-3.000 m dpl.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media yang cocok untuk budidaya tanaman kentang, yakni media tanah dengan struktur remah, gembur, banyak mengandung bahan organik, berdrainase baik dan memiliki lapisan olah yang dalam dan pH antara 5,8-7,0.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Source: http://www.ideelok.com/budidaya-tanaman/kentang&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5343438090319808433-6093349627001451217?l=budidaya-di.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://budidaya-di.blogspot.com/feeds/6093349627001451217/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2010/04/budidaya-kentang-budidaya-tanaman.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/6093349627001451217'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/6093349627001451217'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2010/04/budidaya-kentang-budidaya-tanaman.html' title='Budidaya Kentang - Budidaya Tanaman'/><author><name>Budidaya Pertanian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02468176543501833983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5343438090319808433.post-4469284008736849870</id><published>2010-04-24T18:27:00.000-07:00</published><updated>2010-04-24T18:27:27.482-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Ikan'/><title type='text'>Kebutuhan Lingkungan untuk Memijah (trigger) Ikan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Kebutuhan Lingkungan untuk Memijah (trigger) Ikan&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pemijahan ikan dipengaruhi oleh faktor eksternal (eksogenous) dan internal (endogenous).&amp;nbsp; Kedua faktor tersebut berpengaruh terhadap pematangan gonad akhir dan ovulasi oosit.&amp;nbsp; Faktor eksternal yang mempengaruhi reproduksi yaitu pendorong dan penghambat hormon gonadotropin, gonadotropin pra ovulasi dan respon ovarium terhadap GtH. &amp;nbsp;Sedangkan faktor eksternal yang mempengaruhi pemijahani adalah photo periode,&amp;nbsp; suhu, substrat untuk pemijahan dan hubungan dengan individu lain (faktor sosial) (Stacey, 1984). &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Pada sebagian besar ikan teleostei, adanya perbedaan antara faktor eksternal dan internal akan mendorong ikan melakukan strategi reproduksi tertentu. Fuktuasi kondisi lingkungan dapat mempengaruhi aktifitas neuroendokrin dan endokrin. Sementara itu neuroendokrin dan endokrin berperan penting dalam merangsang pematangan akhir oosit dirangsang oleh (Jalabert, 1976 dalam Stacey, 1984).&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Pada banyak kasus reproduksi ikan, sering ditemukan bahwa proses ovulasi ikan tidak dapat berlangsung, meskipun proses vitellogenesis sudah sempurna.&amp;nbsp; Keberhasilan proses ovulasi ditentukan oleh mekanisme fisiologi, proses metabolisme dan kesesuaian dengan faktor eksternal (kehadiran pejantan, substrat untuk pemijahan, rendahnya ancaman predator dan sebagainya).&amp;nbsp; Namun demikian informasi tentang peran faktor eksternal dalam proses reproduksi masih sangat terbatas.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Menurut Stacey (1984), beberapa faktor eksternal yang berperan penting bagi keberhasilan proses reproduksi adalah:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;1.&amp;nbsp; Photo periode&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Proses ovulasi pada beberapa ikan teleostei menunjukkan hubungan yang erat dengan photoperiod.&amp;nbsp; Ikan Oryzias latipes, perbedaan perlakuan photoperiod menunjukkan tingkat GtH yang berbeda, kadar GtH dalam darah meningkat pada photoperiod yang berubah-ubah (dari terang ke gelap dan sebaliknya).&amp;nbsp; Tetapi pada penerangan yang konstan (selalu terang atau gelap selalu) kadar GtH dalam darah cenderung berfluktuasi&amp;nbsp; (Iwamatsu, 1978 dalam Stacey, 1984).&amp;nbsp; Photoperiod diduga berpengaruh secara langsung terhadap mekanisme saraf yang menentukan waktu pemijahan bagi ikan laut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Ikan cyprinidae yang hidup di daerah subtropik seperti Notemigonus crysoleucas, Carassius auratus, Gila cypha dan Couesius plumbeus biasanya memijah pada akhir musim semi dan awal musim panas.&amp;nbsp; Proses gametogenesis disesuaikan dengan suhu dan photo periode.&amp;nbsp; Pada musim dingin gametogenesis berlangsung lambat, kemudian semakin meningkat pada musim panas dan mencapai tahap perkembangan sempurna pada musim semi (Helfman et al., 1997).&lt;br /&gt;Jourdan et al. (2000) menyatakan bahwa ikan Perca fluviatilis yang dipelihara pada laboratorium dengan photo periode 24 jam menunjukkan kematian yang lebih tinggi 7,4% dibandingkan dengan photo periode 12 jam dan 18 jam (masing-masing 3,2% dan 3,3%).&amp;nbsp; Selanjutnya dikatakan bahwa pada photo periode yang lebih lama perkembangan gonad akan terhambat (terutama ikan jantan).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;2. Suhu&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Suhu berpengaruh terhadap berbagai fungsi sistem reproduksi ikan teleostei, termasuk laju sekresi dan pembersihan GnRH, pengikatan GtH oleh gonad, siklus harian GtH, sintesis dan katabolisme steroid, serta stimulasi GtH (Stacey, 1984).&amp;nbsp; Perubahan suhu yang terlalu tinggi dapat menjadi trigger tingkah laku pemijahan ikan.&amp;nbsp; Suhu juga berpengaruh langsung dalam menstimulasi endokrin yang mendorong terjadinya ovulasi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Siklus reproduksi musiman pada ikan tropis cenderung dipengaruhi oleh adanya hujan, bukan oleh suhu.&amp;nbsp; Pada musim hujan akan banyak ditemukan daerah genangan air seperti rawa banjiran yang berfungsi sebagai tempat pemijahan dan daerah asuhan larva.&amp;nbsp; Beberapa ikan tropis (seperti: mormyridae, cyprinidae), pada musim hujan akan melakukan migrasi ke hulu sungai dan rawa banjiran untuk memijah (Munro, 1990 dalam Helfman et al, 1997).&lt;br /&gt;Suhu juga berperan penting dalam reproduksi ikan Smallmouth Bass, suhu mempengaruhi waktu pemijahan, pematangan gonad dan keberhasilan pemijahan.&amp;nbsp; Pada ikan ini fluktuasi suhu mempengaruhi tempat pembuatan sarang, jumlah telur yang menetas dan tingkah laku menjaga anaknya (Cookea et al., 2003).&amp;nbsp; Suhu yang tidak stabil mendorong induk ikan Smallmouth Bass melakukan penjagaan terhadap anak-anaknya yang baru menetas (Carlisle,1982 dalam Cookea et al., 2003).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Pada ikan Medaka (Oryzias latipes) lama waktu sintesis DNA tahap dini dalam leptotene spermatocyte sampai spermatid tahap awal pada suhu 25°C adalah 5 hari, sedangkan pada suhu 15°C memerlukan waktu 12 hari.&amp;nbsp; Lama perkembangan spermatid awal sampai spermatozoa adalah 7 hari (pada suhu 25°C) dan 8 hari (pada suhu 15°C).&amp;nbsp; Pada ikan Guppy lama waktu perkembangan leptotene tahap awal menjadi spermatozoa adalah 125 hari pada suhu 25°C, sedangkan Poecillia shenops lama waktu perkembangan leptotene tahap awal menjadi spermatozoa pada suhu yang sama adalah 125 hari (Nagahama, 1987 dalam Tang dan Affandi, 2001).&amp;nbsp; Suhu lingkungan yang tinggi cukup menjadi trigger dalam pematangan seksual ikan Brachyhypopomus pinnicaudatus yang hidup di daerah subtropik (Quintana et al., 2004).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Menurut Yamamoto (1966) dalam Stacey (1984), proses vitellogeneis pada ikan Goldfish yang dipelihara pada suhu kurang dari 14°C , tetapi tidak terjadi ovulasi.&amp;nbsp; Ovulasi berlangsung dalam waktu sehari setelah suhu ditingkatkan menjadi 20°C.&amp;nbsp;&amp;nbsp; peningkatan suhu air juga dapat mempercepat vitellogenesis ikan Tinca tinca yang dipelihara pada kolam terbuka.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;3. Substrat pemijahan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Mekanisme pengaturan ovulasi dipengaruhi oleh kebutuhan ikan terhadap jenis substrat tertentu.&amp;nbsp; Jika substrat yang sesuai belum ditemukan, maka ovulasi tidak akan terjadi.&amp;nbsp; Fenomena ini dapat dilihat pada ikan-ikan yang tempat pemijahannya memerlukan jenis substrat tertentu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Ikan Goldfish akan memijah dengan baik jika menemukan vegetasi untuk menempelkan telurnya, jika ditemukan vegetasi maka ovulasi akan terhambat.&amp;nbsp; Stimulasi proses pemijahan beberapa spesies ikan dapat dilakukan dengan pemberian “petrichor”, yaitu campuran berbagai bahan organik yang telah dikeringkan (Stacey, 1984).&lt;br /&gt;Tamaru et al. (2001b) mengatakan bahwa tanaman air dan akar pohon yang terendam air serin digunakan sebagai subtrat untuk menempelkan telur oleh ikan Ikan Sumatra (Capoeta tetrazona) betina.&amp;nbsp; Pada saat pemijahan berlangsung, ikan jantan akan menempelkan sirip perutnya ke tubuh ikan betina, sehingga sperma dan telur terlepas kemudian menempel pada substrat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;4. Ketersediaan makanan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Komposisi protein merupakan faktor esensial yang dibutuhkan ikan untuk pematangan gonad.&amp;nbsp; Watanabe et al. (1984) dalam Tang dan Affandi (2001) menyatakan bahwa kadar protein 45% baik bagi perkembangan gonad ikan Kakap Merah, sedangkan kadar protein 36% baik bagi ikan Trout Lembayung.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Lemak adalah komponen pakan kedua setelah protein, pakan induk yang kekurangan asam lemak esensial akan menghasilkan laju pematangan gonad yang rendah.&amp;nbsp; Tetapi proporsi lemak yang relatif rendah dengan Ω3-HUFA tinggi dapat meningkatkan kematangan gonad.&amp;nbsp; Kadar HUFA yang baik bagi ikan Clarias batrachus adalah Ω6 sebanyak 0,26% dan&amp;nbsp; Ω3 sebanyak 1,68% yang terkandung dalam kadar lemak rata-rata 5,87 g/100g bobot kering pakan (Mokoginta et al., 1995 dalam Tang dan Affandi, 2001).&amp;nbsp; Selanjutnya dikatakan bahwa komposisi karbohidrat pakan induk ikan lele adalah serat kasar 3,19%-5,83% dan kadar abu 5,02%-6,15%.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Mineral yang penting bagi pematangan gonad adalah phospor (P), seng (Zn), dan mangan (Mn) (NRC, 1993 dalam Tang dan Affandi, 2001).&amp;nbsp; Sedangkan vitamin E berperan penting dalam pematangan gonad.&amp;nbsp; Kandungan vitamin E dalam pakan sebesar 24,5 IU/g pakan menunjukkan hasil terbaik bagi pematangan gonad ikan Ekor kuning (Verankupiya et al., 1995 dalam Tang dan Affandi, 2001).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;5. Faktor sosial (hubungan antar individu)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Interaksi antar individu dapat mempengaruhi tingkah lau reproduksi dan fertilitas.&amp;nbsp; Salah satu spesies chichlid Haplochromis burtoni, interaksi antara ikan jantan mempengaruhi fungsi gonad.&amp;nbsp; Mekanisme ini diatur oleh otak melalui saraf yang mengatur pelepasan GnRH sesuai dengan status sosial ikan jantan (White et al., 2002).&amp;nbsp; GnRH dikirim oleh saraf hyphotalamus ke pituitary yang mengatur proses reproduksi melalui pelepasan pituitary gonadotropin yang mengatur fungsi gonad (Sherwood, 1987 dalam White et al., 2002).&lt;br /&gt;Stimuli yang bersifat visual dan kimia dari individu lain dapat meningkatkan frekuensi pemijahan.&amp;nbsp; Stimuli ini mendorong perkembangan ovarium tetapi tidak mempengaruhi ovulasi secara langsung.&amp;nbsp; Pada ikan sepat (Trichogaster pectoralis), aktifitas ikan jantan yang sedang membuat sarang dapat mempercepat ovulasi.&amp;nbsp; Pada beberapa spesies ikan, ovulasi akan terhambat jika kepadatan ikan pada suatu perairan sangat tinggi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;6. Salinitas&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pada ikan Black Bream (Acanthopagrus butcheri) salinitas tidak berpengaruh terhadap pematangan gonad ikan jantan maupun betina.&amp;nbsp; Tingkat plasma steroid ikan betina tidak terpengaruh oleh salinitas, tetapi pada ikan jantan yang dipelihara salinitas 35‰ daripada salinitas 5‰ pada bulan September, plasma 17,20b-dihydroxy-4-progestero-3-one 17,20bP dan 11-ketotestosterone menunjukkan peningkatan (Haddy dan Pankhurst, 2000a).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5343438090319808433-4469284008736849870?l=budidaya-di.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://budidaya-di.blogspot.com/feeds/4469284008736849870/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2010/04/kebutuhan-lingkungan-untuk-memijah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/4469284008736849870'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/4469284008736849870'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2010/04/kebutuhan-lingkungan-untuk-memijah.html' title='Kebutuhan Lingkungan untuk Memijah (trigger) Ikan'/><author><name>Budidaya Pertanian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02468176543501833983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5343438090319808433.post-5836579405547184332</id><published>2010-04-24T08:12:00.000-07:00</published><updated>2010-04-24T08:12:05.063-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Ikan'/><title type='text'>Reproduksi Ikan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Reproduksi Ikan&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Reproduksi merupakan hal yang sangat penting bagi kelangsungan hidup suatu organisme. Bayangkan apabila ada suatu organisme yang tidak melakukan reproduksi, tentu saja akan menganggu keseimbangan alam. Ingat rantai makanan? Bayangkanlah salah satu mata rantai tersebut hilang. Tentu akan tidak seimbang proses alam ini. Yang akan menghancurkan sebuah ekosistem,atau bahkan peradaban.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ikan melakukan reproduksi secara eksternal. Dalam hal ini, ikan jantan dan betina akan saling mendekat satu sama lain kemudian si betina akan mengeluarkan telur. Selanjutnya si jantan akan segera mengeluarkan spermanya, lalu sperma dan telur ini bercampur di dalam air. cara reproduksi ini dikenal sebagai oviparus, yaitu telur dibuahi dan berkembang di luar tubuh ikan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ikan terkenal sebagai mahluk yang mempunyai potensi fekunditas yang tinggi dimana kebanyakan jenis ikan yang merupakan penghasil telur beribu-ribu bahkan berjuta-juta tiap tahun. Apabila alam tidak mengaturnya maka dunia akan sangat padat dengan ikan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Cara reproduksi ikan yang ada antara lain :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. Ovipar, sel telur dan sel sperma bertemu di luar tubuh dan embrio ikan berkembang di luar tubuh sang induk. Contoh : ikan pada umumnya&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2. Vivipar, kandungan kuning telur sangat sedikit, perkembangan embrio ditentukan oleh hubungannya dengan placenta, dan anak ikan menyerupai induk dewasa&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3. Ovovivipar, sel telur cukup banyak mempunyai kuning telur, Embrio berkembang di dalam tubuh ikan induk betina, dan anak ikan menyerupai induk dewasa. Contoh : ikan-ikan livebearers&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Faktor-faktor yang mempengaruhi kematangan seksual ikan antara lain spesies, ukuran, dan umur. Secara umum ikan-ikan yang mempunyai ukuran maksimum kecil dan jangka waktu hidup yang relatif pendek, akan mencapai kematangan kematangan seksual lebih cepat dibandingkan ikan yang mempunyai ukuran maksimum lebih besar.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada berbagai cara yang sudah dilakukan oleh orang-orang perikanan yang bekerja di bidang akuaultur. Adanya pemijahan buatan dapat mempercepat produksi ikan di sebuah tambak atau hatchery. Hal ini dilakukan untuk mengejar target pasar agar kebutuhan konsumen terpenuhi. Dengan cara menyuntikan hormon untuk mematangkan sel telur. Sehingga kita dapat mengawinkan ikan sesuai kebutuhan yang kita inginkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5343438090319808433-5836579405547184332?l=budidaya-di.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://budidaya-di.blogspot.com/feeds/5836579405547184332/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2010/04/reproduksi-ikan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/5836579405547184332'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/5836579405547184332'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2010/04/reproduksi-ikan.html' title='Reproduksi Ikan'/><author><name>Budidaya Pertanian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02468176543501833983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5343438090319808433.post-134921646461584726</id><published>2010-04-23T00:54:00.001-07:00</published><updated>2010-04-23T01:02:35.205-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Ikan'/><title type='text'>Pola pemijahan (reproduksi) Beberapa Jenis ikan</title><content type='html'>&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="Content-Type"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5CAXIO%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;o:smarttagtype name="City" namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype name="country-region" namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype name="State" namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype name="place" namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5CAXIO%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5CAXIO%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Font Definitions */ @font-face	{font-family:Wingdings;	panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0;	mso-font-charset:2;	mso-generic-font-family:auto;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;}@font-face	{font-family:"Cambria Math";	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;	mso-font-charset:0;	mso-generic-font-family:roman;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;}@font-face	{font-family:TimesNewRomanPS-BoldMT;	panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0;	mso-font-alt:"Times New Roman";	mso-font-charset:0;	mso-generic-font-family:roman;	mso-font-format:other;	mso-font-pitch:auto;	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal	{mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-parent:"";	margin:0in;	margin-bottom:.0001pt;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:12.0pt;	font-family:"Times New Roman","serif";	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}h1	{mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-link:"Heading 1 Char";	mso-margin-top-alt:auto;	margin-right:0in;	mso-margin-bottom-alt:auto;	margin-left:0in;	mso-pagination:widow-orphan;	mso-outline-level:1;	font-size:24.0pt;	font-family:"Times New Roman","serif";	font-weight:bold;}p	{mso-style-unhide:no;	mso-margin-top-alt:auto;	margin-right:0in;	mso-margin-bottom-alt:auto;	margin-left:0in;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:12.0pt;	font-family:"Times New Roman","serif";	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}span.Heading1Char	{mso-style-name:"Heading 1 Char";	mso-style-unhide:no;	mso-style-locked:yes;	mso-style-link:"Heading 1";	mso-ansi-font-size:24.0pt;	mso-bidi-font-size:24.0pt;	mso-font-kerning:18.0pt;	font-weight:bold;}.MsoChpDefault	{mso-style-type:export-only;	mso-default-props:yes;	font-size:10.0pt;	mso-ansi-font-size:10.0pt;	mso-bidi-font-size:10.0pt;}@page Section1	{size:8.5in 11.0in;	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in;	mso-header-margin:.5in;	mso-footer-margin:.5in;	mso-paper-source:0;}div.Section1	{page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0	{mso-list-id:27535997;	mso-list-template-ids:1301814050;}@list l0:level1	{mso-level-number-format:bullet;	mso-level-text:;	mso-level-tab-stop:.5in;	mso-level-number-position:left;	text-indent:-.25in;	mso-ansi-font-size:10.0pt;	font-family:Symbol;}@list l1	{mso-list-id:521748625;	mso-list-template-ids:-2041174166;}@list l1:level1	{mso-level-number-format:bullet;	mso-level-text:;	mso-level-tab-stop:.5in;	mso-level-number-position:left;	text-indent:-.25in;	mso-ansi-font-size:10.0pt;	font-family:Symbol;}@list l2	{mso-list-id:810102699;	mso-list-template-ids:-451780408;}@list l2:level1	{mso-level-number-format:bullet;	mso-level-text:;	mso-level-tab-stop:.5in;	mso-level-number-position:left;	text-indent:-.25in;	mso-ansi-font-size:10.0pt;	font-family:Symbol;}@list l2:level2	{mso-level-number-format:bullet;	mso-level-text:o;	mso-level-tab-stop:1.0in;	mso-level-number-position:left;	text-indent:-.25in;	mso-ansi-font-size:10.0pt;	font-family:"Courier New";	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";}@list l2:level3	{mso-level-number-format:bullet;	mso-level-text:;	mso-level-tab-stop:1.5in;	mso-level-number-position:left;	text-indent:-.25in;	mso-ansi-font-size:10.0pt;	font-family:Wingdings;}@list l3	{mso-list-id:951286289;	mso-list-template-ids:-2132233010;}@list l3:level1	{mso-level-number-format:bullet;	mso-level-text:;	mso-level-tab-stop:.5in;	mso-level-number-position:left;	text-indent:-.25in;	mso-ansi-font-size:10.0pt;	font-family:Symbol;}@list l3:level2	{mso-level-number-format:bullet;	mso-level-text:o;	mso-level-tab-stop:1.0in;	mso-level-number-position:left;	text-indent:-.25in;	mso-ansi-font-size:10.0pt;	font-family:"Courier New";	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";}@list l4	{mso-list-id:961613651;	mso-list-template-ids:325343910;}@list l4:level1	{mso-level-number-format:bullet;	mso-level-text:;	mso-level-tab-stop:.5in;	mso-level-number-position:left;	text-indent:-.25in;	mso-ansi-font-size:10.0pt;	font-family:Symbol;}@list l5	{mso-list-id:1217623982;	mso-list-template-ids:619976924;}@list l5:level1	{mso-level-number-format:bullet;	mso-level-text:;	mso-level-tab-stop:.5in;	mso-level-number-position:left;	text-indent:-.25in;	mso-ansi-font-size:10.0pt;	font-family:Symbol;}@list l5:level2	{mso-level-number-format:bullet;	mso-level-text:o;	mso-level-tab-stop:1.0in;	mso-level-number-position:left;	text-indent:-.25in;	mso-ansi-font-size:10.0pt;	font-family:"Courier New";	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";}@list l6	{mso-list-id:1750542812;	mso-list-template-ids:802599812;}@list l6:level1	{mso-level-number-format:bullet;	mso-level-text:;	mso-level-tab-stop:.5in;	mso-level-number-position:left;	text-indent:-.25in;	mso-ansi-font-size:10.0pt;	font-family:Symbol;}@list l6:level2	{mso-level-number-format:bullet;	mso-level-text:o;	mso-level-tab-stop:1.0in;	mso-level-number-position:left;	text-indent:-.25in;	mso-ansi-font-size:10.0pt;	font-family:"Courier New";	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";}@list l7	{mso-list-id:1819035639;	mso-list-template-ids:817391986;}@list l7:level1	{mso-level-number-format:bullet;	mso-level-text:;	mso-level-tab-stop:.5in;	mso-level-number-position:left;	text-indent:-.25in;	mso-ansi-font-size:10.0pt;	font-family:Symbol;}@list l7:level2	{mso-level-number-format:bullet;	mso-level-text:o;	mso-level-tab-stop:1.0in;	mso-level-number-position:left;	text-indent:-.25in;	mso-ansi-font-size:10.0pt;	font-family:"Courier New";	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";}@list l7:level3	{mso-level-tab-stop:1.5in;	mso-level-number-position:left;	text-indent:-.25in;}@list l7:level4	{mso-level-number-format:bullet;	mso-level-text:;	mso-level-tab-stop:2.0in;	mso-level-number-position:left;	text-indent:-.25in;	mso-ansi-font-size:10.0pt;	font-family:Wingdings;}@list l2:level2 lfo2	{mso-level-start-at:0;	mso-level-number-format:arabic;	mso-level-numbering:continue;	mso-level-text:"%2\.";	mso-level-tab-stop:none;	mso-level-number-position:left;	margin-left:0in;	text-indent:0in;}ol	{margin-bottom:0in;}ul	{margin-bottom:0in;}--&gt;&lt;/style&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;h1&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Pola pemijahan (reproduksi) Beberapa Jenis ikan&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tingkah laku dan proses reproduksi pada ikan merupakan hal yang sangat menarik untuk dipelajari.&amp;nbsp; Kami telas membuat ringkasan tentang pemijahan (perkawinan)&amp;nbsp;ikan berdasarkan jumlah pemijahan dalam satu tahun,&amp;nbsp;pemilihan pasangan, jenis kelamin, pembuatan dan tipe sarang, serta pemeliharaan anak dan lainnya.&amp;nbsp; Tentu saja mekanisme pemijahan pada ikan tidaklah sederhana, tetapi dipengaruhi banyak faktor baik internal maupun eksternal.&amp;nbsp; Tulisan ini dibuat dengan tujuan untuk mempermudah pemahaman kita tentang pemijahan ikan.&amp;nbsp; Jika ingin tahu lebih detail, silakan baca artikel saya yang lainnya di site ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;A.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kesempatan melakukan pemijahan&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Semelparous      (memijah sekali kemudian mati) &lt;/li&gt;&lt;ul type="circle"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;contoh:       lampreys, river eels (sidat/pelus), some knifefish (ikan pisau-pisau)&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Iteroparous      (memijah beberapa kali sepanjang hidupnya) &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul type="disc"&gt;&lt;ol start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;Memijah sepanjang       tahun, pemijahan hanya dilakukan sekali setiap tahun, tetapi dengan masa       pemijahan yang panjang. Pematangan telur tidak terjadi secara bersamaan,       sehingga telur yang dikeluarkan dan menetas pun tdak bersamaan. &lt;/li&gt;&lt;ul type="square"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;contoh:&amp;nbsp;ikan-ikan        rivulines&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pemijahan dilakukan       beberapa kali dalam satu tahun &lt;/li&gt;&lt;ul type="square"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;contoh:        sebagian besar ikan asuk dalam kategori ini (elasmobranch (ikan        bertulang rawan), lungfishes (ikan berparu-paru), perciforms, Betta spp.        (ikan adu). &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;B.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pasangan dalam pemijahan&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Promiscuous&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;:      ikan jantan dan betina masing-masing memiliki beberapa pasangan dalam satu      musim pemijahan. Jadi ikan jantan akan membuahi beberapa ikan betina dan      ikan betina akan dibuahi oleh beberapa pejantan, semacam      "swinger" begitu...he he he &lt;/li&gt;&lt;ul type="circle"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;contoh:       herring, livebearers, sticklebacks, surgeonfish&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Polygamous      Polygyny&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;: ikan jantan memiliki beberapa pasangan dalam satu      musim pemijahan &lt;/li&gt;&lt;ul type="circle"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;contoh:       sebagian besar jenis chichlids (mujahir), serranidae, angelfish       (maanvis), gurami.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Polyandry      &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;: ikan betina memiliki beberapa pasangan dalam satu musim      pemijahan. &lt;/li&gt;&lt;ul type="circle"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;contoh:       anemone fishes (ingat anemone, pasti ingat NEMO &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:state w:st="on"&gt;kan&lt;/st1:state&gt;&lt;/st1:place&gt;?)&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Monogamy&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;      : ikan memijah dengan pasangan yang sama selama beberapa periode pemijahan      (wah setia banget yach...) &lt;/li&gt;&lt;ul type="circle"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;contoh:       serranus (jenis beronang), beberpa jenis cichlid (misalnya ikan       Oscar),&amp;nbsp;jawfish, hamlets &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;C.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Jenis kelamin&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Gonochoristic&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;      : jenis kelamin jelas dan tidak berubah ketika ikan sudah matang kelamin) &lt;/li&gt;&lt;ul type="circle"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;contoh:       sebagian besar ikan masuk kategori ini (elasmobranch, cypriniforms,       salmoniforms)&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Hermaphroditic&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;      : keungkinan terjadi perubahan kelamin setelah pematangan gonad &lt;/li&gt;&lt;ul type="circle"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Simultaneous       (satu individu ikan mempnyai dua jenis kelamin yaitu jantan dan       betina).&amp;nbsp; Contoh: rivulus, hamlet, serranus&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sequential       (ikan mengalami perubahan kelamin dari jantan ke betina, atau sebaliknya)       &lt;/li&gt;&lt;ol start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Protandrous        (ikan pada awalnya berjenis kelamin betina, kemudian berubah menjadi        jantan) &lt;/li&gt;&lt;ul type="square"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;contoh:         anemonefishes, lates calcalifer (ikan kakap)&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Protogynous        (jenis kelamin awal betina, kemudian berubah menjadi jantan) &lt;/li&gt;&lt;ul type="square"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;contoh:         Angelfishes, Ephinephelus sp.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;D.&amp;nbsp; Parthenogenetic (egg development occurs without fertilization)&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Gynogenetic:      ikan jantan tidak membuahi ikan betina, tetapi hanya mengaktifkan telurnya      saja. &lt;/li&gt;&lt;ul type="circle"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;contoh:       Poeciliopsis, Poecilia &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:country-region w:st="on"&gt;Formosa&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;       (no male contribution, only egg activation)&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Hybridogenetic:      ikan jantan membuahi ikan betina pada satu musim pemijahan, tetapi tidak      pada musim pemajah berikutnya. &lt;/li&gt;&lt;ul type="circle"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;contoh:       Poeciliopsis (male contribution discarded each generation)&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;b&gt;E.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;  Karakteristik&lt;/b&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;b&gt; jenis kelamin sekunder&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Monomorphic&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sexually      dimorphic&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Polymorphic&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;F.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Persiapan sarang pemijahan&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Tidak      membuat sarang, dilakukan oleh ikan yang cenderung meyerakkan      (menyebarkan) telurnya ke perairan. contoh: ikan salmon, ikan tawes dan      nilem&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Membuat      dan menjaga sarangnya, contoh: ikan gobi, gurami, cichlid (mujahir).&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;G.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tempat terjadinya pembuahan&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;External:      pembuahan terjadi diluar tubuh induknya, telur keluar dari tubuh ikan      betina kemudian akan disemprot oleh sperma ikan jantan.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Internal:pembuahan      terjadi didalam tubuh ikan betina, ada coetus lah... contoh:elasmobranch,      livebearers&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Buccal (in      the mouth): pembuahan terjadi di mulut ikan betina (tapi bukan oral sex      lho), telur yang dikeluarkan betina dimasukkan dalam mulutnya kemudian      disemprot sperma pejantan tangguh.&amp;nbsp; Biasanya telur yang telah menetas      akan tetap berada di mulut induknya selama waktu tertentu. contoh: beberpa      jenis&amp;nbsp;cichlids, ikan arwana&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;H.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pengasuhan oleh induk&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Siapa bilang cuma manusia yang bisa mengasuh anaknya, ikan juga bisa loh..&lt;/div&gt;&lt;ul type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Induk      tidak mengasuh anaknya, contoh:&amp;nbsp;sebagian besar&amp;nbsp;species ikan&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ikan      jantan menjaga dan mengasuh anaknya, contoh: ikan cupang (Betta sp.),&amp;nbsp;sea      catfishes, greenlings&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Betina      mengasuh anaknya: &lt;/li&gt;&lt;ul type="circle"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ovipar       tanpa pengasuhan pasca pemijahan, contoh: Oreochromis&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ovovivipar       tanpa disertai pengasuhan setelah pemijahan, contoh: rock fishes       (Sebastes)&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Vivipar       tanpa disertai pengasuhan setelah pemijahan, contoh: elasmobranch,       Poecillia&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pengasuhan      bersama ikan jantan dan betina, contoh: discus, cichlasoma&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Bantuan      oleh juvenil lainnya:&amp;nbsp;beberapa jeniscichlid Afrika.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;u&gt;Referensi&lt;/u&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;TimesNewRomanPS-BoldMT&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 7.5pt;"&gt;Helfman, G. S., Collette, B. B., dan Facey, D. E.&amp;nbsp; 1997.&amp;nbsp; &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;TimesNewRomanPS-BoldMT&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;The Diversity of Fishes. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;Blackwell Science Inc., &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;Oxford&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5343438090319808433-134921646461584726?l=budidaya-di.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://budidaya-di.blogspot.com/feeds/134921646461584726/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2010/04/pola-pemijahan-reproduksi-beberapa.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/134921646461584726'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/134921646461584726'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2010/04/pola-pemijahan-reproduksi-beberapa.html' title='Pola pemijahan (reproduksi) Beberapa Jenis ikan'/><author><name>Budidaya Pertanian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02468176543501833983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5343438090319808433.post-6960175513122816476</id><published>2010-03-26T06:52:00.000-07:00</published><updated>2010-03-26T06:53:25.050-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Sawit'/><title type='text'>Budidaya Kelapa Sawit</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Budidaya Kelapa Sawit&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelapa sawit berbentuk pohon. Tingginya dapat mencapai 24 meter. Akar serabut tanaman kelapa sawit mengarah ke bawah dan samping. Selain itu juga terdapat beberapa akar napas yang tumbuh mengarah ke samping atas untuk mendapatkan tambahan aerasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti jenis palma lainnya, daunnya tersusun majemuk menyirip. Daun berwarna hijau tua dan pelepah berwarna sedikit lebih muda. Penampilannya agak mirip dengan tanaman salak, hanya saja dengan duri yang tidak terlalu keras dan tajam. Batang tanaman diselimuti bekas pelepah hingga umur 12 tahun. Setelah umur 12 tahun pelapah yang mengering akan terlepas sehingga penampilan menjadi mirip dengan kelapa.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_WtXCykFMI6Y/S6y8DYa5PqI/AAAAAAAAABo/oynh-9CTt9A/s1600/kelapa_sawit.jpeg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_WtXCykFMI6Y/S6y8DYa5PqI/AAAAAAAAABo/oynh-9CTt9A/s320/kelapa_sawit.jpeg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bunga jantan dan betina terpisah namun berada pada satu pohon (monoecious diclin) dan memiliki waktu pematangan berbeda sehingga sangat jarang terjadi penyerbukan sendiri. Bunga jantan memiliki bentuk lancip dan panjang sementara bunga betina terlihat lebih besar dan mekar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanaman sawit dengan tipe cangkang pisifera bersifat female steril sehingga sangat jarang menghasilkan tandan buah dan dalam produksi benih unggul digunakan sebagai tetua jantan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buah sawit mempunyai warna bervariasi dari hitam, ungu, hingga merah tergantung bibit yang digunakan. Buah bergerombol dalam tandan yang muncul dari tiap pelapah. Minyak dihasilkan oleh buah. Kandungan minyak bertambah sesuai kematangan buah. Setelah melewati fase matang, kandungan asam lemak bebas (FFA, free fatty acid) akan meningkat dan buah akan rontok dengan sendirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buah terdiri dari tiga lapisan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Eksoskarp, bagian kulit buah berwarna kemerahan dan licin.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Mesoskarp, serabut buah&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Endoskarp, cangkang pelindung inti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inti sawit (kernel, yang sebetulnya adalah biji) merupakan endosperma dan embrio dengan kandungan minyak inti berkualitas tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelapa sawit berkembang biak dengan cara generatif. Buah sawit matang pada kondisi tertentu embrionya akan berkecambah menghasilkan tunas (plumula) dan bakal akar (radikula).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Syarat Hidup&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Habitat aslinya adalah daerah semak belukar. Sawit dapat tumbuh dengan baik di daerah tropis (15° LU - 15° LS). Tanaman ini tumbuh sempurna di ketinggian 0-500 m dari permukaan laut dengan kelembaban 80-90%. Sawit membutuhkan iklim dengan curah hujan stabil, 2000-2500 mm setahun, yaitu daerah yang tidak tergenang air saat hujan dan tidak kekeringan saat kemarau. Pola curah hujan tahunan memperngaruhi perilaku pembungaan dan produksi buah sawit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tipe Kelapa Sawit&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelapa sawit yang dibudidayakan terdiri dari dua jenis: E. guineensis dan E. oleifera. Jenis pertama adalah yang pertama kali dan terluas dibudidayakan orang. E. oleifera sekarang mulai dibudidayakan pula untuk menambah keanekaragaman sumber daya genetik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penangkar seringkali melihat tipe kelapa sawit berdasarkan ketebalan cangkang, yang terdiri dari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Dura,&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Pisifera, dan&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; * Tenera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dura merupakan sawit yang buahnya memiliki cangkang tebal sehingga dianggap memperpendek umur mesin pengolah namun biasanya tandan buahnya besar-besar dan kandungan minyak per tandannya berkisar 18%. Pisifera buahnya tidak memiliki cangkang namun bunga betinanya steril sehingga sangat jarang menghasilkan buah. Tenera adalah persilangan antara induk Dura dan jantan Pisifera. Jenis ini dianggap bibit unggul sebab melengkapi kekurangan masing-masing induk dengan sifat cangkang buah tipis namun bunga betinanya tetap fertil. Beberapa tenera unggul memiliki persentase daging per buahnya mencapai 90% dan kandungan minyak per tandannya dapat mencapai 28%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk pembibitan massal, sekarang digunakan teknik kultur jaringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Hasil Tanaman&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minyak sawit digunakan sebagai bahan baku minyak makan, margarin, sabun, kosmetika, industri baja, kawat, radio, kulit dan industri farmasi. Minyak sawit dapat digunakan untuk begitu beragam peruntukannya karena keuunggulan sifat yang dimilikinya yaitu tahan oksidasi dengan tekanan tinggi, mampu melarutkan bahan kimia yang tidak larut oleh bahan pelarut lainnya, mempunyai daya melapis yang tinggi dan tidak menimbulkan iritasi pada tubuh dalam bidang kosmetik.[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian yang paling populer untuk diolah dari kelapa sawit adalah buah. Bagian daging buah menghasilkan minyak kelapa sawit mentah yang diolah menjadi bahan baku minyak goreng dan berbagai jenis turunannya. Kelebihan minyak nabati dari sawit adalah harga yang murah, rendah kolesterol, dan memiliki kandungan karoten tinggi. Minyak sawit juga diolah menjadi bahan baku margarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minyak inti menjadi bahan baku minyak alkohol dan industri kosmetika. Bunga dan buahnya berupa tandan, bercabang banyak. Buahnya kecil, bila masak berwarna merah kehitaman. Daging buahnya padat. Daging dan kulit buahnya mengandung minyak. Minyaknya itu digunakan sebagai bahan minyak goreng, sabun, dan lilin. Ampasnya dimanfaatkan untuk makanan ternak. Ampas yang disebut bungkil itu digunakan sebagai salah satu bahan pembuatan makanan ayam. Tempurungnya digunakan sebagai bahan bakar dan arang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buah diproses dengan membuat lunak bagian daging buah dengan temperatur 90°C. Daging yang telah melunak dipaksa untuk berpisah dengan bagian inti dan cangkang dengan pressing pada mesin silinder berlubang. Daging inti dan cangkang dipisahkan dengan pemanasan dan teknik pressing. Setelah itu dialirkan ke dalam lumpur sehingga sisa cangkang akan turun ke bagian bawah lumpur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisa pengolahan buah sawit sangat potensial menjadi bahan campuran makanan ternak dan difermentasikan menjadi kompos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi: wikipedia.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5343438090319808433-6960175513122816476?l=budidaya-di.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://budidaya-di.blogspot.com/feeds/6960175513122816476/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2010/03/budidaya-kelapa-sawit.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/6960175513122816476'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/6960175513122816476'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2010/03/budidaya-kelapa-sawit.html' title='Budidaya Kelapa Sawit'/><author><name>Budidaya Pertanian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02468176543501833983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_WtXCykFMI6Y/S6y8DYa5PqI/AAAAAAAAABo/oynh-9CTt9A/s72-c/kelapa_sawit.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5343438090319808433.post-6976621529332866411</id><published>2010-03-02T05:09:00.000-08:00</published><updated>2010-03-02T05:09:36.811-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Ayam'/><title type='text'>Budidaya Ayam Petelur Atau Ayam Bertelur</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Budidaya Ayam Petelur Atau Ayam Bertelur&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayam petelur adalah ayam-ayam betina dewasa yang dipelihara khusus untuk diambil telurnya. Asal mula ayam unggas adalah berasal dari ayam hutan dan itik liar yang ditangkap dan dipelihara serta dapat bertelur cukup banyak. Tahun demi tahun ayam hutan dari wilayah dunia diseleksi secara ketat oleh para pakar. Arah seleksi ditujukan pada produksi yang banyak, karena ayam hutan tadi dapat diambil telur dan dagingnya maka arah dari produksi yang banyak dalam seleksi tadi mulai spesifik. Ayam yang terseleksi untuk tujuan produksi daging dikenal dengan ayam broiler, sedangkan untuk produksi telur dikenal dengan ayam petelur. Selain itu, seleksi juga diarahkan pada warna kulit telur hingga kemudian dikenal ayam petelur putih dan ayam petelur cokelat. Persilangan dan seleksi itu dilakukan cukup lama hingga menghasilkan ayam petelur seperti yang ada sekarang ini. Dalam setiap kali persilangan, sifat jelek dibuang dan sifat baik dipertahankan (“terus dimurnikan”). Inilah yang kemudian dikenal dengan ayam petelur unggul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menginjak awal tahun 1900-an, ayam liar itu tetap pada tempatnya akrab dengan pola kehidupan masyarakat dipedesaan. Memasuki periode 1940-an, orang mulai mengenal ayam lain selain ayam liar itu. Dari sini, orang mulai membedakan antara ayam orang Belanda (Bangsa Belanda saat itu menjajah Indonesia) dengan ayam liar di Indonesia. Ayam liar ini kemudian dinamakan ayam lokal yang kemudian disebut ayam kampung karena keberadaan ayam itu memang di pedesaan. Sementara ayam orang Belanda disebut dengan ayam luar negeri yang kemudian lebih akrab dengan sebutan ayam negeri (kala itu masih merupakan ayam negeri galur murni). Ayam semacam ini masih bisa dijumpai di tahun 1950-an yang dipelihara oleh beberapa orang penggemar ayam. Hingga akhir periode 1980-an, orang Indonesia tidak banyak mengenal klasifikasi ayam. Ketika itu, sifat ayam dianggap seperti ayam kampung saja, bila telurnya enak dimakan maka dagingnya juga enak dimakan. Namun, pendapat itu ternyata tidak benar, ayam negeri/ayam ras ini ternyata bertelur banyak tetapi tidak enak dagingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayam yang pertama masuk dan mulai diternakkan pada periode ini adalah ayam ras petelur white leghorn yang kurus dan umumnya setelah habis masa produktifnya. Antipati orang terhadap daging ayam ras cukup lama hingga menjelang akhir periode 1990-an. Ketika itu mulai merebak peternakan ayam broiler yang memang khusus untuk daging, sementara ayam petelur dwiguna/ayam petelur cokelat mulai menjamur pula. Disinilah masyarakat mulai sadar bahwa ayam ras mempunyai klasifikasi sebagai petelur handal dan pedaging yang enak. Mulai terjadi pula persaingan tajam antara telur dan daging ayam ras dengan telur dan daging ayam kampung. Sementara itu telur ayam ras cokelat mulai diatas angin, sedangkan telur ayam kampung mulai terpuruk pada penggunaan resep makanan tradisional saja. Persaingan inilah menandakan maraknya peternakan ayam petelur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayam kampung memang bertelur dan dagingnya memang bertelur dan dagingnya dapat dimakan, tetapi tidak dapat diklasifikasikan sebagai ayam dwiguna secara komersial-unggul. Penyebabnya, dasar genetis antara ayam kampung dan ayam ras petelur dwiguna ini memang berbeda jauh. Ayam kampung dengan kemampuan adaptasi yang luar biasa baiknya. Sehingga ayam kampung dapat mengantisipasi perubahan iklim dengan baik dibandingkan ayam ras. Hanya kemampuan genetisnya yang membedakan produksi kedua ayam ini. Walaupun ayam ras itu juga berasal dari ayam liar di Asia dan Afrika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Jenis-jenis Ayam Petelur&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;Jenis ayam petelur dibagi menjadi dua tipe:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tipe Ayam Petelur Ringan.&lt;br /&gt;Tipe ayam ini disebut dengan ayam petelur putih. Ayam petelur ringan ini mempunyai badan yang ramping/kurus-mungil/kecil dan mata bersinar. Bulunya berwarna putih bersih dan berjengger merah. Ayam ini berasal dari galur murni white leghorn. Ayam galur ini sulit dicari, tapi ayam petelur ringan komersial banyak dijual di Indonesia dengan berbagai nama. Setiap pembibit ayam petelur di Indonesia pasti memiliki dan menjual ayam petelur ringan (petelur putih) komersial ini. Ayam ini mampu bertelur lebih dari 260 telur per tahun produksi hen house. Sebagai petelur, ayam tipe ini memang khusus untuk bertelur saja sehingga semua kemampuan dirinya diarahkan pada kemampuan bertelur, karena dagingnya hanya sedikit. Ayam petelur ringan ini sensitif terhadapa cuaca panas dan keributan, dan ayam ini mudah kaget dan bila kaget ayam ini produksinya akan cepat turun, begitu juga bila kepanasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tipe Ayam Petelur Medium.&lt;br /&gt;Bobot tubuh ayam ini cukup berat. Meskipun itu, beratnya masih berada di antara berat ayam petelur ringan dan ayam broiler. Oleh karena itu ayam ini disebut tipe ayam petelur medium. Tubuh ayam ini tidak kurus, tetapi juga tidak terlihat gemuk. Telurnya cukup banyak dan juga dapat menghasilkan daging yang banyak. Ayam ini disebut juga dengan ayam tipe dwiguna. Karena warnanya yang cokelat, maka ayam ini disebut dengan ayam petelur cokelat yang umumnya mempunyai warna bulu yang cokelat juga. Dipasaran orang mengatakan telur cokelat lebih disukai daripada telur putih, kalau dilihat dari warna kulitnya memang lebih menarik yang cokelat daripada yang putih, tapi dari segi gizi dan rasa relatif sama. Satu hal yang berbeda adalah harganya dipasaran, harga telur cokelat lebih mahal daripada telur putih. Hal ini dikarenakan telur cokelat lebih berat daripada telur putih dan produksinya telur cokelat lebih sedikit daripada telur putih. Selain itu daging dari ayam petelur medium akan lebih laku dijual sebagai ayam pedaging dengan rasa yang enak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Manfaat Budidaya Ayam Petelur&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayam-ayam petelur unggul yang ada sangat baik dipakai sebagai plasma nutfah untuk menghasilkan bibit yang bermutu. Hasil kotoran dan limbah dari pemotongan ayam petelur merupakan hasil samping yang dapat diolah menjadi pupuk kandang, kompos atau sumber energi (biogas). Sedangkan seperti usus dan jeroan ayam dapat dijadikan sebagai pakan ternak unggas setelah dikeringkan. Selain itu ayam dimanfaatkan juga dalam upacara keagamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Persyaratan Lokasi Budidaya Ayam Petelur.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;1).Lokasi yang jauh dari keramaian/perumahan penduduk.&lt;br /&gt;2).Lokasi mudah dijangkau dari pusat-pusat pemasaran.&lt;br /&gt;3)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Lokasi terpilih bersifat menetap, tidak berpindah-pindah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pedoman Teknis Budidaya &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;Sebelum usaha beternak dimulai, seorang peternak wajib memahami 3 (tiga) unsur produksi&amp;nbsp;&amp;nbsp; yaitu: manajemen (pengelolaan usaha peternakan), breeding (pembibitan) dan feeding (makanan ternak/pakan) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Penyiapan Sarana dan Peralatan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kandang&lt;br /&gt;Iklim kandang yang cocok untuk beternak ayam petelur meliputi persyaratan temperatur berkisar antara 32,2–35 derajat C, kelembaban berkisar antara 60–70%, penerangan dan atau pemanasan kandang sesuai dengan aturan yang ada, tata letak kandang agar mendapat sinar matahari pagi dan tidak melawan arah mata angin kencang serta sirkulasi udara yang baik, jangan membuat kandang dengan permukaan lahan yang berbukit karena menghalangi sirkulasi udara dan membahayakan aliran air permukaan bila turun hujan, sebaiknya kandang dibangun dengan sistem terbuka agar hembusan angin cukup memberikan kesegaran di dalam kandang.Untuk kontruksi kandang tidak harus dengan bahan yang mahal, yang penting kuat, bersih dan tahan lama. Selanjutnya perlengkapan kandang hendaknya disediakan selengkap mungkin seperti tempat pakan, tempat minum, tempat air, tempat ransum, tempat obat-obatan dan sistem alat penerangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk-bentuk kandang berdasarkan sistemnya dibagi menjadi dua: a) Sistem kandang koloni, satu kandang untuk banyak ayam yang terdiri dari ribuan ekor ayam petelur; b) Sistem kandang individual, kandang ini lebih dikenal dengan sebutan cage. Ciri dari kandang ini adalah pengaruh individu di dalam kandang tersebut menjadi dominan karena satu kotak kandang untuk satu ekor ayam. Kandang sistem ini banyak digunakan dalam peternakan ayam petelur komersial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis kandang berdasarkan lantainya dibagi menjadi tiga macam yaitu: 1) kandang dengan lantai liter, kandang ini dibuat dengan lantai yang dilapisi kulit padi, pesak/sekam padi dan kandang ini umumnya diterapkan pada kandang sistem koloni; 2) kandang dengan lantai kolong berlubang, lantai untuk sistem ini terdiri dari bantu atau kayu kaso dengan lubang-lubang diantaranya, yang nantinya untuk membuang tinja ayam dan langsung ke tempat penampungan; 3) kandang dengan lantai campuran liter dengan kolong berlubang, dengan perbandingan 40% luas lantai kandang untuk alas liter dan 60% luas lantai dengan kolong berlubang (terdiri dari 30% di kanan dan 30% di kiri).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Peralatan Untuk Budidaya Pertanian&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;a.Litter (alas lantai)&lt;br /&gt;Alas lantai/litter harus dalam keadaan kering, maka tidak ada atap yang bocor dan air hujan tidak ada yang masuk walau angin kencang. Tebal litter setinggi 10 cm, bahan litter dipakai campuran dari kulit padi/sekam dengan sedikit kapur dan pasir secukupnya, atau hasi serutan kayu dengan panjang antara 3–5 cm untuk pengganti kulit padi/sekam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.Tempat bertelur&lt;br /&gt;Penyediaan tempat bertelur agar mudah mengambil telur dan kulit telur tidak kotor, dapat dibuatkan kotak ukuran 30 x 35 x 45 cm yang cukup untuk 4–5 ekor ayam. Kotak diletakkan dididing kandang dengan lebih tinggi dari tempat bertengger, penempatannya agar mudah pengambilan telur dari luar sehingga telur tidak pecah dan terinjak-injak serta dimakan. Dasar tempat bertelur dibuat miring dari kawat hingga telur langsung ke luar sarang setelah bertelur dan dibuat lubah yang lebih besar dari besar telur pada dasar sarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.Tempat bertengger&lt;br /&gt;Tempat bertengger untuk tempat istirahat/tidur, dibuat dekat dinding dan diusahakan kotoran jatuh ke lantai yang mudah dibersihkan dari luar. Dibuat tertutup agar terhindar dari angin dan letaknya lebih rendah dari tempat bertelur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d.Tempat makan, minum dan tempat grit&lt;br /&gt;Tempat makan dan minum harus tersedia cukup, bahannya dari bambu, almunium atau apa saja yang kuat dan tidak bocor juga tidak berkarat. Untuk tempat grit dengan kotak khusus &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Peyiapan Bibit Ayam Petelur&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ayam petelur yang akan dipelihara haruslah memenuhi syarat sebagai berikut, antara lain:&lt;br /&gt;a) Ayam petelur harus sehat dan tidak cacat fisiknya.&lt;br /&gt;b) Pertumbuhan dan perkembangan normal.&lt;br /&gt;c) Ayam petelur berasal dari bibit yang diketahui keunggulannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa pedoman teknis untuk memilih bibit/DOC (Day Old Chicken) /ayam umur sehari:&lt;br /&gt;a) Anak ayam (DOC ) berasal dari induk yang sehat.&lt;br /&gt;b) Bulu tampak halus dan penuh serta baik pertumbuhannya .&lt;br /&gt;c) Tidak terdapat kecacatan pada tubuhnya.&lt;br /&gt;d) Anak ayam mempunyak nafsu makan yang baik.&lt;br /&gt;e) Ukuran badan normal, ukuran berat badan antara 35-40 gram.&lt;br /&gt;f) Tidak ada letakan tinja diduburnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pemilihan Bibit dan Calon Induk&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyiapan bibit ayam petelur yang berkreteria baik dalam hal ini tergantung sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.Konversi Ransum.&lt;br /&gt;Konversi ransum merupakan perabandingan antara ransum yang dihabiskan ayam dalam menghasilkan sejumlah telur. Keadaan ini sering disebut dengan ransum per kilogram telur. Ayam yang baik akan makan sejumlah ransum dan menghasilkan telur yang lebih banyak/lebih besar daripada sejumlah ransum yang dimakannya. Bila ayam itu makan terlalu banyak dan bertelur sedikit maka hal ini merupakan cermin buruk bagi ayam itu. Bila bibit ayam mempunyai konversi yang kecil maka bibit itu dapat dipilih, nilai konversi ini dikemukakan berikut ini pada berbagai bibit ayam dan juga dapat diketahui dari lembaran daging yang sering dibagikan pembibit kepada peternak dalam setiap promosi penjualan bibit ayamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.Produksi Telur.&lt;br /&gt;Produksi telur sudah tentu menjadi perhatian. Dipilih bibit yang dapat memproduksi telur banyak. Tetapi konversi ransum tetap utama sebab ayam yang produksi telurnya tinggi tetapi makannya banyak juga tidak menguntungkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.Prestasi bibit dilapangan/dipeternakan.&lt;br /&gt;Apabila kedua hal diatas telah baik maka kemampuan ayam untuk bertelur hanya dalam sebatas kemampuan bibit itu. Contoh prestasi beberapa jenis bibit ayam petelur dapat dilihat pada data di bawah ini.&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Babcock B-300 v: berbulu putih, type ringan, produksi telur(hen house) 270, ransum 1,82 kg/dosin telur.&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dekalb Xl-Link: berbulu putih, type ringan, produksi telur(hen house) 255-280, ransum 1,8-2,0 kg/dosin telur.&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Hisex white: berbulu putih, type ringan, produksi telur(hen house) 288, ransum 1,89 gram/dosin telur.&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; H &amp;amp; W nick: berbulu putih, type ringan, produksi telur(hen house) 272, ransum 1,7-1,9 kg/dosin telur.&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Hubbarb leghorn: berbulu putih, type ringan, produksi telur(hen house)260, ransum 1,8-1,86 kg/dosin telur.&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ross white: berbulu putih, type ringan, produksi telur(hen house) 275, ransum 1,9 kg/dosin telur.&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Shaver S 288: berbulu putih, type ringan, produksi telur(hen house)280, ransum 1,7-1,9 kg/dosin telur.&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Babcock B 380: berbulu cokelat, type Dwiguna, produksi telur(hen house) 260-275, ransum 1,9 kg/dosin telur.&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Hisex brown: berbulu cokelat, type Dwiguna, produksi telur(hen house)272, ransum 1,98 kg/dosin telur.&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Hubbarb golden cornet: berbulu cokelat, type Dwiguna, produksi telur(hen house) 260, ransum 1,24-1,3 kg/dosin telur.&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ross Brown: berbulu cokelat, type Dwiguna, produksi telur(hen house) 270, ransum 2,0 kg/dosin telur.&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Shaver star cross 579: berbulu cokelat, type Dwiguna, produksi telur(hen house) 265, ransum 2,0-2,08 kg/dosin telur.&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Warren sex sal link: berbulu cokelat, type Dwiguna, produksi telur(hen house) 280, ransum 2,04 kg/dosin telur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pemeliharaan Ayam Petelur&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Sanitasi dan Tindakan Preventif &lt;br /&gt;Kebersihan lingkungan kandang (sanitasi) pada areal peternakan merupakan usaha pencegahan penyakit yang paling murah, hanya dibutuhkan tenaga yang ulet/terampil saja. Tindakan preventif dengan memberikan vaksin pada ternak dengan merek dan dosis sesuai catatan pada label yang dari poultry shoup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Pemberian Pakan&lt;br /&gt;Untuk pemberian pakan ayam petelur ada 2 (dua) fase yaitu fase starter (umur 0-4 minggu) dan fase finisher (umur 4-6 minggu).&lt;br /&gt;a.Kualitas dan kuantitas pakan fase starter adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kwalitas atau kandungan zat gizi pakan terdiri dari protein 22-24%, lemak 2,5%, serat kasar 4%, Kalsium (Ca) 1%, Phospor (P) 0,7-0,9%, ME 2800-3500 Kcal.&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kwantitas pakan terbagi/digolongkan menjadi 4 (empat) golongan yaitu minggu pertama (umur 1-7 hari) 17 gram/hari/ekor; minggu kedua (umur 8-14 hari) 43 gram/hari/ekor; minggu ke-3 (umur 15-21 hari) 66 gram/hari/ekor dan minggu ke-4 (umur 22-29 hari) 91 gram/hari/ekor.&lt;br /&gt;Jadi jumlah pakan yang dibutuhkan tiap ekor sampai pada umur 4 minggu sebesar 1.520 gram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.Kwalitas dan kwantitas pakan fase finisher adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kwalitas atau kandungan zat gizi pakan terdiri dari protein 18,1-21,2%; lemak 2,5%; serat kasar 4,5%; kalsium (Ca) 1%; Phospor (P) 0,7-0,9% dan energi (ME) 2900-3400 Kcal.&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kwantitas pakan terbagi/digolongkan dalam empat golongan umur yaitu: minggu ke-5 (umur 30-36 hari) 111 gram/hari/ekor; minggu ke-6 (umut 37-43 hari) 129 gram/hari/ekor; minggu ke-7 (umur 44-50 hari) 146 gram/hari/ekor dan minggu ke-8 (umur 51-57 hari) 161 gram/hari/ekor. Jadi total jumlah pakan per ekor pada umur 30-57 hari adalah 3.829 gram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.Pemberian minum disesuaikan dangan umur ayam, dalam hal ini dikelompokkan dalam 2 (dua) fase yaitu:&lt;br /&gt;a.Fase starter (umur 1-29 hari) kebutuhan air minum terbagi lagi pada masing-masing minggu, yaitu minggu ke-1 (1-7 hari) 1,8 lliter/hari/100 ekor; minggu ke-2 (8-14 hari) 3,1 liter/hari/100 ekor; minggu ke-3 (15-21 hari) 4,5 liter/hari/100 ekor dan minggu ke-4 (22-29 hari) 7,7 liter/hari/ekor.Jadi jumlah air minum yang dibutuhkan sampai umur 4 minggu adalah sebanyak 122,6 liter/100 ekor. Pemberian air minum pada hari pertama hendaknya diberi tambahan gula dan obat anti stress kedalam air minumnya. Banyaknya gula yang diberikan adalah 50 gram/liter air. &lt;br /&gt;b.Fase finisher (umur 30-57 hari), terkelompok dalam masing-masing minggu yaitu minggu ke-5 (30-36 hari) 9,5 lliter/hari/100 ekor; minggu ke-6 (37-43 hari) 10,9 liter/hari/100 ekor; minggu ke-7 (44-50 hari) 12,7 liter/hari/100 ekor dan minggu ke-8 (51-57 hari) 14,1 liter/hari/ekor. Jadi total air minum 30-57 hari sebanyak 333,4 liter/hari/ekor. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.Pemberian Vaksinasi dan Obat&lt;br /&gt;Vaksinasi merupakan salah satu cara pengendalian penyakit virus yang menulardengan cara menciptakan kekebalan tubuh. Pemberiannya secara teratur sangat penting untuk mencegah penyakit. Vaksin dibagi menjadi 2 macam yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vaksin aktif adalah vaksin mengandung virus hidup. Kekebalan yang ditimbulkan lebih lama daripada dengan vaksin inaktif/pasif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vaksin inaktif, adalah vaksin yang mengandung virus yang telah dilemahkan/dimatikan tanpa merubah struktur antigenic, hingga mampu membentuk zat kebal. Kekebalan yang ditimbulkan lebih pendek, keuntungannya disuntikan pada ayam yang diduga sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Macam-macam vaksin:&lt;br /&gt;a) Vaksin NCD vrus Lasota buatan Drh Kuryna&lt;br /&gt;b) Vaksin NCD virus Komarov buatan Drh Kuryna (vaksin inaktif)&lt;br /&gt;c) Vaksin NCD HB-1/Pestos.&lt;br /&gt;d) Vaksin Cacar/pox, virus Diftose.&lt;br /&gt;e) Vaksin anti RCD Vaksin Lyomarex untuk Marek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persyaratan dalam vaksinasi adalah:&lt;br /&gt;a) Ayam yang divaksinasi harus sehat.&lt;br /&gt;b) Dosis dan kemasan vaksin harus tepat.&lt;br /&gt;c) Sterilisasi alat-alat. &lt;br /&gt;5.Pemeliharaan Kandang&lt;br /&gt;Agar bangunan kandang dapat berguna secara efektif, maka bangunan kandang perlu dipelihara secara baik yaitu kandang selalu dibersihkan dan dijaga/dicek apabila ada bagian yang rusak supaya segera disulam/diperbaiki kembali. Dengan demikian daya guna kandang bisa maksimal tanpa mengurangi persyaratan kandang bagi ternak yang dipelihara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Hama Dan Penyakit Ayam Petelur&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Penyakit&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Berak putih (pullorum)&lt;br /&gt;Menyerang ayam kampung dengan angka kematian yang tinggi.&lt;br /&gt;Penyebab: Salmonella pullorum.&lt;br /&gt;Pengendalian: diobati dengan antibiotika&lt;br /&gt;2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Foel typhoid&lt;br /&gt;Sasaran yang disering adalah ayam muda/remaja dan dewasa.&lt;br /&gt;Penyebab: Salmonella gallinarum.&lt;br /&gt;Gejala: ayam mengeluarkan tinja yang berwarna hijau kekuningan.&lt;br /&gt;Pengendalian: dengan antibiotika/preparat sulfa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Parathyphoid&lt;br /&gt;Menyerang ayam dibawah umur satu bulan.&lt;br /&gt;Penyebab: bakteri dari genus Salmonella.&lt;br /&gt;Pengendalian: dengan preparat sulfa/obat sejenisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kolera&lt;br /&gt;Penyakit ini jarang menyerang anak ayam atau ayam remaja tetapi selain menyerang ayam menyerang kalkun dan burung merpati.&lt;br /&gt;Penyebab: pasteurella multocida.&lt;br /&gt;Gejala: pada serangan yang serius pial ayam (gelambir dibawah paruh) akan membesar.&lt;br /&gt;Pengendalian: dengan antibiotika (Tetrasiklin/Streptomisin).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pilek ayam (Coryza)&lt;br /&gt;Menyerang semua umur ayam dan terutama menyerang anak ayam.&lt;br /&gt;Penyebab: makhluk intermediet antara bakteri dan virus.&lt;br /&gt;Gejala: ayam yang terserang menunjukkan tanda-tanda seperti orang pilek.&lt;br /&gt;Pengendalian: dapat disembuhkan dengan antibiotia/preparat sulfa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; CRD&lt;br /&gt;CRD adalah penyakit pada ayam yang populer di Indonesia. Menyerang anak ayam dan ayam remaja. Pengendalian: dilakukan dengan antibiotika (Spiramisin dan Tilosin).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Infeksi synovitis&lt;br /&gt;Penyakit ini sering menyerang ayam muda terutama ayam broiler dan kalkun.&lt;br /&gt;Penyebab: bakteri dari genus Mycoplasma.&lt;br /&gt;Pengendalian: dengan antibiotika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Penyakit karena sebab Virus&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Newcastle disease (ND)&lt;br /&gt;ND adalah penyakit oleh virus yang populer di peternak ayam Indonesia. Pada awalnya penyakit ditemukan tahun 1926 di daerah Priangan.Tungau (kutuan) Penemuan tersebut tidak tersebar luas ke seluruh dunia. Kemudian di Eropa, penyakit ini ditemukan lagi dan diberitakan ke seluruh dunia. Akhirnya penyakit ini disebut Newcastle disease. &lt;br /&gt;2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Infeksi bronchitis&lt;br /&gt;Infeksi bronchitis menyerang semua umur ayam. Pada dewasa penyakit ini menurunkan produksi telur. Penyakit ini merupakan penyakit pernafasan yang serius untuk anak ayam dan ayam remaja. Tingkat kematian ayam dewasa adalah rendah, tapi pada anak ayam mencapai 40%. Bila menyerang ayam petelur menyebabkan telur lembek, kulit telur tidak normal, putih telur encer dan kuning telur mudah berpindah tempat (kuning telur yang normal selalu ada ditengah). Tidak ada pengobatan untuk penyakit ini tetapi dapat dicegah dengan vaksinasi.&lt;br /&gt;3.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Infeksi laryngotracheitis&lt;br /&gt;Infeksi laryngotracheitis merupakan penyakit pernapasan yang serius terjadi pada unggas.&lt;br /&gt;Penyebab: virus yang diindetifikasikan dengan Tarpeia avium. Virus ini di luar mudah dibunuh dengan desinfektan, misalnya karbol.&lt;br /&gt;Pengendalian: (1) belum ada obat untuk mengatasi penyakit ini; (2) pencegahan dilakukan dengan vaksinasi dan sanitasi yang ketat.&lt;br /&gt;4.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Cacar ayam (Fowl pox)&lt;br /&gt;Gejala: tubuh ayam bagian jengger yang terserang akan bercak-bercak cacar.&lt;br /&gt;Penyebab: virus Borreliota avium. Pengendalian: dengan vaksinasi.&lt;br /&gt;5.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Marek&lt;br /&gt;Penyakit ini menjadi populer sejak tahun 1980-an hingga kini menyerang bangsa unggas, akibat serangannya menyebabkan kematian ayam hingga 50%. Pengendalian: dengan vaksinasi.&lt;br /&gt;6.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Gumboro&lt;br /&gt;Penyakit ini ditemukan tahun 1962 oleh Cosgrove di daerah Delmarva Amerika Serikat. Penyakit ini menyerang bursa fabrisius, khususnya menyerang anak ayam umur 3–6 minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Penyakit karena Jamur dan Toksin&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Penyakit ini karena ada jamur atau sejenisnya yang merusak makanan. Hasil perusakan ini mengeluarkan zak racun yang kemudian di makan ayam. Ada pula pengolahan bahan yang menyebabkan asam amino berubah menjadi zat beracun. Beberapa penyakit ini adalah :&lt;br /&gt;1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Muntah darah hitam (Gizzerosin)&lt;br /&gt;Ciri kerusakan total pada gizzard ayam. Penyebab: adalah racun dalam&lt;br /&gt;tepung ikan tetapi tidak semua tepung ikan menimbulkan penyakit ini. Timbul penyakit ini akibat pemanasan bahan makanan yang menguraikan asam amino hingg menjadi racun. &lt;br /&gt;Pengendalian: belum ada. &lt;br /&gt;2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Racun dari bungkil kacang&lt;br /&gt;Minyak yang tinggi dalam bungkil kelapa dan bungkil kacang merangsang pertumbuhan jamur dari grup Aspergillus. Untuk menghindari keracunan bungkil kacang maka dalam rancung tidak digunakan antioksidan atau bungkil kacang dan bungkil kelapa yang mengandung kadar lemak tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Penyakit karena Parasit&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Cacing&lt;br /&gt;Karena penyakit cacing jarang ditemukan di peternakan yang bersih dan terpelihara baik. Tetapi peternakan yang kotor banyak siput air dan minuman kotor maka mungkin ayam terserang cacingan. Ciri serangan cacingan adalah tubuhnya kurus, bulunya kusam, produksi telur merosot dan kurang aktif. &lt;br /&gt;2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kutu&lt;br /&gt;Banyak menyerang ayam di peternakan Indonesia. Dari luar kutu tidak terlihat tapi bila bulu ayam disibak akan terlihat kutunya. Tanda fisik ayam terserang ayam akan gelisah. Kutu umum terdapat di kandang yang tidak terkena sinar matahari langsung maka sisi samping kandang diarahkan melintang dari Timur ke Barat. Penggunaan semprotan kutu sama dengan cara penyemprotan nyamuk. Penyemprotan ini tidak boleh mengenai tangan dan mata secara langsung dan penyemprotan dilakukan malam hari sehingga pelaksanaannya lebih mudah karena ayam tidak aktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Penyakit karena Protoza&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Penyakit ini berasal dari protozoa (trichomoniasis, Hexamitiasis dan Blachead), penyakit ini dimasukkan ke golongan parasit tetapi sebenarnya berbeda. Penyakit ini jarang menyerang ayam lingkungan peternakan dijaga kebersihan dari alang-alang dan genangan air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pemanenan Budidaya Ayam Petelur&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Hasil Utama&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Hasil utama dari budidaya ayam petelur adalah berupa telur yang diahsilkan oelh ayam. Sebaiknya telur dipanen 3 kali dalam sehari. Hal ini bertujuan agar kerusakan isi tlur yang disebabkan oleh virus dapat terhindar/terkurangi. Pengambilan pertama pada pagi hari antara pukul 10.00-11.00; pengambilan kedua pukul 13.00-14.00; pengambilan ketiga (terakhir)sambil mengecek seluruh kandang dilakukan pada pukul 15.00-16.00.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Hasil Tambahan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Hasil tambahan yang dapat dinukmati dari hasil budidaya ayam petelur adalah daging dari ayam yang telah tua (afkir) dan kotoran yang dapat dijual untuk dijadikan pupuk kandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pengumpulan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Telur yang telah dihasilkan diambil dan diletakkan di atas egg tray (nampan telur). Dalam pengambilan dan pengumpulan telur, petugas pengambil harus langsung memisahkan antara telur yang normal dengan yang abnormal. Telur normal adalah telur yang oval, bersih dan kulitnya mulus serta beratnya 57,6 gram dengan volume sebesar 63 cc. Telur yang abnormal misalnya telurnya kecil atau terlalu besar, kulitnya retak atau keriting, bentuknya lonjong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pembersihan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Setelah telur dikumpulkan, selanjutnya telur yang kotor karena terkena litter atau tinja ayam dibershkan. Telur yang terkena litter dapat dibersihkan dengan amplas besi yang halus, dicuci secara khusus atau dengan cairan pembersih. Biasanya pembersihan dilakukan untuk telur tetas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pasca Panen&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; ---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;1.Muhammad Rasyaf, Dr.,Ir. Beternak Ayam Pedaging. Penerbit Penebar Swadaya (anggota IKAPI) Jakarta.&lt;br /&gt;2.Cahyono, Bambang, Ir.1995. Cara Meningkatkan Budidaya Ayam Ras Pedaging (Broiler). Penerbit Pustaka Nusatama Yogyakarta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber Artikel Tentang Budidaya Ayam Petelur:&lt;br /&gt;1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan – BAPPENAS&lt;br /&gt;Jl.Sunda Kelapa No. 7 Jakarta, Tel. 021 390 9829 , Fax. 021 390 9829&lt;br /&gt;2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi, Deputi Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Iptek, Gedung II BPPT Lantai 6, Jl. M.H.Thamrin No. 8, Jakarta 10340, Indonesia, Tel. +62 21 316 9166~69, Fax. +62 21 310 1952, Situs Web: http://www.ristek.go.id &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5343438090319808433-6976621529332866411?l=budidaya-di.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://budidaya-di.blogspot.com/feeds/6976621529332866411/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2010/03/budidaya-ayam-petelur-atau-ayam.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/6976621529332866411'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/6976621529332866411'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2010/03/budidaya-ayam-petelur-atau-ayam.html' title='Budidaya Ayam Petelur Atau Ayam Bertelur'/><author><name>Budidaya Pertanian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02468176543501833983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5343438090319808433.post-4680218593547297324</id><published>2010-02-20T20:06:00.000-08:00</published><updated>2010-02-20T20:06:32.667-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Belut'/><title type='text'>Budidaya Belut</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_WtXCykFMI6Y/S4CxNlNNd5I/AAAAAAAAABg/YOnkd51CavE/s1600-h/Budidaya+Belut.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_WtXCykFMI6Y/S4CxNlNNd5I/AAAAAAAAABg/YOnkd51CavE/s320/Budidaya+Belut.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Budidaya Belut&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membesarkan belut hingga siap panen dari bibit umur 1-3 bulan butuh waktu 7 bulan. Namun, Ruslan Roy, peternak sekaligus eksportir di Jakarta Selatan, mampu menyingkatnya menjadi 4 bulan. Kunci suksesnya antara lain terletak pada media dan pengaturan pakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belut yang dipanen Ruslan rata-rata berbobot 400 g/ekor. Itu artinya sama dengan bobot belut yang dihasilkan peternak lain. Cuma waktu pemeliharaan yang dilakukan Ruslan lebih singkat 3 bulan dibanding mereka. Oleh karena itu, biaya yang dikeluarkan Ruslan pun jauh lebih rendah. Selain menekan biaya produksi, panen dalam waktu singkat itu mampu mendongkrak ketersediaan pasokan, ujar Ruslan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemilik PT Dapetin di Jakarta Selatan itu hanya mengeluarkan biaya Rp8.000 untuk setiap kolam berisi 200 ekor. Padahal, biasanya para peternak lain paling tidak menggelontorkan Rp14.000 untuk pembesaran jumlah yang sama. Semua itu karena Ruslan menggunakan media campuran untuk pembesarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Media campuran Budidaya Belut&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ruslan, belut akan cepat besar jika medianya cocok. Media yang digunakan ayah dari 3 anak itu terdiri dari lumpur kering, kompos, jerami padi, pupuk TSP, dan mikroorganisme stater. Peletakkannya diatur: bagian dasar kolam dilapisi jerami setebal 50 cm. Di atas jerami disiramkan 1 liter mikroorganisma stater. Berikutnya kompos setinggi 5 cm. Media teratas adalah lumpur kering setinggi 25 cm yang sudah dicampur pupuk TSP sebanyak 5 kg.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena belut tetap memerlukan air sebagai habitat hidupnya, kolam diberi air sampai ketinggian 15 cm dari media teratas. Jangan lupa tanami eceng gondok sebagai tempat bersembunyi belut. Eceng gondok harus menutupi ¾ besar kolam, ujar peraih gelar Master of Management dari Philipine University itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bibit belut tidak serta-merta dimasukkan. Media dalam kolam perlu didiamkan selama 2 minggu agar terjadi fermentasi. Media yang sudah terfermentasi akan menyediakan sumber pakan alami seperti jentik nyamuk, zooplankton, cacing, dan jasad-jasad renik. Setelah itu baru bibit dimasukkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pakan hidup Belut&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan pengalaman Ruslan, sifat kanibalisme yang dimiliki Monopterus albus itu tidak terjadi selama pembesaran. Asal, pakan tersedia dalam jumlah cukup. Saat masih anakan belut tidak akan saling mengganggu. Sifat kanibal muncul saat belut berumur 10 bulan, ujarnya. Sebab itu tidak perlu khawatir memasukkan bibit dalam jumlah besar hingga ribuan ekor. Dalam 1 kolam berukuran 5 m x 5 m x 1 m, saya dapat memasukkan hingga 9.400 bibit, katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakan yang diberikan harus segar dan hidup, seperti ikan cetol, ikan impun, bibit ikan mas, cacing tanah, belatung, dan bekicot. Pakan diberikan minimal sehari sekali di atas pukul 17.00. Untuk menambah nafsu makan dapat diberi temulawak Curcuma xanthorhiza. Sekitar 200 g temulawak ditumbuk lalu direbus dengan 1 liter air. Setelah dingin, air rebusan dituang ke kolam pembesaran. Pilih tempat yang biasanya belut bersembunyi, ujar Ruslan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelet ikan dapat diberikan sebagai pakan selingan untuk memacu pertumbuhan. Pemberiannya ditaburkan ke seluruh area kolam. Tak sampai beberapa menit biasanya anakan belut segera menyantapnya. Pelet diberikan maksimal 3 kali seminggu. Dosisnya 5% dari bobot bibit yang ditebar. Jika bibit yang ditebar 40 kg, pelet yang diberikan sekitar 2 kg.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Hujan buatan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain pakan, yang perlu diperhatikan kualitas air. Bibit belut menyukai pH 5-7. Selama pembesaran, perubahan air menjadi basa sering terjadi di kolam. Air basa akan tampak merah kecokelatan. Penyebabnya antara lain tingginya kadar amonia seiring bertumpuknya sisa-sisa pakan dan dekomposisi hasil metabolisme. Belut yang hidup dalam kondisi itu akan cepat mati, ujar Son Son. Untuk mengatasinya, pH air perlu rutin diukur. Jika terjadi perubahan, segera beri penetralisir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran hama seperti burung belibis, bebek, dan berang-berang perlu diwaspadai. Mereka biasanya spontan masuk jika kondisi kolam dibiarkan tak terawat. Kehadiran mereka sedikit-banyak turut mendongkrak naiknya pH karena kotoran yang dibuangnya. Hama bisa dihilangkan dengan membuat kondisi kolam rapi dan pengontrolan rutin sehari sekali, tutur Ruslan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suhu air pun perlu dijaga agar tetap pada kisaran 26-28oC. Peternak di daerah panas bersuhu 29-32oC, seperti Jakarta, Depok, Tangerang, dan Bekasi, perlu hujan buatan untuk mendapatkan suhu yang ideal. Son Son menggunakan shading net dan hujan buatan untuk bisa mendapat suhu 26oC. Bila terpenuhi pertumbuhan belut dapat maksimal, ujar alumnus Institut Teknologi Indonesia itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shading net dipasang di atas kolam agar intensitas cahaya matahari yang masuk berkurang. Selanjutnya 3 saluran selang dipasang di tepi kolam untuk menciptakan hujan buatan. Perlakuan itu dapat menyeimbangkan suhu kolam sekaligus menambah ketersediaan oksigen terlarut. Ketidakseimbangan suhu menyebabkan bibit cepat mati, ucap Son Son.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal senada diamini Ruslan. Jika tidak bisa membuat hujan buatan, dapat diganti dengan menanam eceng gondok di seluruh permukaan kolam, ujar Ruslan. Dengan cara itu bibit belut tumbuh cepat, hanya dalam tempo 4 bulan sudah siap panen. (Hermansyah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mari Rebut Pasar Belut&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang itu Juli 2006 di Batutulis, Bogor. Pancaran matahari begitu terik membuat Ruslan Roy berteduh. Ia tetap awas melihat kesibukan pekerja yang memilah belut ke dalam 100 boks styrofoam. Itu baru 3,5 ton dari permintaan Hongkong yang mencapai 60 ton/hari, ujar Ruslan Roy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alumnus Universitras Padjadjaran Bandung itu memang kelimpungan memenuhi permintaan belut dari eksportir. Selama ini ia hanya mengandalkan pasokan belut dari alam yang terbatas. Sampai kapan pun tidak bisa memenuhi permintaan, ujarnya. Sebab itu pula ia mulai merintis budidaya belut dengan menebar 40 kg bibit pada Juli 1989.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Roy-panggilan akrab Ruslan Roy-memperkirakan seminggu setelah peringatan Hari Kemerdekaan ke-61 RI semua Monopterus albus yang dibudidayakan di kolam seluas 25 m2 itu siap panen. Ukuran yang diminta eksportir untuk belut konsumsi sekitar 400 g/ekor. Bila waktu itu tiba, eksportir di Tangerang yang jauh-jauh hari menginden akan menampung seluruh hasil panen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengejar ukuran konsumsi, peternak di Jakarta Selatan itu memberi pakan alami berprotein tinggi seperti cacing tanah, potongan ikan laut, dan keong mas. Pakan itu dirajang dan diberikan sebanyak 5% dari bobot tubuh/hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan asumsi tingkat kematian 5-10% hingga berumur 9 bulan, Roy menghitung 4-5 bulan setelah menebar bibit, ia bakal memanen 400 kg belut. Dengan harga Rp40.000/kg, total pendapatan yang diraup Rp16-juta. Setelah dikurangi biaya-biaya sekitar Rp2-juta, diperoleh laba bersih Rp14-juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keuntungan itu akan semakin melambung karena pada saat yang sama Roy membuat 75 kolam di Rancamaya, Bogor, masing-masing berukuran sekitar 25 m2 berkedalaman 1 m. Pantas suami Kastini itu berani melepas pekerjaannya sebagai konsultan keuangan di Jakarta Pusat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Perluas areal&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nun di Bandung, Ir R. M. Son Son Sundoro, lebih dahulu menikmati keuntungan hasil pembesaran belut. Itu setelah ia dan temannya sukses memasok ke beberapa negara. Sebut saja Hongkong, Taiwan, Cina, Jepang, Korea, Malaysia, dan Thailand. Menurut Son Son pasar belut mancanegara tidak terbatas. Oleh karena itu demi menjaga kontinuitas pasokan, ia dan eksportir membuat perjanjian di atas kertas bermaterai. Maksudnya agar importir mendapat jaminan pasokan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak 1998, alumnus Teknik dan Manajemen Industri di Institut Teknologi Indonesia, itu rutin menyetor 3 ton/hari ke eksportir. Itu dipenuhi dari 30 kolam berukuran 5 m x 5 m di Majalengka, Ciwidey, Rancaekek, dan 200 kolam plasma binaan di Jawa Barat. Ia mematok harga belut ke eksportir US$4-US$5, setara Rp40.000-Rp60.000/kg isi 10-15 ekor. Sementara harga di tingkat petani plasma Rp20.000/kg.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terhitung mulai Juli 2006, total pasokan meningkat drastis menjadi 50 ton per hari. Itu diperoleh setelah pria 39 tahun itu membuka kerjasama dengan para peternak di dalam dan luar Pulau Jawa. Sebut saja pada awal 2006 ia membuka kolam pembesaran seluas 168 m2 di Payakumbuh, Sumatera Barat. Di tempat lain, penggemar travelling itu juga membuka 110 kolam jaring apung masing-masing seluas 21 m2 di waduk Cirata, Kabupaten Bandung. Total jenderal 1-juta bibit belut ditebar bertahap di jaring apung agar panen berlangsung kontinu setiap minggu. Dengan volume sebesar itu, ayah 3 putri itu memperkirakan keuntungan sebesar US$2.500 atau Rp 20.500.000 per hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Majalengka, Jawa Barat, Muhammad Ara Giwangkara juga menuai laba dari pembesaran belut. Sarjana filsafat dari IAIN Sunan Gunungjati, Bandung, itu akhir Desember 2005 membeli 400 kg bibit dari seorang plasma di Bandung seharga Rp11,5- juta. Bibit-bibit itu kemudian dipelihara di 10 kolam bersekat asbes berukuran 5 m x 5 m. Berselang 4 bulan, belut berukuran konsumsi, 35-40 cm, sudah bisa dipanen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan persentase kematian dari burayak hingga siap panen 4%, Ara bisa menjual sekitar 3.000 kg belut. Karena bermitra, ia mendapat harga jual Rp12.500/ kg. Setelah dikurangi ongkos perawatan dan operasional sebesar Rp9- juta dan pembelian bibit baru sebesar Rp11,5- juta, tabungan Ara bertambah Rp17-juta. Bagi Ara hasil itu sungguh luar biasa, sebab dengan pendapatan Rp3- juta- Rp4-juta per bulan, ia sudah bisa melebihi gaji pegawai negeri golongan IV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bibit meroket&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gurihnya bisnis belut tidak hanya dirasakan peternak pembesar. Peternak pendeder yang memproduksi bibit berumur 3 bulan turut terciprat rezeki. Justru di situlah terbuka peluang mendapatkan laba relatif singkat. Apalagi kini harga bibit semakin meroket. Kalau dulu Rp10.000/kg, sekarang rata-rata Rp27.500/kg, tergantung kualitas, ujar Hj Komalasari, penyedia bibit di Sukabumi, Jawa Barat. Ia menjual minimal 400-500 kg bibit/bulan sejak awal 1985 hingga sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendeder pun tak perlu takut mencari pasar. Mereka bisa memilih cara bermitra atau nonmitra. Keuntungan pendeder bermitra: memiliki jaminan pasar yang pasti dari penampung. Yang nonmitra, selain bebas menjual eceran, pun bisa menyetor ke penampung dengan harga jual lebih rendah 20-30% daripada bermitra. Toh, semua tetap menuai untung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sukses Son Son, Ruslan, Ara, dan Komalasari memproduksi dan memasarkan belut sekarang ini bak bumi dan langit dibandingkan 8 tahun lalu. Siapa yang berani menjamin kalau belut booming gampang menjualnya? ujar Eka Budianta, pengamat agribisnis di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Eka, memang belut segar kini semakin dicari, bahkan harganya semakin melambung jika sudah masuk ke restoran. Untuk harga satu porsi unagi-hidangan belut segar-di restoran jepang yang cukup bergengsi di Jakarta Selatan mencapai Rp250.000. Apalagi bila dibeli di Tokyo, Osaka, maupun di restoran jepang di kota-kota besar dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian boleh jadi banyak yang mengendus peluang bisnis belut yang kini pasarnya menganga lebar. Maklum pasokan belut-bibit maupun ukuran konsumsi-sangat minim, sedangkan permintaannya membludak. (Hermansyah/Peliput: Lani Marliani)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi: http://trimudilah.wordpress.com/2006/11/24/budidaya-belut/&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5343438090319808433-4680218593547297324?l=budidaya-di.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://budidaya-di.blogspot.com/feeds/4680218593547297324/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2010/02/budidaya-belut.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/4680218593547297324'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/4680218593547297324'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2010/02/budidaya-belut.html' title='Budidaya Belut'/><author><name>Budidaya Pertanian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02468176543501833983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_WtXCykFMI6Y/S4CxNlNNd5I/AAAAAAAAABg/YOnkd51CavE/s72-c/Budidaya+Belut.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5343438090319808433.post-8605583775780777588</id><published>2010-02-11T22:49:00.001-08:00</published><updated>2010-02-11T22:49:51.871-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Sapi'/><title type='text'>Jamur Penyebab Abortus Pada Sapi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Jamur Penyebab Abortus Pada Sapi&amp;nbsp; &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disgenesis reproduksi mencakup kegagalan reproduksi tanpa memandang penyebabnya maupun periode kebuntingan sewaktu terjadi kehilangan konseptus. Kehilangan konseptus yang terjadi sejak pembuahan sel telur sampai diferensiasi embrional (kurang lebih 45 hari) disebut kematian embrional. Kehilangan konseptus yang terjadi selama periode foetal yaitu dari saat diferensiasi sampai kelahiran, dibagi atas abortus dan kelahiran prematur. Abortus atau keluron adalah kematian fetus sebelum akhir masa kebuntingan dengan fetus yang belum sanggup hidup, sedangkan kelahiran prematur adalah pengeluaran fetus sebelum akhir masa kebuntingan dengan fetus yang sanggup hidup sendiri di luar tubuh induk.&lt;br /&gt;Hampir semua abortus mikotik pada sapi disebabkan oleh dua kelompok jamur. Sekitar 60 sampai 80 persen disebabkan oleh Aspergillus spp dan kebanyakan adalah Aspergillus fumigatus. Jenis Mucorales bertanggung jawab atas keguguran mikotik selebihnya. Kejadian abortus mikotik bervariasi dari 0,5 sampai 16 persen dari semua abortus pada sapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aspergillus terdapat dimana-mana dan umumnya bersifat saprofit. Jamur memasuki tubuh hewan melalui pernapasan dan makanan. Spora jamur kemudian dibawa ke plasenta melalui aliran darah dari laesio lain pada saluran pencernaan. Hasil penularan ini secara gradual menyebabkan plasentitis, hambatan pemberian makanan pada saluran fetus, kematian fetus dan abortus dalam waktu beberapa Minggu atau beberapa bulan kemudian. Kebanyakan abortus terjadi pada bulan kelima sampai ketujuh masa kebuntingan, tetapi dapat berlangsung dari bulan keempat sampai waktu partus. Fetus umumnya dikeluarkan dalam keadaan mati, tetapi pada beberapa kasus terjadi kelahiran prematur atau fetus lahir pada waktunya dalam keadaan hidup tapi lemah dan mati segera sesudah lahir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abortus mikotik umumnya ditandai oleh perubahan-perubahan nyata pada selaput fetus, tapi lebih nyata daripada perubahan-perubahan abortus karena brusellosis dan vibriosis. Chorion tebal, oedematus, seperti kulit dan neurotik. Laesio utama terdapat pada plasentoma. Karunkel dan kotiledon sangat membesar, membengkak, oedematus dan nekrotik.&lt;br /&gt;Kotiledon yang nekrotik memperlihatkan suatu pusat yang kelabu suram dikelilingi oleh daerah hemoragika dan bertaut erat dengan khorion yang nekrotik. Di dalam ruang utero khorion umumnya terdapat cairan kemerah-merahan dengan kepingan-kepingan nanah. Jamur menyebar melalui selaput fetus ke dalam cairan foetal. Foetus dapat tampak normal atau, pada 30 persen kasus jamur dapat bertumbuh pada kulit dalam bentuk bercak-bercak seperti pada ichtyosis congenital atau ringworm. Cairan serosa berwarna jerami dapat ditemukan pada jaringan foetal atau rongga tubuhnya. Jamur dapat diisolasi dari isi lambung, dari chorion, atau kotiledon plasenta yang terserang. Penyembuhan pada kasus yang parah cukup lambat dan tertunda atau dapat diikuti oleh kemajiran permanen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diagnosa dikuatkan oleh pemeriksaan mikroskopik terhadap jamur dari plasenta atau foetus, pemeriksaan histopatologik terhadap jaringan plasental atau foetal dan oleh kultur pada media buatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;PENYEBAB&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Hampir semua abortus mikotik pada sapi disebabkan oleh dua kelompok jamur. Sekitar 60-80% disebabkan oleh Aspergillus spp dan kebanyakan adalah Aspergillus fumigatus. Jenis mucorales bertanggung jawab atas keguguran mikotik selebihnya. Kejadian abortus mikotik bervariasi dari 0,5-16% dari semua abortus pada sapi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;GEJALA KLINIS&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Abortus mikotik umumnya ditandai oleh perubahan-perubahan nyata pada selaput foetus. Chorion tebal, oedematous, seperti kulit dan nekrotik. Lesi utama terdapat pada placentoma, karunkel dan kotiledon sangat membesar, membengkak, oedematous, dan nekrotik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;PENULARAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Jamur memasuki tubuh hewan melalui pernapasan dan makanan. Spora jamur kemudian dibawa ke plasenta melalui aliran darah dari laesio pada saluran pernapasan rumenitis mikotik atau laesio lain pada saluran pencernaan. Hasil penularan ini secara gradual meyebabkan placentitis, hambatan pemberian makanan kepada foetus, kematian foetus, dan abortus dalam waktu beberapa minggu atau beberapa bulan kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;DIAGNOSA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Diagnosa dikuatkan oleh pemeriksaan mikroskopik terhadap jamur dari placenta atau foetus, pemeriksaan histopatologik terhadap jaringan placental atau foetal dan oleh kultur pada media buatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5343438090319808433-8605583775780777588?l=budidaya-di.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://budidaya-di.blogspot.com/feeds/8605583775780777588/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2010/02/jamur-penyebab-abortus-pada-sapi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/8605583775780777588'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/8605583775780777588'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2010/02/jamur-penyebab-abortus-pada-sapi.html' title='Jamur Penyebab Abortus Pada Sapi'/><author><name>Budidaya Pertanian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02468176543501833983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5343438090319808433.post-5748856020751678799</id><published>2010-01-24T01:53:00.000-08:00</published><updated>2010-01-24T01:53:40.500-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Tomat'/><title type='text'>Budidaya Tanaman Tomat</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Budidaya Tanaman Tomat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tomat adalah komoditas hortikultura yang penting, tetapi produksinya baik kuantitas dan kualitas masih rendah. Hal ini disebabkan antara lain tanah yang keras, miskin unsur hara mikro serta hormon, pemupukan tidak berimbang, serangan hama dan penyakit, pengaruh cuaca dan iklim, serta teknis budidaya petani&lt;br /&gt;PT. Natural Nusantara berupaya membantu petani dalam peningkatan produksi secara Kuantitas dan Kualitas dengan tetap memelihara Kelestarian lingkungan (Aspek K-3), agar petani dapat berkompetisi di era perdagangan bebas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;FASE PRA TANAM TANAMAN TOMAT&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Syarat Tumbuh&amp;gt;&lt;br /&gt;- Tomat dapat ditanam di dataran rendah/dataran tinggi&lt;br /&gt;- Tanahnya gembur, porus dan subur, tanah liat yang sedikit mengandung pasir dan pH antara 5 - 6&lt;br /&gt;- Curah hujan 750-1250 mm/tahun, curah hujan yang tinggi dapat menghambat persarian.&lt;br /&gt;- Kelembaban relatif yang tinggi sekitar 25% akan merangsang pertumbuhan tanaman yang masih muda karena asimilasi CO2 menjadi lebih baik melalui stomata yang membuka lebih banyak, tetapi juga akan merangsang mikroorganisme pengganggu tanaman dan ini berbahaya bagi tanaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pola Tanam&lt;br /&gt;- Tanaman yang dianjurkan adalah jagung, padi, sorghum, kubis dan kacang-kacangan&lt;br /&gt;- Dianjurkan tanam sistem tumpang sari atau tanaman sela untuk memberikan keadaan yang kurang disukai oleh organisme jasad pengganggu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Penyiapan Lahan&lt;br /&gt;- Pilih lahan gembur dan subur yang sebelumnya tidak ditanami tomat, cabai, terong, tembakau dan kentang .&lt;br /&gt;- Untuk mengurangi nematoda dalam tanah genangilah tanah dengan air selama dua minggu&lt;br /&gt;- Bila pH rendah berikanlah kapur dolomite 150 kg/1000 m2 dan disebar serta diaduk rata pada umur 2-3 minggu sebelum tanam&lt;br /&gt;- Buatlah bedengan selebar 120-160 cm untuk barisan ganda dan 40-50 cm untuk barisan tunggal&lt;br /&gt;- Buatlah parit selebar 20-30 cm diantara bedengan dengan kedalaman 30 cm untuk pembuangan air.&lt;br /&gt;- Berikan pupuk dasar 4 kg Urea /ZA + 7,5 kg TSP + 4 kg KCl per 1000 m2 diatas bedengan, aduk dan ratakan dengan tanah&lt;br /&gt;- Atau jika pakai Pupuk Majemuk NPK (15-15-15) dosis ± 20 kg / 1000 m2 dicampur rata dengan tanah di atas bedengan.&lt;br /&gt;- Siramkan pupuk POC NASA yang telah dicampur air secara merata diatas bedengan dosis 1-2 botol/1000 m2. Hasil akan lebih bagus jika diganti SUPER NASA (dosis ± 1-2 botol/1000 m2 ) dengan cara :&lt;br /&gt;- alternatif 1 : 1 botol SUPER NASA diencerkan dalam 3 liter air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 50 lt air diberi 200 cc larutan induk tadi untuk menyiram bedengan.&lt;br /&gt;- alternatif 2 : setiap 1 gembor volume 10 lt diberi 1 sendok peres makan SUPER NASA untuk menyiram + 10 meter bedengan&lt;br /&gt;- Sebarkan Natural GLIO 1-2 sachet yang telah dicampur pupuk kandang (+ 1 minggu) merata di atas bedengan pada sore hari&lt;br /&gt;- Jika pakai Mulsa plastik, tutup bedengan pada siang hari&lt;br /&gt;- Biarkan selama 5-7 hari sebelum tanam&lt;br /&gt;- Buat lubang tanam dengan jarak 60 x 80 cm atau 60 x 50 cm di atas bedengan, diameter 7-8 cm sedalam 15 cm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Pemilihan Bibit&lt;br /&gt;- Pilih varietas tahan dan jenis Hybryda ( F1 Hybryd )&lt;br /&gt;- Bibit berdaun 5-6 helai daun (25-30 HSS=hari setelah semai) pindahkan ke lapangan&lt;br /&gt;- Untuk mengurangi stress awal pertumbuhan perlu disiram dulu pada sore sehari sebelum tanam atau pagi harinya (agar lembab)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;FASE PERSEMAIAN (0-30 HSS)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;- Siapkan media tanam yang merupakan campuran tanah dan pupuk kandang 25 - 30 kg + Natural GLIO (1:1)&lt;br /&gt;- Masukkan dalam polibag plastik atau contongan daun pisang atau kelapa&lt;br /&gt;- Sebarlah benih secara merata atau masukkan satu per satu dalam polibag&lt;br /&gt;- Setelah benih berumur 8-10 hari , pilih bibit yang baik, tegar dan sehat dipindahkan dalam bumbunan daun pisang atau dikepeli yang berisi campuran media tanam&lt;br /&gt;- Penyiraman dilakukan setiap hari (lihat kondisi tanah)&lt;br /&gt;- Penyemprotan POC NASA pada umur 10 dan 17 hari dengan dosis 2 tutup/tangki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;FASE TANAM ( 0-15 HST=Hari Setelah Tanam )&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;- Bedengan sehari sebelumnya diairi ( dilep ) dahulu&lt;br /&gt;- Bibit siap tanam umur 3 - 4 minggu, berdaun 5-6&lt;br /&gt;- Penanaman sore hari&lt;br /&gt;- Buka polibag plastik&lt;br /&gt;- Benamkan bibit secara dangkal pada batas pangkal batang dan ditimbun dengan tanah di sekitarnya&lt;br /&gt;- Selesai penanaman langsung disiram dengan POC NASA dengan dosis 2-3 tutup per + 15 liter air&lt;br /&gt;- Sulam tanaman yang mati sampai berumur 2 minggu, caranya tanaman yang telah mati, rusak, layu atau pertumbuhannya tidak normal dicabut, kemudian dibuat lubang tanam baru, dibersihkan dan diberi Natural GLIO lalu bibit ditanam&lt;br /&gt;- Pengairan dilakukan tiap hari sampai tomat tumbuh normal (Jawa : lilir), hati-hati jangan sampai berlebihan karena tanaman bisa tumbuh memanjang, tidak mampu menyerap unsur-unsur hara dan mudah terserang penyakit&lt;br /&gt;- Amati hama seperti ulat tanah dan ulat grayak. Jika ada serangan semprot dengan Natural VITURA&lt;br /&gt;- Amati penyakit seperti penyakit layu Fusarium atau bakteri dan busuk daun , kendalikan dengan menyemprot Natural GLIO dicampur gula pasir perbandingan 1:1. Untuk penyakit Virus, kendalikan vektornya seperti Thrips, kutu kebul (Bemissia tabaci), banci ( Aphis sp.), Kutu persik (Myzus sp.) dan tungau (Tetranichus sp.) dengan menyemprot Natural BVR atau Pestona secara bergantian&lt;br /&gt;- Pasang ajir sedini mungkin supaya akar tidak rusak tertusuk ajir dengan jarak 10-20 cm dari batang tomat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;FASE VEGETATIF ( 15-30 HST)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;- Jika tanpa mulsa, penyiangan dan pembubunan pada umur 28 HST bersamaan penggemburan dan pemberian pupuk susulan diikuti pengguludan tanaman&lt;br /&gt;- Setelah tanaman hidup sekitar 1 minggu semenjak tanam, diberi pupuk Urea dan KCl dengan perbandingan 1:1 untuk setiap tanaman (1-2 gram), berikan di sekeliling tanaman pada jarak ± 3 cm dari batang tanaman tomat kemudian ditutup tanah dan siram dengan air&lt;br /&gt;- Pemupukan kedua dilakukan umur 2-3 minggu sesudah tanam berupa campuran Urea dan KCl (± 5 gr), berikan di sekeliling batang tanaman sejauh ± 5 cm dan sedalam ± 1 cm kemudian ditutup tanah dan siram dengan air.&lt;br /&gt;- Bila umur 4 minggu tanaman masih kelihatan belum subur dapat dipupuk Urea dan KCl lagi (7 gram). Jarak pemupukan dari batang dibuat makin jauh ( ± 7 cm).&lt;br /&gt;- Jika pakai Mulsa tidak perlu penyiangan dan pembubunan serta pupuk susulan diberikan dengan cara dikocorkan&lt;br /&gt;- Penyiraman dilakukan pada pagi atau sore hari&lt;br /&gt;- Amati hama dan penyakit seperti ulat, kutu-kutuan, penyakit layu dan virus, jika terjadi serangan kendalikan seperti pada fase tanam&lt;br /&gt;- Semprotkan POC NASA (4-5 tutup) per tangki atau POC NASA (3-4 tutup) + HORMONIK (1 tutup) setiap 7 hari sekali.&lt;br /&gt;- Tanaman yang telah mencapai ketinggian 10-15 cm harus segera diikat pada ajir dan setiap bertambah tinggi + 20 cm harus diikat lagi agar batang tomat berdiri tegak.&lt;br /&gt;- Pengikatan jangan terlalu erat dengan model angka 8, sehingga tidak terjadi gesekan antara batang dengan ajir yang dapat menimbulkan luka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;FASE GENERATIF (30 - 80 HST)&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;1. Pengelolaan Tanaman&lt;br /&gt;- Jika tanpa mulsa penyiangan dan pembubunan kedua dilakukan umur 45-50 hari&lt;br /&gt;- Untuk merangsang pembungaan pada umur 32 HST lakukan perempelan tunas-tunas tidak produktif setiap 5-7 hari sekali, sehingga tinggal 1-3 cabang utama / tanaman&lt;br /&gt;- Perempelan sebaiknya pagi hari agar luka bekas rempelan cepat kering dengan cara; ujung tunas dipegang dengan tangan bersih lalu digerakkan ke kanan-kiri sampai tunas putus. Tunas yang terlanjur menjadi cabang besar harus dipotong dengan pisau atau gunting, sedangkan tanaman yang tingginya terbatas perempelan harus hati-hati agar tunas terakhir tidak ikut dirempel sehingga tanaman tidak terlalu pendek&lt;br /&gt;- Ketinggian tanaman dapat dibatasi dengan memotong ujung tanaman apabila jumlah dompolan buah mencapai 5-7 buah&lt;br /&gt;- Semprotkan POC NASA dan HORMONIK setiap 7-10 hari sekali dengan dosis 3-4 tutup POC NASA dan 1-2 tutup HORMONIK/tangki. - Agar tidak mudah hilang oleh air hujan dan merata tambahkan Perekat Perata AERO 810 dengan dosis 5 ml ( 1/2 tutup)/tangki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pengamatan Hama dan Penyakit&lt;br /&gt;- Ulat buah (Helicoperva armigera dan Heliothis sp.). Gejala buah berlubang dan kotoran menumpuk dalam buah yang terserang. Lakukan pengumpulan dan pemusnahan buah tomat terserang, semprot dengan PESTONA&lt;br /&gt;- Lalat buah (Brachtocera atau Dacus sp.).Gejala buah busuk karena terserang jamur dan bila buah dibelah akan kelihatan larva berwarna putih. - - Bersifat agravator, yaitu sebagai vektornya penyakit jamur, bakteri dan Drosophilla sp. Kumpulkan dan bakar buah terserang, gunakan perangkap lalat buah jantan (dapat dicampur insektisida)&lt;br /&gt;- Busuk daun (Phytopthora infestans), bercak daun dan buah (Alternaria solani) serta busuk buah antraknose (Colletotrichum coccodes). Jika ada serangan semprot dengan Natural GLIO&lt;br /&gt;- Jika pengendalian hama penyakit dengan menggunakan pestisida alami (PESTONA, GLIO, VITURA) belum mengatasi dapat dipergunakan pestisida kimia yang dianjurkan. Agar penyemprotan pestisida kimia lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki.&lt;br /&gt;- Busuk ujung buah. Ujung buah tampak lingkaran hitam dan busuk. Ini gejala kekurangan Ca ( Calsium). Berikan Dolomit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;FASE PANEN &amp;amp; PASCA PANEN (80 - 130 HST)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;- Panen pada umur 90-100 HST dengan ciri; kulit buah berubah dari warna hijau menjadi kekuning-kuningan, bagian tepi daun tua mengering, batang menguning, pada pagi atau sore hari disaat cuaca cerah. Buah dipuntir hingga tangkai buah terputus. Pemuntiran buah dilakukan satu-persatu dan dipilih buah yang siap petik. Masukkan keranjang dan letakkan di tempat yang teduh&lt;br /&gt;- Interval pemetikan 2-3 hari sekali.&lt;br /&gt;- Supaya tahan lama, tidak cepat busuk dan tidak mudah memar, buah tomat yang akan dikonsumsi segar dipanen setengah matang&lt;br /&gt;- Wadah yang baik untuk pengangkutan adalah peti-peti kayu dengan papan bercelah dan jangan dibanting&lt;br /&gt;- Waspadai penyakit busuk buah Antraknose, kumpulkan dan musnahkan&lt;br /&gt;- Buah tomat yang telah dipetik, dibersihkan, disortasi dan di packing lalu diangkut siap untuk konsumsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: teknis-budidaya.blogspot.com&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5343438090319808433-5748856020751678799?l=budidaya-di.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://budidaya-di.blogspot.com/feeds/5748856020751678799/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2010/01/budidaya-tanaman-tomat.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/5748856020751678799'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/5748856020751678799'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2010/01/budidaya-tanaman-tomat.html' title='Budidaya Tanaman Tomat'/><author><name>Budidaya Pertanian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02468176543501833983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5343438090319808433.post-1772956642550440006</id><published>2010-01-19T11:49:00.000-08:00</published><updated>2010-01-19T11:49:24.295-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Buah'/><title type='text'>Budidaya Buah Semangka</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_WtXCykFMI6Y/S1YMroynT5I/AAAAAAAAABA/2UIy2pGNjZE/s1600-h/budidaya+melon.jpeg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_WtXCykFMI6Y/S1YMroynT5I/AAAAAAAAABA/2UIy2pGNjZE/s320/budidaya+melon.jpeg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Budidaya Buah Semangka&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;Agribisnis melon menunjukkan prospek menjanjikan. Tetapi jika faktor tanah yang semakin keras, miskin unsur hara terutama unsur hara mikro dan hormon alami, faktor iklim dan cuaca, faktor hama dan penyakit tanaman serta faktor pemeliharaan tidak diperhatikan maka keuntungan akan menurun.&lt;br /&gt;PT. Natural Nusantara berusaha membantu meningkatkan produktivitas melon secara Kuantitas, Kualitas, dan Kelestarian lingkungan ( Aspek K-3 ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. SYARAT PERTUMBUHAN&lt;br /&gt;2.1. Iklim&lt;br /&gt;Perlu penyinaran matahari penuh selama pertumbuhannya. Pada kelembaban yang tinggi tanaman melon mudah diserang penyakit. Suhu optimal antara 25-300C. Angin yang bertiup cukup keras dapat merusak pertanaman melon. Hujan terus menerus akan merugikan tanaman melon. Tumbuh baik pada ketinggian 300-900 m dpl.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.2. Media Tanam&lt;br /&gt;Tanah yang baik ialah tanah liat berpasir yang banyak mengandung bahan organik seperti andosol, latosol, regosol, dan grumosol, asalkan kekurangan dari sifat-sifat tanah tersebut dapat dimanipulasi dengan pengapuran, penambahan bahan organik, maupun pemupukan. Tanaman melon tidak menyukai tanah yang terlalu basah, pH tanah 5,8-7,2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA&lt;br /&gt;3.1. Pembibitan&lt;br /&gt;3.1.1. Pembuatan Media Semai&lt;br /&gt;Siapkan Natural GLIO : 1-2 kemasan Natural GLIO dicampur dengan 50-100 kg pupuk kandang untuk lahan 1000 m2. Selanjutnya didiamkan + 1 minggu di tempat yang teduh dengan selalu menjaga kelembabannya dan sesekali diaduk (dibalik).&lt;br /&gt;Campurkan tanah halus (diayak) 2 bagian/2 ember (volume 10 lt), pupuk kandang matang yang telah diayak halus sebanyak 1 bagian/1 ember, TSP (± 50 gr) yang dilarutkan dalam 2 tutup POC NASA, dan Natural GLIO yang sudah dikembangbiakkan dalam pupuk kandang 1-2 kg . Masukkan media semai ke dalam polybag ukuran 8x10 cm sampai terisi hingga 90%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.1.2. Teknik Penyemaian dan pemeliharaan Bibit&lt;br /&gt;Rendam benih dalam 1 liter air hangat suhu 20-250C + 1 tutup POC NASA selama 8-12 jam lalu diperam + 48 jam. Selanjutnya disemai dalam polybag, sedalam 1-1,5 cm. Benih disemaikan dalam posisi tegak dan ujung calon akarnya menghadap ke bawah. Benih ditutup dengan campuran abu sekam dan tanah dengan perbandingan 2:1. Kantong persemaian diletakkan berderet agar terkena sinar matahari penuh sejak terbit hingga tenggelam. Diberi perlindungan plastik transparan yang salah satu ujungnya terbuka.&lt;br /&gt;Semprotkan POC NASA untuk memacu perkembangan bibit, pada umur bibit 7-9 hari dengan dosis 1,0-1,5 cc/liter. Penyiraman dilakukan dengan hati-hati secara rutin setiap pagi.&lt;br /&gt;Bibit melon yang sudah berdaun 4-5 helai atau tanaman melon telah berusia 10-12 hari dapat dipindahtanamkan dengan cara kantong plastik polibag dibuka hati-hati lalu bibit berikut tanahnya ditanam pada bedengan yang sudah dilubangi sebelumnya, bedengan jangan sampai kekurangan air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.2. Pengolahan Media Tanam&lt;br /&gt;3.2.1. Pembukaan Lahan&lt;br /&gt;Sebelum dibajak digenangi air lebih dahulu semalam, kemudian keesokan harinya dilakukan pembajakan dengan kedalaman sekitar 30 cm. Setelah itu dilakukan pengeringan, baru dihaluskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.2.2. Pembentukan Bedengan&lt;br /&gt;Panjang bedengan maksimum 12-15 m; tinggi bedengan 30-50 cm; lebar bedengan 100-110 cm; dan lebar parit 55-65 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.2.3. Pengapuran&lt;br /&gt;Penggunaan kapur per 1000 m2 pada pH tanah 4-5 diperlukan 150-200 kg dolomit , untuk antara pH 5-6 dibutuhkan 75-150 kg dolomit dan pH &amp;gt;6 dibutuhkan dolomit sebanyak 50 kg.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.2.4. Pemupukan Dasar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.2.5. Pemberian Natural GLIO&lt;br /&gt;Untuk mencegah serangan penyakit karena jamur terutama penyakit layu, sebaiknya tebarkan Natural GLIO yang sudah disiapkan sebelum persemaian. Dosis 1-2 kemasan per 1000 m2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.2.6. Pemasangan Mulsa Plastik Hitam-Perak (PHP)&lt;br /&gt;Pemasangan mulsa sebaiknya saat matahari terik agar mulsa dapat memuai sehingga menutup bedengan dengan tepat. Biarkan bedengan tertutup mulsa 3-5 hari sebelum dibuat lubang tanam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.3. Teknik Penanaman&lt;br /&gt;3.3.1. Pembuatan Lubang Tanam&lt;br /&gt;Diameter lubang + 10 cm, jarak lubang 60-80 cm. Model penanaman dapat berupa dua baris berhadap-hadapan membentuk segiempat atau segitiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.3.2. Cara Penanaman&lt;br /&gt;Bibit siap tanam dipindahkan beserta medianya. Usahakan akar tanaman tidak sampai rusak saat menyobek polibag.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.4. Pemeliharaan Tanaman&lt;br /&gt;3.4.1. Penyulaman&lt;br /&gt;Penyulaman dilakukan 3-5 hari setelah tanam. Setelah selesai penyulaman tanaman baru harus disiram air. Sebaiknya penyulaman dilakukan sore hari&lt;br /&gt;3.4.2. Penyiangan&lt;br /&gt;Penyiangan dilakukan untuk membersihkan gulma/ rumput liar.&lt;br /&gt;3.4.3. Perempelan&amp;gt;&lt;br /&gt;Perempelan dilakukan terhadap tunas/cabang air yang bukan merupakan cabang utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.4.4. Pemupukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.4.5. Penggunaan Hormonik&lt;br /&gt;Dosis HORMONIK : 1-2 cc/lt air atau 1-2 tutup HORMONIK + 3-5 tutup POC NASA setiap tangki semprot. Penyemprotan HORMONIK mulai usia 3-11 minggu, interval 7 hari sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.4.6. Penyiraman&lt;br /&gt;Penyiraman sejak masa pertumbuhan tanaman, sampai akan dipetik buahnya kecuali hujan. Saat menyiram jangan sampai air siraman membasahi daun dan air dari tanah jangan terkena daun dan buahnya. Penyiraman dilakukan pagi-pagi sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.4.7. Pemeliharaan Lain&lt;br /&gt;a. Pemasangan Ajir&lt;br /&gt;Ajir dipasang sesudah bibit mengeluarkan sulur-sulurnya. Tinggi ajir + 150 - 200 cm. Ajir terbuat dari bahan yang kuat sehingga mampu menahan beban buah + 2-3 kg. Tempat ditancapkannya ajir + 25 cm dari pinggir guludan baik kanan maupun kiri. Supaya ajir lebih kokoh bisa menambahkan bambu panjang yang diletakkan di bagian pucuk segitiga antara bambu atau kayu yang menyilang, mengikuti barisan ajir-ajir di belakangnya.&lt;br /&gt;b. Pemangkasan&lt;br /&gt;Pemangkasan dilakukan pada tanaman melon bertujuan untuk memelihara cabang sesuai dengan yang dikehendaki. Tinggi tanaman dibuat rata-rata antara titik ke-20 sampai ke-25 (bagian ruas, cabang atau buku dari tanaman tersebut). Pemangkasan dilakukan kalau udara cerah dan kering, supaya bekas luka tidak diserang jamur. Waktu pemangkasan dilakukan setiap 10 hari sekali, yang paling awal dipangkas adalah cabang yang dekat dengan tanah dan sisakan dua helai daun, kemudian cabang-cabang yang tumbuh dipangkas dengan menyisakan 2 helai daun. Pemangkasan dihentikan, jika ketinggian tanamannya sudah mencapai pada cabang ke-20 atau 25.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.5. Hama dan Penyakit&lt;br /&gt;3.5.1. Hama&lt;br /&gt;a. Kutu Aphis (Aphis gossypii Glover )&lt;br /&gt;Ciri: mempunyai getah cairan yang mengandung madu dan di lihat dari kejauhan mengkilap. Aphis muda berwarna kuning, sedangkan yang dewasa mempunyai sayap dan berwarna agak kehitaman. Gejala: daun tanaman menggulung, pucuk tanaman menjadi kering akibat cairan daun dihisap hama. Pengendalian: (1) gulma selalu dibersihkan agar tidak menjadi inang hama; (2) semprot Pestona atau Natural BVR.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Thrips (Thrips parvispinus Karny)&lt;br /&gt;Ciri: menyerang saat fase pembibitan sampai tanaman dewasa. Nimfa berwarna kekuning-kuningan dan dewasa berwarna coklat kehitaman. Serangan dilakukan di musim kemarau. Gejala: daun muda atau tunas baru menjadi keriting, dan bercak kekuningan; tanaman keriting dan kerdil serta tidak dapat membentuk buah secara normal. Gejala ini harus diwaspadai karena telah tertular virus yang dibawa hama thrips. Pengendalian: menyemprot dengan Pestona atau Natural BVR.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.5.2. Penyakit&lt;br /&gt;a. Layu Bakteri&lt;br /&gt;Penyebab: bakteri Erwina tracheiphila E.F.Sm. Penyakit ini dapat disebarkan dengan perantara kumbang daun oteng-oteng (Aulacophora femoralis Motschulsky). Gejala: daun dan cabang layu, terjadi pengerutan pada daun, warna daun menguning, mengering dan akhirnya mati; daun tanaman layu satu per satu, meskipun warnanya tetap hijau. Apabila batang tanaman yang dipotong melintang akan mengeluarkan lendir putih kental dan lengket bahkan dapat ditarik seperti benang. Pengendalian: penggunaan Natural GLIO sebelum tanam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Penyakit Busuk Pangkal Batang (gummy stem bligt)&lt;br /&gt;Penyebab: Cendawan Mycophaerekka melonis (Passerini) Chiu et Walker. Gejala: pangkal batang seperti tercelup minyak kemudian keluar lendir berwarna merah coklat dan kemudian tanaman layu dan mati; daun yang terserang akan mengering. Pengendalian: (1) penggunaan mulsa PHP untuk mencegah kelembaban di sekitar pangkal batang dan mencegah luka di perakaran maupun pangkal batang karena penyiangan; (2) daun yang terserang dibersihkan. (3) gunakan Natural GLIO sebelum tanam sebagai pencegahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: Jika pengendalian hama penyakit dengan menggunakan pestisida alami belum mengatasi dapat dipergunakan pestisida kimia yang dianjurkan. Agar penyemprotan pestisida kimia lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.5.3. Gulma&lt;br /&gt;Gulma (tumbuhan pengganggu) merugikan tanaman, karena bersaing zat hara, tempat tumbuh dan cahaya. Pencabutan gulma harus dilakukan sejak tumbuhan masih kecil, karena jika sudah besar akan merusak perakaran tanaman melon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.6. Panen&lt;br /&gt;3.6.1. Ciri dan Umur Panen&lt;br /&gt;a. Tanda/Ciri Penampilan Tanaman Siap Panen&lt;br /&gt;1. Ukuran buah sesuai dengan ukuran normal&lt;br /&gt;2. Jala/Net pada kulit buah sangat nyata/kasar&lt;br /&gt;3. Warna kulit hijau kekuningan.&lt;br /&gt;b. Umur Panen + 3 bulan setelah tanam.&lt;br /&gt;c. Waktu Pemanenan yang baik adalah pada pagi hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.6.2. Cara Panen&lt;br /&gt;a. Potong tangkai buah melon dengan pisau, sisakan minimal 2,0 cm untuk memperpanjang masa simpan buah.&lt;br /&gt;b. Tangkai dipotong berbentuk huruf "T" , maksudnya agar tangkai buah utuh.&lt;br /&gt;c. Pemanenan dilakukan secara bertahap, dengan mengutamakan buah yang benar-benar telah siap dipanen.&lt;br /&gt;d. Buah yang telah dipanen disortir. Kerusakan buah akibat terbentur/cacat fisik lainnya, sebaiknya dihindari karena akan mengurangi harga jual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.6.3. Penyimpanan&lt;br /&gt;Buah melon tidak boleh ditumpuk, yang belum terangkut disimpan dalam gudang. Buah ditata rapi dengan dilapisi jerami kering. Tempat penyimpanan harus bersih dan kering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi:teknis-budidaya.blogspot.com&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5343438090319808433-1772956642550440006?l=budidaya-di.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://budidaya-di.blogspot.com/feeds/1772956642550440006/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2010/01/budidaya-buah-semangka.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/1772956642550440006'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/1772956642550440006'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2010/01/budidaya-buah-semangka.html' title='Budidaya Buah Semangka'/><author><name>Budidaya Pertanian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02468176543501833983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_WtXCykFMI6Y/S1YMroynT5I/AAAAAAAAABA/2UIy2pGNjZE/s72-c/budidaya+melon.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5343438090319808433.post-2703757018894535040</id><published>2010-01-18T09:37:00.000-08:00</published><updated>2010-01-18T09:39:25.411-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Timun'/><title type='text'>Budidaya Timun</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Budidaya Timun&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. PENDAHULUAN&lt;br /&gt;Produksi mentimun di Indonesia masih sangat rendah padahal potensinya masih bisa ditingkatkan. Untuk itu PT. Natural Nusantara berupaya turut membantu meningkatkan produksi secara Kualitas, Kuantitas dan Kelestarian (K-3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. SYARAT PERTUMBUHAN&lt;br /&gt;2.1. Iklim&lt;br /&gt;Adaptasi mentimun pada berbagai iklim cukup tinggi, namun pertumbuhan optimum pada iklim kering. Cukup mendapat sinar matahari, temperatur (21,1 - 26,7)°C dan tidak banyak hujan. Ketinggian optimum 1.000 - 1.200 mdpl.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.2. Media Tanam&lt;br /&gt;Tanah gembur, banyak mengandung humus, tata air baik, tanah mudah meresapkan air, pH tanah 6-7.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA&lt;br /&gt;3.1. Pembibitan&lt;br /&gt;a. Siapkan Natural GLIO dan campurkan dengan pupuk kandang matang, diamkan 1 minggu.&lt;br /&gt;b. Siapkan tanah halus dan pukan dapat diganti SUPERNASA / POC NASA yang telah dicampur Natural GLIO (tanah : pukan = 7:3) dan masukkan polybag.&lt;br /&gt;c. Rendam benih dalam larutan POC NASA dan air hangat (2cc/l) selama 30 menit.&lt;br /&gt;d. Peram selama 12 jam. Setiap benih yang berkecambah dipindahkan ke polibag sedalam 0,5-1 cm.&lt;br /&gt;e. Polybag dinaungi plastik bening dan bibit disiram dua kali sehari.&lt;br /&gt;f. Semprotkan POC NASA (2cc/l air) pada 7 hss.&lt;br /&gt;g. Setelah berumur 12 hari atau berdaun 3-4 helai, bibit dipindahkan ke kebun.&lt;br /&gt;3.2. Pengolahan Media Tanam&lt;br /&gt;a. Bersihkan lahan dari gulma, rumput, pohon yang tidak diperlukan.&lt;br /&gt;b. Berikan kalsit/dolomit (pH tanah &lt;6 : 1-2 ton/ha)&lt;br /&gt;c. Tanah dibajak/dicangkul 30-35cm sambil membalikkan tanah dan biarkan 2 minggu.&lt;br /&gt;d. Olah kembali tanah sambil membuat bedengan lebar 120 cm, tinggi 30-40 cm dan jarak antar bedengan 30 cm.&lt;br /&gt;e. Tambahkan pupuk kandang 20-30 ton/ha atau 0,5 kg pupuk kandang ke setiap lubang tanam 40 x 40 x 40 cm.&lt;br /&gt;f. Berikan pupuk NPK 100 kg/ha (1/3 dari dosis keseluruhan).&lt;br /&gt;g. Siramkan POP SUPERNASA yang telah dicampur air secara merata di atas bedengan dengan dosis ± 1 botol/1000 m² dengan cara :&lt;br /&gt;Alternatif 1 : 1 botol POP SUPERNASA diencerkan dalam 3 liter air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 50 lt air diberi 200 cc larutan induk tadi untuk menyiram bedengan.&lt;br /&gt;Alternatif 2 : setiap 1 gembor vol 10 lt diberi 1 peres sendok makan POP SUPERNASA untuk menyiram 5-10 meter bedengan.&lt;br /&gt;h. Pasang mulsa. Dan 1 minggu kemudian buat lubang tanam.&lt;br /&gt;i. Taburkan Natural GLIO yang sudah dikembangbiakkan dengan pukan pada setiap lubang tanam (1 kemasan + 25-50 kg pukan matang untuk 1000 m2).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.3. Penanaman&lt;br /&gt;- Siram bibit dalam polibag dengan air&lt;br /&gt;- Keluarkan bibit bersama medianya dari polibag.&lt;br /&gt;- Tanamkan bibit di lubang tanam dan padatkan tanah di sekitar batang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.4. Pemeliharaan Tanaman&lt;br /&gt;- Tanaman yang rusak atau mati dicabut dan segera disulam dengan tanaman yang baik.&lt;br /&gt;- Bersihkan gulma (bisa bersama waktu pemupukan).&lt;br /&gt;- Pasang ajir pada 5 hst ( hari setelah tanam ) untuk merambatkan tanaman.&lt;br /&gt;- Daun yang terlalu lebat dipangkas, dilakukan 3 minggu setelah tanam pada pagi atau sore hari.&lt;br /&gt;- Pengairan dan Penyiraman rutin dilakukan setiap pagi dan sore hari dengan cara di siram atau menggenangi lahan selama 15-30 menit. -Selanjutnya pengairan hanya dilakukan jika diperlukan dan diintensifkan kembali pada masa pembungaan dan pembuahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.5. Pemupukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.6. Hama dan Penyakit&lt;br /&gt;3.6.1. Hama&lt;br /&gt;a. Oteng-oteng atau Kutu Kuya (Aulocophora similis Oliver).&lt;br /&gt;Kumbang daun berukuran 1 cm dengan sayap kuning polos. Gejala : merusak dan memakan daging daun sehingga daun bolong; pada serangan berat, daun tinggal tulangnya. Pengendalian : Natural BVR atau PESTONA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Ulat Tanah (Agrotis ipsilon)&lt;br /&gt;Ulat ini berwarna hitam dan menyerang tanaman terutama yang masih muda. Gejala: Batang tanaman dipotong disekitar leher akar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Lalat buah (Dacus cucurbitae Coq.)&lt;br /&gt;Lalat dewasa berukuran 1-2 mm. Lalat menyerang mentimun muda untuk bertelur, Gejala: memakan daging buah sehingga buah abnormal dan membusuk. Pengendalian : Natural METILAT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Kutu daun (Aphis gossypii Clover)&lt;br /&gt;Kutu berukuran 1-2 mm, berwarna kuning atau kuning kemerahan atau hijau gelap sampai hitam. Gejala: menyerang pucuk tanaman sehingga daun keriput, kerititing dan menggulung. Kutu ini juga penyebar virus. Pengendalian : Natural BVR atau PESTONA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.6.2. Penyakit&lt;br /&gt;a. Busuk daun (Downy mildew)&lt;br /&gt;Penyebab : Pseudoperonospora cubensis Berk et Curt. Menginfeksi kulit daun pada kelembaban udara tinggi, temperatur 16 - 22°C dan berembun atau berkabut. Gejala : daun berbercak kuning dan berjamur, warna daun akan menjadi coklat dan busuk. Pengendalian : Pemberian Natural GLIO sebelum tanam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Penyakit tepung (Powdery mildew )&lt;br /&gt;Penyebab : Erysiphe cichoracearum. Berkembang jika tanah kering di musim kemarau dengan kelemaban tinggi. Gejala : permukaan daun dan batang muda ditutupi tepung putih, kemudian berubah menjadi kuning dan mengering. Pengendalian : Pemberian Natural GLIO sebelum tanam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Antraknose&lt;br /&gt;Penyebab : cendawan Colletotrichum lagenarium Pass. Gejala: bercak-bercak coklat pada daun. Bentuk bercak agak bulat atau bersudut-sudut dan menyebabkan daun mati; gejala bercak dapat meluas ke batang, tangkai dan buah. Bila udara lembab, di tengah bercak terbentuk massa spora berwarna merah jambu. Pengendalian : Pemberian Natural GLIO sebelum tanam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Bercak daun bersudut&lt;br /&gt;Penyebab : cendawan Pseudomonas lachrymans. Menyebar pada saat musim hujan. Gejala : daun berbercak kecil kuning dan bersudut; pada serangan berat seluruh daun yang berbercak berubah menjadi coklat muda kelabu, mengering dan berlubang. Pengendalian : Pemberian Natural GLIO sebelum tanam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Virus&lt;br /&gt;Penyebab : Cucumber Mosaic Virus, CMV, Potato virus mosaic, PVM; Tobacco Etch Virus, TEV; otato Bushy Stunt Virus (TBSV); Serangga vektor adalah kutu daun Myzus persicae Sulz dan Aphis gossypii Glov. Gejala : daun menjadi belang hijau tua dan hijau muda, daun berkerut, tepi daun menggulung, tanaman kerdil. Pengendalian: dengan mengendalikan serangga vektor dengan Natural BVR atau PESTONA, mengurangi kerusakan mekanis, mencabut tanaman sakit dan rotasi dengan famili bukan Cucurbitaceae.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. Kudis (Scab)&lt;br /&gt;Penyebab : cendawan Cladosporium cucumerinum Ell.et Arth. Terjadi pada buah mentimun muda. Gejala : ada bercak basah yang mengeluarkan cairam yang jika mengering akan seperti karet; bila menyerang buah tua, terbentuk kudis yang bergabus. Pengendalian : Pemberian Natural GLIO sebelum tanam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g. Busuk buah&lt;br /&gt;Penyebab : cendawan (1) Phytium aphinadermatum (Edson) Fizt.; (2) Phytopthora sp., Fusarium sp.; (3) Rhizophus sp., (4) Erwinia carotovora pv. Carotovora. Infeksi terjadi di kebun atau di tempat penyimpanan. Gejala : (1) Phytium aphinadermatum: buah busuk basah dan jika ditekan, buah pecah; (2) Phytopthora: bercak agak basah yang akan menjadi lunak dan berwarna coklat dan berkerut; (3) Rhizophus: bercak agak besah, kulit buah lunak ditumbuhi jamur, buah mudah pecah; (4) Erwinia carotovora: buah membusuk, hancur dan berbau busuk. Pengendalian: dengan menghindari luka mekanis, penanganan pasca panen yang hati-hati, penyimpanan dalam wadah bersih dengan suhu antara 5 - 7 derajat C. Dan pemberian Natural GLIO sebelum tanam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.7. Panen&lt;br /&gt;3.7.1. Ciri dan Umur Panen&lt;br /&gt;Buah mentimun muda lokal untuk sayuran, asinan atau acar umumnya dipetik 2-3 bulan setelah tanam, mentimun hibrida dipanen 42 hari setelah tanam Mentimun Suri dipanen setelah matang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.7.2. Cara Panen&lt;br /&gt;Buah dipanen di pagi hari sebelum jam 9.00 dengan cara memotong tangkai buah dengan pisau tajam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.7.3.Periode Panen&lt;br /&gt;Mentimun sayur dipanen 5 - 10 hari sekali tergantung dari varitas dan ukuran/umur buah yang dikehendaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: teknis-budidaya.blogspot.com&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5343438090319808433-2703757018894535040?l=budidaya-di.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://budidaya-di.blogspot.com/feeds/2703757018894535040/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2010/01/budidaya-timun.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/2703757018894535040'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/2703757018894535040'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2010/01/budidaya-timun.html' title='Budidaya Timun'/><author><name>Budidaya Pertanian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02468176543501833983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5343438090319808433.post-3784034023180324192</id><published>2010-01-18T09:22:00.001-08:00</published><updated>2010-01-18T09:28:19.755-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Kacang'/><title type='text'>Budidaya Kacang Kedelai</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_WtXCykFMI6Y/S1SaHifreEI/AAAAAAAAAA0/1eHzf5Vx-pY/s1600-h/budidaya+kacang+kedelai.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 160px; height: 158px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_WtXCykFMI6Y/S1SaHifreEI/AAAAAAAAAA0/1eHzf5Vx-pY/s320/budidaya+kacang+kedelai.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5428132905197729858" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Budidaya Kacang Kedelai&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PENDAHULUAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ketergantungan terhadap kedelai impor sangat memprihatinkan, karena seharusnya kita mampu mencukupinya sendiri. Ini karena produktivitas rendah dan semakin meningkatnya kebutuhan kedelai. PT. Natural Nusantara berusaha membantu dalam peningkatan produksi secara kuantitas , kualitas dan kelestarian lingkungan sehingga kita bisa bersaing di era pasar bebas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SYARAT TUMBUH&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tanaman dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah asal drainase (tata air) dan aerasi (tata udara) tanah cukup baik, curah hujan 100-400 mm/bulan, suhu udara 230C - 300C, kelembaban 60% - 70%, pH tanah 5,8 - 7 dan ketinggian kurang dari 600 m dpl.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PENGOLAHAN TANAH&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;- Tanah dibajak, digaru dan diratakan&lt;br /&gt;- Sisa-sisa gulma dibenamkan&lt;br /&gt;- Buat saluran air dengan jarak sekitar 3-4 m&lt;br /&gt;- Tanah dikeringanginkan tiga minggu baru ditanami&lt;br /&gt;- Siramkan pupuk POC NASA yang telah dicampur air secara merata di atas bedengan dengan dosis ± 1 botol (500 cc) POC NASA diencerkan dengan air secukupnya untuk setiap 1000 m² (10 botol/ha). Hasil akan lebih bagus jika menggunakan SUPER NASA, cara penggunaannya sebagai berikut:&lt;br /&gt;- Alternatif 1 : 1 botol SUPER NASA diencerkan dalam 3 liter air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 50 lt air diberi 200 cc larutan induk tadi untuk menyiram bedengan.&lt;br /&gt;- Alternatif 2 : setiap 1 gembor vol 10 lt diberi 1 peres sendok makan SUPER NASA untuk menyiram 5-10 meter bedengan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PENANAMAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;- Rendam benih dalam POC NASA dosis 2 cc / liter selama 0,5 jam dan dicampur Legin (Rhizobium ) untuk tanah yang belum pernah ditanami kedelai&lt;br /&gt;- Buat jarak tanam antar tugalan berukuran 30 x 20 cm, 25 x 25 cm atau 20 x 20 cm&lt;br /&gt;- Buat lubang tugal sedalam 5 cm dan masukkan biji 2-3 per lubang&lt;br /&gt;- Tutup benih dengan tanah gembur dan tanpa dipadatkan&lt;br /&gt;- Waktu tanam yang baik akhir musim hujan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PENJARANGAN &amp;amp; PENYULAMAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kedelai mulai tumbuh kira-kira umur 5-6 hari, benih yang tidak tumbuh diganti atau disulam dengan benih baru yang akan lebih baik jika dicampur Legin. Penyulaman sebaiknya sore hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PENYIANGAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penyiangan pertama umur 2-3 minggu, ke-2 pada saat tanaman selesai berbunga (sekitar 6 minggu setelah tanam). Penyiangan ke-2 ini dilakukan bersamaan dengan pemupukan ke-2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PEMBUBUNAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pembubunan dilakukan dengan hati-hati dan tidak terlalu dalam agar tidak merusak perakaran tanaman. Luka pada akar akan menjadi tempat penyakit yang berbahaya.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PEMUPUKAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Contoh jenis dan dosis pupuk sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;POC NASA diberikan 2 minggu sekali semenjak tanaman berumur 2 minggu, dengan cara disemprotkan (4 - 8 tutup POC NASA/tangki).&lt;br /&gt;Kebutuhan total POC NASA untuk pemeliharaan 1-2 botol per 1000 m2 (10 - 20 botol/ha). Akan lebih bagus jika penggunaan POC NASA ditambahkan HORMONIK (3 - 4 tutup POC NASA + 1 tutup HORMONIK/tangki). Pada saat tanaman berbunga tidak dilakukan penyemprotan, karena dapat mengganggu penyerbukan, akan lebih aman jika disiramkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PENGAIRAN DAN PENYIRAMAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kedelai menghendaki kondisi tanah yang lembab tetapi tidak becek. Kondisi seperti ini dibutuhkan sejak benih ditanam hingga pengisian polong. Saat menjelang panen, tanah sebaiknya dalam keadaan kering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PENGELOLAAN HAMA DAN PENYAKIT&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Aphis glycine&lt;br /&gt;Kutu ini dapat dapat menularkan virus SMV (Soyabean Mosaik Virus). Menyerang pada awal pertumbuhan dan masa pertumbuhan bunga dan polong. Gejala: layu, pertumbuhannya terhambat. Pengendalian: (1) Jangan tanam tanaman inang seperti: terung-terungan, kapas-kapasan atau kacang-kacangan; (2) buang bagian tanaman terserang dan bakar, (3) gunakan musuh alami (predator maupun parasit); (4) semprot Natural BVR atau PESTONA dilakukan pada permukaan daun bagian bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kumbang daun tembukur (Phaedonia inclusa)&lt;br /&gt;Bertubuh kecil, hitam bergaris kuning. Bertelur pada permukaan daun. Gejala: larva dan kumbang memakan daun, bunga, pucuk, polong muda, bahkan seluruh tanaman. Pengendalian: penyemprotan PESTONA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Ulat polong (Ettiela zinchenella)&lt;br /&gt;Gejala: pada buah terdapat lubang kecil. Waktu buah masih hijau, polong bagian luar berubah warna, di dalam polong terdapat ulat gemuk hijau dan kotorannya. Pengendalian : (1) tanam tepat waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Kepik polong (Riptortis lincearis)&lt;br /&gt;Gejala: polong bercak-bercak hitam dan menjadi hampa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Lalat kacang (Ophiomyia phaseoli)&lt;br /&gt;Menyerang tanaman muda yang baru tumbuh. Pengendalian : Saat benih ditanam, tanah diberi POC NASA, kemudian setelah benih ditanam, tanah ditutup dengan jerami . Satu minggu setelah benih menjadi kecambah dilakukan penyemprotan dengan PESTONA. Penyemprotan diulangi pada waktu kedelai berumur 1 bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Kepik hijau (Nezara viridula)&lt;br /&gt;Pagi hari berada di atas daun, saat matahari bersinar turun ke polong, memakan polong dan bertelur. Umur kepik dari telur hingga dewasa antara 1 sampai 6 bulan. Gejala: polong dan biji mengempis serta kering. Biji bagian dalam atau kulit polong berbintik coklat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Ulat grayak (Spodoptera litura)&lt;br /&gt;Gejala : kerusakan pada daun, ulat hidup bergerombol, memakan daun, dan berpencar mencari rumpun lain. Pengendalian : (1) dengan cara sanitasi; (2) disemprotkan pada sore/malam hari (saat ulat menyerang tanaman) beberapa Natural VITURA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Penyakit Layu Bakteri (Pseudomonas sp.)&lt;br /&gt;Gejala : layu mendadak bila kelembaban terlalu tinggi dan jarak tanam rapat. Pengendalian : Varietas tahan layu, sanitasi kebun, dan pergiliran tanaman.&lt;br /&gt;Pengendalian : Pemberian Natural GLIO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Penyakit layu (Jamur tanah : Sclerotium Rolfsii)&lt;br /&gt;Penyakit ini menyerang tanaman umur 2-3 minggu, saat udara lembab, dan tanaman berjarak tanam pendek. Gejala : daun sedikit demi sedikit layu, menguning. Penularan melalui tanah dan irigasi. Pengendalian; tanam varietas tahan dan tebarkan Natural GLIO di awal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Anthracnose (Colletotrichum glycine )&lt;br /&gt;Gejala: daun dan polong bintik-bintik kecil berwarna hitam, daun yang paling rendah rontok, polong muda yang terserang hama menjadi kosong dan isi polong tua menjadi kerdil. Pengendalian : (1) perhatikan pola pergiliran tanam yang tepat; (2) Pencegahan di awal dengan Natural GLIO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11.Penyakit karat (Cendawan Phakospora phachyrizi)&lt;br /&gt;Gejala: daun tampak bercak dan bintik coklat. Pengendalian: (1) cara menanam kedelai yang tahan terhadap penyakit; (2) semprotkan Natural GLIO + gula pasir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. Busuk batang (Cendawan Phytium Sp)&lt;br /&gt;Gejala : batang menguning kecoklat-coklatan dan basah, kemudian membusuk dan mati. Pengendalian : (1) memperbaiki drainase lahan; (2) Tebarkan Natural GLIO di awal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PANEN DAN PASCA PANEN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;- Lakukan apabila sebagian besar daun sudah menguning, tetapi bukan karena serangan hama atau penyakit, lalu gugur, buah mulai berubah warna dari hijau menjadi kuning kecoklatan dan retak-retak, atau polong sudah kelihatan tua, batang berwarna kuning agak coklat dan gundul.&lt;br /&gt;- Perlu diperhatikan, kedelai sebagai bahan konsumsi dipetik pada usia 75 - 100 hari, sedangkan untuk benih umur 100 - 110 hari, agar kemasakan biji betul-betul sempurna dan merata.&lt;br /&gt;- Setelah pemungutan selesai, seluruh hasil panen hendaknya segera dijemur.&lt;br /&gt;- Biji yang sudah kering lalu dimasukkan ke dalam karung dan dipasarkan atau disimpan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi: teknis-budidaya.blogspot.com&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5343438090319808433-3784034023180324192?l=budidaya-di.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://budidaya-di.blogspot.com/feeds/3784034023180324192/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2010/01/budidaya-kacang-kedelai.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/3784034023180324192'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/3784034023180324192'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2010/01/budidaya-kacang-kedelai.html' title='Budidaya Kacang Kedelai'/><author><name>Budidaya Pertanian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02468176543501833983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_WtXCykFMI6Y/S1SaHifreEI/AAAAAAAAAA0/1eHzf5Vx-pY/s72-c/budidaya+kacang+kedelai.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5343438090319808433.post-4132349499843942347</id><published>2010-01-18T09:16:00.002-08:00</published><updated>2010-01-18T09:21:48.716-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Buah'/><title type='text'>Budidaya Buah Mangga - Tanaman Buah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_WtXCykFMI6Y/S1SYkE6oVaI/AAAAAAAAAAs/ls0c2I0KtBs/s1600-h/Budidaya+Buah+Mangga.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 269px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_WtXCykFMI6Y/S1SYkE6oVaI/AAAAAAAAAAs/ls0c2I0KtBs/s320/Budidaya+Buah+Mangga.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5428131196450657698" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;Budidaya Buah Mangga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Produksi mangga pada saat ini belum mampu memenuhi permintaan pasar, khususnya pasar luar negeri. Ketidakmampuan ini bukan hanya disebabkan produktivitas rendah tetapi juga kualitasnya masih kurang. Kondisi ini disebabkan oleh penerapan teknologi budidaya yang belum optimal.&lt;br /&gt;Memperhatikan hal tersebut PT. NATURAL NUSANTARA membantu peningkatan produksi secara kuantitas , kualitas dan kelestarian (Aspek K-3). sehingga petani mampu bersaing di era pasar bebas.&lt;br /&gt;   &lt;strong&gt;&lt;br /&gt;AGROEKOLOGI&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tanaman mangga tumbuh baik pada ketinggian 50-300 m dpl pada lapisan tanah tebal dan struktur tanah remah dan berbutir-butir.&lt;br /&gt;   &lt;strong&gt;&lt;br /&gt;VARIETAS&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Varietas yang bernilai jual tinggi antara lain Gadung 21 atau Arumanis 143. Varietas lainnya adalah Manalagi 69, Lalijiwo, Chokanan dan Golek 31.&lt;br /&gt;   &lt;strong&gt;&lt;br /&gt;PERSIAPAN LAHAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Lubang tanam dibuat 1-2 bulan sebelum tanam,ukuran 1 m x 1m x 1 m dan jarak tanam 6 m x 8 m. Dua minggu sebelum pelaksanaan tanam, tanah galian dimasukkan kembali ke dalam lubang tanam dengan campur pupuk kandang dengan perbandingan 1 : 1. Akan lebih optimal siram SUPERNASA (0,5 sdm / + 5 lt air/pohon).&lt;br /&gt;   &lt;strong&gt;PENANAMAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Penanaman di awal musim hujan. Sebelum bibit ditanam kantong plastik dilepas. Kedalaman tanam + 15-20 cm diatas leher akar dan tanah disekitar tanaman ditekan ke arah tanaman agar tidak roboh. Tanaman diberi naungan dengan posisi miring ke barat dan selanjutnya dikurangi sedikit demi sedikit.&lt;br /&gt;   &lt;strong&gt;&lt;br /&gt;PEMUPUKAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;~ Pupuk Kandang (PK) diberikan 1 kali pada awal musim hujan. Caranya dibenamkan disekitar pohon selebar tajuk tanaman atau menggali lubang pada sisi tanaman. Mangga umur 1 - 5 tahun diberi 30 kg PK, umur 6 - 15 tahun diberi 60 kg PK. Akan lebih optimal jika ditambahkan ~ ~ SUPERNASA atau jika pupuk kandang sulit dapat digunakan SUPERNASA dengan dosis :&lt;br /&gt;- Alternatif 1  : 0,5 sendok makan/ 5 lt air per tanaman.&lt;br /&gt;- Alternatif 2 : 1 botol SUPER NASA encerkan dalam 2 lt (2000 ml) air jadikan larutan induk. Kemudian setiap 1 lt air diberi 20 ml larutan induk tadi untuk menyiram per pohon.&lt;br /&gt;~ Pemberian SUPERNASA selanjutnya dapat diberikan setiap 3 - 4 bulan sekali.&lt;br /&gt;~ Penyemprotan POC NASA (4-5 ttp/tangki) atau lebih optimal POC NASA (3-4 ttp) + HORMONIK (1 ttp ) per tangki setiap 1 - 3 bulan sekali.&lt;br /&gt;~ Pupuk NPK 2 kali setahun di awal (Nopember - Desember), akhir musim hujan (April - Mei) dosis sbb:&lt;br /&gt;&lt;table border="1" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;     &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;       &lt;td rowspan="2" valign="top" width="49"&gt; &lt;strong&gt;Umur (th)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td rowspan="2" valign="top" width="54"&gt; &lt;strong&gt;PK&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;           &lt;strong&gt; (kg)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td colspan="3" valign="top" width="167"&gt; &lt;strong&gt;Dosis Pupuk    Makro (KG/Pohon)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;       &lt;td valign="top" width="48"&gt; &lt;strong&gt;ZA &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td valign="top" width="60"&gt; &lt;strong&gt;TSP&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td valign="top" width="59"&gt; &lt;strong&gt;KCl&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;       &lt;td valign="top" width="49"&gt; 1 – 3&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td valign="top" width="54"&gt; 20 – 30&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td valign="top" width="48"&gt; 0.5 – 1&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td valign="top" width="60"&gt; 0.25-0.5&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td valign="top" width="59"&gt; 0.25-0.5&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;       &lt;td valign="top" width="49"&gt; 4  -  6&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td valign="top" width="54"&gt; 30 – 40&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td valign="top" width="48"&gt; 1 – 2&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td valign="top" width="60"&gt; 0.5 – 1&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td valign="top" width="59"&gt; 0.5 – 1&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;       &lt;td valign="top" width="49"&gt; 7 – 10&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td valign="top" width="54"&gt; 50 – 60&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td valign="top" width="48"&gt; 2 – 3&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td valign="top" width="60"&gt; 1 – 1.5&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td valign="top" width="59"&gt; 1 – 1.5&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;       &lt;td valign="top" width="49"&gt; &gt; 10&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td valign="top" width="54"&gt; 50 – 60&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td valign="top" width="48"&gt; 3 – 4&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td valign="top" width="60"&gt; 1.5 – 2&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td valign="top" width="59"&gt; 1.5 – 2&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;   &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;       &lt;strong&gt;&lt;br /&gt;PEMANGKASAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pangkas Bentuk (3 tahap) :&lt;br /&gt;Tahap I : umur 1 tahun setelah tanam pada musim hujan dengan memotong batang setinggi 50 - 60 cm dari permukaan tanah dan pemotongan di atas bidang sambungan. Dari cabang yang tumbuh dipelihara 3 cabang yang arahnya menyebar.&lt;br /&gt;Tahap II : pemangkasan dilakukan pada ketiga cabang yang tumbuh tersebut setelah berumur 2 tahun, caranya menyisakan 1 - 2 ruas/pupus. Tunas yang tumbuh pada masing-masing cabang dipelihara 3 tunas. Jika lebih dibuang. Tahapan pemangkasan tersebut akan diperoleh pohon dengan rumus cabang 1- 3 - 9.&lt;br /&gt;Tahap III : umur 3 tahun, cara sama seperti  tahap  II, tetapi tunas yang tumbuh dipelihara semua untuk produksi.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;PANGKAS PRODUKSI&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pemangkasan ini untuk memelihara tanaman dengan memotong cabang mati / kering, cabang yang tumbuh ke dalam dan ke bawah serta cabang air yaitu cabang muda yang tidak akan menghasilkan buah. Pemangkasan produksi dilaksanakan segera setelah panen.&lt;br /&gt;   &lt;strong&gt;&lt;br /&gt;PENDANGIRAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dilakukan 2 kali dalam setahun pada awal dan akhir musim hujan, dengan membalik tanah (pembumbunan) di sekitar kaca tanaman agar patogen yang ada dalam tanah mati.&lt;br /&gt;   &lt;strong&gt;&lt;br /&gt;MULCHING (MULSA)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pemberian mulsa di akhir musim hujan, menggunakan jerami / sisa-sisa bekas pangkasan / tanaman sela.&lt;br /&gt;   &lt;strong&gt;&lt;br /&gt;PENGENDALIAN GULMA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pengendalian gulma dilakukan minimal 3 kali setahun.&lt;br /&gt;   &lt;strong&gt;&lt;br /&gt;INDUKSI BUNGA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Untuk merangsang pembungaan digunakan Pupuk Organik Padat SUPER NASA dengan dosis 1-2 sendok/pohon dicampur 10 liter air disiramkan secara merata di bawah kanopi pohon setelah pupus kedua ( Februari-Maret) dan disemprot POC NASA (3-4 ttp/tangki) + HORMONIK (1 ttp) per tangki.&lt;br /&gt;   &lt;strong&gt;&lt;br /&gt;PENGELOLAAN BUNGA DAN BUAH&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pengelolaan bunga dan buah dilakukan 4 kali, pada saat bud break, bud elongation, mango size (kacang hijau) dan marble size (jagung). Pupuk yang digunakan :&lt;br /&gt;1. Monokalsium Phospat ( MKP ) diberikan sebelum muncul tunas baru atau bud break dan pada saat bud break atau bud elongation (dosis 2,5 gr/liter).&lt;br /&gt;2. POC NASA diberikan saat bud break, bud elongation, (dosis 4-5 tutup/tangki).&lt;br /&gt;3. POC NASA (3-4 ttp) + HORMONIK (1 ttp) per tangki diberikan pada saat mango size dan marble size.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;strong&gt;HAMA DAN PENYAKIT &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;a. Tip Borer, Clumetia transversa&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Ulat ini menggerek pucuk yang masih muda (flush) dan malai bunga dengan mengebor/menggerek tunas atau malai menuju ke bawah. Tunas daun atau malai bunga menjadi layu, kering akibatnya rusak dan transportasi unsur hara terhenti kemudian mati. Pengendalian; cabang tunas terinfeksi dipotong lalu dibakar, pendangiran untuk mematikan pupa, penyemprotan dengan PESTONA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;em&gt;b. Thrips ( Scirtothrips dorsalis )&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Hama ini sering disebut thrips bergaris merah karena pada segment perut yang pertama terdapat suatu garis merah. Hama ini selain menyerang daun muda juga bunga dengan menusuk dan menghisap cairan dari epidermis daun dan buah. Tempat tusukan bisa menjadi sumber penyakit. Daun kelihatan seperti terbakar, warna coklat dan menggelinting. Apabila bunga diketok-ketok dengan tangan dan dibawahnya ditaruh alas dengan kertas putih akan terlihat banyak thrips yang jatuh. Pengendalian : tunas muda terserang dipotong lalu dibakar, tangkap dengan perangkap warna kuning, pemangkasan teratur, penyemprotan dengan BVR atau PESTONA&lt;br /&gt;   &lt;em&gt;c. Ulat Phylotroctis sp.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Warna sedikit coklat (beda dengan Clumetia sp. yang warnanya hijau) sering menggerek pangkal calon malai bunga. Telur Phyloctroctis sp. menetas dan dewasa menyerang tangkai buah muda (pentil). Buah muda gugur karena lapisan absisi pada tangkai buah bernanah kehitaman. Aktif pada malam hari. Pengendalian dengan PESTONA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;em&gt;d. Seed Borer, Noorda albizonalis&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Hama ini menggerek buah pada bagian ujung atau tengah dan umumnya meninggalkan bekas kotoran dan sering menyebabkan buah pecah. Ulat ini langsung menggerek biji buah akibatnya buah busuk dan jatuh. Berbeda dengan Black Borer yang menggerek buah pada bagian pangkal buah. Lubang gerekan dapat sebagai sumber penyakit. Pengendalian : pembungkusan buah, kumpulkan buah terserang lalu dibakar, semprot dengan PESTONA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;e. Wereng mangga ( Idiocerus sp.)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Serangan terjadi saat malai bunga stadia bud elongation. Nimfa dan wereng dewasa menyerang secara bersamaan dengan menghisap cairan pada bunga, sehingga kering, penyerbukan dan pembentukan buah terganggu kemudian mati. Serangan parah terjadi jika didukung cuaca panas yang lembab. Hama ini dapat mengundang tumbuh dan berkembangnya penyakit embun jelaga (sooty mold) dengan dikeluarkan embun madu dari wereng yang dapat menyebabkan phytotoxic pada tunas, daun dan bunga. Pengendalian : pengasapan, penyemprotan BVR/PESTONA sebelum bunga mekar/pada sore hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;f.  Lalat Buah ( Bractocera dorsalis )&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Buah yang terserang mula-mula tampak titik hitam, di sekitar titik menjadi kuning, buah busuk serta terjadi perkembangan larva. Bersifat agravator yaitu memungkinkan serangan hama sekunder (Drosophilla sp.), jamur dan bakteri. Pengendalian : pembungkusan buah , pemasangan perangkap lalat buah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;g. Penyakit  Antraknose (Colletotrichum sp.)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Terjadi bintik-bintik hitam pada flush, daun, malai dan buah. Serangan menghebat jika terlalu lembab, banyak awan, hujan waktu masa berbunga dan waktu malam hari timbul embun yang banyak. Apabila bunganya terserang maka seluruh panenan akan gagal karena bunga menjadi rontok. Pengendalian : pemangkasan, penanaman jangan terlalu rapat, bagian tanaman terserang dikumpulkan dan dibakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;h. Penyakit Recife, Diplodia recifensis&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Penyakit ini disebut juga Blendok, vektor penyakit ini adalah kumbang Xyleborus affinis. Kumbang ini membuat terowongan di batang/cabang kemudian dan cendawan Diplodia masuk ke dalam terowongan. Di luar tempat kumbang menggerek akan keluar blendok (getah). Penyakit mangga lainnya seperti embun jelaga (jamur Meliola mangiferae), kudis/scab (Elsinoe mangiferae), bercak karat merah (ganggang Cephaleuros sp.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Catatan : Jika Pengendalian hama dan penyakit dengan pestisida alami belum mengatasi, dapat digunakan pestisida kimia sesuai anjuran. Agar penyemprotan lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata AERO 810 dosis + 5 ml (0,5 tutup)per tangki. Penyemprotan herbisida (untuk gulma) agar lebih efektif dan efisien dapat di campur Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangk&lt;/strong&gt;i&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PANEN DAN PASCA PANEN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Panen dilakukan pada umur + 97 hari setelah bunga mekar, buah berbedak, dan pada jam 09.00 - 16.00 WIB dengan menyisakan tangkai buah sekitar 0,5 - 1 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Teknis-budidaya.blogspot..com&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5343438090319808433-4132349499843942347?l=budidaya-di.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://budidaya-di.blogspot.com/feeds/4132349499843942347/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2010/01/budidaya-buah-mangga-tanaman-buah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/4132349499843942347'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/4132349499843942347'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2010/01/budidaya-buah-mangga-tanaman-buah.html' title='Budidaya Buah Mangga - Tanaman Buah'/><author><name>Budidaya Pertanian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02468176543501833983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_WtXCykFMI6Y/S1SYkE6oVaI/AAAAAAAAAAs/ls0c2I0KtBs/s72-c/Budidaya+Buah+Mangga.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5343438090319808433.post-7786287663717592094</id><published>2010-01-15T02:37:00.000-08:00</published><updated>2010-01-15T02:38:00.698-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Tebu'/><title type='text'>Budidaya Tebu dan Persiapannya</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_WtXCykFMI6Y/S1BEVT2LTkI/AAAAAAAAAAk/zXfJeppuDeA/s1600-h/budidaya+tebu+persiapan+lahan.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 270px; height: 264px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_WtXCykFMI6Y/S1BEVT2LTkI/AAAAAAAAAAk/zXfJeppuDeA/s320/budidaya+tebu+persiapan+lahan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5426912683876896322" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Budidaya Tebu dan Persiapannya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERSIAPAN PEMBUKAAN LAHAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara Teknis Pembukaan Lahan Tanaman Tebu dikenal adanya Sistem Reynoso ( Manual ) dan Sistem Mekanisasi ( Plough Out ). Pekerjaan pendahuluan yang perlu dilakukan adalah Pasang Ajir ( Nyiku ). Pekerjaan ini bertujuan menentukan arah tegak lurus antara Got Malang dengan Got Mujur atau Juringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEMBUKAAN LAHAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. SISTEM MEKANISASI ( Plough Out )&lt;br /&gt;Adalah Sistem yang menggunakan Traktor / Mekanisasi sebagai Alat Kerjanya. Urut-urutanya adalah 2 kali BAJAK dengan arah berbeda ( Cross ) yang selanjutnya dibuat KAIRAN. Setelah itu dilakukan Pembuatan Got dan selanjutnya Tanam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. SISTEM REYNOSO ( Manual )&lt;br /&gt;Adalah Sistem yang dikerjakan dengan Sistem Manual / Orang dan berprinsip pada Pembuatan Gog-got untuk Penampungan dan Pembuangan Air. Urut-urutanya adalah :&lt;br /&gt;- Pembuatan Patusan / Saluran Pembuangan / Afvoer&lt;br /&gt;Tujuannya adalah untuk Membuang air yang masih didalam kebun apabila terjadi kelebihan air. Kedalamannya adalah 90 cm, dan Lebar 80 cm.&lt;br /&gt;- Pembuatan Got Keliling&lt;br /&gt;Got Keliling merupakan Got-got yang mengelilingi sesuai bentuk Kebun. Got Keliling berfungsi menampung kelebihan air dari Got-got didalam kebun. Ukurannya adalah Dalam 70 cm, dan Lebar 80 cm.&lt;br /&gt;- Pembuatan Got Mujur&lt;br /&gt;Got Mujur berfungsi menampung kelebihan air dari Got Malang. Arah Got Mujur tegak lurus dengan Got Malang atau Juringan. Ukuran Got Mujur adalah Dalam 70 cm, dan Lebar 60 cm.&lt;br /&gt;- Pembuatan Got Malang&lt;br /&gt;Got Malang berfungsi untuk menampung kelebihan air dari Juringan, menurunkan Permukaan Air Tanah dan menahan Air sementara guna pekerjaan Sirat / Ebor. Arah Got Malang adalah searah dengan Kemiringan Tanah. Ukuran Got Malang adalah Dalam 60 cm, dan Lebar 50 cm.&lt;br /&gt;- Pembuatan Lubang I ( Cemplong )&lt;br /&gt;Pekerjaan ini meliputi penentuan PKP 104 cm, kemudian diolah menggunakan Lencek selebar 50 cm dan kedalaman 20 cm.&lt;br /&gt;- Pembuatan Lubang II ( Garbon )&lt;br /&gt;Yang dilakukan adalah memperdalam Lubang I menggunakan Alat Garbu sedalam 20 cm. Sehingga kedalaman akhir Juringan diharapkan mencapai 35 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENGADAAN BAHAN TANAM / BIBIT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bibit terbagi menjadi 3 kelompok, yaitu Masak Awal, Masak Tengah dan Masak Akhir. Penentuan Komposisi Bibit secara Umum dikaitkan dengan Tingkat Kemasakannya, Masa Tanam, Iklim, Kondisi Lahan serta Lamanya Musim Giling. Bibit-bibit yang ditanam diharapkan mempunyai kriteria :&lt;br /&gt;- Mempunyai Potensi Kuintal Tebu dan Rendemen tinggi.&lt;br /&gt;- Mempunyai Tingkat Kemurnian tinggi ( &gt; 90 % )&lt;br /&gt;- Bebas dari Hama dan Penyakit&lt;br /&gt;- Mempunyai Daya Kecambah tinggi&lt;br /&gt;- Tahan terhadap kekeringan dan Kepras serta Tidah roboh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERSIAPAN TANAM DAN TANAM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang perlu diperhatikan dalam pekerjaan ini adalah :&lt;br /&gt;a. Alat yang digunakan; antara lain Pisau Bibit / Gobet, Kandang Rese dan Keranjang / zak tempat ecer bibit.&lt;br /&gt;b. Disinfectan; yang bertujuan untuk membunuh Bakteri pada Pisau Bibit.&lt;br /&gt;c. Bibit Bagal 2 – 3 mata yang berasal dari Kebun Bibit Datar ( KBD ) yang sudah berumur 6 – 7 bulan.&lt;br /&gt;d. Didahului Pekerjaan Pendahuluan yaitu :&lt;br /&gt;- Jugrug, yait menurunkan tanah halus dari atas guludan sebagai media tanam.&lt;br /&gt;- Potol Bokong, yaitu tanah di masing-masing juringan di tarik ke tengah selebar +/- 75 cm sebagai jalan pekerja tanam, tempat bibit dan tempat tanah got.&lt;br /&gt;- Ebor / Pemberian Air pada Tanah Kasura.&lt;br /&gt;Dan yang disebut Tanam sendiri adalah meletakan / menencapkan bibit kedalam Kasuran / Media Tanam. Rata-rata jumlah bagal tiap juring adalah 35 bibit atau tergantung kesediaan bibitnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEMELIHARAAN KEBUN TEBU GILING&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. S u l a m&lt;br /&gt;Tujuannya adalah untuk melengkapi jumlah populasi tanaman setiap juringnya agar sesuai dengan standar yang ditentukan. Pelaksanaan Sulam I dilakukan 2 minggu setelah Tanam, dan Sulam II dilakukan 1 bulan setelah Tanam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Pemupukan&lt;br /&gt;Tujuannya adalah untuk menembah unsur hara di dalam tanah yang dibutuhkan oleh tanaman. Dosis Pupuk Standar yang diberikan setiap daerah berbeda dengan daerah lainnya tergantung dari hasil Analisa Hara dalam tanah. Contoh Dosis yang lazim diberikan adalah ZA = 8 kui / ha; SP-36 = 2 kui / ha dan KCl = 2 kui / ha. Pupuk diberikan 2 tahap yaitu :&lt;br /&gt;- Pupuk I = ZA 4 kui / ha dan SP-36 2 kui / ha diberikan bertepatan dengan tanam atau 7 hari setelah tanam.&lt;br /&gt;- Pupuk I = ZA 4 kui / ha dan KCl 2 kui / ha diberikan 1 bulan setelah tanam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Penyiraman / Pengairan&lt;br /&gt;Tujuannya adalah untuk mencukupi kebutuhan Air bagi Proses Pertumbuhan Tanaman. Kekurangan air akan sangat berpengaruh pada Produksi. Dalam pelaksanaannya Pengairan meliputi :&lt;br /&gt;- Ebor Muka Tanam, dilakukan sebelum bibit ditanam untuk membuat kondisi tanah basah.&lt;br /&gt;- Sirat Patri, dilakukan 3 – 4 hari setelah tanam dengan tujuan memacu perkecambahan tunas dan mempercepat pertumbuhan akar.&lt;br /&gt;- Ebor Pupuk I, dilakukan setelah Pupuk I dengan tujuan melarutkan pupuk supaya segera dapat diserap oleh Tanaman.&lt;br /&gt;- Ebor Pupuk II, dilakukan setelah Pupuk II dengan tujuan melarutkan pupuk supaya segera dapat diserap oleh Tanaman.&lt;br /&gt;- Ebor Muka Bumbun II, bertujuan untuk menghancurkan lungko agar dalam pelaksanaan Bumbun II nantinya akan didapatkan tanah yang halus.&lt;br /&gt;- Ebor Muka Bumbun III, bertujuan untuk memberikan air yang cukup untuk tanaman juga untuk memudahkan pelaksanaan Bumbun III.&lt;br /&gt;- Ebor Garbu Muka Gulud, diberikan dalam jumlah yang cukup banyak karena tanah yang diolah adalah tanah waras. Tujuannya adalah untuk memudahkan pelaksanaan Garbu.&lt;br /&gt;- Ebor Muka Gulud, diberikan pada tanah guludan yang telah digarbu. Tujuannya adalah agar tanah blabagan menjadi gembur dan mudah dibuat guludan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Pembumbunan / Tamping&lt;br /&gt;Pembumbunan bertujuan memberikan tanah sebagai media tumbuh disekitar tanaman tebu, menutup bagal dan pupuk, memberi makanan tanaman, mempercepat pertumbuhan akar, mempercepat pertumbuhan anakan, menghambat pertumbuhan Gulma dan memperkokoh tegaknya tanaman.&lt;br /&gt;Pembumbunan yang dilakukan antara lain :&lt;br /&gt;- Tamping I ( Kriwil ), dilakukan 3 – 4 minggu setelah tanam. Caranya adalah dengan menurunkan butiran tanah yang kering dan halus +/- 5 – 7 cm.&lt;br /&gt;- Tamping II ( Gombeng ), dilakukan 5 – 6 minggu setelah tanam. Caranya adalah menurunkan tanah kering sebesar telur dengan ketebalan sedikit dibawah tanah waras. Tanah yang disisakan di Guludan +/- sepertiga bagian.&lt;br /&gt;- Tamping III ( Tamping habis ), dilakukan 11 – 12 bulan setelah tanam. Bumbun III ini juga berfungsi untuk membatasi jumlah anakan ( 70 – 75 batang per juring ) sehingga besar tiap batang bisa merata.&lt;br /&gt;- Gulud Akhir, dilakukan pada Awal Musim Hujan antara Desember – Januari. Sebelum pelaksanaan Gulud terlebih dahulu dilakukan Rewos. Caranya adalah blabagan yang sudah digarbu kemudian diberi air cukup, kemudian tanah diipukan pada pangkal batang, dirapatkan dan diinjak-injak sehingga guludan menjadi padat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Pengendalian Gulma&lt;br /&gt;Tujuannya adalah untuk membersihkan kebun dari segala macam jenis gulma yang ada. Apalagi dalam kondisi tanaman masih kecil dan perakaran masih dangkal, maka gulma yang berada di sekitar tanaman menjadi Saingan dalam mendapatkan Hara. Pekerjaan ini bisa dilakukan baik secara Manual atau Chemis ( Herbisida ). Pekerjaan ini sebaiknya dilakukan 1 – 2 hari setelah tanam menggunakan Gesapax 2 kg / ha dicampur dengan DMA 6 1,5 ltr / ha. Dengan Manual dilakukan berbarengan dengan Pekerjaan Tamping / Bumbun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. K l e n t e k&lt;br /&gt;Tujuan Klentek adalah :&lt;br /&gt;- Memperbaiki Sirkulasi Udara di dalam kebun sehingga dapat mencegah Hama dan Penyakit.&lt;br /&gt;- Mempercepat kerasnya batang tebu dan mempercepat Fase Kemasakan.&lt;br /&gt;- Menghindari Tebu Roboh&lt;br /&gt;- Memperkecil peluang Tebu Terbakar&lt;br /&gt;- Menunjang Kualitas Kebersihan Tebangan&lt;br /&gt;Pekerjaan Klentek meliputi :&lt;br /&gt;- Rewos, dengan cara membuang 3 – 5 daun kering sebelum Gulud.&lt;br /&gt;- Klentek I, dengan cara membuang 5 – 6 daun kering saat tebu telah mencapai 8 – 10 ruas.&lt;br /&gt;- Klentek II, dengan cara membuang 5 – 6 daun kering saat tebu telah mencapai 22 ruas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g. Pemberantasan Hama dan Penyakit&lt;br /&gt;Pekerjaan ini dapat dilakukan secara Manual ( Roges ) dan secara Chemis dengan menggunakan Insektisida ( contoh = Demicron 50 SC untuk Kutu Bulu Putih dan Supracide untuk Cabuk Hitam, dll. ). Salah satu alternatif Dalam Pemberantasan Hama dan Penyakit adalan dengan menggunakan Metode Pengendalian Hayati seperti Jenis Trichograma sp yang bisa untuk memberantas telur Penggerek Pucuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TEBANG DAN ANGKUT TEBU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelaksanaan Tebang Muat Angkut harus direncanakan secara matang dengan dibuat Daftar Nominasi Tebang per Kebun, karena Tebu adalah Tanaman Semusim yang nilai Produksinya sangat ditentukan oleh suatu batasan waktu.&lt;br /&gt;Dasar Pertimbangan Tebang Muat Angkut adalah :&lt;br /&gt;- Nilai Kemasakan Tebu, dengan adanya Analisa Pendahuluan untuk mengetahui Faktor Kemasakan, Kosien Peningkatan dan Kosien Daya Tahan.&lt;br /&gt;- Rencana Kapasitas Giling Pabrik&lt;br /&gt;- Faktor-faktor lain, seperti Keadaan Visual Tanaman, Situasi Kebun Sulit, Serangan Hama dan Penyakit, Tebu Terbakar dan Faktor Keamanan Kebun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEMELIHARAAN TANAMAN KEPRASAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekerjaan Kepras harus dilakukan secepat mungkin setelah ditebang. Hal ini bertujuan agar Tunas yang dikepras masih dalam keadaan segar sehingga pertumbuhan tunas nantinya baik. Sebelum Keprasan perlu dilakukan Pembersihan dan Pembakaran sisa-sisa tanaman dan daduk. Keprasan dilakukan dengan cara manual menggunakan cangkul. Bentuk hasil Keprasan melihat apakah tanaman tersebut bekas TS I atau bekas keprasan yang sudah dikepras berulang-ulang. Untuk bekas tanaman TS I dibuat Model “U“, sedangkan untuk bekas keprasan yang sudah dikepras berkali-kali dibuat Model “W”.&lt;br /&gt;Pemeliharaan Tanaman Keprasan pada dasarnya sama dengan Pemeliharaan Tanaman TS I, hanya yang membedakan adalah :&lt;br /&gt;- PEDOT OYOT, dilakukan segera setelah dikepras. Tujuannya adalah untuk memutus akar lama dan mendorong tumbuhnya akar-akar baru yang sehat dan kuat, juga berguna &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5343438090319808433-7786287663717592094?l=budidaya-di.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://budidaya-di.blogspot.com/feeds/7786287663717592094/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2010/01/budidaya-tebu-dan-persiapannya.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/7786287663717592094'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/7786287663717592094'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2010/01/budidaya-tebu-dan-persiapannya.html' title='Budidaya Tebu dan Persiapannya'/><author><name>Budidaya Pertanian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02468176543501833983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_WtXCykFMI6Y/S1BEVT2LTkI/AAAAAAAAAAk/zXfJeppuDeA/s72-c/budidaya+tebu+persiapan+lahan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5343438090319808433.post-3165941756682292636</id><published>2010-01-07T05:03:00.000-08:00</published><updated>2010-01-07T05:06:16.335-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Terong'/><title type='text'>Pembudidayaan Sayur Terong</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;strong&gt;Pembudidayaan Sayur Terong&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Prospek budidaya tanaman terong makin baik untuk dikelola secara intensif dan komersial dalam skala agribisnis, namun hasil rata-ratanya masih rendah. Hal ini disebabkan bentuk kultur budidaya yang masih sampingan, belum memadainya informasi teknik budidaya di tingkat petani.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;PT. Natural Nusantara berusaha memberi alternatife solusi bagaimana teknik budidaya terong sehingga tercapai peningkatan produksi secara K-3, yaitu Kuantitas, Kualitas dan Kelestarian lingkungan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;strong&gt;SYARAT TUMBUH&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  - Dapat tumbuh di dataran rendah  tinggi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  - Suhu udara 22 -  30o C&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;- Jenis tanah yang paling baik, jenis lempung berpasir, subur, kaya bahan organik, aerasi dan drainase baik dan pH antara 6,8-7,3&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  - Sinar matahari harus cukup&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  - Cocok ditanam  musim kemarau&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  &lt;strong&gt;PEMBIBITAN&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  - Rendamlah benih dalam air hangat kuku + POC NASA  dosis 2 cc   per liter selama 10 -15 menit&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  - Bungkuslah benih dalam gulungan kain basah untuk diperam selama + 24 jam hingga nampak mulai berkecambah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  - Sebarkan benih di atas bedengan persemaian menurut barisan, jarak antar barisan 10-15 cm&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;- Campurkan 1 pak Natural GLIO + 25-30 kg pupuk kandang halus diamkan seminggu, kemudian masukkan benih satu persatu ke polibag yang telah berisi campuran tanah dan pupuk kandang halus yang telah dicampur Natural GLIO tadi dengan perbandingan 2 : 1&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  - Tutup benih tersebut dengan tanah tipis&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  - Permukaan bedengan yang telah disemai benih ditutup dengan daun  pisang&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  - Setelah benih tampak berkecambah muncul, buka penutupnya&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  - Siram persemaian pagi dan sore hari&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  - Semprot  POC NASA dosis 2-3 tutup per tangki setiap 7-10 hari sekali&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  - Perhatikan serangan hama dan penyakit sejak di pembibitan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  - Bibit berumur 1-1,5 bulan atau berdaun empat helai siap dipindahtanamkan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  &lt;strong&gt;PENGOLAHAN LAHAN&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  - Bersihkan rumput liar (gulma) dari sekitar kebun&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  - Olah tanah dengan cangkul ataupun bajak sedalam 30-40 cm hingga gembur&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  - Buat bedengan selebar 100-120 cm, jarak antar bedengan 40-60 cm, ratakan permukaan bedengan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  - Jika pH tanah rendah, tambahkan Dolomit&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;- Sebarkan pupuk kandang 15-20 ton / ha, campurkan merata dengan tanah. Akan lebih optimal jika ditambah SUPERNASA atau jika tidak ada pupuk kandang dapat diganti SUPERNASA 10-20 botol / ha dengan cara :&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Alternatif 1 : satu botol SUPERNASA diencerkan dalam 3 lt air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 50 lt air diberi 200 cc larutan induk untuk menyiram bedengan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  Alternatif 2 : setiap 1 gembor volume 10 liter air diberi 1 sendok peres makan SUPERNASA untuk menyiram + 10 m bedengan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;- Sebarkan pupuk dasar dengan campuran ZA atau Urea 150 kg + TSP 250 kg per ha dicampur dengan tanah secara merata atau sekitar 10 gr campuran pupuk per lubang tanam&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  - Sebarkan Natural GLIO 1-2 sachet yang telah dicampur pupuk kandang 25-50 kg merata ke bedengan atau ke lubang tanam&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  - Jika pakai Mulsa plastic, tutup bedengan pada siang hari&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  - Biarkan selama seminggu sebelum tanam&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  - Buat lubang tanam dengan jarak  60x70 cm  /  70x70 cm&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  &lt;strong&gt;PENANAMAN&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  - Waktu tanam yang baik musim kering&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  - Pilih bibit yang tumbuh subur dan normal&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  - Tanam bibit di lubang tanam secara tegak lalu tanah di sekitar batang dipadatkan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  - Siram lubang tanam yang telah ditanami hingga cukup basah (lembab)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  &lt;strong&gt;PENGAIRAN&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  Dilakukan rutin tiap hari, terutama pada fase awal pertumbuhan dan cuaca kering, dapat di-leb atau disiram dengan gembor&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  &lt;strong&gt;PENYULAMAN&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  - Sulam tanaman yang pertumbuhannya tidak normal, mati atau terserang hama penyakit&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  - Penyulaman maksimal umur 15 hari&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  &lt;strong&gt;PEMASANGAN AJIR (TURUS)&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  - Lakukan seawal mungkin agar tidak mengganggu (merusak) sistem perakaran&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  - Turus terbuat dari bilah bambu setinggi 80-100 cm dan lebar 2-4 cm&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  - Tancapkan secara individu dekat batang&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  - Ikat batang atau cabang terong pada turus&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  &lt;strong&gt;PENYIANGAN&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  - Rumput liar atau gulma di sekitar tanaman disiangi atau dicabut&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  - Penyiangan dilakukan pada umur 15 hari dan 60-75 hari setelah tanam&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;strong&gt;PEMUPUKAN&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Pemupukan diletakan sejauh 20 cm dari batang tanaman sebanyak 10 gram campuran pupuk per tanaman secara tugal atau larikan ditutup tanah dan disiram atau pupuk dikocorkan sebanyak 3,5 gram per liter air, kocorkan larutan pupuk sebanyak 250 cc per tanaman&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Semprotkan  3-4 tutup POC NASA + 1 tutup HORMONIK per tangki setiap 1-2 minggu sekali&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;strong&gt;PEMANGKASAN ( PEREMPELAN )&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Pangkas tunas-tunas liar yang tumbuh mulai dari ketiak daun pertama hingga bunga pertama juga dirempel untuk merangsang agar tunas-tunas baru dan bunga yang lebih produktif segera tumbuh&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  &lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  &lt;strong&gt;H A M A&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  &lt;em&gt;1. Kumbang Daun (Epilachna spp.)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  Gejala serangan adanya bekas gigitan pada permukaan daun sebelah bawah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  Bila serangan berat dapat merusak semua jaringan daun dan tinggal tulang-tulang daun saja&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Cara pengendalian; kumpulkan dan musnahkan kumbang, atur waktu tanam, pencegahan dengan PESTONA atau PENTANA + AERO 810 setiap 1-2 minggu sekali.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  &lt;em&gt;2. Kutu Daun (Aphis spp.)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  Menyerang dengan cara mengisap cairan  sel, terutama pada bagian pucuk atau daun-daun masih muda&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  Daun tidak normal, keriput atau keriting atau menggulung&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  Sebagai vektor atau perantara virus&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Cara pengendalian; mengatur waktu tanam dan pergiliran tanaman, pencegahan semprot PENTANA + AERO 810 atau Natural BVR setiap 1-2 minggu sekali.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  &lt;em&gt;3.Tungau ( Tetranynichus spp.)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  Serangan hebat musim kemarau.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Menyerang dengan cara mengisap cairan sel tanaman, sehingga menimbulkan gejala bintik-bintik merah sampai kecoklat-coklatan atau hitam pada permukaan daun sebelah atas ataupun bawah.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  Cara pengendalian sama seperti pada pengen dalian kutu daun.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  &lt;em&gt;4. Ulat Tanah ( Agrotis ipsilon Hufn.)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  Bersifat polifag, aktif senja atau malam hari&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  Menyerang dengan cara memotong titik tumbuh tanaman yang masih muda, sehingga terkulai dan roboh&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  Cara pengendalian; kumpulkan dan musnahkan ulat, pencegahan siram atau semprotkan PESTONA atau PENTANA + AERO 810.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  &lt;em&gt;5.Ulat Grayak (Spodoptera litura, F.)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  Bersifat polifag.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  Menyerang dengan cara merusak (memakan) daun hingga berlubang-lubang.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  Cara pengendalian; mengatur waktu tanam dan pergiliran tanaman, semprot dengan Natural VITURA.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  &lt;em&gt;6.Ulat Buah ( Helicoverpa armigera Hubn.)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Bersifat polifag, menyerang buah dengan cara menggigit dan melubanginya, sehingga bentuk buah tidak normal, dan mudah terserang penyakit busuk buah.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Cara pengendalian; kumpulkan dan musnahkan buah terserang, lakukan pergiliran tanaman dan waktu tanam sanitasi kebun, pencegahan semprotkan PESTONA atau PENTANA + AERO 810 setiap 1-2 minggu sekali&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  &lt;strong&gt;PENYAKIT&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  &lt;em&gt;1. Layu Bakteri&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  Penyebab : bakteri Pseudomonas solanacearum&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  Bisa hidup lama dalam tanah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  Serangan hebat pada temperatur cukup tinggi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  Gejala serangan terjadi kelayuan seluruh tanaman  secara mendadak&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  &lt;em&gt;2. Busuk Buah&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  Penyebab : jamur Phytophthora sp., Phomopsis vexans, Phytium sp.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  Gejala serangan adanya bercak-bercak coklat kebasahan pada buah sehingga buah busuk.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  &lt;em&gt;3. Bercak Daun&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  Penyebab : jamur Cercospora sp, Alternaria solani, Botrytis cinerea&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  Gejala bercak-bercak kelabu-kecoklatan atau hitam pada daun.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  &lt;em&gt;4. Antraknose&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  Penyebab : jamur Gloesporium melongena&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  Gejala bercak-bercak melekuk dan bulat pada buah lalu membesar berwarna coklat dengan titik-titik hitam&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  &lt;em&gt;5.Busuk Leher akar&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  Penyebab ; Sclerotium rolfsii&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  Gejala pangkal batang membusuk berwarna coklat&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  &lt;em&gt;6.Rebah Semai&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  Penyebab : Jamur Rhizoctonia solani dan Pythium spp.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  Gejala batang bibit muda kebasah-basahan, mengkerut dan akhirnya roboh dan mati&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Cara pengendalian Penyakit:&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Tanam varietas tahan, atur jarak tanam dan pergiliran tanaman, perbaikan drainase, atur kelembaban dengan jarak tanam agak lebar, cabut dan buang tanaman sakit Rendam benih dengan POC NASA dosis 2 cc / lt + Natural GLIO dosis 1 gr/lt, Pencegahan sebarkan Natural GLIO yang telah dicampur pupuk kandang sebelum tanam ke lubang tanam.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  &lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  &lt;strong&gt;PEMANENAN BUAH TERONG&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  - Buah pertama dapat dipetik setelah umur 3-4 bulan tergantung dari jenis varietas&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  - Ciri-ciri buah siap panen adalah ukurannya telah maksimum dan masih muda.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  - Waktu yang paling tepat pagi atau sore hari.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  - Cara panen  buah dipetik bersama tangkainya dengan tangan atau alat yang tajam.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  - Pemetikan buah berikutnya dilakukan rutin tiap 3-7 hari sekali dengan cara memilih buah yang sudah siap dipetik.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5343438090319808433-3165941756682292636?l=budidaya-di.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://budidaya-di.blogspot.com/feeds/3165941756682292636/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2010/01/pembudidayaan-sayur-terong.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/3165941756682292636'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/3165941756682292636'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2010/01/pembudidayaan-sayur-terong.html' title='Pembudidayaan Sayur Terong'/><author><name>Budidaya Pertanian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02468176543501833983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5343438090319808433.post-2357046763291342191</id><published>2009-12-27T03:59:00.001-08:00</published><updated>2009-12-27T03:59:56.544-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Ikan'/><title type='text'>Pola Pemijahan (Reproduksi) Ikan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pola Pemijahan (Reproduksi) Ikan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingkah laku dan proses reproduksi pada ikan merupakan hal yang sangat menarik untuk dipelajari.  Kami telas membuat ringkasan tentang pemijahan (perkawinan) ikan berdasarkan jumlah pemijahan dalam satu tahun, pemilihan pasangan, jenis kelamin, pembuatan dan tipe sarang, serta pemeliharaan anak dan lainnya.  Tentu saja mekanisme pemijahan pada ikan tidaklah sederhana, tetapi dipengaruhi banyak faktor baik internal maupun eksternal.  Tulisan ini dibuat dengan tujuan untuk mempermudah pemahaman kita tentang pemijahan ikan.  Jika ingin tahu lebih detail, silakan baca artikel saya yang lainnya di site ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KESEMPATAN MELAKUKAN PEMIJAHAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;A.Semelparous (memijah sekali kemudian mati)&lt;br /&gt;Contoh: lampreys, river eels (sidat/pelus), some knifefish (ikan pisau-pisau)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B.Iteroparous (memijah beberapa kali sepanjang hidupnya)&lt;br /&gt;1.Memijah sepanjang tahun, pemijahan hanya dilakukan sekali setiap tahun, tetapi dengan masa pemijahan yang panjang. Pematangan telur tidak terjadi secara bersamaan, sehingga telur yang dikeluarkan dan menetas pun tdak bersamaan.&lt;br /&gt;contoh: ikan-ikan rivulines&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Pemijahan dilakukan beberapa kali dalam satu tahun&lt;br /&gt;contoh: sebagian besar ikan asuk dalam kategori ini (elasmobranch (ikan bertulang rawan), lungfishes (ikan berparu-paru), perciforms, Betta spp. (ikan adu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PASANGAN DALAM PEMIJAHAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1.Promiscuous: ikan jantan dan betina masing-masing memiliki beberapa pasangan dalam satu musim pemijahan. Jadi ikan jantan akan membuahi beberapa ikan betina dan ikan betina akan dibuahi oleh beberapa pejantan, semacam "swinger" begitu...he he he&lt;br /&gt;contoh: herring, livebearers, sticklebacks, surgeonfish&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Polygamous Polygyny: ikan jantan memiliki beberapa pasangan dalam satu musim pemijahan&lt;br /&gt;contoh: sebagian besar jenis chichlids (mujahir), serranidae, angelfish (maanvis), gurami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.Polyandry : ikan betina memiliki beberapa pasangan dalam satu musim pemijahan.&lt;br /&gt;contoh: anemone fishes (ingat anemone, pasti ingat NEMO kan?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.Monogamy : ikan memijah dengan pasangan yang sama selama beberapa periode pemijahan (wah setia banget yach...)&lt;br /&gt;contoh: serranus (jenis beronang), beberpa jenis cichlid (misalnya ikan Oscar), jawfish, hamlets&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;JENIS KELAMIN IKAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1.Gonochoristic : jenis kelamin jelas dan tidak berubah ketika ikan sudah matang kelamin)&lt;br /&gt;contoh: sebagian besar ikan masuk kategori ini (elasmobranch, cypriniforms, salmoniforms)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Hermaphroditic : keungkinan terjadi perubahan kelamin setelah pematangan gonad&lt;br /&gt;a.Simultaneous (satu individu ikan mempnyai dua jenis kelamin yaitu jantan dan betina).  Contoh: rivulus, hamlet, serranus&lt;br /&gt;b.Sequential (ikan mengalami perubahan kelamin dari jantan ke betina, atau sebaliknya)&lt;br /&gt;c.Protandrous (ikan pada awalnya berjenis kelamin betina, kemudian berubah menjadi jantan)&lt;br /&gt;contoh: anemonefishes, lates calcalifer (ikan kakap)&lt;br /&gt;d.Protogynous (jenis kelamin awal betina, kemudian berubah menjadi jantan)&lt;br /&gt;contoh: Angelfishes, Ephinephelus sp.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PARTHENOGENETIC (EGG DEVELOPMENT OCCURS WITHOUT FERTILIZATION)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1.Gynogenetic: ikan jantan tidak membuahi ikan betina, tetapi hanya mengaktifkan telurnya saja.&lt;br /&gt;contoh: Poeciliopsis, Poecilia Formosa (no male contribution, only egg activation)&lt;br /&gt;2.Hybridogenetic: ikan jantan membuahi ikan betina pada satu musim pemijahan, tetapi tidak pada musim pemajah berikutnya.&lt;br /&gt;contoh: Poeciliopsis (male contribution discarded each generation)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KARAKTERISTIK JENIS KELAMIN SEKUNDER&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Monomorphic&lt;br /&gt;Sexually dimorphic&lt;br /&gt;Polymorphic&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PERSIAPAN SARANG PEMIJAHAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1.Tidak membuat sarang, dilakukan oleh ikan yang cenderung meyerakkan (menyebarkan) telurnya ke perairan. contoh: ikan salmon, ikan tawes dan nilem&lt;br /&gt;2.Membuat dan menjaga sarangnya, contoh: ikan gobi, gurami, cichlid (mujahir).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;TEMPAT TERJADINYA PEMBUAHAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1.External: pembuahan terjadi diluar tubuh induknya, telur keluar dari tubuh ikan betina kemudian akan disemprot oleh sperma ikan jantan.&lt;br /&gt;2.Internal:pembuahan terjadi didalam tubuh ikan betina, ada coetus lah... contoh:elasmobranch, livebearers&lt;br /&gt;3.Buccal (in the mouth): pembuahan terjadi di mulut ikan betina (tapi bukan oral sex lho), telur yang dikeluarkan betina dimasukkan dalam mulutnya kemudian disemprot sperma pejantan tangguh.  Biasanya telur yang telah menetas akan tetap berada di mulut induknya selama waktu tertentu. contoh: beberpa jenis cichlids, ikan arwana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PENGASUHAN OLEH INDUK&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1.Induk tidak mengasuh anaknya, contoh: sebagian besar species ikan&lt;br /&gt;2.Ikan jantan menjaga dan mengasuh anaknya, contoh: ikan cupang (Betta sp.), sea catfishes, greenlings&lt;br /&gt;3.Betina mengasuh anaknya:&lt;br /&gt;Ovipar tanpa pengasuhan pasca pemijahan, contoh: Oreochromis&lt;br /&gt;Ovovivipar tanpa disertai pengasuhan setelah pemijahan, contoh: rock fishes (Sebastes)&lt;br /&gt;Vivipar tanpa disertai pengasuhan setelah pemijahan, contoh: elasmobranch, Poecillia&lt;br /&gt;3.Pengasuhan bersama ikan jantan dan betina, contoh: discus, cichlasoma&lt;br /&gt;4.Bantuan oleh juvenil lainnya: beberapa jeniscichlid Afrika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5343438090319808433-2357046763291342191?l=budidaya-di.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://budidaya-di.blogspot.com/feeds/2357046763291342191/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2009/12/pola-pemijahan-reproduksi-ikan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/2357046763291342191'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/2357046763291342191'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2009/12/pola-pemijahan-reproduksi-ikan.html' title='Pola Pemijahan (Reproduksi) Ikan'/><author><name>Budidaya Pertanian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02468176543501833983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5343438090319808433.post-2926426907452623226</id><published>2009-12-18T05:32:00.001-08:00</published><updated>2009-12-18T05:32:41.234-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Jati'/><title type='text'>TANAMAN JATI HASIL KULTUR JARINGAN</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;TANAMAN JATI HASIL KULTUR JARINGAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jati hasil kultur jaringan yang beredar saat ini dengan klon dari berbagai asal-usul di luar negeri, perlu dikaji lebih cermat karena pada umumnya klon yang berasal dari kultur jaringan bersifat site spesific, sehingga belum tentu cocok dikembangkan di setiap lokasi di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbanyakan secara kultur jaringan bukan merupakan metode pemuliaan, tetapi hanya merupakan suatu metode perbanyakan biasa sehingga tidak dapat memperbaiki kualitas genetik bibit. Oleh karenanya perlu didukung adanya uji klon unggul untuk skala operasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu dalam program pengembangan jati diminta agar dilaksanakan koordinasi yang intensif dan memperhatikan beberapa hal sebagai berikut :&lt;br /&gt;1).Penggunaan klon-klon jati lokal dengan jumlah (klon) yang lebih besar dan jelas asal-usulnya untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan di masa yang akan datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2).Informasi yang tersebar tentang jati yang dapat dipanen pada umur 15 tahun, masih perlu dilakukan kajian lebih lanjut dari berbagai aspek antara lain aspek genetik. Sebab aspek genetik sangat berperan dalam meningkatkan kualitas dan produktivitas tanaman melalui uji genetik. Untuk itu perlu dilakukan plot uji coba genetik pada setiap lokasi pengembangan yang akan dilakukan dan dapat dimonitor serta diamati perkembangannya. Perlu diinformasikan bahwa Badan Litbang Kehutanan sedang melakukan uji coba genetik jati dari berbagai sumber/provenance.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3).Di samping faktor genetik, manipulasi faktor lingkungan seperti jarak tanam, pemupukan, pemeliharaan, pola tanam dan lain-lainnya merupakan hal penting yang harus dilakukan dan ternyata memberikan hasil yang signifikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5343438090319808433-2926426907452623226?l=budidaya-di.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://budidaya-di.blogspot.com/feeds/2926426907452623226/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2009/12/tanaman-jati-hasil-kultur-jaringan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/2926426907452623226'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/2926426907452623226'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2009/12/tanaman-jati-hasil-kultur-jaringan.html' title='TANAMAN JATI HASIL KULTUR JARINGAN'/><author><name>Budidaya Pertanian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02468176543501833983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5343438090319808433.post-5548587757688129631</id><published>2009-12-16T04:17:00.001-08:00</published><updated>2009-12-16T23:55:54.783-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Tebu'/><title type='text'>Budidaya Tebu</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_WtXCykFMI6Y/SyjQAgLebHI/AAAAAAAAAAc/pA7lLe1zsmA/s1600-h/Budidaya+Tebu.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_WtXCykFMI6Y/SyjQAgLebHI/AAAAAAAAAAc/pA7lLe1zsmA/s320/Budidaya+Tebu.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5415807258969664626" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Budidaya Tebu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara Teknis Pembukaan Lahan Tanaman Tebu dikenal adanya Sistem Reynoso (Manual) dan Sistem Mekanisasi ( Plough Out ). Pekerjaan pendahuluan yang perlu dilakukan adalah Pasang Ajir ( Nyiku ). Pekerjaan ini bertujuan menentukan arah tegak lurus antara Got Malang dengan Got Mujur atau Juringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEMBUKAAN LAHAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.SISTEM MEKANISASI ( Plough Out )&lt;br /&gt;Adalah Sistem yang menggunakan Traktor / Mekanisasi sebagai Alat Kerjanya. Urut-urutanya adalah 2 kali BAJAK dengan arah berbeda ( Cross ) yang selanjutnya dibuat KAIRAN. Setelah itu dilakukan Pembuatan Got dan selanjutnya Tanam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.SISTEM REYNOSO ( Manual )&lt;br /&gt;Adalah Sistem yang dikerjakan dengan Sistem Manual / Orang dan berprinsip pada Pembuatan Gog-got untuk Penampungan dan Pembuangan Air. Urut-urutanya adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Pembuatan Patusan / Saluran Pembuangan / Afvoer&lt;br /&gt;Tujuannya adalah untuk Membuang air yang masih didalam kebun apabila terjadi kelebihan air. Kedalamannya adalah 90 cm, dan Lebar 80 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Pembuatan Got Keliling&lt;br /&gt;Got Keliling merupakan Got-got yang mengelilingi sesuai bentuk Kebun. Got Keliling berfungsi menampung kelebihan air dari Got-got didalam kebun. Ukurannya adalah Dalam 70 cm, dan Lebar 80 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Pembuatan Got Mujur&lt;br /&gt;Got Mujur berfungsi menampung kelebihan air dari Got Malang. Arah Got Mujur tegak lurus dengan Got Malang atau Juringan. Ukuran Got Mujur adalah Dalam 70 cm, dan Lebar 60 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Pembuatan Got Malang&lt;br /&gt;Got Malang berfungsi untuk menampung kelebihan air dari Juringan, menurunkan Permukaan Air Tanah dan menahan Air sementara guna pekerjaan Sirat / Ebor. Arah Got Malang adalah searah dengan Kemiringan Tanah. Ukuran Got Malang adalah Dalam 60 cm, dan Lebar 50 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Pembuatan Lubang I ( Cemplong )&lt;br /&gt;Pekerjaan ini meliputi penentuan PKP 104 cm, kemudian diolah menggunakan Lencek selebar 50 cm dan kedalaman 20 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Pembuatan Lubang II ( Garbon )&lt;br /&gt;Yang dilakukan adalah memperdalam Lubang I menggunakan Alat Garbu sedalam 20 cm. Sehingga kedalaman akhir Juringan diharapkan mencapai 35 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENGADAAN BAHAN TANAM / BIBIT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bibit terbagi menjadi 3 kelompok, yaitu Masak Awal, Masak Tengah dan Masak Akhir. Penentuan Komposisi Bibit secara Umum dikaitkan dengan Tingkat Kemasakannya, Masa Tanam, Iklim, Kondisi Lahan serta Lamanya Musim Giling. Bibit-bibit yang ditanam diharapkan mempunyai kriteria :&lt;br /&gt;- Mempunyai Potensi Kuintal Tebu dan Rendemen tinggi.&lt;br /&gt;- Mempunyai Tingkat Kemurnian tinggi ( &gt; 90 % )&lt;br /&gt;- Bebas dari Hama dan Penyakit&lt;br /&gt;- Mempunyai Daya Kecambah tinggi&lt;br /&gt;- Tahan terhadap kekeringan dan Kepras serta Tidah roboh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERSIAPAN TANAM DAN TANAM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang perlu diperhatikan dalam pekerjaan ini adalah :&lt;br /&gt;a. Alat yang digunakan; antara lain Pisau Bibit / Gobet, Kandang Rese dan Keranjang / zak tempat ecer bibit.&lt;br /&gt;b. Disinfectan; yang bertujuan untuk membunuh Bakteri pada Pisau Bibit.&lt;br /&gt;c. Bibit Bagal 2 – 3 mata yang berasal dari Kebun Bibit Datar ( KBD ) yang sudah berumur 6 – 7 bulan.&lt;br /&gt;d. Didahului Pekerjaan Pendahuluan yaitu :&lt;br /&gt;- Jugrug, yait menurunkan tanah halus dari atas guludan sebagai media tanam.&lt;br /&gt;- Potol Bokong, yaitu tanah di masing-masing juringan di tarik ke tengah selebar +/- 75 cm sebagai jalan pekerja tanam, tempat bibit dan tempat tanah got.&lt;br /&gt;- Ebor / Pemberian Air pada Tanah Kasura.&lt;br /&gt;Dan yang disebut Tanam sendiri adalah meletakan / menencapkan bibit kedalam Kasuran / Media Tanam. Rata-rata jumlah bagal tiap juring adalah 35 bibit atau tergantung kesediaan bibitnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEMELIHARAAN KEBUN TEBU GILING&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. S u l a m&lt;br /&gt;Tujuannya adalah untuk melengkapi jumlah populasi tanaman setiap juringnya agar sesuai dengan standar yang ditentukan. Pelaksanaan Sulam I dilakukan 2 minggu setelah Tanam, dan Sulam II dilakukan 1 bulan setelah Tanam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Pemupukan&lt;br /&gt;Tujuannya adalah untuk menembah unsur hara di dalam tanah yang dibutuhkan oleh tanaman. Dosis Pupuk Standar yang diberikan setiap daerah berbeda dengan daerah lainnya tergantung dari hasil Analisa Hara dalam tanah. Contoh Dosis yang lazim diberikan adalah ZA = 8 kui / ha; SP-36 = 2 kui / ha dan KCl = 2 kui / ha. Pupuk diberikan 2 tahap yaitu :&lt;br /&gt;- Pupuk I = ZA 4 kui / ha dan SP-36 2 kui / ha diberikan bertepatan dengan tanam atau 7 hari setelah tanam.&lt;br /&gt;- Pupuk I = ZA 4 kui / ha dan KCl 2 kui / ha diberikan 1 bulan setelah tanam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Penyiraman / Pengairan&lt;br /&gt;Tujuannya adalah untuk mencukupi kebutuhan Air bagi Proses Pertumbuhan Tanaman. Kekurangan air akan sangat berpengaruh pada Produksi. Dalam pelaksanaannya Pengairan meliputi :&lt;br /&gt;- Ebor Muka Tanam, dilakukan sebelum bibit ditanam untuk membuat kondisi tanah basah.&lt;br /&gt;- Sirat Patri, dilakukan 3 – 4 hari setelah tanam dengan tujuan memacu perkecambahan tunas dan mempercepat pertumbuhan akar.&lt;br /&gt;- Ebor Pupuk I, dilakukan setelah Pupuk I dengan tujuan melarutkan pupuk supaya segera dapat diserap oleh Tanaman.&lt;br /&gt;- Ebor Pupuk II, dilakukan setelah Pupuk II dengan tujuan melarutkan pupuk supaya segera dapat diserap oleh Tanaman.&lt;br /&gt;- Ebor Muka Bumbun II, bertujuan untuk menghancurkan lungko agar dalam pelaksanaan Bumbun II nantinya akan didapatkan tanah yang halus.&lt;br /&gt;- Ebor Muka Bumbun III, bertujuan untuk memberikan air yang cukup untuk tanaman juga untuk memudahkan pelaksanaan Bumbun III.&lt;br /&gt;- Ebor Garbu Muka Gulud, diberikan dalam jumlah yang cukup banyak karena tanah yang diolah adalah tanah waras. Tujuannya adalah untuk memudahkan pelaksanaan Garbu.&lt;br /&gt;- Ebor Muka Gulud, diberikan pada tanah guludan yang telah digarbu. Tujuannya adalah agar tanah blabagan menjadi gembur dan mudah dibuat guludan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Pembumbunan / Tamping&lt;br /&gt;Pembumbunan bertujuan memberikan tanah sebagai media tumbuh disekitar tanaman tebu, menutup bagal dan pupuk, memberi makanan tanaman, mempercepat pertumbuhan akar, mempercepat pertumbuhan anakan, menghambat pertumbuhan Gulma dan memperkokoh tegaknya tanaman.&lt;br /&gt;Pembumbunan yang dilakukan antara lain :&lt;br /&gt;- Tamping I ( Kriwil ), dilakukan 3 – 4 minggu setelah tanam. Caranya adalah dengan menurunkan butiran tanah yang kering dan halus +/- 5 – 7 cm.&lt;br /&gt;- Tamping II ( Gombeng ), dilakukan 5 – 6 minggu setelah tanam. Caranya adalah menurunkan tanah kering sebesar telur dengan ketebalan sedikit dibawah tanah waras. Tanah yang disisakan di Guludan +/- sepertiga bagian.&lt;br /&gt;- Tamping III ( Tamping habis ), dilakukan 11 – 12 bulan setelah tanam. Bumbun III ini juga berfungsi untuk membatasi jumlah anakan ( 70 – 75 batang per juring ) sehingga besar tiap batang bisa merata.&lt;br /&gt;- Gulud Akhir, dilakukan pada Awal Musim Hujan antara Desember – Januari. Sebelum pelaksanaan Gulud terlebih dahulu dilakukan Rewos. Caranya adalah blabagan yang sudah digarbu kemudian diberi air cukup, kemudian tanah diipukan pada pangkal batang, dirapatkan dan diinjak-injak sehingga guludan menjadi padat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Pengendalian Gulma&lt;br /&gt;Tujuannya adalah untuk membersihkan kebun dari segala macam jenis gulma yang ada. Apalagi dalam kondisi tanaman masih kecil dan perakaran masih dangkal, maka gulma yang berada di sekitar tanaman menjadi Saingan dalam mendapatkan Hara. Pekerjaan ini bisa dilakukan baik secara Manual atau Chemis ( Herbisida ). Pekerjaan ini sebaiknya dilakukan 1 – 2 hari setelah tanam menggunakan Gesapax 2 kg / ha dicampur dengan DMA 6 1,5 ltr / ha. Dengan Manual dilakukan berbarengan dengan Pekerjaan Tamping / Bumbun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. K l e n t e k&lt;br /&gt;Tujuan Klentek adalah :&lt;br /&gt;- Memperbaiki Sirkulasi Udara di dalam kebun sehingga dapat mencegah Hama dan Penyakit.&lt;br /&gt;- Mempercepat kerasnya batang tebu dan mempercepat Fase Kemasakan.&lt;br /&gt;- Menghindari Tebu Roboh&lt;br /&gt;- Memperkecil peluang Tebu Terbakar&lt;br /&gt;- Menunjang Kualitas Kebersihan Tebangan&lt;br /&gt;Pekerjaan Klentek meliputi :&lt;br /&gt;- Rewos, dengan cara membuang 3 – 5 daun kering sebelum Gulud.&lt;br /&gt;- Klentek I, dengan cara membuang 5 – 6 daun kering saat tebu telah mencapai 8 – 10 ruas.&lt;br /&gt;- Klentek II, dengan cara membuang 5 – 6 daun kering saat tebu telah mencapai 22 ruas.&lt;br /&gt;g. Pemberantasan Hama dan Penyakit&lt;br /&gt;Pekerjaan ini dapat dilakukan secara Manual ( Roges ) dan secara Chemis dengan menggunakan Insektisida ( contoh = Demicron 50 SC untuk Kutu Bulu Putih dan Supracide untuk Cabuk Hitam, dll. ). Salah satu alternatif Dalam Pemberantasan Hama dan Penyakit adalan dengan menggunakan Metode Pengendalian Hayati seperti Jenis Trichograma sp yang bisa untuk memberantas telur Penggerek Pucuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TEBANG DAN ANGKUT TEBU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelaksanaan Tebang Muat Angkut harus direncanakan secara matang dengan dibuat Daftar Nominasi Tebang per Kebun, karena Tebu adalah Tanaman Semusim yang nilai Produksinya sangat ditentukan oleh suatu batasan waktu.&lt;br /&gt;Dasar Pertimbangan Tebang Muat Angkut adalah :&lt;br /&gt;- Nilai Kemasakan Tebu, dengan adanya Analisa Pendahuluan untuk mengetahui Faktor Kemasakan, Kosien Peningkatan dan Kosien Daya Tahan.&lt;br /&gt;- Rencana Kapasitas Giling Pabrik&lt;br /&gt;- Faktor-faktor lain, seperti Keadaan Visual Tanaman, Situasi Kebun Sulit, Serangan Hama dan Penyakit, Tebu Terbakar dan Faktor Keamanan Kebun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEMELIHARAAN TANAMAN KEPRASAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekerjaan Kepras harus dilakukan secepat mungkin setelah ditebang. Hal ini bertujuan agar Tunas yang dikepras masih dalam keadaan segar sehingga pertumbuhan tunas nantinya baik. Sebelum Keprasan perlu dilakukan Pembersihan dan Pembakaran sisa-sisa tanaman dan daduk. Keprasan dilakukan dengan cara manual menggunakan cangkul. Bentuk hasil Keprasan melihat apakah tanaman tersebut bekas TS I atau bekas keprasan yang sudah dikepras berulang-ulang. Untuk bekas tanaman TS I dibuat Model “U“, sedangkan untuk bekas keprasan yang sudah dikepras berkali-kali dibuat Model “W”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemeliharaan Tanaman Keprasan pada dasarnya sama dengan Pemeliharaan Tanaman TS I, hanya yang membedakan adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- PEDOT OYOT, dilakukan segera setelah dikepras. Tujuannya adalah untuk memutus akar lama dan mendorong tumbuhnya akar-akar baru yang sehat dan kuat, juga berguna &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5343438090319808433-5548587757688129631?l=budidaya-di.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://budidaya-di.blogspot.com/feeds/5548587757688129631/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2009/12/budidaya-tebu.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/5548587757688129631'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/5548587757688129631'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2009/12/budidaya-tebu.html' title='Budidaya Tebu'/><author><name>Budidaya Pertanian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02468176543501833983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_WtXCykFMI6Y/SyjQAgLebHI/AAAAAAAAAAc/pA7lLe1zsmA/s72-c/Budidaya+Tebu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5343438090319808433.post-92419437921295278</id><published>2009-12-14T23:45:00.001-08:00</published><updated>2009-12-14T23:45:57.673-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tanaman Obat'/><title type='text'>Tanaman Landep – Tanaman Obat</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tanaman Landep – Tanaman Obat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tanaman landep &lt;/span&gt;( Barleriae prionitis ) tempat pertumbuhannya di Indonesia, terutama diberbagai daerah di Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daun-daunnya yang banyak diperlukan sebagai bahan obat berbau agak lemah dan rasanya pahit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uraian makroskopiknya:&lt;br /&gt;a.Daun bagian bawah bertangkai panjang&lt;br /&gt;b.Daun dibagian atas ranting bertangkai duduk atau agak pendek&lt;br /&gt;c.Berbentuk jorong miring sampai bentuk sudip, ujungnya menyerupai duri , pangkalnya meruncing&lt;br /&gt;d.Daun berukuran panjang  2 cm sampai 18 cm,lebar daun 0,2 cm sampai 6,5 cm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanaman ini banyak terdapat di Tanah Air kita, terutama di Jawa, berkandunagan glukosida, sedikit damar, kalium dan silikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daun landep banyak diperlukan sebagai bahan obat penyembuh penyakit encok , rematik, dosis yang diperlukan 2 gram sampai 5 gram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5343438090319808433-92419437921295278?l=budidaya-di.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://budidaya-di.blogspot.com/feeds/92419437921295278/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2009/12/tanaman-landep-tanaman-obat.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/92419437921295278'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/92419437921295278'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2009/12/tanaman-landep-tanaman-obat.html' title='Tanaman Landep – Tanaman Obat'/><author><name>Budidaya Pertanian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02468176543501833983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5343438090319808433.post-7277821002415461817</id><published>2009-12-08T21:28:00.001-08:00</published><updated>2009-12-08T21:28:31.713-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tanaman Obat'/><title type='text'>Tanaman Pacar Cina – Tanaman Obat</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tanaman Pacar Cina – Tanaman Obat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanaman pacar cina (Aglaiae folium atau tepatnya Aglaiae ordorata Lour) termasuk family Meliaceae , tempat tumbuhnya yang utama di Indonesia di Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daun-daunnya yang berbau Aromatik, agak lemah dan rasanya agak pahit, banyak diperlukan sebagai bahan bakal obat. Berdasarkan tinjauan makroskopiknya, helai-helai anak daunya berbentuk bulat telur terbalik dan memanjang, berpangkal daun yang runcing, berukuran panjang sekitar 2 cm sampai 11 cm, lebar sekitar 1 cm sampai 4,5 cm , bertangkai daun agak pendek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daun daunya berkandungan alkaloide , dammar dan garam-garam mineral. Daun pacar cina banyak diperlukan sebagai bahan obat penyembuh penyakit gonorrhoe , dengan dosis yang biasa antara 2 gram sampai 6 gram.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5343438090319808433-7277821002415461817?l=budidaya-di.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://budidaya-di.blogspot.com/feeds/7277821002415461817/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2009/12/tanaman-pacar-cina-tanaman-obat.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/7277821002415461817'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/7277821002415461817'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2009/12/tanaman-pacar-cina-tanaman-obat.html' title='Tanaman Pacar Cina – Tanaman Obat'/><author><name>Budidaya Pertanian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02468176543501833983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5343438090319808433.post-8079351170738627311</id><published>2009-12-07T03:57:00.000-08:00</published><updated>2009-12-07T03:58:43.255-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tanaman Obat'/><title type='text'>Tanaman Kecubung Gunung</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tanaman Kecubung Gunung&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tanaman kecubung Gunung &lt;/span&gt;(Brugmansia candida Pers atau Brugmansia suaveolens B dan Pr) termasuk family Solanaceae, banyak terdapat di Tanah Air Kita di berbagai daerah, kadang-kadang kurang diperhatikan terutama oleh mereka yang tidak mengetahui khasiatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daunya memang berbau yang kurang enak dan rasanya pahit. Makroskopiknya dapat dikemukakan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.Bentuk daun bulat telur – bulat telur memanjang sehingga mirip dengan bentuk lidah tombak.&lt;br /&gt;b.Daunnya berujung Runcing&lt;br /&gt;c.Pangkal daun sering tidak setangkup&lt;br /&gt;d.Ukuran daun memang cukup besar , panjang sekitar 9 cm sampai 35 cm dengan lebar sekitar 4 cm sampai 17 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kandungan zat-zat pada &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;daun-daun kecubung gunung &lt;/span&gt;yang banyak diperlukan farmasi dan industri-industri obat-obatan ini yaitu Alkaloida, hiosiamina dan skopolamina, khasiatnya sebagai penyembuh : sesak nafas, nyeri sehubungan dengan datang bulan (haid), parkisinisme dan parasimpatolitik. Dosis penggunaannya untuk sekali pengobatan 50 mg samai 100 mg (maksimum 150 mg) dan dalam sehari haruas dilakukan 2 kali (100 mg sampai 200 mg, maksimum 500 mg).&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5343438090319808433-8079351170738627311?l=budidaya-di.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://budidaya-di.blogspot.com/feeds/8079351170738627311/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2009/12/tanaman-kecubung-gunung.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/8079351170738627311'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/8079351170738627311'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2009/12/tanaman-kecubung-gunung.html' title='Tanaman Kecubung Gunung'/><author><name>Budidaya Pertanian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02468176543501833983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5343438090319808433.post-6923591827618787980</id><published>2009-11-23T04:00:00.000-08:00</published><updated>2009-11-23T04:02:58.469-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Sapi'/><title type='text'>Budidaya Sapi Perah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_WtXCykFMI6Y/Swp550kwDuI/AAAAAAAAAAM/SMi3gqb6nM8/s1600/Budidaya+sapi+perah.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_WtXCykFMI6Y/Swp550kwDuI/AAAAAAAAAAM/SMi3gqb6nM8/s320/Budidaya+sapi+perah.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5407268336883994338" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;BUDIDAYA SAPI PERAH&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENDAHULUAN BUDIDAYA SAPI PERAH&lt;br /&gt;Sapi adalah hewan ternak terpenting sebagai sumber daging, susu, tenaga kerja dan kebutuhan lainnya. Sapi menghasilkan sekitar 50% (45-55%) kebutuhan daging di dunia, 95% kebutuhan susu dan 85% kebutuhan kulit. Sapi berasal dari famili Bovidae. seperti halnya bison, banteng, kerbau (Bubalus), kerbau Afrika (Syncherus), dan anoa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Domestikasi sapi mulai dilakukan sekitar 400 tahun SM. Sapi diperkirakan berasal dari Asia Tengah, kemudian menyebar ke Eropa, Afrika dan seluruh wilayah Asia. Menjelang akhir abad ke-19, sapi Ongole dari India dimasukkan ke pulau Sumba dan sejak saat itu pulau tersebut dijadikan tempat pembiakan sapi Ongole murni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1957 telah dilakukan perbaikan mutu genetik sapi Madura dengan jalan menyilangkannya dengan sapi Red Deen. Persilangan lain yaitu antara sapi lokal (peranakan Ongole) dengan sapi perah Frisian Holstein di Grati guna diperoleh sapi perah jenis baru yang sesuai dengan iklim dan kondisi di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SENTRA BUDIDAYA SAPI PERAH&lt;br /&gt;Sentra peternakan sapi di dunia ada di negara Eropa (Skotlandia, Inggris, Denmark, Perancis, Switzerland, Belanda), Italia, Amerika, Australia, Afrika dan Asia (India dan Pakistan). Sapi Friesian Holstein misalnya, terkenal dengan produksi susunya yang tinggi (+ 6350 kg/th), dengan persentase lemak susu sekitar 3-7%. Namun demikian sapi-sapi perah tersebut ada yang mampu berproduksi hingga mencapai 25.000 kg susu/tahun, apabila digunakan bibit unggul, diberi pakan yang sesuai dengan kebutuhan ternak, lingkungan yang mendukung dan menerapkan budidaya dengan manajemen yang baik. Saat ini produksi susu di dunia mencapai 385 juta m2/ton/th, khususnya pada zone yang beriklim sedang. Produksi susu sapi di PSPB masih kurang dari 10 liter/hari dan jauh dari standar normalnya 12 liter/hari (rata-ratanya hanya 5-8 liter/hari).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JENIS SAPI PERAH&lt;br /&gt;Secara garis besar, bangsa-bangsa sapi (Bos) yang terdapat di dunia ada dua, yaitu (1) kelompok yang berasal dari sapi Zebu (Bos indicus) atau jenis sapi yang berpunuk, yang berasal dan tersebar di daerah tropis serta (2) kelompok dari Bos primigenius, yang tersebar di daerah sub tropis atau lebih dikenal dengan Bos Taurus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis sapi perah yang unggul dan paling banyak dipelihara adalah sapi Shorhorn (dari Inggris), Friesian Holstein (dari Belanda), Yersey (dari selat Channel antara Inggris dan Perancis), Brown Swiss (dari Switzerland), Red Danish (dari Denmark) dan Droughtmaster (dari Australia). Hasil survei di PSPB Cibinong menunjukkan bahwa jenis sapi perah yang paling cocok dan menguntungkan untuk dibudidayakan di Indonesia adalah Frisien Holstein.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MANFAAT SAPI PERAH&lt;br /&gt;Peternakan sapi menghasilkan daging sebagai sumber protein, susu, kulit yang dimanfaatkan untuk industri dan pupuk kandang sebagai salah satu sumber organik lahan pertanian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERSYARATAN LOKASI BUDIDAYA SAPI PERAH&lt;br /&gt;Lokasi yang ideal untuk membangun kandang adalah daerah yang letaknya cukup jauh dari pemukiman penduduk tetapi mudah dicapai oleh kendaraan. Kandang harus terpisah dari rumah tinggal dengan jarak minimal 10 meter dan sinar matahari harus dapat menembus pelataran kandang serta dekat dengan lahan pertanian. Pembuatannya dapat dilakukan secara berkelompok di tengah sawah atau ladang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA SAPI PERAH&lt;br /&gt;A.Penyiapan Sarana dan Peralatan&lt;br /&gt;Kandang dapat dibuat dalam bentuk ganda atau tunggal, tergantung dari jumlah sapi yang dimiliki. Pada kandang tipe tunggal, penempatan sapi dilakukan pada satu baris atau satu jajaran, sementara kandang yang bertipe ganda penempatannya dilakukan pada dua jajaran yang saling berhadapan atau saling bertolak belakang. Diantara kedua jajaran tersebut biasanya dibuat jalur untuk jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembuatan kandang untuk tujuan penggemukan (kereman) biasanya berbentuk tunggal apabila kapasitas ternak yang dipelihara hanya sedikit. Namun, apabila kegiatan penggemukan sapi ditujukan untuk komersial, ukuran kandang harus lebih luas dan lebih besar sehingga dapat menampung jumlah sapi yang lebih banyak. Lantai kandang harus diusahakan tetap bersih guna mencegah timbulnya berbagai penyakit. Lantai terbuat dari tanah padat atau semen, dan mudah dibersihkan dari kotoran sapi. Lantai tanah dialasi dengan jerami kering sebagai alas kandang yang hangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh bagian kandang dan peralatan yang pernah dipakai harus disuci hamakan terlebih dahulu dengan desinfektan, seperti creolin, lysol, dan bahan-bahan lainnya. Ukuran kandang yang dibuat untuk seekor sapi jantan dewasa adalah 1,5×2 m atau 2,5×2 m, sedangkan untuk sapi betina dewasa adalah 1,8×2 m dan untuk anak sapi cukup 1,5×1 m per ekor, dengan tinggi atas + 2-2,5 m dari tanah. Temperatur di sekitar kandang 25-40 derajat C (rata-rata 33 derajat C) dan&lt;br /&gt;kelembaban 75%. Lokasi pemeliharaan dapat dilakukan pada dataran rendah (100-500 m) hingga dataran tinggi (&gt; 500 m).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Pembibitan&lt;br /&gt;Syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh bibit sapi perah betina dewasa adalah:&lt;br /&gt;1. produksi susu tinggi,&lt;br /&gt;2. umur 3,5-4,5 tahun dan sudah pernah beranak,&lt;br /&gt;3. berasal dari induk dan pejantan yang mempunyai keturunan produksi susu tinggi,&lt;br /&gt;4. bentuk tubuhnya seperti baji,&lt;br /&gt;5. matanya bercahaya, punggung lurus, bentuk kepala baik, jarak kaki depan atau kaki belakang cukup lebar serta kaki kuat,&lt;br /&gt;6. ambing cukup besar, pertautan pada tubuh cukup baik, apabila diraba lunak, kulit halus, vena susu banyak, panjang dan berkelok-kelok, puting susu tidak lebih dari 4, terletak dalam segi empat yang simetris dan tidak terlalu pendek,&lt;br /&gt;7. tubuh sehat dan bukan sebagai pembawa penyakit menular, dan&lt;br /&gt;8. tiap tahun beranak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara calon induk yang baik antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. berasal dari induk yang menghasilkan air susu tinggi,&lt;br /&gt;2. kepala dan leher sedikit panjang, pundak tajam, badan cukup panjang, punggung dan pinggul rata, dada dalam dan pinggul lebar,&lt;br /&gt;3. jarak antara kedua kaki belakang dan kedua kaki depan cukup lebar,&lt;br /&gt;4. pertumbuhan ambing dan puting baik,&lt;br /&gt;5. jumlah puting tidak lebih dari 4 dan letaknya simetris, serta&lt;br /&gt;6. sehat dan tidak cacat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pejantan yang baik harus memenuhi kriteria sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. umur sekitar 4-5 tahun,&lt;br /&gt;2. memiliki kesuburan tinggi,&lt;br /&gt;3. daya menurunkan sifat produksi yang tinggi kepada anak-anaknya,&lt;br /&gt;4. berasal dari induk dan pejantan yang baik,&lt;br /&gt;5. besar badannya sesuai dengan umur, kuat, dan mempunyai sifat-sifat pejantan yang baik,&lt;br /&gt;6. kepala lebar, leher besar, pinggang lebar, punggung kuat,&lt;br /&gt;7. muka sedikit panjang, pundak sedikit tajam dan lebar,&lt;br /&gt;8. paha rata dan cukup terpisah,&lt;br /&gt;9. dada lebar dan jarak antara tulang rusuknya cukup lebar,&lt;br /&gt;10. badan panjang, dada dalam, lingkar dada dan lingkar perut besar, serta&lt;br /&gt;11. sehat, bebas dari penyakit menular dan tidak menurunkan cacat pada keturunannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prosedur :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pemilihan Bibit dan Calon Induk&lt;br /&gt;Untuk mengejar produktivitas ternak yang tinggi, diperlukan perbaikan lingkungan hidup dan peningkatan mutu genetik ternak yang bersangkutan. Bibit yang baru datang harus dikarantina untuk penularan penyakit. Kemudian bibit diberi minum air yang dicampur garam dapur, ditempatkan dalam kandang yang bersih dan ditimbang serta dicatat penampilannya.&lt;br /&gt;2. Perawatan Bibit dan Calon Induk&lt;br /&gt;Seluruh sapi perah dara yang belum menunjukkan tanda-tanda birahi atau belum bunting setelah suatu periode tertentu, harus disisihkan. Jika sapi yang disisihkan tersebut telah menghasilkan susu, sapi diseleksi kembali berdasarkan produksi susunya, kecenderungan terkena radang ambing dan temperamennya.&lt;br /&gt;3. Sistim Pemuliabiakan&lt;br /&gt;Seringkali sapi perah dara dikawinkan dengan pejantan pedaging untuk mengurangi risiko kesulitan lahir dan baru setelah menghasilkan anak satu dikawinkan dengan pejantan sapi perah pilihan. Bibit harus diberi kesempatan untuk bergerak aktif paling tidak 2 jam setiap hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Pemeliharaan&lt;br /&gt;1. Sanitasi dan Tindakan Preventif&lt;br /&gt;Pada pemeliharaan secara intensif sapi-sapi dikandangkan sehingga peternak mudah mengawasinya, sementara pemeliharaan secara ekstensif pengawasannya sulit dilakukan karena sapi-sapi yang dipelihara dibiarkan hidup bebas. Sapi perah yang dipelihara dalam naungan (ruangan) memiliki konsepsi produksi yang lebih tinggi (19%) dan produksi susunya 11% lebih banyak daripada tanpa naungan. Bibit yang sakit segera diobati karena dan bibit yang menjelang beranak dikering kandangkan selama 1-2 bulan.&lt;br /&gt;2. Perawatan Ternak&lt;br /&gt;Ternak dimandikan 2 hari sekali. Seluruh sapi induk dimandikan setiap hari setelah kandang dibersihkan dan sebelum pemerahan susu. Kandang harus dibersihkan setiap hari, kotoran kandang ditempatkan pada penampungan khusus sehingga dapat diolah menjadi pupuk. Setelah kandang dibersihkan, sebaiknya lantainya diberi tilam sebagai alas lantai yang umumnya terbuat dari jerami atau sisa-sisa pakan hijauan (seminggu sekali tilam tersebut harus dibongkar). Penimbangan dilakukan sejak sapi pedet hingga usia dewasa. Sapi pedet ditimbang seminggu sekali sementara sapi dewasa ditimbang setiap bulan atau 3 bulan sekali. Sapi yang baru disapih ditimbang sebulan sekali. Sapi dewasa dapat ditimbang dengan melakukan taksiran pengukuran berdasarkan lingkar dan lebar dada, panjang badan dan tinggi pundak.&lt;br /&gt;3. Pemberian Pakan&lt;br /&gt;Pemberian pakan pada sapi dapat dilakukan dengan 3 cara, yaitu:&lt;br /&gt;1. sistem penggembalaan (pasture fattening)&lt;br /&gt;2. kereman (dry lot fattening)&lt;br /&gt;3. kombinasi cara pertama dan kedua.&lt;br /&gt;Pakan yang diberikan berupa hijauan dan konsentrat. Hijauan yang berupa jerami padi, pucuk daun tebu, lamtoro, alfalfa, rumput gajah, rumput benggala atau rumput raja. Hijauan diberikan siang hari setelah pemerahan sebanyak 30-50 kg/ekor/hari. Pakan berupa rumput bagi sapi dewasa&lt;br /&gt;umumnya diberikan sebanyak 10% dari bobot badan (BB) dan pakan tambahan sebanyak 1-2% dari BB. Sapi yang sedang menyusui (laktasi) memerlukan makanan tambahan sebesar 25% hijauan dan konsentrat dalam ransumnya. Hijauan yang berupa rumput segar sebaiknya ditambah dengan jenis kacang-kacangan (legum).&lt;br /&gt;Sumber karbohidrat berupa dedak halus atau bekatul, ampas tahu, gaplek, dan bungkil kelapa serta mineral (sebagai penguat) yang berupa garam dapur, kapur, dll. Pemberian pakan konsentrat sebaiknya diberikan pada pagi hari dan sore hari sebelum sapi diperah sebanyak 1-2 kg/ekor/hari. Selain makanan, sapi harus diberi air minum sebanyak 10% dari berat badan per hari.&lt;br /&gt;Pemeliharaan utama adalah pemberian pakan yang cukup dan berkualitas, serta menjaga kebersihan kandang dan kesehatan ternak yang dipelihara. Pemberian pakan secara kereman dikombinasikan dengan penggembalaan Di awal musim kemarau, setiap hari sapi digembalakan. Di musim hujan sapi dikandangkan dan pakan diberikan menurut jatah. Penggembalaan bertujuan pula untuk memberi kesempatan bergerak pada sapi guna memperkuat kakinya.&lt;br /&gt;4. Pemeliharaan Kandang&lt;br /&gt;Kotoran ditimbun di tempat lain agar mengalami proses fermentasi (+1-2minggu) dan berubah menjadi pupuk kandang yang sudah matang dan baik. Kandang sapi tidak boleh tertutup rapat (agak terbuka) agar sirkulasi udara didalamnya berjalan lancar. Air minum yang bersih harus tersedia setiap saat. Tempat pakan dan minum sebaiknya dibuat di luar kandang tetapi masih di bawah atap. Tempat pakan dibuat agak lebih tinggi agar pakan yang diberikan tidak diinjak-injak atau tercampur dengan kotoran. Sementara tempat air minum sebaiknya dibuat permanen berupa bak semen dan sedikit lebih tinggi daripada permukaan lantai. Sediakan pula peralatan untuk memandikan sapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HAMA DAN PENYAKIT SAPI PERAH&lt;br /&gt;A.Penyakit&lt;br /&gt;1. Penyakit antraks&lt;br /&gt;* Penyebab: Bacillus anthracis yang menular melalui kontak langsung, makanan/minuman atau pernafasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Gejala:&lt;br /&gt;1). demam tinggi, badan lemah dan gemetar;&lt;br /&gt;2). gangguan pernafasan;&lt;br /&gt;3). pembengkakan pada kelenjar dada, leher, alat kelamin dan badan penuh bisul;&lt;br /&gt;4). kadang-kadang darah berwarna merah hitam yang keluar melalui hidung, telinga, mulut, anus dan vagina;&lt;br /&gt;5). kotoran ternak cair dan sering bercampur darah;&lt;br /&gt;6). limpa bengkak dan berwarna kehitaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Pengendalian: vaksinasi, pengobatan antibiotika, mengisolasi sapi yang terinfeksi serta mengubur/membakar sapi yang mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Penyakit mulut dan kuku (PMK) atau penyakit Apthae epizootica (AE)&lt;br /&gt;* Penyebab: virus ini menular melalui kontak langsung melalui air kencing, air susu, air liur dan benda lain yang tercemar kuman AE.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Gejala:&lt;br /&gt;1). rongga mulut, lidah, dan telapak kaki atau tracak melepuh serta terdapat tonjolan bulat berisi cairan yang bening;&lt;br /&gt;2). demam atau panas, suhu badan menurun drastis;&lt;br /&gt;3). nafsu makan menurun bahkan tidak mau makan sama sekali;&lt;br /&gt;4). air liur keluar berlebihan.&lt;br /&gt;* Pengendalian: vaksinasi dan sapi yang sakit diasingkan dan diobati secara terpisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Penyakit ngorok/mendekur atau penyakit Septichaema epizootica (SE)&lt;br /&gt;* Penyebab: bakteri Pasturella multocida. Penularannya melalui makanan dan minuman yang tercemar bakteri.&lt;br /&gt;* Gejala:&lt;br /&gt;1). kulit kepala dan selaput lendir lidah membengkak, berwarna merah dan kebiruan;&lt;br /&gt;2). leher, anus, dan vulva membengkak;&lt;br /&gt;3). paru-paru meradang, selaput lendir usus dan perut masam dan berwarna merah tua;&lt;br /&gt;4). demam dan sulit bernafas sehingga mirip orang yang ngorok. Dalam keadaan sangat parah, sapi akan mati dalam waktu antara 12-36 jam.&lt;br /&gt;* Pengendalian: vaksinasi anti SE dan diberi antibiotika atau sulfa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Penyakit radang kuku atau kuku busuk (foot rot)&lt;br /&gt;* Penyakit ini menyerang sapi yang dipelihara dalam kandang yang basah dan kotor.&lt;br /&gt;* Gejala:&lt;br /&gt;1). mula-mula sekitar celah kuku bengkak dan mengeluarkan cairan putih keruh;&lt;br /&gt;2). kulit kuku mengelupas;&lt;br /&gt;3). tumbuh benjolan yang menimbulkan rasa sakit;&lt;br /&gt;4). sapi pincang dan akhirnya bisa lumpuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B.Pencegahan Serangan&lt;br /&gt;Upaya pencegahan dan pengobatannya dilakukan dengan memotong kuku dan merendam bagian yang sakit dalam larutan refanol selama 30 menit yang diulangi seminggu sekali serta menempatkan sapi dalam kandang yang bersih dan kering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PANEN&lt;br /&gt;A. Hasil Utama&lt;br /&gt;Hasil utama dari budidaya sapi perah adalah susu yang dihasilkan oleh induk betina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Hasil Tambahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain susu sapi perah juga memberikan hasil lain yaitu daging dan kulit yang berasal dari sapi yang sudah tidak produktif serta pupuk kandang yang dihasilkan dari kotoran ternak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PASCAPANEN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA&lt;br /&gt;A. Analisis Usaha Budidaya&lt;br /&gt;Usaha ternak sapi perah di Indonesia masih bersifat subsisten oleh peternak kecil dan belum mencapai usaha yang berorientasi ekonomi. Rendahnya tingkat produktivitas ternak tersebut lebih disebabkan oleh kurangnya modal, serta pengetahuan/ketrampilan petani yang mencakup aspek reproduksi, pemberian pakan, pengelolaan hasil pascapanen, penerapan sistem recording, pemerahan, sanitasi dan pencegahan penyakit. Selain itu pengetahuan petani mengenai aspek tata niaga harus ditingkatkan sehingga keuntungan yang diperoleh sebanding dengan pemeliharaannya. Produksi susu sapi di dunia kini sudah melebihi 385 juta m2/ton/th dengan tingkat penjualan sapi dan produknya yang lebih besar daripada pedet, pejantan, dan sapi afkiran. Di Amerika Serikat, tingkat penjualan dan pembelian sapi dan produknya secara tunai mencapai 13% dari seluruh peternakan yang ada di dunia. Sementara tingkat penjualan anak sapi (pedet), pejantan sapi perah, dan sapi afkir hanya berkisar 3%. Produksi susu sejumlah itu masih perlu ditingkatkan seiring dengan peningkatan jumlah penduduk di dunia ini. Untuk mencapai tingkat produksi yang tinggi maka pengelolaan dan pemberian pakan harus benar-benar sesuai dengan kebutuhan ternak, dimana minimum pakan yang dapat dimanfaatkan oleh ternak (terserap) diusahakan sekitar 3,5-4% dari bahan kering&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Gambaran Peluang Agribisnis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usaha peternakan sapi perah keluarga memberikan keuntungan jika jumlah sapi yang dipelihara minimal sebanyak 6 ekor, walaupun tingkat efisiensinya dapat dicapai dengan minimal pengusahaannya sebanyak 2 ekor dengan rata-rata produksi susu sebanyak 15 lt/hari. Upaya untuk meningkatkan pendapatan petani melalui pembudidayaan sapi perah tersebut dapat juga dilakukan dengan melakukan diversifikasi usaha. Selain itu melakukan upaya kooperatif dan integratif (horizontal dan vertikal) dengan petani lainnya dan instansi-instansi lain yang berkompeten, serta tetap memantapkan pola PIR diatas.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5343438090319808433-6923591827618787980?l=budidaya-di.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://budidaya-di.blogspot.com/feeds/6923591827618787980/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2009/11/budidaya-sapi-perah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/6923591827618787980'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/6923591827618787980'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2009/11/budidaya-sapi-perah.html' title='Budidaya Sapi Perah'/><author><name>Budidaya Pertanian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02468176543501833983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_WtXCykFMI6Y/Swp550kwDuI/AAAAAAAAAAM/SMi3gqb6nM8/s72-c/Budidaya+sapi+perah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5343438090319808433.post-8541475945787117317</id><published>2009-11-22T20:11:00.001-08:00</published><updated>2009-11-22T20:11:47.027-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Jagung'/><title type='text'>Sistem produksi jagung pada ekologi sawah tadah hujan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sistem produksi jagung pada ekologi sawah tadah hujan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem produksi jagung pada sawah tadah hujan, sebagian telah berkembang dan sebagian lainnya baru mulai. Daerah yang sudah mulai berkembang seperti di Kecamatan Bulo, Sidrap dan di Kecamatan Sinjai Timur, Sinjai sudah mengenal jagung hibrida namun teknologi budidayanya masih perlu diperbaiki terutama dalam hal pemupukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Kecamatan Pammana, Wajo; Kecamatan Lilirilau, Soppeng; dan Kecamatan Lappariaja, Bone; sistem produksi jagung masih relatif sederhana. Varietas yang ditanam umumnya lokal, baik yang kuning (Lamuru turunan) maupun yang putih (lokal), pemupukan seadanya, selain itu motivasi petani belum berorientasi pasar baru sebatas untuk konsumsi. Oleh karena itu penge-nalan varietas unggul jenis komposit, pemupukan berimbang, dan jaringan pa-sar menjadi prioritas utama jika wilayah tersebut akan dijadikan pengembangan jagung. Untuk mendukung itu perlu ada kegiatan penangkaran benih &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5343438090319808433-8541475945787117317?l=budidaya-di.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://budidaya-di.blogspot.com/feeds/8541475945787117317/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2009/11/sistem-produksi-jagung-pada-ekologi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/8541475945787117317'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/8541475945787117317'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2009/11/sistem-produksi-jagung-pada-ekologi.html' title='Sistem produksi jagung pada ekologi sawah tadah hujan'/><author><name>Budidaya Pertanian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02468176543501833983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5343438090319808433.post-2400652953670435892</id><published>2009-11-21T03:55:00.000-08:00</published><updated>2009-11-21T03:56:09.080-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Lebah'/><title type='text'>Budidaya Lebah Madu</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;BUDIDAYA LEBAH MADU &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebah termasuk hewan yang masuk dalam kelas insekta famili Apini dan genus Apis. Spesiesnya bermacam-macam, yang banyak terdapat di Indonesia adalah A. cerana, A. Dorsata A. Florea. Jenis unggul yang sering dibudidayakan adalah jenis A. mellifera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut asal-usulnya lebah dibagi 4 jenis berdasar penyebarannya:&lt;br /&gt;1) Apis cerana, diduga berasal dari daratan Asia menyebar sampai Afghanistan, Cina maupun Jepang.&lt;br /&gt;2) Apis mellifera, banyak dijumpai di daratan Eropa, misalnya Prancis, Yunani dan Italia serta di daerah sekitar Mediterania.&lt;br /&gt;3) Apis Dorsata, memiliki ukuran tubuh paling besar dengan daerah penyebaran sub tropis dan tropis Asia seperti Indonesia, Philipina dan sekitarnya. Penyebarannya di Indonesia merata mulai dari Sumatera sampai Irian.&lt;br /&gt;4) Apis Florea merupakan spesies terkecil tersebar mulai dari Timur Tengah, India sampai Indonesia. Di Indonesia orang menyebutnya dengan tawon klanceng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;MANFAAT LEBAH MADU&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Produk yang dihasilkan madu adalah:&lt;br /&gt;1) Madu sebagai produk utama berasal dari nektar bunga merupakan makanan yang sangat berguna bagi pemeliharaan kesehatan, kosmetika dan farmasi.&lt;br /&gt;2) Royal jelly dimanfaatkan untuk stamina dan penyembuhan penyakit, sebagai bahan campuran kosmetika, bahan campuran obat-obatan.&lt;br /&gt;3) Pollen (tepung sari) dimanfaatkan untuk campuran bahan obatobatan/kepentingan farmasi.&lt;br /&gt;4) Lilin lebah (malam) dimanfaatkan untuk industri farmasi dan kosmetikasebagai pelengkap bahan campuran.&lt;br /&gt;5) Propolis (perekat lebah) untuk penyembuhan luka, penyakit kulit dan membunuh virus influensa.&lt;br /&gt;Keuntungan lain dari beternak lebah madu adalah membantu dalam proses penyerbukan bunga tanaman sehingga didapat hasil yang lebih maksimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA LEBAH MADU&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam pembudidayaan lebah madu yang perlu dipersiapkan yaitu: Lokasi budidaya, kandang lebah modern (stup), pakaian kerja dan peralatan Syarat yang utama yang harus yang dipenuhi dalam budidaya lebah adalah ada seekor ratu lebah dan ribuan ekor lebah pekerja serta lebah jantan. Dalam satu koloni tidak boleh lebih dari satu ratu karena antar ratu akan saling bunuh untuk&lt;br /&gt;memimpin koloni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PENYIAPAN SARANA DAN PERALATAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1) Perkandangan&lt;br /&gt;a. Suhu&lt;br /&gt;Perubahan suhu dalam stup hendaknya tidak terlalu cepat, oleh karena itu ketebalan dinding perlu diperhatikan untuk menjaga agar suhu dalam stuptetap stabil. Yang umum digunakan adalah kayu empuk setebal 2,5 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Ketahanan terhadap iklim&lt;br /&gt;Bahan yang dipakai harus tahan terhadap pengaruh hujan, panas, cuaca yang selalu berubah, kokoh dan tidak mudah hancur atau rusak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Konstruksi&lt;br /&gt;Konstruksi kandang tradisional dengan menggunakan gelodok dari bambu, secara modern menggunakan stup kotak yang lengkap dengan framenya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Peralatan&lt;br /&gt;Peralatan yang digunakan dalam budidaya lebah terdiri dari: masker, pakaian kerja dan sarung tangan, pengasap, penyekat ratu, sangkar ratu, sapu dan sikat, tempat makan, pondamen sarang, alat-alat kecil, peralatan berternak ratu dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PEMBIBITAN LEBAH MADU&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1) Pemilihan Bibit dan Calon Induk&lt;br /&gt;Bibit lebah unggul yang di Indonesia ada dua jenis yaitu A. cerana (lokal) dan A. mellifera (impor). Ratu lebah merupakan inti dari pembentukan koloni lebah, oleh karena itu pemilihan jenis unggul ini bertujuan agar dalam satu koloni lebah dapat produksi maksimal. ratu A. cerana mampu bertelur 500-&lt;br /&gt;900 butir per hari dan ratu A. mellifera mampu bertelur 1500 butir per hari. Untuk mendapatkan bibit unggul ini sekarang tersedia tiga paket pembelian bibit lebah:&lt;br /&gt;a. paket lebah ratu terdiri dari 1 ratu dengan 5 lebah pekerja.&lt;br /&gt;b. paket lebah terdiri dari 1 ratu dengan 10.000 lebah pekerja.&lt;br /&gt;c. paket keluarga inti terdiri dari 1 ratu dan 10.000 lebah pekerja lengkap&lt;br /&gt;dengan 3 sisiran sarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Perawatan Bibit dan Calon Induk&lt;br /&gt;Lebah yang baru dibeli dirawat khusus. Satu hari setelah dibeli, ratu dikeluarkan dan dimasukkan ke dalam stup yang telah disiapkan. Selama 6 hari lebah-lebah tersebut tidak dapat diganggu karena masih pada masa adaptasi sehingga lebih peka terhadap lingkungan yang tidak&lt;br /&gt;menguntungkan. Setelah itu baru dapat dilaksanakan untuk perawatan dan pemeliharaan rutin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Sistem Pemuliabiakan&lt;br /&gt;Pemuliabiakan pada lebah adalah menciptakan ratu baru sebagai upaya pengembangan koloni. Cara yang sudah umum dilaksanakan adalah dengan pembuatan mangkokan buatan untuk calon ratu yang diletakkan dalam sisiran. Tetapi sekarang ini sudah dikembangkan inseminasi buatan pada ratu lebah untuk mendapatkan calon ratu dan lebah pekerja unggul. Pemuliabiakan lebah ini telah berhasil dikembangkan oleh KUD Batu Kabupaten Malang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Reproduksi dan Perkawinan&lt;br /&gt;Dalam setiap koloni terdapat tiga jenis lebah masing-masing lebah ratu, lebah pekerja dan lebah jantan. Alat reproduksi lebah pekerja berupa kelamin betina yang tidak berkembang sehingga tidak berfungsi, sedangkan alat reproduksi berkembang lebah ratu sempurna dan berfungsi untuk reproduksi. Proses Perkawinan terjadi diawali musim bunga. Ratu lebah terbang keluar sarang diikuti oleh semua pejantan yang akan mengawininya. Perkawinan terjadi di udara, setelah perkawinan pejantan akan mati dan sperma akan disimpan dalam spermatheca (kantung sperma) yang terdapat pada ratu lebah kemudian ratu kembali ke sarang. Selama perkawinan lebah pekerja menyiapkan sarang untuk ratu bertelur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5) Proses Penetasan&lt;br /&gt;Setelah kawin, lebah ratu akan mengelilingi sarang untuk mencari sel-sel yang masih kosong dalam sisiran. Sebutir telur diletakkan di dasar sel. Tabung sel yang telah yang berisi telur akan diisi madu dan tepung sari oleh lebah pekerja dan setelah penuh akan ditutup lapisan tipis yang nantinya dapat ditembus oleh penghuni dewasa. Untuk mengeluarkan sebutir telur diperlukan waktu sekitar 0,5 menit, setelah mengeluarkan 30 butir telur, ratu akan istirahat 6 detik untuk makan. Jenis tabung sel dalam sisiran adalah:&lt;br /&gt;a. Sel calon ratu, berukuran paling besar, tak teratur dan biasanya terletak di pinggir sarang.&lt;br /&gt;b. Sel calon pejantan, ditandai dengan tutup menonjol dan terdapat titik hitam di tengahnya.&lt;br /&gt;c. Sel calon pekerja, berukuran kecil, tutup rata dan paling banyak jumlahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebah madu merupakan serangga dengan 4 tingkatan kehidupan yaitu telur, larva, pupa dan serangga dewasa. Lama dalam setiap tingkatan punya perbedaan waktu yang bervariasi. Rata-rata waktu perkembangan lebah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Lebah ratu: menetas 3 hari, larva 5 hari, terbentuk benang penutup 1 hari,iStirahat 2 hari, Perubahan larva jadi pupa 1 hari, Pupa/kepompong 3 hari, total waktu jadi lebah 15 hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Lebah pekerja: menetas 3 hari, larva 5 hari, terbentuk benang penutup 2 hari, iatirahat 3 hari, Perubahan larva jadi pupa 1 hari, Pupa/kepompong 7 hari, total waktu jadi lebah 21 hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Lebah pejantan: menetas 3 hari, larva 6 hari, terbentuk benang penutup 3 hari, iatirahat 4 hari, Perubahan larva jadi pupa 1 hari, Pupa/kepompong 7 hari, total waktu jadi lebah 24 hari. Selama dalam periode larva, larva-larva dalam tabung akan makan madu dan tepung sari sebanyak-banyaknya. Periode ini disebut masa aktif, kemudian larva menjadi kepompong (pupa). Pada masa kepompong lebah&lt;br /&gt;tidak makan dan minum, di masa ini terjadi perubahan dalam tubuh pupa untuk menjadi lebah sempurna. Setelah sempurna lebah akan keluar sel menjadi lebah muda sesuai asal selnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PEMELIHARAAN LEBAH MADU&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Sanitasi, Tindakan Preventif dan Perawatan&lt;br /&gt;Pada pengelolaan lebah secara modern lebah ditempatkan pada kandang berupa kotak yang biasa disebut stup. Di dalam stup terdapat ruang untuk beberapa frame atau sisiran. Dengan sistem ini peternak dapat harus rajin memeriksa, menjaga dan membersihkan bagian-bagian stup seperti&lt;br /&gt;membersihkan dasar stup dari kotoran yang ada, mencegah semut/serangga masuk dengan memberi tatakan air di kaki stup dan mencegah masuknya binatang pengganggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Pengontrolan Penyakit&lt;br /&gt;Pengontrolan ini meliputi menyingkirkan lebah dan sisiran sarang abnormal serta menjaga kebersihan stup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Pemberian Pakan&lt;br /&gt;Cara pemberian pakan lebah adalah dengan menggembala lebah ke tempat di mana banyak bunga. Jadi disesuaikan dengan musim bunga yang ada. Dalam penggembalaan yang perlu diperhatikan adalah :&lt;br /&gt;a. Perpindahan lokasi dilakukan malam hari saat lebah tidak aktif.&lt;br /&gt;b. Bila jarak jauh perlu makanan tambahan (buatan).&lt;br /&gt;c. Jarak antar lokasi penggembalaan minimum 3 km.&lt;br /&gt;d. Luas areal, jenis tanaman yang berbunga dan waktu musim bunga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan utama dari penggembalaan ini adalah untuk menjaga kesinambungan produksi agar tidak menurun secara drastis. Pemberian pakan tambahan di luar pakan pokok bertujuan untuk mengatasi kekurangan pakan akibat musim paceklik /saat melakukan pemindahan stup saat penggeembalaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakan tambahan tidak dapat meningkatkan produksi, tetapi hanya berfungsi untuk mempertahankan kehidupan lebah. Pakan tambahan dapat dibuat dari bahan gula dan air dengan perbandingan 1:1 dan adonan tepung dari campuran bahan ragi, tepung kedelai dan susu kering dengan perbandingan 1:3:1 ditambah madu secukupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: ebookkeluarga.com&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5343438090319808433-2400652953670435892?l=budidaya-di.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://budidaya-di.blogspot.com/feeds/2400652953670435892/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2009/11/budidaya-lebah-madu.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/2400652953670435892'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/2400652953670435892'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2009/11/budidaya-lebah-madu.html' title='Budidaya Lebah Madu'/><author><name>Budidaya Pertanian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02468176543501833983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5343438090319808433.post-4795854744578839405</id><published>2009-11-19T03:58:00.001-08:00</published><updated>2009-11-19T03:58:45.321-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Kodok'/><title type='text'>Budidaya Kodok</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;BUDIDAYA KODOK &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEJARAH BUDIDAYA KODOK&lt;br /&gt;Budidaya kodok telah dilakukan di beberapa negara, baik negara beriklim panas maupun beriklim 4 musim. Tercatat negara-negara Eropa yang telah membudidayakan kodok antara lain : Prancis, Belanda, Belgia, Albania, Rumania, Jerman Barat, Inggris, Denmark dan Yunani, Amerika Serikat dan Meksiko. Sedangkan di Asia, Cina, Bangladesh, Indonesia, Turki, India dan Hongkong yang telah membudidayakan kodok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah kodok tidak diketahui asalnya, karena hampir ditemukan di manamana, karena kemampuannya untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan sekitarnya. Kodok yang banyak dibudidayakan di Indonesia (Rana catesbeiana ) berasal dari Taiwan, kendati kodok itu semula berasal dari Amerika Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SENTRA PETERNAKAN KODOK&lt;br /&gt;Mulanya uji coba budidaya kodok dilakukan di Klaten (Balai bibit ikan), yang kemudian meluas ke Jawa tengah. Di Jawa Barat pembudidayaan kodok banyak ditemui di daerah pesisir Utara, disamping membudidayakan kodok masyarakat pesisir Utara juga menangkap dari alam. Kemudian di Sumatera Barat dan Bali juga merupakan sentra pembudidayaan kodok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JENIS KODOK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kodok tergolong dalam ordo Anura, yaitu golongan amfibi tanpa ekor. Pada ordo Anura terdapat lebih dari 250 genus yang terdiri dari 2600 spesies.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat 4 jenis kodok asli Indonesia yang di konsumsi oleh masyarakat kita yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1).Rana Macrodon (kodok hijau), yang berwarna hijau dan dihiasi totol-totol coklat kehijauan dan tumbuh mencapai 15 cm.&lt;br /&gt;2).Rana Cancrivora (kodok sawah ), hidup di sawah-sawah dan badannya dapat mencapai 10 cm, badan berbercak coklat dibadannya.&lt;br /&gt;3).Rana Limnocharis (kodok rawa), mempunyai daging yang rasanya paling enak, ukurannya hanya 8 cm.&lt;br /&gt;4).Rana Musholini (kodok batu/raksasa). Hanya terdapat di Sumatera, terutama Sumatera Barat. mencapai berat 1.5 kg. Dan panjang mencapai 22 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MANFAAT KODOK&lt;br /&gt;Daging kodok adalah sumber protein hewani yang tinggi kandungan gizinya. Limbah kodok yang tidak dipakai sebagai bahan makanan manusia dapat dipakai untuk ransum binatang ternak, seperti itik dan ayam. Kulit kodok yang telah terlepas dari badannya bisa diproses menjadi kerupuk kulit kodok. Kepala kodok yang sudah terpisah dapat diambil kelenjar hipofisanya dan dimanfaatkan untuk merangsang kodok dalam pembuahan buatan. Daging kodok dipercaya dapat menyembuhkan beberapa penyakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERSYARATAN LOKASI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1).Ketinggian lokasi yang ideal untuk budidaya kodok adalah 1600 dpl.&lt;br /&gt;2).Tanah tidak terlalu miring namun dan tidak terlalu datar, kemiringan ideal 1- 5%, artinya dalam jarak 100 m jarak kemiringan antara ujung-ujungnya 1-5 m.&lt;br /&gt;3).Air yang jernih atau sedikit tercampur lumpur tersedia sepanjang masa. Air yang jernih akan memperlancar proses penetasan telur.&lt;br /&gt;4).Kodok bisa hidup di air yang bersuhu 2–35 drajat C. Suhu saat penetasan telur ialah anata 24–27 derajat C, dengan kelembaban 60–65%.&lt;br /&gt;5).Air mengandung oksigen sekitar 5-6 ppm, atau minimum 3 ppm. Karbondioksida terlarut tidak lebih dari 25 ppm.&lt;br /&gt;6).Dekat dengan sumber air dan diusahakan air bisa masuk dan keluar dengan lancar dan bebas dari kekeringan dan kebanjiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA KODOK&lt;br /&gt;A.Penyiapan Sarana dan Peralatan&lt;br /&gt;1).Kolam&lt;br /&gt;Dalam proses pembuatan kolam, tidak boleh hanya menggali atau menimbun saja melainkan harus menggabungkan keduanya sehingga akan mendapatkan bentuk dan konstruksi kolam yang ideal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memasukkan air ke dalam kolam diperlukan saluran yang konstruksinya dibuat dari pasangan bata merah atau batako yang diperkuat dengan semen dan pasir. Bentuk dari saluran ini biasanya trapesium terbalik dan pada beberapa tempat pemasukan air ke kolam dibuat kobakan kecil untuk menjebak air agar mudah masuk kedalam kolam-kolam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kolam yang diperlukan antara lain: kolam perawatan kodok, kolam penampungan induk sebelum dikawinkan, kolam pemijahan, kolam penetasan, kolam perawatan kecebong, kolam pembesaran percil dan kolam pembesaran kodok remaja. Kebutuhan kolam ini masih ditambah dengan kolam pemeliharaan calon induk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.Kolam Perawatan Kodok&lt;br /&gt;Luasnya 15 meter persegi dengan ukuran 3 x 5 m, yang terdiri dari dinding tembok 0,40 m dan dinding kawat plastik setinggi 1 m, lantainya terbuat dari semen dan bata yang terdiri dari 2/3 bagian kolam terisi air setinggi 10-15 cm dan 1/3 bagian kering.&lt;br /&gt;b.Kolam Pemijahan.&lt;br /&gt;Kolam dibuat dari semen dan diatasnya dinding kawat plastik. Kedalaman air di kolam ini sekitar 0,30–0,40 m dan ditengahnya dibuatkan daratan. Padat pemeliharaan 15 ekor setiap meter perseginya, dengan perbandingan tiga betina dan satu jantan. Supaya lebih nyaman, sebaiknya lantai daratan tengah tidak berlumpur, dan kolam ditanami enceng gondok. Sediakan makanan berupa ikan kecil, ketam dan bekicot Masa kawin ditandai dengan suara merdu. Tak lama kemudian, telur mereka mengambang di air kolam dan segera dipindahkan ke kolam penetasan.&lt;br /&gt;c.Kolam Penetasan&lt;br /&gt;Kolam penetasan dibuat beberapa buah, dari tembok dengan air sedalam 30 cm dan air mengalir atau diberi aerasi yang luas. Luas kolam seluruhnya 10 m2 .&lt;br /&gt;d.Kolam Kecebong&lt;br /&gt;Terdiri dari beberapa kolam yang masing-masing luasnya berkisar anta 5 m2–6 m2, dengan dasar lantai terbuat dari semen.&lt;br /&gt;e.Kolam Kodok Muda&lt;br /&gt;Di kolam ini kodok yang dipelihara berumur kurang dari 2 bulan. Dibuat beberapa buah dengan masing-masing luasnya 15 m2, dengan dinding tembok dan kawat. Lantai miring dengan daerah air 1/3 bagian dengan kedalaman 15–35 Cm.&lt;br /&gt;f.Kolam Kodok Dewasa.&lt;br /&gt;Pada kolam ini kodok sudah berusia antara 2–6 bulan. Kolam yang diperlukan terdiri dari 2, dengan masing masing luas kira–kira 20 m2 , dengan konstruksi dasar dan dinidng tembok dan kawat. Kedalaman air yang diperlukan antara 30–40 Cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2).Mempersiapkan Kolam Produksi&lt;br /&gt;Bila lantai dasar kolam terbuat dari tanah, dasar kolam diolah dan dicangkulcangkul dan ditebari pupuk sampai dianggap siap huni. Kolam dibiarkan dulu tidak terpakai selama sebulan. Selama itu kolam dimasukkan air, didiamkan dan dikeluarkan berulang-ulang. Persiapkan alat-alat untuk membuat hujan buatan, baik dari drum bekas maupun dengan menggunakan springkel karena untuk proses perkawinan kodok biasanya terjadi pada masa penghujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaiknya kolam ditanami teratai, eceng gondok, genjer dan ganggang yang berfungsi untuk tempat biang kodok bercumbu rayu dan menempelkan telurnya serta meningkatkan kualitas air kolam dan mempertinggi kandungan oksigen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Pembibitan Kodok&lt;br /&gt;Untuk pembudidayaan kodok yang banyak dicari adalah dari jenis kodok banteng Amerika (Bull frog), diamping rasanya enak juga beratnya bisa sampai 1,5 kg. Bisa juga jenis kodok batu dari Sumatera Barat yang sampai saat ini belum dibudidayakan secara optimal, karena masyarakat masih mengambilnya dari alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun syarat ternak yang baik adalah bibit dipilih yang sehat dan matang kelamin. Sehat, tidak cacat, kaki tidak bengkok dan normal kedudukannya, serta gaya berenang seimbang. Pastikan kaki kodok tidak mengidap penyakit kaki merah ( red legs ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1). Pemilihan Bibit Calon Induk&lt;br /&gt;Pilihlah kodok yang sehat dan berukuran besar. Disamping itu perhatikan juga tanda-tanda kelamin sekundernya. Pisahkan induk berdasarkan jenis kelaminnya. Pemisahan dilakukan sekitar 1–2 hari dimaksudkan untuk lebih merangsang nafsu diantara mereka apabila saatnya mereka dipertemukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk induk-induk yang hendak dikawinkan sebaiknya diberikan makanan cincangan daging bekicot yang masih segar dan makanan buatan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2). Perawatan Bibit dan Calon Induk&lt;br /&gt;Induk jantan dan betina berumur 4 bulan disuntik perangsang pertumbuhan Gonadotropin intramuskular dengan dosis 200-250 IU/ekor/bulan.&lt;br /&gt;3). Sistem Pemijahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Secara Alami&lt;br /&gt;Induk jantan dan betina yang telah dipisah selama 1-2 hari disatukan di kolam pemijahan. Ikan liar dapat mengganggu hasil pemijahan. Perhatikan agar telur kodok tidak ikut terbuang air pembuangan. Di sore atau pagi hari pada saat suhu mulai menurun, barulah kita perlu membantu kelancaran proses pemijahan, yaitu dengan membuat hujan buatan.&lt;br /&gt;b. Sistem Hipofisasi&lt;br /&gt;Cara mutakhir untuk memijahkan kodok adalah dengan cara sistem kawin suntik menggunakan ekstrak kelenjar hipofisa untuk merangsang kodok agar kawin sesuai waktu yang kita inginkan. Dengan sistem ini kita bisa mengintensifkan pembenihan, mengurangi kematian, merawat telur-telur&lt;br /&gt;kodok yang telah dibuahi dalam tempat tersendiri, memberi jaminan bahwa telur-telur akan terbuahi oleh sperma seluruhnya dan tidak memerlukan hujan buatan.&lt;br /&gt;Penyuntikan pada tubuh betina lazimnya pada punggung, rongga perut dan bagian kepala. cara penyuntikan pada rongga perut banyak dipilih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Reproduksi dan Perkawinan&lt;br /&gt;Kodok yang hendak disuntik ditampung pada akuarium yang diberi sedikit air dan ditutup dengan kawat kasa untuk memudahkan penangkapan. kodokkodok tersebut telah cukup umur dan dalam keadaan matang telur. Saat penyuntikan kodok dibalut dengan kain hapa agar tidak meronta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kodok yang telah disuntik kemudian dilepas dalam akuarium lain dan dipantau setiap jam. Setelah 12 jam, kodok tadi disuntik kembali agar mereka mampu bertelur seluruhnya. Setelah yang betina 2 kali disuntik dan menunjukkan akan bertelur, maka kita mempersiapkan testis dari induk jantan. Sperma dikeluarkan dari testis dengan cara memotongnya dengan jarum kecil yang tajam dan dimasukkan ke cawan petri yang sudah diisi dengan air kolam yang bersih. Setelah air dalam cawan menjadi keruh dan testis sudah kosong, maka cairan testis dibiarkan selama 10 menit dalam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C.Pemeliharaan&lt;br /&gt;Pemeliharaan dilakukan pada setiap tahap pertumbuhan kodok, Pertumbuhan dan kesehatan kodok terrgantung pada makanan dan kecocokan tempat tinggalnya. Kodok diberi makan 1 kali sehari, air di kolam diganti dan dibersihkan seminggu sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1). Sanitasi dan Tindakan Preventif&lt;br /&gt;Telur yang sudah dibuahi, dipindahkan pada kolam penetasan. Kolam dibersihkan dari hama dan kotoran sebelum digunakan. Telur harus dipisahkan dari induknya sehingga telur tidak terganggu proses penetasannya dan tidak dimakan oleh induknya. Memindahkan telur jangan sampai pecah sarangnya atau lendirnya. Telur-telur akan menetas setelah 48–72 jam pada suhu air 24–27 derajat C. Bila sudah menetas dipelihara pada kolam yang sama selama 10 hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2). Perawatan Ternak&lt;br /&gt;Kodok muda yang telah mengalami metamorphose ditempatkan pada kolam permanen. Pemasukan dan pengeluaran air harus diberi penyaring untuk menghindari hama dan mencegah kodok lepas ke peraiaran umum. Padat penebaran 50-100 ekor/m2. Bila kita memelihara jenis kodok banteng yang tidak suka makanan yang tidak bergerak, makanan harus diletakkan dibawah aliran air/pancuran. Setelah berumur 3 bulan, kodok diseleksi berdasarkan kaki belakang, kulit dan ukuran badannya. Jumlah yang di seleksi 20% dari total dan dipindahkan ke kolam calon induk, sedangkan sisanya tetap dipelihara sampai masa panen pada umur 4-5 bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kodok dewasa (matang gonada) untuk bibit unggul, baik jantan maupun betina di suntik dengan kelenjar hiphopisa kodok sebanyak 1 dosis. Penyuntikan dilakukan 1 bulan sekali (bila memakai sistem hiphopisa) dan padat tanam sebanyak 20-25 ekor/m2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3). Pemberian Pakan&lt;br /&gt;Terdapat berbagai macam makanan yang dapat diberikan untuk kodok di kolam pembesaran persil maupun di kolam pembesaran kodok remaja. Makanan percil sampai kodok dewasa berupa cincangan daging bekicot,cincangan daging ikan, ulat, belatung, serangga, mie, bakso dan berbagai benih ikan serta ketam-ketaman kecil dan lainnya.&lt;br /&gt;Dapat juga diberikan makanan buatan, dengan meramu makanan buatan kita bisa menyusun sesuai dengan tingkat umur kodok, yang terkadang sulit dilakukan apabila kita memberinya makanan yang langsung didapat dari alam. Dengan demikian maka problem yang sering dialami seperti ukuran makanan lebih besar dari lebar bukaan mulut kodok tidak perlu terjadi lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HAMA DAN PENYAKIT KODOK&lt;br /&gt;A.Penyakit, Hama dan Penyebabnya&lt;br /&gt;Penyakit kodok umumnya disebabkan oleh serangan jamur dan bakteri. Paha kaki berwarna merah, luka dan kulit melepuh adalah penyakit yang menyerang kodok yang berumur 1-2 bulan, menular dan menyerang sistem saraf, sehingga akan mati dalam beberapa jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B.Pencegahan Serangan Penyakit dan Hama&lt;br /&gt;Bakteri bisa menyerang kecebong, gejalanya ekor luka dan berwarna putih. Penanggulangannya dengan memisahkan kecebong yang terserang, kolam dibersihkan dengan PK, dosis 0,05 gram/ liter 15 hari sekali, jangan memberikan makanan yang kandungan proteinnya melebihi dosis 10–15% karena perut kodok akan menjadi kembung. Pengobatan dengan antibiotika streptomisin/tetrasiklin, obat luar dengan penggunaan betadine, atau direndam dalam NaCl 0,15 gram/liter air selama 30 menit, diulang sampai 4 kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C.Pemberian Vaksinasi dan Obat&lt;br /&gt;Pengobatan kaki merah dan bisul pada kodok, dengan memandikan kodok dalam larutan Nifurene 50–100 gram/m2 air, atau dengan suntikan teramisin 25 mg/kg, atau streptomycin 20 mg/kg berat kodok. Penyakit dubur keluar diobati dengan cara pisahkan dan istirahatkan 2–3 hari dan tidak diberi makan. Penyakit lainnya adalah dubur keluar (ambaien) pada percil (kodok muda). Untuk mengatasinya, populasi tidak boleh terlalu padat dan kolam harus bersih dan pemberian kadar kalori dalam makanan tidak boleh melebihi dosis 3400 cl/kg makanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P A N E N&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.Hasil Utama&lt;br /&gt;Hasil utama yang dihasilkan adalah dagingnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B.Hasil Tambahan&lt;br /&gt;Sedangkan hasil tambahan yang dapat diperoleh adalah dengan mengolah limbah hasil pemotongan untuk dijadikan silase; dengan penambahan propionat dan asam formiat dengan jalan digiling bersama sama maka makanan untuk ternak ini tahan hingga 2 bulan pada suhu sedang. Hasil sampingan lainnya adalah dengan dijadikan tepung, dimana kandungan mineral dan proteinnya masih cukup tinggi untuk dijadikan bahan tambahan pakan ternak. Kodok yang tidak dijual/afkir dapat diambil hiphofisanya untuk proses pemijahan berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C.Penangkapan&lt;br /&gt;Sebelum disiangi, biasanya kodok-kodok tersebut ditempatkan pada penampungan. Tempat penampungan kodok bisa berupa kotak kayu atau bak semen yang drainasenya lancar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PASCA PANEN&lt;br /&gt;Proses penanganan pasca panen juga sangatlah mudah. Untuk menjaga agar kodok tetap hidup dan segar, maka kita bisa menggunakan karung goni atau tas kain yang dibasahi. Pengangkutan paling aman dilakukan pada pagi hari atau sore hari. Apabila pengangkutan dilakukan untuk jarak jauh maka perlu dibuatkan kotak kayu yang didesain secara khusus, dan kapasitasnya disesuaikan dengan besarnya kotak kayu tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA&lt;br /&gt;A.Analisis Usaha Budidaya&lt;br /&gt;Gambaran analisis ekonomi usaha budidaya kodok lembu (rana catesbeiana), untuk memperkirakan keuntungan yang akan diperoleh dan untuk menghindari pos-pos yang tidak penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun usaha pembenihan kodok skala kecil 200 M2 dengan anggapan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.Luas Tanah : 200 m2&lt;br /&gt;b.Luas Kolam : 125 m2&lt;br /&gt;- kolam penyimpanan induk: 9 m2- kolam induk jantan: 3m2&lt;br /&gt;- kolam induk betina: 3 m2&lt;br /&gt;- kolam pemijahan/perkawinan: 9 m2&lt;br /&gt;- kolam penetasan: 8 m2&lt;br /&gt;- kolam kecebong: 21 m2&lt;br /&gt;- kolam percil: 20 m2&lt;br /&gt;- kolam kodok dewasa: 30 m2&lt;br /&gt;- saluran air dan lainnya: 22 m2&lt;br /&gt;c.Jumlah Induk.&lt;br /&gt;- induk betina: 6 ekor, jantan: 4 ekor&lt;br /&gt;- induk yang dikawinkan: 3 betina 2 jantanr&lt;br /&gt;- telur yang dihasilkan sebanyak + 30,000 butir/pemijahan.&lt;br /&gt;d.Lama pemeliharaan: 5 bulan&lt;br /&gt;e.Frekuensi pemijahan: 3 kali / setahun&lt;br /&gt;f.Jenis makanan yang diberikan : cacing, belatung, anak ikan, cincangan bekicot, tepung dengan kadar protein + 35 %.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan perkiraan analisis usaha ekonomi budidaya kodok sebagai berikut:&lt;br /&gt;1).Modal investasi&lt;br /&gt;a.pembangunan kolam/kandang 125 m2&lt;br /&gt;Rp. 2.500.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.alat-alat dan induk&lt;br /&gt;Rp. 500.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2). Modal kerja ( operasional )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.Biaya tetap&lt;br /&gt;- penyusutan bangunan ( 8 % )&lt;br /&gt;Rp. 200.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- penyusutan peralatan ( 20 %)&lt;br /&gt;Rp. 100.000,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- bunga modal ( 18 %)&lt;br /&gt;Rp. 540.000,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- upah ( 1 orang setahun )&lt;br /&gt;Rp. 360.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Biaya variabel&lt;br /&gt;- pakan kodok 4.500 kg @ Rp. 250,-&lt;br /&gt;Rp. 1.125.000,-&lt;br /&gt;- pakan kecebong 200 kg 2 Rp. 400,-&lt;br /&gt;Rp. 80.000,-&lt;br /&gt;- perbaikan kandang ( 5% )&lt;br /&gt;Rp. 150.000,-&lt;br /&gt;- sewa tanah&lt;br /&gt;Rp. 35.000,-&lt;br /&gt;- administrasi dan pemasaran&lt;br /&gt;Rp. 200.000,-&lt;br /&gt;- lain-lain&lt;br /&gt;Rp. 292.500,-&lt;br /&gt;Jumlah modal yang dibutuhkan:&lt;br /&gt;Rp. 6.082.500,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3). Penjualan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.Produksi percil 45.000 ekor * @ Rp. 100&lt;br /&gt;Rp. 4.500.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.Produksi kodok niaga** 2 x 1.500 @ Rp. 300&lt;br /&gt;Rp. 900.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah pemasukan&lt;br /&gt;Rp. 5.400.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4).Biaya Operasional&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.Biaya tetap&lt;br /&gt;Rp. 1.200.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.Biaya variabel&lt;br /&gt;Rp. 1.882.500,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah biaya operasional&lt;br /&gt;Rp. 3.082.500,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5).Pendapatan bersih sebelum pajak&lt;br /&gt;Rp. 2.317.500,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6) Pajak 15 % Rp. 347.625,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7).Pendapatan bersih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rp. 1.969.875,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8).P V = 0,61&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9). Break event point / Balik Modal ( B.E.P )&lt;br /&gt;Rp. 1.843.317,90&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10).BC = 1,75&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11). Waktu pengembalian kredit ( PPC ) = 1.5 tahun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Gambaran Peluang Agribisnis&lt;br /&gt;Kodok merupakan komoditi ekspor nonmigas yang cukup potensial. Sejak tahun 1969 Indonesia telah mengeskpor paha kodok ke berbagai negar. Bahkan Indonesia sebagai negara pengekspor paha kodok terbesar ketiga setelah India dan Bangladesh. Kini semakin langkanya kodok di alam akibat pemburuan besar-besaran sehingga semakin berkurangnya persediaan akan daging kodok. Hal ini menuntut diadakannya budidaya kodok secara intensif untuk menghasilkan daging kodok yang masih menjadi budidaya ekspor yang dapat memberikan keuntungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: ristek.go.id&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5343438090319808433-4795854744578839405?l=budidaya-di.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://budidaya-di.blogspot.com/feeds/4795854744578839405/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2009/11/budidaya-kodok.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/4795854744578839405'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/4795854744578839405'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2009/11/budidaya-kodok.html' title='Budidaya Kodok'/><author><name>Budidaya Pertanian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02468176543501833983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5343438090319808433.post-2501746765569664467</id><published>2009-11-19T03:57:00.000-08:00</published><updated>2009-11-19T03:58:10.566-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Burung'/><title type='text'>Budidaya Burung Puyuh</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Budidaya Burung Puyuh &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BUDIDAYA BURUNG PUYUH&lt;br /&gt;Burung Puyuh merupakan jenis burung yang tidak dapat terbang, ukuran tubuh relative kecil, berkaki pendek dan dapat diadu. Burung puyuh disebut jugaGemak (Bhs.Jawa-Indonesia). Bahasa asingnya disebut "Quail", merupakan bangsaburung(liar) yang pertama kali diternakan di Amerika Serikat, tahun 1870.Dan terusdikembangkan ke penjuru dunia. Sedangkan di Indonesia puyuh mulaidikenal,dan diternak semenjak akhir tahun 1979. Kini mulai bermunculan dikandang-kandang ternak yang ada di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sentra Peternakan burung puyuh banyak terdapat di Sumatera, Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JENIS –JENIS BURUNG PUYUH:&lt;br /&gt;Kelas : Aves (Bangsa Burung)&lt;br /&gt;Ordo : Galiformes&lt;br /&gt;Sub Ordo : Phasianoidae&lt;br /&gt;Famili : Phasianidae&lt;br /&gt;Sub Famili : Phasianinae&lt;br /&gt;Genus : Coturnix&lt;br /&gt;Species : Coturnix-coturnix Japonica&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MANFAAT BURUNG PUYUH&lt;br /&gt;1) Telur dan dagingnya mempunyai nilai gizi dan rasa yang lezat&lt;br /&gt;2) Bulunya sebagai bahan aneka kerajinan atau perabot rumah tangga lainnya&lt;br /&gt;3) Kotorannya sebagai pupuk kandang ataupun kompos yang baik dapatdigunakan sebagai pupuk tanaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERSYARATAN LOKASI BUDIDAYA BURUNG PUYUH&lt;br /&gt;1) Lokasi jauh dari keramaian dan pemukiman penduduk&lt;br /&gt;2) Lokasi mempunyai strategi transportasi, terutama jalur sapronak dan jalur-jalur pemasaran&lt;br /&gt;3) Lokasi terpilih bebas dari wabah penyakit&lt;br /&gt;4) Bukan merupakan daerah sering banjir&lt;br /&gt;4) Merupakan daerah yang selalu mendapatkan sirkulasi udara yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA BURUNG PUYUH&lt;br /&gt;A.Penyiapan Sarana dan Peralatan&lt;br /&gt;1) Perkandangan&lt;br /&gt;Dalam sistem perkandangan yang perlu diperhatikan adalah temperature kandang yang ideal atau normal berkisar 20-25 derajat C; kelembaban kandang berkisar 30-80%; penerangan kandang pada siang hari cukup 25- 40 watt, sedangkan malam hari 40-60 watt (hal ini berlaku untuk cuaca mendung/musim hujan). Tata letak kandang sebaiknya diatur agar sinar matahari pagi dapat masuk kedalam kandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model kandang puyuh ada 2 (dua) macam yang biasa diterapkan yaitu sistem litter (lantai sekam) dan sistem sangkar (batere). Ukuran kandang untuk 1 m2 dapat diisi 90-100 ekor anak puyuh, selanjuntnya menjadi 60 ekor untuk umur 10 hari sampai lepas masa anakan. Terakhir menjadi 40 ekor/m2 sampai masa bertelur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun kandang yang biasa digunakan dalam budidaya burung puyuh adalah:&lt;br /&gt;a. Kandang untuk induk pembibitan&lt;br /&gt;Kandang ini berpegaruh langsung terhadap produktifitas dan kemampuan menghasilkan telur yang berkualitas. Besar atau ukuran kandang yang akan digunakan harus sesuai dengan jumlah puyuh yang akan dipelihara. Idealnya satu ekor puyuh dewasamembutuhkan luas kandang 200 m2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Kandang untuk induk petelur&lt;br /&gt;Kandang ini berfungsi sebagai kandang untuk induk pembibit. Kandang ini mempunyai bentuk, ukuran, dan keperluan peralatan yang sama.  Kepadatan kandang lebih besar tetapi bisa juga sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Kandang untuk anak puyuh/umur stater(kandang indukan)&lt;br /&gt;Kandang ini merupakan kandang bagi anak puyuh pada umur starter, yaitu mulai umur satu hari sampai dengan dua sampai tiga minggu. Kandang ini berfungsi untuk menjaga agar anak puyuh yang masih&lt;br /&gt;memerlukan pemanasan itu tetap terlindung dan mendapat panas yang sesuai dengan kebutuhan. Kandang ini perlu dilengkapi alat pemanas. Biasanya ukuran yang sering digunakan adalah lebar 100 cm, panjang 100 cm, tinggi 40 cm, dan tinggi kaki 50 cm. (cukup memuat 90-100 ekor&lt;br /&gt;anak puyuh).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Kandang untuk puyuh umur grower (3-6 minggu) dan layer (lebih dari 6 minggu)&lt;br /&gt;Bentuk, ukuran maupun peralatannya sama dengan kandang untuk induk petelur. Alas kandang biasanya berupa kawat ram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Peralatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlengkapan kandang berupa tempat makan, tempat minum, tempat bertelur dan tempat obat-obatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Penyiapan Bibit Burung Puyuh&lt;br /&gt;Yang perlu diperhatikan oleh peternak sebelum memulai usahanya, adalah memahami 3 (tiga) unsur produksi usaha perternakan yaitu bibit/pembibitan, pakan (ransum) dan pengelolaan usaha peternakan.&lt;br /&gt;Pemilihan bibit burung puyuh disesuaikan dengan tujuan pemeliharaan, ada 3 (tiga) macam tujuan pemeliharaan burung puyuh, yaitu:&lt;br /&gt;a. Untuk produksi telur konsumsi, dipilih bibit puyuh jenis ketam betina yang sehat atau bebas dari kerier penyakit.&lt;br /&gt;b. Untuk produksi daging puyuh, dipilih bibit puyuh jantan dan puyuh petelur afkiran.&lt;br /&gt;c. Untuk pembibitan atau produksi telur tetas, dipilih bibit puyuh betina yang baik produksi telurnya dan puyuh jantan yang sehat yang siap membuahi puyuh betina agar dapat menjamin telur tetas yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Pemeliharaan Burung Puyuh&lt;br /&gt;1) Sanitasi dan Tindakan Preventif&lt;br /&gt;Untuk menjaga timbulnya penyakit pada pemeliharaan puyuh kebersihan lingkungan kandang dan vaksinasi terhadap puyuh perlu dilakukan sedini mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Pengontrolan Penyakit&lt;br /&gt;Pengontrolan penyakit dilakukan setiap saat dan apabila ada tanda-tanda yang kurang sehat terhadap puyuh harus segera dilakukan pengobatan sesuai dengan petunjuk dokter hewan atau dinas peternakan setempat atau petunjuk dari Poultry Shoup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Pemberian Pakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ransum (pakan) yang dapat diberikan untuk puyuh terdiri dari beberapa bentuk, yaitu: bentuk pallet, remah-remah dan tepung. Karena puyuh yang suka usil memtuk temannya akan mempunyai kesibukan dengan mematuk-matuk pakannya. Pemberian ransum puyuh anakan diberikan 2 (dua) kali sehari pagi dan siang. Sedangkan puyuh remaja/dewasa diberikan ransum hanya satu kali sehari yaitu di pagi hari. Untuk pemberian minum pada anak puyuh pada bibitan terus-menerus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Pemberian Vaksinasi dan Obat&lt;br /&gt;Pada umur 4-7 hari puyuh di vaksinasi dengan dosis separo dari dosis untuk ayam. Vaksin dapat diberikan melalui tetes mata (intra okuler) atau air minum (peroral). Pemberian obat segera dilakukan apabila puyuh terlihat gejala-gejala sakit dengan meminta bantuan petunjuk dari PPL setempat ataupun dari toko peternakan (Poultry Shoup), yang ada di dekat Anda beternak puyuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HAMA DAN PENYAKIT BURUNG PUYUH&lt;br /&gt;1) Radang usus (Quail enteritis)&lt;br /&gt;Penyebab: bakteri anerobik yang membentuk spora dan menyerang usus, sehingga timbul pearadangan pada usus. Gejala: puyuh tampak lesu, mata tertutup, bulu kelihatan kusam, kotoran berair dan mengandung asam urat. Pengendalian: memperbaiki tata laksana pemeliharaan, serta memisashkan&lt;br /&gt;burung puyuh yang sehat dari yang telah terinfeksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Tetelo (NCD/New Casstle Diseae)&lt;br /&gt;Gejala: puyuh sulit bernafas, batuk-batuk, bersin, timbul bunyi ngorok, lesu, mata ngantuk, sayap terkulasi, kadang berdarah, tinja encer kehijauan yang spesifik adanya gejala "tortikolis"yaitu kepala memutar-mutar tidak menentu dan lumpuh. Pengendalian: (1) menjaga kebersihan lingkungan dan&lt;br /&gt;peralatan yang tercemar virus, binatang vektor penyakit tetelo, ayam yang mati segera dibakar/dibuang; (2) pisahkan ayam yang sakit, mencegah tamu masuk areal peternakan tanpa baju yang mensucihamakan/ steril serta melakukan vaksinasi NCD. Sampai sekarang belum ada obatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Berak putih (Pullorum)&lt;br /&gt;Penyebab: Kuman Salmonella pullorum dan merupakan penyakit menular. Gejala: kotoran berwarna putih, nafsu makan hilang, sesak nafas, bulu-bulu mengerut dan sayap lemah menggantung. Pengendalian: sama dengan pengendalian penyakit tetelo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Berak darah (Coccidiosis)&lt;br /&gt;Gejala: tinja berdarah dan mencret, nafsu makan kurang, sayap terkulasi, bulu kusam menggigil kedinginan. Pengendalian: (1) menjaga kebersihan lingkungaan, menjaga litter tetap kering; (2) dengan Tetra Chloine Capsule diberikan melalui mulut; Noxal, Trisula Zuco tablet dilarutkan dalam air minum atau sulfaqui moxaline, amprolium, cxaldayocox&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5) Cacar Unggas (Fowl Pox)&lt;br /&gt;Penyebab: Poxvirus, menyerang bangsa unggas dari semua umur dan jenis kelamin. Gejala: imbulnya keropeng-keropeng pada kulit yang tidak berbulu, seperti pial, kaki, mulut dan farink yang apabila dilepaskan akan mengeluarkan darah. Pengendalian: vaksin dipteria dan mengisolasi kandang atau puyuh yang terinfksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6) Quail Bronchitis&lt;br /&gt;Penyebab: Quail bronchitis virus (adenovirus) yang bersifat sangat menular. Gejala: puyuh kelihatan lesu, bulu kusam, gemetar, sulit bernafas, batuk dan bersi, mata dan hidung kadang-kadang mengeluarkan lendir serta kadangkala kepala dan leher agak terpuntir. Pengendalian: pemberian&lt;br /&gt;pakan yang bergizi dengan sanitasi yang memadai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7) Aspergillosis&lt;br /&gt;Penyebab: cendawan Aspergillus fumigatus. Gejala: Puyuh mengalami gangguan pernafasan, mata terbentuk lapisan putih menyerupai keju, mengantuk, nafsu makan berkurang. Pengendalian: memperbaiki sanitasi kandang dan lingkungan sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8) Cacingan&lt;br /&gt;Penyebab: sanitasi yang buruk. Gejala: puyuh tampak kurus, lesu dan lemah. Pengendalian: menjaga kebersihan kandang dan pemberian pakan yang terjaga kebersihannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PANEN BURUNG PUYUH&lt;br /&gt;A.Hasil Utama&lt;br /&gt;Pada usaha pemeliharaan puyuh petelur, yang menjadi hasil utamanya adalah produksi telurnya yang dipanen setiap hari selama masa produksi berlangsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Hasil Tambahan&lt;br /&gt;Sedangkan yang merupakan hasil tambahan antara lain berupa daging afkiran, tinja dan bulu puyuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PASCA PANEN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A..Analisis Usaha Budidaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Investasi&lt;br /&gt;a. kandang ukuran 9 x 0,6 x 1,9 m&lt;br /&gt;(1 jalur + tempat makan dan minum) Rp. 2.320.000,-&lt;br /&gt;b. kandang besar Rp. 1.450.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Biaya pemeliharaan (untuk umur 0-2 bulan)&lt;br /&gt;a. ay Old Quail (DOQ) x Rp 798 (Harga DOQ) Rp. 1.596.000,-&lt;br /&gt;b. Obat (Vitamin + Vaksin) Rp. 145.000,-&lt;br /&gt;c. Pakan (selama 60 hari) Rp. 2.981.200,-&lt;br /&gt;Jumlah biaya produksi Rp. 4.722.200,-&lt;br /&gt;Keadaan puyuh:&lt;br /&gt;- Jumlah anak 2000 ekor (jantan dan betina)&lt;br /&gt;- Resiko mati 5%, sisa 1900&lt;br /&gt;- Resiko kelamin 15% jantan, 85% betina (285 jantan, 1615 betina)&lt;br /&gt;- Setelah 2 bulan harga puyuh bibit Rp 3.625,- betina dan Rp 725 jantan&lt;br /&gt;- Penjualan puyuh bibit umur 2 bulan Rp. 4.408.000,-&lt;br /&gt;Minus Rp. -314.200,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Biaya pemeliharaan (0-4 bulan)&lt;br /&gt;- 200 DOQ x Rp 798,- Rp. 159.600,-&lt;br /&gt;- Obat (vitamin dan Vaksinasi) Rp. 290.000,-&lt;br /&gt;- Pakan (sampai dengan umur 3 minggu) Rp. 2.459.925,-&lt;br /&gt;Pakan (s/d minggu ke 4) betina&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1615 ekor dan 71 ekor jantan (25% jantan layak bibit) Rp. 5.264.051,-&lt;br /&gt;Jumlah biaya produksi Rp. 8.173.576,-&lt;br /&gt;Keadaan puyuh:&lt;br /&gt;- Mulai umur 1,5 bulan puyuh bertelur setiap hari rata-rata 85%, jumlah telur&lt;br /&gt;1373 butir&lt;br /&gt;- Hasil telur 75 hari x 1373 x Rp 75,- Rp. 7.723.125,-&lt;br /&gt;- Puyuh betina bibit 1615 ekor @ Rp 3.625,- Rp. 5.854.375,-&lt;br /&gt;- Puyuh jantan bibit 75 ekor @ Rp 798,- Rp. 59.850,-&lt;br /&gt;- Puyuh jantan afkiran 214 ekor @ Rp 725,- Rp. 155.150,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Keuntungan dari hasil penjualan Rp. 5.618.924,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5) Biaya pemeliharaan (sampai umur 8 bulan)&lt;br /&gt;a. Biaya untuk umur 4-8 bulan Rp. 1.625.137,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6) Pendapatan&lt;br /&gt;a. Hasil telur (0,5 bulan) 195 x 1373 x Rp 75,- Rp. 20.080.125,-&lt;br /&gt;b. Hasil puyuh afkir 1615 ekor @ Rp 798,- Rp. 1.288.770,-&lt;br /&gt;c. Hasil jantan afkir 71 ekor @ Rp 725,- Rp. 51.475,-&lt;br /&gt;d. Hasil jantan afkir (2 bln) 214 ekor @ Rp 725,- Rp. 155.150,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7) Keuntungan beternak puyuh petelur dan afkiran jual Rp. 10.950.113,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber Bacaan Tentang Budidaya Burung Puyuh:   ristek.go.id&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5343438090319808433-2501746765569664467?l=budidaya-di.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://budidaya-di.blogspot.com/feeds/2501746765569664467/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2009/11/budidaya-burung-puyuh.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/2501746765569664467'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/2501746765569664467'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2009/11/budidaya-burung-puyuh.html' title='Budidaya Burung Puyuh'/><author><name>Budidaya Pertanian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02468176543501833983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5343438090319808433.post-5808367973854556227</id><published>2009-11-18T04:52:00.001-08:00</published><updated>2009-11-18T04:52:34.217-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Kecipir'/><title type='text'>Budidaya Kecipir</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Budidaya Kecipir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deskripsi&lt;br /&gt;Kecipir (Psophocarpus tetragonolobus (L.) D.C.) adalah tumbuhan merambat polong mudanya dimanfaatkan sebagai sayuran. Kecipir berasal dari Indonesia bagian timur. Di Sumatera dikenal sebagai kacang botol atau kacang belingbing. Nama lainnya adalah jaat (bahasa Sunda), kelongkang (bahasa Bali), serta biraro (Ternate).&lt;br /&gt;Tumbuhannya merambat, membentuk semak. Dalam budidaya biasanya diberi penyangga, namun jika dibiarkan akan menutupi permukaan tanah. Batangnya silindris, beruas-ruas, jarang mengayu. Daun majemuk dengan anak daun tiga berbentuk segitiga, panjang 7,0-8,5cm, pertulangan menyirip, letak berselang-seling, warna hijau. Bunganya tunggal, tipe kupu-kupu, tumbuh dari ketiak daun, kelopaknya biasanya berwarna biru pucat, dapat dipakai sebagai pewarna makanan. Buah tipe polong, memanjang, berbentuk segiempat dengan sudut beringgit, panjang sekitar 30cm, berwarna hijau waktu muda dan menjadi hitam dan kering bila tua. Bijinya bulat dengan diameter 8-10mm, berwarna coklat hingga hitam. Kandungan protein biji menyamai kedelai (30-39%)&lt;br /&gt;Kecipir tergolong tumbuhan penutup tanah dan pupuk hijau efektif karena pertumbuhannya sangat cepat dan termasuk sebagai pengikat nitrogen dari udara yang paling baik. Dalam budidaya, tidak diperlukan sama sekali pemupukan N.&lt;br /&gt;Secara fisiologi, kecipir sangat sensitif dengan frost. Selain itu, ia adalah tumbuhan hari pendek, hanya berbunga jika panjang hari kurang dari masa kritis (untuk kecipir 12 jam). Bijinya tertutup cangkang keras, sehingga kadang-kadang diperlukan perendaman untuk mempercepat perkecambahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayuran kecipir (Psophocarpus tetragonolobus) memiliki penampilan khas. Buahnya berpolong dengan 4 siku yang bersayap atau bergelombang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manfaat Kecipir&lt;br /&gt;Kegunaannya cukup banyak. Buah mudanya kerap dijadikan sayur. Buah tuanya dapat diambil bijinya untuk diolah menjadi minyak. Bagian lain yang belum banyak dimanfaatkan orang adalah umbinya. Umbi ini enak dimakan. Hasil penelitia menunjukkan kandungan protein pada umbi cukup tinggi. Di negara kita kecipir lebih banyak diusahakan untuk diambil buah mudanya. Padahal di luar negeri, contohnya Ghana, kecipir diusahakan khusus untuk diambil bijinya yang sudah tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat Tumbuh&lt;br /&gt;Kecipir cocok ditanam di negara kita. Daerah dataran rendah hingga dataran tinggi (sampai ketinggian 1.600 m dpl) dapat ditanami. Jenis tanah tak menjadi masalah. Kecipir bisa hidup di tanah dengan bahan organik rendah, lempung, berpasir, maupun tanah kering. Daya tahan kecipir terhadap kekeringan juga baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pedoman Budidaya Kecipir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benih Biji kecipir yang akan dijadikan benih diambil dari buah polong yang tua. Biarkan polong ini hingga benar-benar matang (kering) di batangnya. Polong yang baik untuk benih adalah yang panjangnya 15--20 cm. Bentuk buah normal, tidak terkena hama-penyakit, dan buah kelihatan kompak. Setelah dikeringkan pilihlah biji-biji yang baik. Syaratnya ukuran biji normal, seragam, padat berisi, tidak keriput, tua, dan sehat. Jumlah benih yang dibutuhkan untuk penanaman satu hektar lahan ialah antara 10-15 kg. 4. Penanaman Lakukan pengolahan tanah terlebih dahulu. Setelah gembur dan diberi pupuk kandang, lahan dibuat menjadi guludan-guludan. Lebar guludan 20 cm dan panjangnya 2-4 m atau sesuai dengan panjang lahan yang hendak ditanami. Antarguludan dibuat parit kecil. Jarak antar guludan bisa dikira-kira. Tak perlu lebar asal bisa dilewati manusia saja. Setiap guludan nantinya hanya dibuat menjadi satu baris tanaman. Oleh karena itu, lubang tanam dibuat dengan tugal. Jaraknya 25-35 cm dengan posisi di tengah-tengah guludan. Masukkan 2-3 biji ke setiap lubang Waktu yang tepat untuk menanam kecipir ialah di awal musim hujan. Namun, bila terpaksa akhir musim hujan juga dapat dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEMELIHARAAN&lt;br /&gt;Penyiraman dilakukan hanya apabila diperlukan. Seperti telah disebutkan di atas, tanaman kecipir cukup toleran terhadap kekeringan. Tanaman muda meskipun juga toleran sebaiknya disiram bila terlihat kekeringan. Gulma yang tumbuh dicabut. Bila rumput hanya sedikit, penyiangan bisa dilakukan 2 minggu sekali. Di musim hujan sdat gulma tumbuh pesat, penyiangan lebih sering dilakukan. Sambil disiangi, tanah juga digemburkan. Setelah tanaman cukup besar atau setinggi 10 cm, siapkan bambu untuk ajir. Bambu dibelah menjadi beberapa bagian. Panjangnya sekitar 1,5-2 m. Tancapkan bambu di tanah dan ikatkan batang kecipir agar merambat ke bambu. Tidak seperti tanaman sayur lainnya yang dicabut seusai panen karena tak produktif lagi, kecipir bisa diremajakan: Pangkas batang hingga keringgian 30 cm dari atas tanah. Biarkan tunas tumbuh dan rawat dengan baik. Tunas ini akan mampu berproduksi dengan baik kembali. Peremajaan pada pohon kecipir bisa dilakukan sampai 2 kali. Setelah itu sebaiknya tanaman dicabut hingga ke akar-akarnya dan diganti dengan tanaman baru. Pemupukan Saat pengolahan tanah tambahkan pupuk kandang sebanyak 10 ton/ ha. Selain itu tambahkan Urea 100 kg, TSP 150 kg, dan KCl 150 kg per hektar. Pemberian pupuk Urea dan TSP dilakukan 2 kali. Pertama saat tanam dan kedua kali saat tanaman berumur sekitar 3 minggu. KCl diberikan sekaligus pada saat tanam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HAMA DAN PENYAKIT Kecipir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hama yang menyerang kecipir antara lain jenis ulat keket (Chrydeixis chalsites atau Plusia ehaleites). Bagian yang dirusaknya tak hanya daun, melainkan juga bunga dan buah. Bila menyerang daun, yang tersisa hanya tulang daunnya saja. Sedangkan bunga dan buah yang terserang menjadi tidak normal pertumbuhannya. Pengendalian hama ini dengan penyemprotan Sumicidin 50 EC dengan dosis 1-1,5 cc/1 air. Penyakit yang bisa merusak pertanaman kecipir disebabkan oleh cendawan Worunella psophocarpi. Akibatnya buah menjadi tceriput, meringkel, dan ada bagian yang bengkak yang mengandung air. Buah menjadi mudah patah. Bila pucuk tanaman yang terserang, pembentukan bunga akan terganggu. Hasil buah juga akan sangat berkurang. Berantaslah penyakit ini dengan fungisida Dithane M-45 sesuai dosis yang tertera pada kemasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PANEN DAN PASCA PANEN&lt;br /&gt;Setelah 9-12 minggu dari saat tanam, kecipir bisa mulai dipanen. Dari saat bunga keluar hanya butuh waktu 2 minggu untuk menghasilkan polong muda yang enak dikonsumsi. Panen dapat dilakukan secara rutin seminggu sekali karena bunga kecipir tumbuh terus-menerus. Panen bisa berlangsung terus sampai umur 5 bulan. Selanjutnya tanaman diremajakan. Dalam satu hektar lahan, dapat dihasilkan buah kecipir sebanyak 35 ton lebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5343438090319808433-5808367973854556227?l=budidaya-di.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://budidaya-di.blogspot.com/feeds/5808367973854556227/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2009/11/budidaya-kecipir.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/5808367973854556227'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/5808367973854556227'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2009/11/budidaya-kecipir.html' title='Budidaya Kecipir'/><author><name>Budidaya Pertanian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02468176543501833983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5343438090319808433.post-3640588781236850968</id><published>2009-11-18T04:51:00.000-08:00</published><updated>2009-11-18T04:52:02.703-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Kacang'/><title type='text'>TANAMAN KEDELAI</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;TANAMAN KEDELAI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedelai adalah salah satu tanaman polong-polongan yang menjadi bahan dasar banyak makanan dari Asia Timur seperti kecap, tahu, dan tempe. Berdasarkan peninggalan arkeologi, tanaman ini telah dibudidayakan sejak 3500 tahun yang lalu di Asia Timur. Kedelai putih diperkenalkan ke Nusantara oleh pendatang dari Cina sejak maraknya perdagangan dengan Tiongkok, sementara kedelai hitam sudah dikenal lama orang penduduk setempat. Kedelai merupakan sumber utama protein nabati dan minyak nabati dunia.&lt;br /&gt;Kedelai yang dibudidayakan sebenarnya terdiri dari paling tidak dua spesies: Glycine max (disebut kedelai putih, yang bijinya bisa berwarna kuning, agak putih, atau hijau) dan Glycine soja (kedelai hitam, berbiji hitam). G. max merupakan tanaman asli daerah Asia subtropik seperti RRC dan Jepang selatan, sementara G. soja merupakan tanaman asli Asia tropis di Asia Tenggara. Tanaman ini telah menyebar ke Jepang, Korea, Asia Tenggara dan Indonesia. Kedelai dibudidayakan di lahan sawah maupun lahan kering (ladang). Penanaman biasanya dilakukan pada akhir musim penghujan, setelah panen padi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedelai dikenal dengan berbagai nama: sojaboom, soja, soja bohne, soybean, kedele, kacang ramang, kacang bulu, kacang gimbol, retak mejong, kaceng bulu, kacang jepun, dekenana, demekun, dele, kadele, kadang jepun, lebui bawak, lawui, sarupapa tiak, dole, kadule, puwe mon, dan gadelei. Berbagai nama ini menunjukkan bahwa kedelai telah lama dikenal di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedelai merupakan terna dikotil semusim dengan percabangan sedikit, sistem perakaran akar tunggang, dan batang berkambium. Kedelai dapat berubah penampilan menjadi tumbuhan setengah merambat dalam keadaan pencahayaan rendah. Kedelai, khususnya kedelai putih dari daerah subtropik, juga merupakan tanaman hari-pendek dengan waktu kritis rata-rata 13 jam. Ia akan segera berbunga apabila pada masa siap berbunga panjang hari kurang dari 13 jam. Ini menjelaskan rendahnya produksi di daerah tropika, karena tanaman terlalu dini berbunga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERAKARAN&lt;br /&gt;Tanaman kedelai mempunyai akar tunggang yang membentuk akar-akar cabang yang tumbuh menyamping (horizontal) tidak jauh dari permukaan tanah. Jika kelembapan tanah turun, akar akan berkembang lebih ke dalam agar dapat menyerap unsur hara dan air. Pertumbuhan ke samping dapat mencapai jarak 40 cm, dengan kedalaman hingga 120 cm. Selain berfungsi sebagai tempat bertumpunya tanaman dan alat pengangkut air maupun unsur hara, akar tanaman kedelai juga merupakan tempat terbentuknya bintil-bintil akar. Bintil akar tersebut berupa koloni dari bakteri pengikat nitrogen Bradyrhizobium japonicum yang bersimbiosis secara mutualis dengan kedelai. Pada tanah yang telah mengandung bakteri ini, bintil akar mulai terbentuk sekitar 15 – 20 hari setelah tanam. Bakteri bintil akar dapat mengikat nitrogen langsung dari udara dalam bentuk gas N2 yang kemudian dapat digunakan oleh kedelai setelah dioksidasi menjadi nitrat (NO3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BATANG&lt;br /&gt;Kedelai berbatang dengan tinggi 30–100 cm. Batang dapat membentuk 3 – 6 cabang, tetapi bila jarak antar tanaman rapat, cabang menjadi berkurang, atau tidak bercabang sama sekali. Tipe pertumbuhan batang dapat dibedakan menjadi terbatas (determinate), tidak terbatas (indeterminate), dan setengah terbatas (semi-indeterminate). Tipe terbatas memiliki ciri khas berbunga serentak dan mengakhiri pertumbuhan meninggi. Tanaman pendek sampai sedang, ujung batang hampir sama besar dengan batang bagian tengah, daun teratas sama besar dengan daun batang tengah. Tipe tidak terbatas memiliki ciri berbunga secara bertahap dari bawah ke atas dan tumbuhan terus tumbuh. Tanaman berpostur sedang sampai tinggi, ujung batang lebih kecil dari bagian tengah. Tipe setengah terbatas memiliki karakteristik antara kedua tipe lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAUN&lt;br /&gt;Pada buku (nodus) pertama tanaman yang tumbuh dari biji terbentuk sepasang daun tunggal. Selanjutnya, pada semua buku di atasnya terbentuk daun majemuk selalu dengan tiga helai. Helai daun tunggal memiliki tangkai pendek dan daun bertiga mempunyai tangkai agak panjang. Masing-masing daun berbentuk oval, tipis, dan berwarna hijau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BUNGA&lt;br /&gt;Bunga kedelai termasuk bunga sempurna yaitu setiap bunga mempunyai alat jantan dan alat betina. Penyerbukan terjadi pada saat mahkota bunga masih menutup sehingga kemungkinan kawin silang alami amat kecil. Bunga terletak pada ruas-ruas batang, berwarna ungu atau putih. Tidak semua bunga dapat menjadi polong walaupun telah terjadi penyerbukan secara sempurna. Sekitar 60% bunga rontok sebelum membentuk polong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BUAH&lt;br /&gt;Buah kedelai berbentuk polong. Setiap tanaman mampu menghasilkan 100 – 250 polong. Polong kedelai berbulu dan berwarna kuning kecoklatan atau abu-abu. Selama proses pematangan buah, polong yang mula-mula berwarna hijau akan berubah menjadi kehitaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BIJI&lt;br /&gt;Biji kedelai berkeping dua, terbungkus kulit biji dan tidak mengandung jaringan endospperma. Embrio terletak diantara keping biji. Warna kulit biji kuning, hitam, hijau, coklat. Pusar biji (hilum) adalah jaringan bekas biji melekat pada dinding buah. Bentuk biji kedelai umunya bulat lonjong tetapai ada pula yang bundar atau bulat agak pipih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5343438090319808433-3640588781236850968?l=budidaya-di.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://budidaya-di.blogspot.com/feeds/3640588781236850968/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2009/11/tanaman-kedelai.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/3640588781236850968'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/3640588781236850968'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2009/11/tanaman-kedelai.html' title='TANAMAN KEDELAI'/><author><name>Budidaya Pertanian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02468176543501833983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5343438090319808433.post-6131872948266964853</id><published>2009-11-18T04:50:00.002-08:00</published><updated>2009-11-18T04:51:21.012-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Jagung'/><title type='text'>Jagung</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jagung&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu tanaman pangan dunia yang terpenting, selain gandum dan padi. Sebagai sumber karbohidrat utama di Amerika Tengah dan Selatan, jagung juga menjadi alternatif sumber pangan di Amerika Serikat. Penduduk beberapa daerah di Indonesia (misalnya di Madura dan Nusa Tenggara) juga menggunakan jagung sebagai pangan pokok. Selain sebagai sumber karbohidrat, jagung juga ditanam sebagai pakan ternak (hijauan maupun tongkolnya), diambil minyaknya (dari biji), dibuat tepung (dari biji, dikenal dengan istilah tepung jagung atau maizena), dan bahan baku industri (dari tepung biji dan tepung tongkolnya). Tongkol jagung kaya akan pentosa, yang dipakai sebagai bahan baku pembuatan furfural. Jagung yang telah direkayasa genetika juga sekarang ditanam sebagai penghasil bahan farmasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan bukti genetik, antropologi, dan arkeologi diketahui bahwa daerah asal jagung adalah Amerika Tengah (Meksiko bagian selatan). Budidaya jagung telah dilakukan di daerah ini 10.000 tahun yang lalu, lalu teknologi ini dibawa ke Amerika Selatan (Ekuador) sekitar 7000 tahun yang lalu, dan mencapai daerah pegunungan di selatan Peru pada 4000 tahun yang lalu[1]. Kajian filogenetik menunjukkan bahwa jagung (Zea mays ssp. mays) merupakan keturunan langsung dari teosinte (Zea mays ssp. parviglumis). Dalam proses domestikasinya, yang berlangsung paling tidak 7000 tahun oleh penduduk asli setempat, masuk gen-gen dari subspesies lain, terutama Zea mays ssp. mexicana. Istilah teosinte sebenarnya digunakan untuk menggambarkan semua spesies dalam genus Zea, kecuali Zea mays ssp. mays. Proses domestikasi menjadikan jagung merupakan satu-satunya spesies tumbuhan yang tidak dapat hidup secara liar di alam. Hingga kini dikenal 50.000 varietas jagung, baik ras lokal maupun kultivar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jagung merupakan tanaman semusim (annual). Satu siklus hidupnya diselesaikan dalam 80-150 hari. Paruh pertama dari siklus merupakan tahap pertumbuhan vegetatif dan paruh kedua untuk tahap pertumbuhan generatif.&lt;br /&gt;Tinggi tanaman jagung sangat bervariasi. Meskipun tanaman jagung umumnya berketinggian antara 1m sampai 3m, ada varietas yang dapat mencapai tinggi 6m. Tinggi tanaman biasa diukur dari permukaan tanah hingga ruas teratas sebelum bunga jantan. Meskipun beberapa varietas dapat menghasilkan anakan (seperti padi), pada umumnya jagung tidak memiliki kemampuan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akar jagung tergolong akar serabut yang dapat mencapai kedalaman 8 m meskipun sebagian besar berada pada kisaran 2 m. Pada tanaman yang sudah cukup dewasa muncul akar adventif dari buku-buku batang bagian bawah yang membantu menyangga tegaknya tanaman.&lt;br /&gt;Batang jagung tegak dan mudah terlihat, sebagaimana sorgum dan tebu, namun tidak seperti padi atau gandum. Terdapat mutan yang batangnya tidak tumbuh pesat sehingga tanaman berbentuk roset. Batang beruas-ruas. Ruas terbungkus pelepah daun yang muncul dari buku. Batang jagung cukup kokoh namun tidak banyak mengandung lignin.&lt;br /&gt;Daun jagung adalah daun sempurna. Bentuknya memanjang. Antara pelepah dan helai daun terdapat ligula. Tulang daun sejajar dengan ibu tulang daun. Permukaan daun ada yang licin dan ada yang berambut. Stoma pada daun jagung berbentuk halter, yang khas dimiliki familia Poaceae. Setiap stoma dikelilingi sel-sel epidermis berbentuk kipas. Struktur ini berperan penting dalam respon tanaman menanggapi defisit air pada sel-sel daun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jagung memiliki bunga jantan dan bunga betina yang terpisah (diklin) dalam satu tanaman (monoecious). Tiap kuntum bunga memiliki struktur khas bunga dari suku Poaceae, yang disebut floret. Pada jagung, dua floret dibatasi oleh sepasang glumae (tunggal: gluma). Bunga jantan tumbuh di bagian puncak tanaman, berupa karangan bunga (inflorescence). Serbuk sari berwarna kuning dan beraroma khas. Bunga betina tersusun dalam tongkol. Tongkol tumbuh dari buku, di antara batang dan pelepah daun. Pada umumnya, satu tanaman hanya dapat menghasilkan satu tongkol produktif meskipun memiliki sejumlah bunga betina. Beberapa varietas unggul dapat menghasilkan lebih dari satu tongkol produktif, dan disebut sebagai varietas prolifik. Bunga jantan jagung cenderung siap untuk penyerbukan 2-5 hari lebih dini daripada bunga betinanya (protandri).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biji jagung kaya akan karbohidrat. Sebagian besar berada pada endospermium. Kandungan karbohidrat dapat mencapai 80% dari seluruh bahan kering biji. Karbohidrat dalam bentuk pati umumnya berupa campuran amilosa dan amilopektin. Pada jagung ketan, sebagian besar atau seluruh patinya merupakan amilopektin. Perbedaan ini tidak banyak berpengaruh pada kandungan gizi, tetapi lebih berarti dalam pengolahan sebagai bahan pangan. Jagung manis tidak mampu memproduksi pati sehingga bijinya terasa lebih manis ketika masih muda.&lt;br /&gt;Sumber: wikipedia.com&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5343438090319808433-6131872948266964853?l=budidaya-di.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://budidaya-di.blogspot.com/feeds/6131872948266964853/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2009/11/jagung.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/6131872948266964853'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/6131872948266964853'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2009/11/jagung.html' title='Jagung'/><author><name>Budidaya Pertanian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02468176543501833983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5343438090319808433.post-4683074381607811609</id><published>2009-11-18T04:50:00.001-08:00</published><updated>2009-11-18T04:50:41.216-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Kacang'/><title type='text'>Kacang tanah</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kacang tanah &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kacang tanah (Arachis hypogaea L.) merupakan tanaman polong-polongan atau legum kedua terpenting setelah kedelai di Indonesia. Tanaman ini berasal dari Amerika Selatan namun saat ini telah menyebar ke seluruh dunia yang beriklim tropis atau subtropis. Republik Rakyat Cina dan India merupakan penghasil kacang tanah terbesar dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai tanaman budidaya, kacang tanah terutama dipanen bijinya yang kaya protein dan lemak. Biji ini dapat dimakan mentah, direbus (di dalam polongnya), digoreng, atau disangrai. Di Amerika Serikat, biji kacang tanah diproses menjadi semacam selai dan merupakan industri pangan yang menguntungkan. Produksi minyak kacang tanah mencapai sekitar 10% pasaran minyak masak dunia pada tahun 2003 menurut FAO. Selain dipanen biji atau polongnya, kacang tanah juga dipanen hijauannya (daun dan batang) untuk makanan ternak atau merupakan pupuk hijau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kacang tanah budidaya dibagi menjadi dua tipe: tipe tegak dan tipe menjalar. Tipe menjalar lebih disukai karena memiliki potensi hasil lebih tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanaman ini adalah satu di antara dua jenis tanaman budidaya (yang lainnya adalah "kacang bogor", Voandziea subterranea) yang buahnya mengalami pemasakan di bawah permukaan tanah. Jika buah yang masih muda terkena cahaya, proses pematangan biji terganggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5343438090319808433-4683074381607811609?l=budidaya-di.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://budidaya-di.blogspot.com/feeds/4683074381607811609/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2009/11/kacang-tanah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/4683074381607811609'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/4683074381607811609'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2009/11/kacang-tanah.html' title='Kacang tanah'/><author><name>Budidaya Pertanian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02468176543501833983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5343438090319808433.post-5390768777627743804</id><published>2009-11-15T21:22:00.000-08:00</published><updated>2009-11-15T21:23:22.339-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Lada'/><title type='text'>Budidaya Lada Dengan Tiang Panjat</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Budidaya Lada Dengan Tiang Panjat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembudidayaan lada dengan tiang panjat memerlukan tahapan kegiatan antara lain, persiapan lahan, penanaman, pemupukan,  dan perawatan. Tahapan kegiatan tersebut merupakan teknis budidaya yang harus dilakukan dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;A.PERSIAPAN LAHAN TANAMAN LADA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Teknis persiapan lahan untuk pembudidayaan lada berbeda-beda sesuai topografi dan jenis tanah. Bahkan pembukaan lahan baru dan peremajaan tanaman berbeda cara persiapan lahannya. Tahap-tahap persiapan lahan:&lt;br /&gt;1.Pembersihan Lahan&lt;br /&gt;Pembersihan lahan merupakan kegiatan awal dalam pengolahan tanah. Biasanya pada lahan bukaan baru sering ditumbuhi oleh segala jenis gulma, semak, dan pepohonan. Oleh karena itu, semak, gulma, dan pepohonan ini harus disingkirkan. Kegiatan ini dilakukan saat musim kemarau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk lahan yang ditumbuhi alang-alang dan pepohonan kecil, kegiatan pembersihan bukan hanya menebang pohon dan alang-alang, tetapi juga pembuangan tunggulnya. Namun bila lahan hanya ditumbuhi alang-alang, selain secara manual, cara kimiawi pun dapat dilakukan, yaitu dengan penyemprotan herbisida sistematik. Cara ini dilakukan bila vegetasi alang-alang cukup luas. Untuk lahan yang ditumbuhi hutan sekunder, pepohonan dibersihkan dengan cara ditebang, dibongkar tunggulnya, lalu dibakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Pengolahan Tanah Pertama.&lt;br /&gt;Setelah bersih dari gulma, semak dan pepohonan, tanah dioalah dengan cara dicangkul, ditraktor, atau dibajak sesuai kondisi lahan. Lahan bervegetasi alang-alang dan pepohonan kecil diolah dua kali dalam waktu sebulan. Sementara lahan bervegetasi hutan sekunder diolah tiga kali dalam waktu satu bulan. Setelah diolah tanah dibiarkan selama dua minggu lalu digaru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah diolah, tanah diratakan dan dibagi menjadi beberapa petakan, misalnya beruuran 5m x 5m. Petakan dibuat supaya pengelolaan tanaman menjadi lebih mudah. Pembentukan petakan harus memperhatikan garis tinggi (kontur) dan kemiringan lahan. Derajat kemiringan tanah optimum untuk dibuatkan petakan adalag 15 derajat Celcius. Setiap petakan dilingkari oleh jalan dengan lebar sekitar satu meter.  Selain jalan, perlu juga dibuat parit untuk drainase dengan kedalaman 60 cm dan lebar 40 cm. Parit berfungsi untuk mencegah terjadinya genangan dan memudahkan peresapan air kedalam tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada lahan dengan kemiringan lebih dari 15 derajat, perlu dibentuk teras. Teras dibuat untuk mencegah terjadinya erosi. Lebar teras disesuaikan dengan kemiringan lahan. Pada umumnya teras dibuat selebar 200 cm tegantung topografi lahanya. Ada dua jenis teras yang dapat dibuat, yaitu teras individu dan  teras  bersambung. Teras individu dibuat pada lahan lereng dengan ukuran 2m x 2m dan dibuat miring kearah berlawanan dengan arah kemiringan lereng. Sementara teras bersambung dibuat bersambung sesuai garis kontur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain dibuat teras, pada lahan kering juga harus dibuat lubang-lubang penampung air (rorakan) dibawah teras. Fungsi rorakan ini adalah untuk menampung air, memudahkan air hujan meresap kedalam tanah, menghindarkan genangan air, dan mencegah erosi. Rorakan dibuat setiap 12-24 cm dengan panjang 2 – 4 m, lebar 20 cm dan kedalaman 20 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 3.Pengolahan Tanah Kedua&lt;br /&gt;Setelah dibuat petakan atau teras, tanah perlu diolah kembali sebelum dibuat lubang tanam. Pengolahan tanah kedua ini dilakukan  dengan mempertimbangkan bentuk perakaran tanaman lada. Lada tidak berakar tunggang, tetapi dapat masuk kedalam tanah hingga 1-2 meter. Oleh karena itu   pengolahan tanah tidak perlu terlalu dalam, cukup dilakukan pada tanah bagian atas. Yaitu pada ketebalan 30-35 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengolahan tanah diawali dengan pencangkulan lapisan tanah atas sedalam satu cangkulan dan lebar. Tanah ini disisihkan kesamping, Lalu tanah lapisan berikutnya dicangkul hingga menjadi cerul atau gembur. Setelah gembur, masukan pupuk organik atau pupuk dasar berupa fosfat alam. Fosfat alam berfungsi menyediakan zat fosfat dalam jangka panjang dan memperbaiki kemasaman tanah. Setelah itu, tanah lapisan pertama dikembalikan keatas tanah lapisan kedua.Dengan cara inimaka lapisan top soil akan kaya bahan organic, cukup mengandung zat fosfat, gembur, tidak mengalami erosi, tidak mudah tergenang air dan tingkat kemasaman tanah menjadi lebih baik.Kondisi ini akan sangat menguntungkan bagi pertumbuhan tanaman lada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.Pembuatan Bedengan&lt;br /&gt;Setelah tanah diolah, lahan dibuat bedengan.Bedengan ini hanya dibuat pada tanah datar atau agak miring. Sementara pada tanah miring tidak perlu dibuat bedengan karena sudahberupa teras. Bedengan dibentuk dengan cara dibuat guludan-guludan. Jarak antar guludan sekitar 2 m dengan kedalaman sekitar 30 cm. Guludan juga berfungsi sebagai saluran pembuangan air. Dengan adanya guludan maka akan terbentuk bedengan-bedengan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.Pembuatan Lubang Tanam&lt;br /&gt;Lubang tanam dibuat ditengah bedengan. Ukuran lubang tanam bagian atas 35 cm x 35 cm hingga 40 cm x 40 cm. Sementara bagian bawah lubang menyempit. Jarak antar lubang tanam tergantung jenis panjat. Apabila panjat berupa tanaman hidup, jarak antar lubang 2,5 – 3,5 cm sesuai kesuburan lahan.Sementara bila panjat berupa kayu gelondongan , kayu ulin, atau tiang beton, jarak antar lubang cukup 2 m. Setelah lubang dibuat, campur tanah hasil galian dengan pupuk kandang. Lalu, campurkan tanah hasil galian dengan pupuk kandang. Lalu, campuran tanah ini ditimbun dalam lubang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;B.PERSIAPAN PANJAT TANAMAN LADA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ada dua jenis panjat tanaman lada, yaitu panjat hidup dan panjat mati. Masing-masing panjat memiliki keuntungan dan kerugian tersendiri, disini saya hanya membahas tentang panjat hidup saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Panjat Hidup Lada&lt;br /&gt;Panjat hidup berupa tanaman yang digunakan untuk memanjatkan tanaman lada. Panjatan hidup dapat ditanam beberapa bulan lada atau bersamaan dengan penanaman lada. Ada beberapa jenis tanaman yang dapat digunakan sebagai panjatan, diantaranya dadap, lamtoro gung, kapok, dan kalikiria. Selain itu , ada juga yang menggunakan tanaman buah-buahan sehingga ada hasil tambahan dari panjatan hidup tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dadap merupakan panjatan hidup yang paling disukai petani lada, terutama petani kecil. Alasanya karena pertumbuhannya tergolong cepat, mudah diperoleh, murah, dan dapat ditanam bersamaan penanamannya dengan penanaman bibit lada. Lamtoro gung memang belum banyak digunakan sebagai panjat tanaman lada. Namun, karena pertumbuhannya cepat dan kondisi tanamannya yang kuat maka lamtoro gung dapat dipertimbangkan sebagai panjatan. Aapalagi lamtoro gung menghasilkan daun yang cukup banyak dan dapat dimanfaatkan sebagai mulsa tanaman lada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapok juga dapat digunakan sebagai panjatan karena perakarannya kuat. Hanya saja, karena perakarannya sangat kuat maka dikhawatirkan dapat mengganggu pertumbuhan lada. Kalikiria merupakan tanaman pagar hidup yang banyak dimanfaatkan sebagai penahan angin. Tanaman ini mudah membentuk batang pokok ganda maupun tunggal.Daun dan cabangnya udah dipangkas untuk memperkaya nitrogen tanah dan bahan organik. Pertumbuhan kalikiria sangat cepat dan dengan mudah ditanam dari stump biasa sepanjang sekitar satu meter, dengan diameter 3-5 cm. Oleh karena akar lateralnya cukup tebal  maka dikhawatirkan akan mudah terjadi persaingan pertumbuhan akar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;C.PENAMAN TANAMAN LADA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan awal proses penanaman adalah penyiapan bibit. Bibit paling baik adalah berupa setek. Panjang setek sekitar tujuh ruas. Setelah disiapkan,pada bekas galian lubanng tanam dibuat lubang barudengan ukuran 20 cm x 20 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya bibit stek dimasukan kedalam lubang tanam dengan posisi dasar stek berada dibagian bawah hingga kedalaman sekitar 10-30 cm atau sekitar empat ruas. Setek diletakkan dengan posisi 45 derajat celcius mengarah ketiang panjat. Setelah itu lubang ditutup kembali dengan tanah halus. Usahakan penimbunan tanah agak diletakan agar posisi bibit menjadi kuat. Tanah yan ditimbun dibentuk agak cembung. Sementara sisa ruas setek dibagian luar lubang tanam diikat pada panjatan sementara  atau permanen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umumnya musim tanam lada jatuh pada bulan November - Januari  sehingga penyiraman bibit sesudah tanam bukan merupakan keharusan. Hanya saja pada periode tersebut dapat saja terjadi kekeringan.Tindakan yang dapat dilakukan agar bibit tidak mengalami kekeringan adalah penanaman lebih dari satu bibit. Untuk menghindari dari sinra matahari sementara agar tanaman tidak lay dan mati, perlu adanay pelindung bagi tanaman misanya berupa pakis andam atau resam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;D.PEMELIHARAAN TANAMAN LADA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tujuan pemeliharaan tanaman lada secara keseluruhan antara lain untuk mengoptimalkan kondisi lingkungan dan produksi serta menjaga kondisi lahan dan tanaman. Adapun beberapa tindakan pemeliharaan tanaman adalah penjagaan kondisi lahan, pengaturan, pertumbuhan tanaman, pemangkasan, pemupukan, dan pengendalian hama penyakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5343438090319808433-5390768777627743804?l=budidaya-di.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://budidaya-di.blogspot.com/feeds/5390768777627743804/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2009/11/budidaya-lada-dengan-tiang-panjat.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/5390768777627743804'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/5390768777627743804'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2009/11/budidaya-lada-dengan-tiang-panjat.html' title='Budidaya Lada Dengan Tiang Panjat'/><author><name>Budidaya Pertanian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02468176543501833983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5343438090319808433.post-1085801466050693357</id><published>2009-11-15T21:21:00.002-08:00</published><updated>2009-11-15T21:22:26.014-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Kacang'/><title type='text'>Budidaya Kacang Tanah Di Lahan Kering</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Budidaya Kacang Tanah Di Lahan Kering&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;PENDAHULUAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Meskipun Indonesia telah berswasembada beras sejak tahun 1984, akan tetapi swasembada pangan masih belum tercapai. Salah satu komoditi yang masih rendah produktifitasnya ditingkat petani adalah kacang tanah. Upaya peningkatan produktivitas kacang tanah tidak bisa hanya menggantungkan diri pada hasil kacang tanah yang ditanam di lahan sawah, tetapi lahan kering atau tegalan memiliki peluang yang dapat dikembangkan sebagai penghasil kacang tanah yang potensial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah yang dihadapi lahan kering pada umumnya adalah tingkat kesuburan yang relatif rendah sehingga mengakibatkan produktifitasnya rendah pula. Untuk meningkatkan produktivitas ini, maka sistem bercocok tanamnya perlu disempurnakan dengan menerapkan teknologi budidaya kacang tanah yang dianjurkan. Dengan demikian akan dapat memberikan kontribusi lebih baik bagi petani dan keluarganva pada khususnya serta masyarakat pada umumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;TEKNOLOGI BUDIDAYA KACANG TANAH YANG DIANJURKAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Persyaratan tumbuh&lt;br /&gt;- Tumbuh baik pada ketinggian 0 - 500 m dpl&lt;br /&gt;- Struktur tanah gembur dan drainase baik&lt;br /&gt;- Keasaman (pH) tanah antara 6-6,5&lt;br /&gt;- Dalam masa pertumbuhan memerlukan cahaya matahari yang cukup&lt;br /&gt;- Tanaman yang masih muda memerlukan air cukup untuk pertumbuhan dan setelah berumur 2,5 bulan kebutuhan akan air sudah mulai berkurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Benih&lt;br /&gt;Varietas unggul yang dianjurkan antara lain : Gajah, Macan, Banteng, Tapir, Kelinci dan Mahesa, varietas-varietas ini tahan terhadap penyakit layu, karat dan bercak daun. Varietas lainnya yang sangat digemari oleh para petani di NTB adalah varietas lokal setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Penyiapan lahan&lt;br /&gt;- Tarah diolah dengan cara bajak 1 kali dan digaru 1kali&lt;br /&gt;- Buatlah saluran drainase berjarak 3 - 4 meter membujur searah dengan barisan tanaman&lt;br /&gt;- Lebar saluran 30 cm dan dalam 25 cm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Waktu tanam&lt;br /&gt;- Penanainan dilakukan segera setelah hujan turun cukup&lt;br /&gt;- Perlu diupayakan supaya penanaman dilakukan serentak pada suatu hamparan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Cara tanam&lt;br /&gt;- Biji ditugalkan dengan kedalaman 3 cm&lt;br /&gt;- Jarak tanam 40 x 1 0 cm (2 biji/Iubang)&lt;br /&gt;- Benih diperlukan sekitar 70 kg biji/ha&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Pemeliharaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Pemupukan&lt;br /&gt;Pemupukan dilakukan dengan dosis Urea 50 kg/ha, Sp-36 100 kg/ha, dan KCL 50 kg/ha. Pupuk diberikan pada umur 10 - 15 hari setelah tanam dengan cara disebarkan dalam larikan antara barisan. Semua pupuk diberikan sekaligus. Pemupukan bisa juga dilakukan dengan cara disebar&lt;br /&gt;merata keseluruh areal sebelum tanam, asalkan kondisi lahan dalam keadaan lembab (macak-macak).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Penyiangan&lt;br /&gt;Penyiangan dilakukan sebanyak 2 kali yaitu pada umur 3 minggu dan umur 6 minggu setelah tanam (tergantung keadaan rumput).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Pengendalian hama dan penyakit&lt;br /&gt;Pengendalian hama dan penyakit hendaknya menggunakan prinsip  pengendalian hama terpadu. Hama yang sering menyerang tanaman kacang tanah adalah : pengerek daun (Stamopteryx subsecivella), pengisap daun (Empoasca) dan kutu daun (Tetranychus bimaculatus). Sedangkan penyakit yang sering menyerang antara lain: penyakit layu (bacterial wilt), bercak dawn (Leaf spot), sapu (Virus), mozaik (Mozaik disease), cendawan akar (Sclerotical disease) dan penyakit cendawan akar (Sclerotical blight)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Panen&lt;br /&gt;Tanaman kacang tanah bisa dipanen antara umur 100 - 110 hari, dengan tanda tanda : kulit polong mengeras dan berwarna kehitaman, polong berisi penuh, kulit biji tipis mengkilat dan tidak berair serta sebagian besar daun telah rontok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ANALISA EKONOMI BUDIDAYA KACANG TANAH&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Produksi yang dicapai dari hasil pengkajian Demonstrasi Penerapan Paket Teknologi Anjuran Budidaya Kacang Tanah sebagai Pengisi Lorong pada Penelitian Adaptif Budidaya Lorong di Desa Ntonggu, Kecamatan Belo, Kabupaten Bima mencapai rata-rata 2,75 ton polong kering per hektar dengan analisa biaya dan keuntungan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel Analisa Ekonomi&lt;br /&gt;1. Biaya produksi perhektar&lt;br /&gt;a. Benih 70 kg biji @ Rp. 6.000.- Rp. 420.000;&lt;br /&gt;b. Tali rapia 1 roll @ Rp. 10.000,- Rp. 10.000,-&lt;br /&gt;c. Pupuk :&lt;br /&gt;- Urea 50 kg @ Rp 1.100,- Rp. 55.000,-&lt;br /&gt;- Sp-36 100 kg @ Rp. 1.650.- Rp. 165.000,-&lt;br /&gt;- KCL 50 kg @ Rp. 1.650,- Rp. 52.500,-&lt;br /&gt;d. Tenaga kerja&lt;br /&gt;- Pembuatan drainase 10 HOK (a) Rp. 10.000,- Rp. 100.000,-&lt;br /&gt;- Penanaman 30 HOK @ Rp. 10.000,- Rp. 300.000,-&lt;br /&gt;- Pemupukan 2 HOK @ Rp. 10 000,- Rp. 20.000,-&lt;br /&gt;- Penyiangan 40 HOK @ Rp. 10.000,- Rp. 400.000,-&lt;br /&gt;- Panen 40 HOK @, Rp. 10.000; Rp. 400.000,-&lt;br /&gt;- Pascapanen 5 HOK @ Rp. 10.000,- Rp. 50.000;&lt;br /&gt;e. Total biaya (1) Rp. 1.972.500,-&lt;br /&gt;2. Penerimaan =2,75 ton @ Rp. 210.000, /kwt Rp. 5.775.000,-&lt;br /&gt;3. Keuntungan =(2)-(1) Rp. 3.802.500,-&lt;br /&gt;4. B/C Rasio =2,93&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Lembar informasi pertanian (Liptan) IP2TP Mataram No. 09/Liptan/2000&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5343438090319808433-1085801466050693357?l=budidaya-di.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://budidaya-di.blogspot.com/feeds/1085801466050693357/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2009/11/budidaya-kacang-tanah-di-lahan-kering.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/1085801466050693357'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/1085801466050693357'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2009/11/budidaya-kacang-tanah-di-lahan-kering.html' title='Budidaya Kacang Tanah Di Lahan Kering'/><author><name>Budidaya Pertanian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02468176543501833983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5343438090319808433.post-2195137158099307618</id><published>2009-11-15T21:21:00.001-08:00</published><updated>2009-11-15T21:21:43.896-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Ayam'/><title type='text'>Budidaya Ayam Broiler</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PENDAHULUAN BUDIDAYA AYAM BROILER&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ayam ras pedaging disebut juga broiler, yang merupakan jenis ras unggulan hasil persilangan dari bangsa-bangsa ayam yang memiliki daya produktivitas tinggi, terutama dalam memproduksi daging ayam. Sebenarnya ayam broiler ini baru populer di Indonesia sejak tahun 1980-an dimana pemegang kekuasaan mencanangkan panggalakan konsumsi daging ruminansia yang pada saat itu semakin sulit keberadaannya. Hingga kini ayam broiler telah dikenal masyarakat Indonesia dengan berbagai kelebihannya. Hanya 5-6 minggu sudah bisa dipanen. Dengan waktu pemeliharaan yang relatif singkat dan menguntungkan, maka banyak peternak baru serta peternak musiman yang bermunculan diberbagai wilayah Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SENTRA PETERNAKAN AYAM BROILER&lt;br /&gt;Ayam telah dikembangkan sangat pesat disetiap negara. Di Indonesia usaha ternak ayam pedaging juga sudah dijumpai hampir disetiap propinsi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;J E N I S AYAM BROILER&lt;br /&gt;Dengan berbagai macam strain ayam ras pedaging yang telah beredar dipasaran, peternak tidak perlu risau dalam menentukan pilihannya. Sebab semua jenis strain yang telah beredar memiliki daya produktifitas relatif sama.&lt;br /&gt;Artinya seandainya terdapat perbedaan, perbedaannya tidak menyolok atau sangat kecil sekali. Dalam menentukan pilihan strain apa yang akan dipelihara, peternak dapat meminta daftar produktifitas atau prestasi bibit yang dijual di Poultry Shoup. Adapun jenis strain ayam ras pedaging yang banyak beredar di pasaran adalah: Super 77, Tegel 70, ISA, Kim cross, Lohman 202, Hyline, Vdett, Missouri, Hubbard, Shaver Starbro, Pilch, Yabro, Goto, Arbor arcres, Tatum, Indian river, Hybro, Cornish, Brahma, Langshans, Hypeco-Broiler, Ross, Marshall”m”, Euribrid, A.A 70, H&amp;amp;N, Sussex, Bromo, CP 707.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MANFAAT AYAM BROILER&lt;br /&gt;Manfaat beternak ayam ras pedaging antara lain, meliputi:&lt;br /&gt;1) penyediaan kebutuhan protein hewani&lt;br /&gt;2) pengisi waktu luang dimasa pensiun&lt;br /&gt;3) pendidikan dan latihan (diklat) keterampilan dikalangan remaja&lt;br /&gt;4) tabungan di hari tua&lt;br /&gt;5) mencukupi kebutuhan keluarga (profit motif)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERSYARATAN LOKASI AYAM BROILER&lt;br /&gt;1) Lokasi yang cukup jauh dari keramaian/perumahan penduduk.&lt;br /&gt;2) Lokasi mudah terjangkau dari pusat-pusat pemasaran.&lt;br /&gt;3) Lokasi terpilih bersifat menetap, artinya tidak mudah terganggu oleh keperluan-keperluan lain selain untuk usaha peternakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA AYAM BROILER&lt;br /&gt;Sebelum usaha beternak dimulai, seorang peternak wajib memahami 3 (tiga) unsur produksi yaitu: manajemen (pengelolaan usaha peternakan), breeding (pembibitan) dan feeding (makanan ternak/pakan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Penyiapan Sarana dan Peralatan&lt;br /&gt;1. Perkandangan&lt;br /&gt;Sistem perkandangan yang ideal untuk usaha ternak ayam ras meliputi: persyaratan temperatur berkisar antara 32,2-35 derajat C, kelembaban berkisar antara 60-70%, penerangan/pemanasan kandang sesuai dengan aturan yang ada, tata letak kandang agar mendapat sinar matahari pagi dan tidak melawan arah mata angin kencang, model kandang disesuaikan dengan umur ayam, untuk anakan sampai umur 2 minggu atau 1 bulan memakai kandang box, untuk ayam remaja ± 1 bulan sampai 2 atau 3 bulan memakai kandang box yang dibesarkan dan untuk ayam dewasa bisa dengan kandang postal atapun kandang bateray. Untuk kontruksi kandang tidak harus dengan bahan yang mahal, yang penting kuat, bersih dan tahan lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Peralatan&lt;br /&gt;a. Litter (alas lantai)&lt;br /&gt;Alas lantai/litter harus dalam keadaan kering, maka tidak ada atap yang bocor dan air hujan tidak ada yang masuk walau angin kencang. Tebal litter setinggi 10 cm, bahan litter dipakai campuran dari kulit padi/sekam dengan sedikit kapur dan pasir secukupnya, atau hasi serutan kayu dengan panjang antara 3–5 cm untuk pengganti kulit padi/sekam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Indukan atau brooder&lt;br /&gt;Alat ini berbentuk bundar atau persegi empat dengan areal jangkauan 1-3 m dengan alat pemanas di tengah. Fungsinya seperti induk ayam yang menghangatkan anak ayamnya ketika baru menetas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Tempat bertengger (bila perlu)&lt;br /&gt;Tempat bertengger untuk tempat istirahat/tidur, dibuat dekat dinding dan diusahakan kotoran jatuh ke lantai yang mudah dibersihkan dari luar. Dibuat tertutup agar terhindar dari angin dan letaknya lebih rendah dari tempat bertelur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Tempat makan, minum dan tempat grit&lt;br /&gt;Tempat makan dan minum harus tersedia cukup, bahannya dari bambu, almunium atau apa saja yang kuat dan tidak bocor juga tidak berkarat. Untuk tempat grit dengan kotak khusus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Alat-alat rutin&lt;br /&gt;Alat-alat rutin termasuk alat kesehatan ayam seperti: suntikan, gunting operasi, pisau potong operasi kecil, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B.. Pembibitan Ayam Broiler&lt;br /&gt;Ternak yang dipelihara haruslah memenuhi persyaratan sebagai berikut:&lt;br /&gt;a) ternak sehat dan tidak cacat pada fisiknya&lt;br /&gt;b) pertumbuhan dan perkembangannya normal&lt;br /&gt;c) ternak berasal dari pembibitan yang dikenal keunggulannya.&lt;br /&gt;d) tidak ada lekatan tinja di duburnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pemilihan Bibit dan Calon Induk&lt;br /&gt;Ada beberapa pedoman teknis untuk memilih bibit/DOC (Day Old Chicken)/ayam umur sehari:&lt;br /&gt;a. Anak ayam (DOC ) berasal dari induk yang sehat.&lt;br /&gt;b. Bulu tampak halus dan penuh serta baik pertumbuhannya .&lt;br /&gt;c. Tidak terdapat kecacatan pada tubuhnya.&lt;br /&gt;d. Anak ayam mempunyak nafsu makan yang baik.&lt;br /&gt;e. Ukuran badan normal, ukuran berat badan antara 35-40 gram.&lt;br /&gt;f. Tidak ada letakan tinja diduburnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Perawatan Bibit dan Calon Induk&lt;br /&gt;Dilakukan setiap saat, bila ada gejala kelainan pada ternak supaya segera diberi perhatian secara khusus dan diberikan pengobatan sesuai petunjuk Dinas Peternakan setempat atau dokter hewan yang bertugas di daerah yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Pemeliharaan Ayam Broiler&lt;br /&gt;1. Pemberian Pakan dan Minuman&lt;br /&gt;Untuk pemberian pakan ayam ras broiler ada 2 (dua) fase yaitu fase starter (umur 0-4 minggu) dan fase finisher (umur 4-6 minggu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Kualitas dan kuantitas pakan fase starter adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;- kualitas atau kandungan zat gizi pakan terdiri dari protein 22-24%, lemak 2,5%, serat kasar 4%, Kalsium (Ca) 1%, Phospor (P) 0,7-0,9%, ME 2800-3500 Kcal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- kuantitas pakan terbagi/digolongkan menjadi 4 (empat) golongan yaitu minggu pertama (umur 1-7 hari) 17 gram/hari/ekor, minggu kedua (umur 8-14 hari) 43 gram/hari/ekor, minggu ke-3 (umur 15-21 hari) 66 gram/hari/ekor dan minggu ke-4 (umur 22-29 hari) 91 gram/hari/ekor.&lt;br /&gt;Jadi jumlah pakan yang dibutuhkan tiap ekor sampai pada umur 4 minggu sebesar 1.520 gram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Kualitas dan kuantitas pakan fase finisher adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- kualitas atau kandungan zat gizi pakan terdiri dari protein 18,1-21,2%; lemak 2,5%, serat kasar 4,5%, kalsium (Ca) 1%, Phospor (P) 0,7-0,9% dan energi (ME) 2900-3400 Kcal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- kuantitas pakan terbagi/digolongkan dalam empat golongan umur yaitu: minggu ke-5 (umur 30-36 hari) 111 gram/hari/ekor, minggu ke-6 (umut 37-43 hari) 129 gram/hari/ekor, minggu ke-7 (umur 44-50 hari) 146 gram/hari/ekor dan minggu ke-8 (umur 51-57 hari) 161 gram/hari/ekor. Jadi total jumlah pakan per ekor pada umur 30-57 hari adalah 3.829 gram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pemberian minum disesuaikan dangan umur ayam yang dikelompokkan dalam 2 (dua) fase yaitu:&lt;br /&gt;a. Fase starter (umur 1-29 hari), kebutuhan air minum terbagi lagi pada masing-masing minggu, yaitu minggu ke-1 (1-7 hari) 1,8 lliter/hari/100 ekor; minggu ke-2 (8-14 hari) 3,1 liter/hari/100 ekor, minggu ke-3 (15-21 hari) 4,5 liter/hari/100 ekor dan minggu ke-4 (22-29 hari) 7,7 liter/hari/ekor. Jadi jumlah air minum yang dibutuhkan sampai umur 4 minggu adalah sebanyak 122,6 liter/100 ekor. Pemberian air minum pada hari pertama hendaknya diberi tambahan gula dan obat anti stress kedalam air minumnya. Banyaknya gula yang diberikan adalah 50 gram/liter air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Fase finisher (umur 30-57 hari), terkelompok dalam masing-masing minggu yaitu minggu ke-5 (30-36 hari) 9,5 liter/hari/100 ekor, minggu ke-6 (37-43 hari) 10,9 liter/hari/100 ekor, minggu ke-7 (44-50 hari) 12,7 liter/hari/100 ekor dan minggu ke-8 (51-57 hari) 14,1 liter/hari/ekor. Jadi total air minum 30-57 hari sebanyak 333,4 liter/hari/ekor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pemeliharaan Kandang&lt;br /&gt;Kebersihan lingkungan kandang (sanitasi) pada areal peternakan merupakan usaha pencegahan penyakit yang paling murah, hanya dibutuhkan tenaga yang ulet/terampil saja. Tindakan preventif dengan memberikan vaksin pada ternak dengan merek dan dosis sesuai catatan pada label yang dari poultry shoup. Agar bangunan kandang dapat berguna secara efektif, maka bangunan kandang perlu dipelihara secara baik yaitu kandang selalu dibersihkan dan dijaga/dicek apabila ada bagian yang rusak supaya segera disulam/diperbaiki kembali. Dengan demikian daya guna kandang bisa maksimal tanpa mengurangi persyaratan kandang bagi ternak yang dipelihara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HAMA DAN PENYAKIT AYAM BROILER&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Penyakit Ayam Broiler&lt;br /&gt;1. Berak darah (Coccidiosis)&lt;br /&gt;Gejala: tinja berdarah dan mencret, nafsu makan kurang, sayap terkulasi, bulu kusam menggigil kedinginan.&lt;br /&gt;Pengendalian: (1) menjaga kebersihan lingkungaan, menjaga litter tetap kering; (2) dengan Tetra Chloine Capsule diberikan melalui mulut; Noxal, Trisula Zuco tablet dilarutkan dalam air minum atau sulfaqui moxaline, amprolium, cxaldayocox.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Tetelo (NCD/New Casstle Diseae)&lt;br /&gt;Gejala: ayam sulit bernafas, batuk-batuk, bersin, timbul bunyi ngorok, lesu, mata ngantuk, sayap terkulasi, kadang berdarah, tinja encer kehijauan yang spesifik adanya gejala “tortikolis”yaitu kepala memutar-mutar tidak menentu dan lumpuh.&lt;br /&gt;Pengendalian: (1) menjaga kebersihan lingkungan dan peralatan yang tercemar virus, binatang vektor penyakit tetelo, ayam yang mati segera dibakar/dibuang; (2) pisahkan ayam yang sakit, mencegah tamu masuk areal peternakan tanpa baju yang mensucihamakan/ steril serta melakukan vaksinasi NCD. Sampai sekarang belum ada obatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B.Hama Ayam Broiler&lt;br /&gt;1. Tungau (kutuan)&lt;br /&gt;Gejala: ayam gelisah, sering mematuk-matuk dan mengibas-ngibaskan bulu karena gatal, nafsu makan turun, pucat dan kurus.&lt;br /&gt;Pengendalian: (1) sanitasi lingkungan kandang ayam yang baik; pisahkan ayam yang sakit dengan yang sehat; (2) dengan menggunakan karbonat sevin dengan konsentrasi 0,15% yang encerkan dengan air kemudian semprotkan dengan menggunakan karbonat sevin dengan konsentrasi 0,15% yang encerkan dengan air kemudian semprotkan ketubuh pasien. Dengan fumigasi atau pengasepan menggunakan insektisida yang mudah menguap seperti Nocotine sulfat atau Black leaf 40.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PANEN AYAM BROILER&lt;br /&gt;1. Hasil Utama&lt;br /&gt;Untuk usaha ternak ayam pedaging, hasil utamanya adalah berupa daging ayam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Hasil Tambahan&lt;br /&gt;Usaha ternak ayam broiler (pedaging) adalah berupa tinja atau kotoran kandang dan bulu ayam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PASCA PANEN&lt;br /&gt;a.Stoving&lt;br /&gt;Penampungan ayam sebelum dilakukan pemotongan, biasanya ditempatkan di kandang penampungan (Houlding Ground)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Pemotongan&lt;br /&gt;Pemotongan ayam dilakukan dilehernya, prinsipnya agar darah keluar keseluruhan atau sekitar 2/3 leher terpotong dan ditunggu 1-2 menit. Hal ini agar kualitas daging bagus, tidak mudah tercemar dan mudah busuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.Pengulitan atau Pencabutan Bulu&lt;br /&gt;Caranya ayam yang telah dipotong itu dicelupkan ke dalam air panas (51,7- 54,4 derajat C). Lama pencelupan ayam broiler adalah 30 detik. Bulu-bulu yang halus dicabut dengan membubuhkan lilin cair atau dibakar dengan nyala api biru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Pengeluaran Jeroan&lt;br /&gt;Bagian bawah dubut dipotong sedikit, seluruh isi perut (hati, usus dan ampela) dikeluarkan. Isi perut ini dapat dijual atau diikut sertakan pada daging siap dimasak dalam kemasan terpisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Pemotongan Karkas&lt;br /&gt;Kaki dan leher ayam dipotong. Tunggir juga dipotong bila tidak disukai. Setelah semua jeroan sudah dikeluarkan dan karkas telah dicuci bersih, kaki ayam/paha ditekukan dibawah dubur. Kemudian ayam didinginkan dan dikemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA AYAM BROILER&lt;br /&gt;A.Analisis Usaha Budidaya&lt;br /&gt;Dasar perhitungan biaya yang dikeluarkan dan pendapatan yang diperoleh dalam analisis ini, antara lain adalah:&lt;br /&gt;a. jenis ayam yang dipelihara adalah jenis ayam ras pedaging (broiler) dari strain CP.707.&lt;br /&gt;b. sistem pemeliharaan yang diterapkan dengan cara intensif pada kandang model postal&lt;br /&gt;c. luas tanah yang digunakan yaitu 200 m2 dengan nilai harga sewa tanah dalam 1 ha/tahun adalah Rp 1.000.000,-.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. kandang terbuat dari kerangka bambu, lantai tanah, dinding terbuat dari bilah-bilah bambu denga alas dinding setinggi 30 cm, terbuat dari batu bata yang plester dan atap menggunakan genting.&lt;br /&gt;e. ukuran kandang, yaitu tinggi bagian tepinya 2,5 m, lebar kandang 5 m dan lebar bagian tepi kandang 1,5 m.&lt;br /&gt;f. lokasi peternakan dekat dengan sumber air dan listrik.&lt;br /&gt;g. menggunakan alat pemanas (brooder) gasolec dengan bahan bakar gas.&lt;br /&gt;h. penerangan dengan lampu listrik.&lt;br /&gt;i. umur ayam yaitu dimulai dari bibit yang berumur 1 hari&lt;br /&gt;j. litter/alas kandang menggunakan sekam padi.&lt;br /&gt;k. jenis pakan yang diberikan adalah BR-1 untuk anak ayam umur 0-4 minggu dan BR-2 untuk umur 4-6 minggu.&lt;br /&gt;l. tingkat kematian ayam diasumsikan 6%.&lt;br /&gt;m. lama masa pemeliharaan yaitu 6 minggu (42 hari).&lt;br /&gt;n. berat rata-rata per ekor ayam diasumsikan 1,75 kg berat hidup pada saat panen.&lt;br /&gt;o. harga ayam per kg berat hidup, yaitu diasumsikan Rp 2500,-, walau kisaran harga sampai mencapai Rp 3000,- ditingkat peternak/petani.&lt;br /&gt;p. ayam dijual pada umur 6 mingu atau 42 hari.&lt;br /&gt;q. nilai pupuk kandang yaitu Rp 60.000,-.&lt;br /&gt;r. bunga Bank yaitu 1,5%/bulan&lt;br /&gt;s. nilai penyusutan kandang diperhitungkan dengan kekuatan masa pakai 6 tahun dan nilai penyusutan peralatan diperhitungkan dengan masa pakai 5 tahun.&lt;br /&gt;t. perhitungan analisis biaya ini hanya diperhitungkan sebagai Pedoman dasar, karena nilai/harga sewaktu-waktu dapat mengalami perubahan.&lt;br /&gt;Adapun rincian biaya produksi dan modal usaha tani adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;1) Biaya prasarana produksi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Sewa tanah 200 m2 selama 2 bulan Rp. 20.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Kandang ukuran 20 x 5 m&lt;br /&gt;- Bambu 180 batang @ Rp 1250,&lt;br /&gt;- Semen 4 zak @ Rp 7000,&lt;br /&gt;- Kapur 30 zak @ Rp 6000,&lt;br /&gt;- Genting 2600 bh @ Rp 90,&lt;br /&gt;- Paku reng 5 kg @ Rp 2000,&lt;br /&gt;- Paku usuk 7000 kg @ Rp 1800,&lt;br /&gt;- Batu bata 1000 buah @ Rp 55,&lt;br /&gt;- Pasir 1 truk&lt;br /&gt;- Tali 28 meter @ Rp 5000,&lt;br /&gt;- Tenaga kerja&lt;br /&gt;Rp. 225.000,-&lt;br /&gt;Rp. 28.000,-&lt;br /&gt;Rp. 18.000,-&lt;br /&gt;Rp. 234.000,-&lt;br /&gt;Rp. 10.000,-&lt;br /&gt;Rp. 12.600,-&lt;br /&gt;Rp. 55.000,-&lt;br /&gt;Rp. 230.000,-&lt;br /&gt;Rp. 14.000,-&lt;br /&gt;Rp. 400.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Peralatan&lt;br /&gt;- Tempat pakan 28 bh @ Rp 5000,&lt;br /&gt;- Tempat minum 32 bh @ Rp 3880,&lt;br /&gt;- Sekop 1 bh&lt;br /&gt;- Ember 2 bh @ Rp 2000,&lt;br /&gt;- Tong bak air 1 bh&lt;br /&gt;- Ciduk 2 bh @ Rp 500,&lt;br /&gt;- Tabung gas besar 1 bh&lt;br /&gt;- Thermometer 1 bh&lt;br /&gt;- Regulator 1 bh&lt;br /&gt;- Brooder (gasolec) 1 bh&lt;br /&gt;- Tali gantung tmp pakan 120 m @Rp 500,-&lt;br /&gt;Rp. 140.000,-&lt;br /&gt;Rp. 124.000,-&lt;br /&gt;Rp. 7.000,-&lt;br /&gt;Rp. 4.000,-&lt;br /&gt;Rp. 15.000,-&lt;br /&gt;Rp. 1.000,-&lt;br /&gt;Rp. 250.000,-&lt;br /&gt;Rp. 2.000,-&lt;br /&gt;Rp. 52.500,-&lt;br /&gt;Rp. 15.000,-&lt;br /&gt;Rp. 60.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah biaya prasarana produksi Rp. 2.052.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Biaya sarana produksi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Bibit DOC 1000 bh @ Rp 900,- Rp. 900.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Pakan dan obat-obatan&lt;br /&gt;- BR-1 31 zak (0-4 minggu) @Rp 36.000,&lt;br /&gt;- BR-2 34 zak (4-6 mingu) @ Rp 34.000,&lt;br /&gt;- obat-obatan @ Rp 150,-/ekor&lt;br /&gt;Rp. 1.116.000,-&lt;br /&gt;Rp. 1.156.000,-&lt;br /&gt;Rp. 150.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. tenaga kerja pelihara 1,5 bln @ Rp 105.000,- Rp. 157.500,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Lain-lain&lt;br /&gt;- sekam padi alas kandang 1 truk @Rp 60.000,-&lt;br /&gt;- karung goni bekas 32 kantong @ Rp 300,-&lt;br /&gt;- pemakaian listrik selama 0-6 minggu&lt;br /&gt;- pemakaian gas Rp. 10.000,-&lt;br /&gt;Rp. 60.000,-&lt;br /&gt;Rp. 2.400,-&lt;br /&gt;Rp. 7.000,-&lt;br /&gt;Rp. 35.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah biaya prasarana produksi Rp. 3.583.900,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Biaya produksi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Sewa tanah 200 m2 selama 2 bulan Rp. 20.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Nilai susut prasarana produksi/2 bln&lt;br /&gt;- kandang&lt;br /&gt;- Peralatan Rp 805.660,- : 30&lt;br /&gt;Rp. 51.109,-&lt;br /&gt;Rp. 26.856,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Bibit DOC 1000 ekor Rp. 900.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Pakan dan obat-obatan Rp. 2.422.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Tenaga kerja Rp. 157.500,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. lain-lain Rp. 104.400,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g. Bunga modal 1,5% per bulan Rp. 84.543,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;h. Bulan modal 1,5 bulan Rp. 126.815,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah biaya prasarana produksi Rp. 3.808.680,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Pendapatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Total produksi 1000X94%X1,75 kg X Rp 2500,- Rp. 4.112.500,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Nilai Pupuk kandang Rp. 60.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Jumlah pendapatan Rp. 4.172.500,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Keuntungan Rp. 363.820,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5) Parameter kelayakan usaha&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. BEP Volume Produksi = 870 ekor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. BEP Harga Produksi Rp. 3.316.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. B/C Ratio = 1,09&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. ROI = 6,45 %&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Rasio keuntungan terhadap pendapatan = 8,71 %&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. Tingkat pengembalian modal = 2,6 th.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.2. Gambaran Peluang Agribisnis&lt;br /&gt;Prospek agribisnis peternakan untuk ternak ayam broiler cukup baik dimana permintaan pasar selalu meningkat, sejalan dengan kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi hewani. Produksi ternak ayam broiler saat ini berkembang dengan pesat dan peluang pasar yang bisa dihandalkan&lt;br /&gt;Sumber: budidayanews.blogspot.com&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5343438090319808433-2195137158099307618?l=budidaya-di.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://budidaya-di.blogspot.com/feeds/2195137158099307618/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2009/11/budidaya-ayam-broiler.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/2195137158099307618'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/2195137158099307618'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2009/11/budidaya-ayam-broiler.html' title='Budidaya Ayam Broiler'/><author><name>Budidaya Pertanian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02468176543501833983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5343438090319808433.post-8592144152031934824</id><published>2009-11-15T21:20:00.000-08:00</published><updated>2009-11-15T21:21:06.101-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Buah'/><title type='text'>Budidaya Buah Naga</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Budidaya Buah Naga &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian kalangan menyebutnya buah ini dengan nama Buah Dewa. Hingga saat ini di butuhkan akan buah Naga Indonesia cukup besar dan bukan hanya pasar lokal saja yang ingin mencicipi kedahsyatan buah yang stu ini. Peluang Ekspor juga tidak kalah besarnya, Namun kebutuhan yang besar tersebut belum mampu di penuhi oleh produksi dalam negri asalny (Taiwan) Apalagi kondisi dalam negri Indonesia cukup sulit memenuhi peluang Pasar ini, Karena hal-hal yang berhubungan dengan iklim investasi yang cenderung lesu. Tetapi melihat segi potensi Wialyah lahan pertanian yang luas dan subur,Sangat besar kemungkinannya untuk mengembangkan tanaman jenis ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buah Naga telah lama dikenal oleh rakyat Tionghoa kuno sebagai buah yang membawa berkah. karena biasanya buah naga diletakkan diantara patung naga di altar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu orang Vietnam menyebut buah naga atau dalam bahasa Vietnam disebut dengan nama Thang Loy di Thailand diberi nama Keaw Mang Kheon, dalam istiiah Inggris diberi nama DRAGON FRUIT clan di Indonesia dikenal dengan nama BUM NAGA Sebenarnya tanaman ini bukan tanaman asil daratan Asia, tetapi merupakan tanaman ask Meksiko clan Amerika Selatan bagian utara ( Colombia ). Pada awainya buah naga ini dibawa kekawasan Indocina ( Vietnam ) oleh seorang Perancis sekitar tahun 1870. dari Guyama Amerika Selatan sebagai hiasan sebab sosoknya yang unik dan bunganya yang cantik dan berwarna putih. Baru sekitar tahun 1980 setelah dibawa ke Okinawa Jepang tanaman ini mendunia karena sangat menguntungkan. Pada tahun 1977 buah ini dibawa ke Indonesia clan berhasil disemaikan kemudian dibudidayakan. Buah naga kaya akan vitamin dan mineral dengan kandungan serat cukup banyak sehingga cocok untuk diet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingginya permintaan buah naga ini di sebabkan oleh promosi yang menyebutnya sebagai buah meja (Sangat Menarik dan Menggiurkan bila di sajikan di meja makan) Berkhasiat mujarab untuk berbagai penyakit dan bermanfaat sebagai bahan baku di bidang industri pengolahan Makanan, Minuman, Kosmetik serta produk kesehatan. Berpedoman kepada kondisi petani yang sebagian besar kurang mampu berinvestasi di bidang ini (Mahalnya bibit dan perlengkapan yang harus di sediakan). Merupakan salah satu motivasi bagi pemilik modal untuk bekerja sama dengan kelompok Tani dalam pembudidayaan Komoditas ini. Keadan lain yang mendukung adalh tersedianya lahan yang potensial dan tenaga ahli dalam pembudidayaan jenis Tanaman ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;CIRI BUAH NAGA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buah naga (Dragon Fruit atau Hylocereus Undatus) masih termasuk komoditi langka di indonesia. Buah yang beasal dari Taiwan ini memiliki bentuk yang sangat unik dan cukup memikat untuk di lihat. Bentuk fisiknya mirip dengan buah nanas hanya saja buah ini memiliki sulur /jumbai di sekujur kulitnya dan buah ini berwarna merah jambu (Pink) dengan daging buah berbagai jenis antara lain berwarna Putih, Kuning dan Merah dengan biji kecil berwarna hitam yang sangat lembut dan lunak. Rasa buah tergantung jenis warna daging buah itu, Bila warna merah cenderung manis dan legit dengan perpaduan rasa yang sangat khas.&lt;br /&gt;Warna putih rasanya manisdan segar sedangkan kuning perpaduan antara ke dua warna di atas. Bentuk tanaman hampir mirip dengan pohon kaktus berupa sulur-sulur yang memanjang seperti lidah naga yang menjulur. Berat rata-rata + 600 s.d 800 Gram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KHASIAT BUAH NAGA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Penyeimbang kadar gula darah.&lt;br /&gt;* Membersihkan darah.&lt;br /&gt;* Menguatkan ginajal.&lt;br /&gt;* Menyehatkan lever.&lt;br /&gt;* Perawatan kecantikan.&lt;br /&gt;* Menguatkan daya kerja otak.&lt;br /&gt;* Meningkatkan ketajaman Mata.&lt;br /&gt;* Mengurangi keluhan panas dalam dan sariawan.&lt;br /&gt;* Mensatbilkan Tekanan Darah.&lt;br /&gt;* Mengurangi Keluhan Keputihan.&lt;br /&gt;* Mengurangi Kolesterol dan mencegah Kanker usus.&lt;br /&gt;* Mencegah Sembelit dan Memperlancar Feses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENANAMAN BUAH NAGA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Persyaratan tanam: Tidak berpengaruh terhadap kualitas tanah, Jenis apa saja dapat di lakukan penanaman. Membutuhkan penyinaran penuh. Daerah tropis cocok untuk Tanaman ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Penanaman sebaiknya di gunakan parit untuk saluran drainase di areal kebun.Dan gunakan ajir/tiang penyangga tanaman kaktus berukuran 10cm x 10cm x 150cm.Tiang penyangga ini biasa terbuat dari kayu atau beton yang di tancapkan ke tanah sedalam 50cm dengan jarak tanam 2,5 x 3cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Jarak tanam bibit yang baik adalah 2,5 x 2 meter dan tiap tiang penyangga di tanami 4 bibit tanaman,Jadi untuk 1Ha membutuhkan 2000 tiang penyangga dan 8000 bibit tanaman buah naga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Pemeliharaan tanaman meliputi,Perawatan sulur tanaman agar terhindar dari luka,pengecekan rutin kondisi keasamn tanah,dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Panen tanaman akan berbunga pada umur 1,5-2 tahun dan dapat di panen saat mencapai umur 30 hari setelah bunga mekar.Tanaman buah naga akan berbuah terus menerus hingga + 10 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: tcplanet.blogspot.com&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5343438090319808433-8592144152031934824?l=budidaya-di.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://budidaya-di.blogspot.com/feeds/8592144152031934824/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2009/11/budidaya-buah-naga.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/8592144152031934824'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/8592144152031934824'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2009/11/budidaya-buah-naga.html' title='Budidaya Buah Naga'/><author><name>Budidaya Pertanian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02468176543501833983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5343438090319808433.post-6681345293776489199</id><published>2009-11-12T06:17:00.001-08:00</published><updated>2009-11-12T06:17:27.689-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Rumput Laut'/><title type='text'>Budidaya Rumput Laut</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;BUDIDAYA RUMPUT LAUT .&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LATAR BELAKANG BUDIDAYA RUMPUT LAUT&lt;br /&gt;Rumput laut (sea weeds) yang dalam dunia ilmu pengetahuan dikenal sebagai Algae sangat populer dalam dunia perdagangan akhir - akhir ini.&lt;br /&gt;Rumput laut dikenal pertama kali oleh bangsa Cina kira - kira tahun 2700 SM. Pada saat itu rumput laut banyak digunakan untuk sayuran dan obat - obatan. Pada tahun 65 SM, bangsa Romawi memanfaatkannya sebagai bahan baku kosmetik. Namun dengan perkembangan waktu, pengetahuan tentang rumput lautpun semakin berkembang. Spanyol, Perancis, dan Inggris menjadikan rumput laut sebagai bahan baku pembuatan gelas.&lt;br /&gt;Kapan pemanfaatan rumput laut di Indonesia tidak diketahui. Hanya pada waktu bangsa Portugis datang ke Indonesia sekitar tahun 1292, rumput laut telah dimanfaatkan sebagai sayuran. Baru pada masa sebelum perang dunia ke - 2, tercatat bahwa Indonesia telah mengekspor rumput laut ke Amerika Serikat, Denmark, dan Perancis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang ini rumput laut di Indonesia banyak dikembangkan di pesisir pantai Bali dan Nusa Tenggara. Mengingat panjangnya garis pantai Indonesia (81.000 km), maka peluang budidaya rumput laut sangat menjanjikan. Jika menilik permintaan pasar dunia ke Indonesia yang setiap tahunnya mencapai rata - rata 21,8 % dari kebutuhan dunia, sekarang ini pemenuhan untuk memasok permintaan tersebut masih sangat kurang, yaitu hanya berkisar 13,1%. Rendahnya pasokan dari Indonesia disebabkan karena kegiatan budidaya yang kurang baik dan kurangnya informasi tentang potensi rumput laut kepada para petani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KANDUNGAN RUMPUT LAUT&lt;br /&gt;Rumput laut yang banyak dimanfaatkan adalah dari jenis ganggang merah (Rhodophyceae) karena mengandung agar - agar, keraginan, porpiran, furcelaran maupun pigmen fikobilin (terdiri dari fikoeretrin dan fikosianin) yang merupakan cadangan makanan yang mengandung banyak karbohidrat. Tetapi ada juga yang memanfaatkan jenis ganggang coklat (Phaeophyceae). Ganggang coklat ini banyak mengandung pigmen klorofil a dan c, beta karoten, violasantin dan fukosantin, pirenoid, dan lembaran fotosintesa (filakoid). Selain itu ganggang coklat juga mengandung cadangan makanan berupa laminarin, selulose, dan algin. Selain bahan - bahan tadi, ganggang merah dan coklat banyak mengandung jodium.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MANFAAT RUMPUT LAUT&lt;br /&gt;1. Agar - agar&lt;br /&gt;Masyarakat pada umumnya mengenal agar - agar dalam bentuk tepung yang biasa digunakan untuk pembuatan puding. Akan tetapi orang tidak tahu secara pasti apa agar - agar itu. Agar - agar merupakan asam sulfanik yang meruapakan ester dari galakto linier dan diperoleh dengan mengekstraksi ganggang jenis Agarophytae. Agar - agar ini sifatnya larut dalam air panas dan tidak larut dalam air dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang ini penggunaan agar - agar semakin berkembang, yang dulunya hanya untuk makanan saja sekarang ini telah digunakan dalam industri tekstil, kosmetik, dan lain - lain. Fungsi utamanya adalah sebagai bahan pemantap, dan pembuat emulsi, bahan pengental, bahan pengisi, dan bahan pembuat gel. Dalam industri, agar - agar banyak digunakan dalam industri makanan seperti untuk pembuatan roti, sup, saus, es krim, jelly, permen, serbat, keju, puding, selai, bir, anggur, kopi, dan cokelat. Dalam industri farmasi bermanfaat sebagai obat pencahar atau peluntur, pembungkus kapsul, dan bahan campuran pencetak contoh gigi. Dalam industri tekstil dapat digunakan untuk melindungi kemilau sutera. Dalam industri kosmetik, agar - agar bermanfaat dalam pembuatan salep, krem, lotion, lipstik, dan sabun. Selain itu masih banyak manfaat lain dari agar - agar, seperti untuk pembuatan pelat film, pasta gigi, semir sepatu, kertas, dan pengalengan ikan dan daging.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Keraginan&lt;br /&gt;Keraginan merupakan senyawa polisakarida yang tersusun dari unit D-galaktosa dan L-galaktosa 3,6 anhidrogalaktosa yang dihubungkan oleh ikatan 1 - 4 glikosilik. Ciri kas dari keraginan adalah setiap unit galaktosanya mengikat gugusan sulfat, jumlah sulfatnya lebih kurang 35,1%.&lt;br /&gt;Kegunaan keraginan hampir sama dengan agar - agar, antara lain sebagai pengatur keseimbangan, pengental, pembentuk gel, dan pengemulsi. Keraginan banyak digunakan dalam industri makanan untuk pembuatan kue, roti, makroni, jam, jelly, sari buah, bir, es krim, dan gel pelapis produk daging. Dalam industri farmasi banyak dimanfaatkan untuk pasta gigi dan obat - obatan. Selain itu juga dapat dimanfaatkan dalam industri tekstil, kosmetik dan cat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Algin (Alginat)&lt;br /&gt;Algin ini didapatkan dari rumput laut jenis algae coklat. Algin ini merupakan polimer dari asam uronat yang tersusun dalam bentuk rantai linier panjang. Bentuk algin di pasaran banyak dijumpai dalam bentuk tepung natrium, kalium atau amonium alginat yang larut dalam air.&lt;br /&gt;Kegunaan algin dalam industri ialah sebagai bahan pengental, pengatur keseimbangan, pengemulsi, dan pembentuk lapisan tipis yang tahan terhadap minyak. Algin dalam industri banyak digunakan dalam industri makanan untuk pembuatan es krim, serbat, susu es, roti, kue, permen, mentega, saus, pengalengan daging, selai, sirup, dan puding. Dalam industri farmasi banyak dimanfaatkan untuk tablet, salep, kapsul, plester, dan filter. Industri kosmetik untuk cream, lotion, sampo, cat rambut,. Dan dalam industri lain seperti tekstil, kertas, fotografi, insektisida, pestisida, dan bahan pengawet kayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FUNGSI TON DALAM EKOLOGI RUMPUT LAUT&lt;br /&gt;Rumput laut pertama kali ditemukan hidup secara alami bukan hasil budidaya. Mereka tersebar di perairan sesuai dengan lingkungan yang dibutuhkannya. Rumput laut memerlukan tempat menempel untuk menunjang kehidupannya. Di alam tempat menempel ini bisa berupa karang mati, cangkang moluska, dan bisa juga berupa pasir dan lumpur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu rumput laut sangat membutuhkan sinar matahari untuk melangsungkan proses fotosintesa. Banyaknya sinar matahari ini sangat dipengaruhi oleh kecerahan air laut. Supaya kebutuhan sinar matahari tersedia dalam jumlah yang optimal maka harus diatur kedalaman dalam membudidayakannya. Kedalaman idealnya adalah berada 30 - 50 cm dari permukaan air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses fotosintesa rumput laut tidak hanya dipengaruhi oleh sinar matahari saja, tetapi juga membutuhkan unsur hara dalam jumlah yang cukup baik makro maupun mikro. Unsur hara ini banyak didapatkan dari lingkungan air yang diserap langsung oleh seluruh bagian tanaman. Untuk mensuplai unsur hara ini biasanya dilakukan pemupukan selama budidaya. Untuk membantu menyediakan unsur hara dalam jumlah yang optimal dan supaya cepat diserap oleh rumput laut ini, maka harus disediakan unsur hara yang sudah dalam keadaan siap pakai (ionik). Unsur hara ini banyak dikandung dalam TON (Tambak Organik Nusantara).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TON (Tambak Organik Nusantara), mengandung segala bahan-bahan yang dibutuhkan dalam pertumbuhan rumput laut. Baik menyediakan unsur hara mikro lengkap, juga menyediakan unsur makro. Selain itu TON juga akan meningkatkan kualitas rumput laut, karena akan menurunkan tingkat pencemaran logam berat yang juga akan terserap oleh rumput laut. Jika logam berat ini tidak ada yang mengikat, maka akan ikut terserap dalam proses absorbsi unsur hara dari rumput laut, sehingga sangat berbahaya bagi konsumen. Dengan adanya TON, logam berat ini akan terikat dalam bentuk senyawa dan akan mengendap atau sulit terserap oleh proses absorbsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertumbuhan rumput laut juga dipengaruhi oleh jumlah oksigen terlarut (DO), salinitas (kadar garam) dan temperatur. Kandungan Oksigen selain dipengaruhi oleh gerakan air juga dipengaruhi oleh ketersediaan unsur hara. Sehingga TON juga sangat penting untuk menunjang ketersediaan oksigen di perairan. Temperatur ideal bagi pertumbuhan rumput laut adalah berkisar 200 - 280 C&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tersedianya unsur hara dalam jumlah yang optimal dan kondisi lingkungan yang seimbang karena pengaruh TON, maka kualitas dan kuantitas bahan - bahan yang dikandung oleh rumput laut juga akan meningkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, pemakaian TON untuk budidaya rumput laut juga akan membantu mengikat senyawa - senyawa dan unsur - unsur berbahaya dalam perairan. Senyawa - senyawa dan unsur-unsur ini jika teradsorbsi dalam sistem metabolisme rumput laut, akan mengganggu pertumbuhan rumput laut dan juga akan menurunkan kualitas hasilnya. Selain itu jika rumput laut ini akan digunakan untuk bahan makanan, akan sangat berbahaya bagi yang menkonsumsinya. Kandungan senyawa karbon aktif dari TON akan sangat membantu untuk mereduksi senyawa-senyawa dan unsur - unsur berbahaya tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BUDIDAYA RUMPUT LAUT DAN CARA PEMAKAIAN TON (TAMBAK ORGANIK NUSANTARA)&lt;br /&gt;Dalam menjalankan budidaya rumput laut, pertama yang harus diperhatikan adalah pemilihan lokasi budidaya. Sebaiknya lokasi budidaya diusahakan di perairan yang tidak mengalami fluktuasi salinitas (kadar garam) yang besar dan bebas dari pencemaran industri maupun rumah tangga. Selain itu pemilihan lokasi juga harus mempertimbangkan aspek ekonomis dan tenaga kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budidaya rumput laut dapat dilakukan di areal pantai lepas maupun di tambak. Dalam pembahasan sekarang ini kita akan menekankan pada budidaya di tambak. Hal ini mengingat peran TON yang tidak efektif jika diperairan lepas (pantai). Untuk budidaya perairan lepas dibedakan dalam beberapa metode, yaitu :&lt;br /&gt;1. Metode Lepas Dasar&lt;br /&gt;Dimana cara ini dikerjakan dengan mengikatkan bibit rumput laut pada tali - tali yang dipatok secara berjajar - jajar di daerah perairan laut dengan kedalaman antara 30 - 60 cm. Rumput laut ditanam di dasar perairan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Metode Rakit&lt;br /&gt;Cara ini dikerjakan di perairan yang kedalamannya lebih dari 60 cm. Dikerjakan dengan mengikat bibit rumput di tali - tali yang diikatkan di patok - patok dalam posisi seperti melayang di tengah - tengah kedalaman perairan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Metode Tali Gantung&lt;br /&gt;Jika dua metode di atas posisi bibit - bibit rumput laut dalam posisi horizontal (mendatar), maka metode tali gantung ini dilakukan dengan mengikatkan bibit - bibit rumput laut dalam posisi vertikal (tegak lurus) pada tali - tali yang disusun berjajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemakaian TON dengan 3 cara di atas hanya dapat dilakukan dengan sistem perendaman bibit. Karena jika TON diaplikasikan di perairan akan tidak efektif dan akan banyak yang hilang oleh arus laut. Metode perendaman bibit dilakukan dengan cara :&lt;br /&gt;1. Larutkan TON dalam air laut yang ditempatkan dalam wadah .&lt;br /&gt;2. Untuk 1 liter air laut diberikan seperempat sendok makan (5 - 10 gr) TON dan tambahkan 1 - 2 cc Hormonik.&lt;br /&gt;3. Rendam selama 4 - 5 jam, dan bibit siap ditanam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemakaian TON akan sangat efektif jika diaplikasikan dalam budidaya rumput laut di tambak. Cara budidaya di tambak ini dapat dilakukan dengan metode tebar. Caranya adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. Tambak harus dilengkapi saluran pemasukan dan pengeluaran.&lt;br /&gt;2. Tambak dikeringkan dahulu.&lt;br /&gt;3. Taburkan kapur agar pH-nya netral ( 0,5 - 2 ton per-hektar tergantung kondisi keasaman lahan).&lt;br /&gt;4. Diamkan selama 1 minggu.&lt;br /&gt;5. Aplikasikan TON, dengan dosis 1 - 5 botol per-hektar (untuk daerah - daerah yang tingkat pencemarannya tinggi, dosisnya ditinggikan), dengan cara dilarutkan dengan air dahulu, kemudian disebar secara merata di dasar tambak.&lt;br /&gt;6. Diamkan 1 hari&lt;br /&gt;7. Masukkan air sampai ketinggian 70 cm.&lt;br /&gt;8. Tebarkan bibit rumput laut yang sudah direndam dengan TON dan hormonik seperti cara perendaman di atas. Dengan kepadatan 80 - 100 gram/m2.&lt;br /&gt;9. Bila dasar tambak cukup keras, bibit dapat ditancapkan seperti penanaman padi.&lt;br /&gt;10. Tidak perlu ditambah pupuk makro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEMELIHARAAN DAN APLIKASI TON (TAMBAK ORGANIK NUSANTARA) SUSULAN RUMPUT LAUT.&lt;br /&gt;Selama budidaya, harus dilakukan pengawasan secara kontinyu. Khusus untuk budidaya di tambak harus dilakukaan minimal 1 - 2 minggu setelah penebaran bibit, hal ini untuk mengontrol posisi rumput laut yang ditebar. Biasanya karena pengaruh angin, bibit akan mengumpul di areal tertentu, jika demikian harus dipisahkan dan ditebar merata lagi di areal tambak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kotoran dalam bentuk debu air (lumpur terlarut/ suspended solid) sering melekat pada tanaman, apalagi pada perairan yang tenang seperti tambak. Pada saat itu, maka tanaman harus digoyang - goyangkan di dalam air agar tanaman selalu bersih dari kotoran yang melekat. Kotoran ini akan mengganggu metabolisme rumput laut. Beberapa tumbuhan laut seperti Ulva, Hypea, Chaetomorpha, dan Enteromorpha sering membelit tanaman. Tumbuhan - tumbuhan tersebut harus segera disingkirkan dan dipisahkan dari rumput laut agar tidak menurunkan kualitas hasil. Caranya dengan mengumpulkannya di darat. Bulu babi, ikan dan penyu merupakan hewan herbivora yang harus dicegah agar tidak memangsa rumput laut. Untuk menghindari itu biasanya dipasang jaring disekeliling daerah budidaya. Untuk budidaya di tambak di lakukan dengan memasang jaring di saluran pemasukan dan pengeluaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEMANENAN RUMPUT LAUT&lt;br /&gt;Pada tahap pemanenan ini harus diperhatikan cara dan waktu yang tepat agar diperoleh hasil yang sesuai dengan permintaan pasar secara kualitas dan kuantitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanaman dapat dipanen setelah umur 6 - 8 minggu setelah tanam. Cara memanen adalah dengan mengangkat seluruh tanaman rumput laut ke darat. Rumput laut yang dibudidayakan di tambak dipanen dengan cara rumpun tanaman diangkat dan disisakan sedikit untuk dikembangbiakkan lebih lanjut. Atau bisa juga dilakukan dengan cara petik dengan memisahkan cabang - cabang dari tanaman induknya, tetapi cara ini akan berakibat didapatkannya sedikit keraginan dan pertumbuhan tanaman induk untuk budidaya selanjutnya akan menurun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika rumput laut dipanen pada usia sekitar satu bulan, biasanya akan diperoleh perbandingan berat basah dan berat kering 8 : 1, dan jika dipanen pada usia dua bulan biasanya akan didapat perbandingan 6 : 1. Untuk jenis gracilaria biasanya diperoleh hasil panen sekitar 1500 - 2000 kg rumput laut kering per- hektarnya. Diharapkan dengan penggunaan TON (Tambak Organik Nusantara) akan meningkat sekitar 30 - 100 %.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: teknis-budidaya.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5343438090319808433-6681345293776489199?l=budidaya-di.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://budidaya-di.blogspot.com/feeds/6681345293776489199/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2009/11/budidaya-rumput-laut.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/6681345293776489199'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/6681345293776489199'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2009/11/budidaya-rumput-laut.html' title='Budidaya Rumput Laut'/><author><name>Budidaya Pertanian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02468176543501833983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5343438090319808433.post-7940352518968973329</id><published>2009-11-12T06:16:00.001-08:00</published><updated>2009-11-12T06:16:58.105-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Udang'/><title type='text'>Budidaya Udang</title><content type='html'>BUDIDAYA UDANG.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;Budidaya udang windu di Indonesia dimulai pada awal tahun 1980-an, dan mencapai puncak produksi pada tahun 1985-1995. Sehingga pada kurun waktu tersebut udang windu merupakan penghasil devisa terbesar pada produk perikanan. Selepas tahun 1995 produksi udang windu mulai mengalami penurunan. Hal itu disebabkan oleh penurunan mutu lingkungan dan serangan penyakit. Melihat kondisi tersebut, PT. NATURAL NUSANTARA merasa terpanggil untuk membantu mengatasi permasalahan tersebut dengan produk-produk yang berprinsip kepada Kualitas, Kuantitas dan Kelestarian (K-3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TEKNIS BUDIDAYA UDANG&lt;br /&gt;Budidaya udang windu meliputi beberapa faktor, yaitu :&lt;br /&gt;2.1. Syarat Teknis&lt;br /&gt;- Lokasi yang cocok untuk tambak udang yaitu pada daerah pantai yang mempunyai tanah bertekstur liat atau liat berpasir yang mudah dipadatkan sehingga mampu menahan air dan tidak mudah pecah.&lt;br /&gt;- Air yang baik yaitu air payau dengan salinitas 0-33 ppt dengan suhu optimal 26 - 300C dan bebas dari pencemaran bahan kimia berbahaya.&lt;br /&gt;- Mempunyai saluran air masuk/inlet dan saluran air keluar/outlet yang terpisah.&lt;br /&gt;- Mudah mendapatkan sarana produksi yaitu benur, pakan, pupuk , obat-obatan dan lain-lain.&lt;br /&gt;- Pada tambak yang intensif harus tersedia aliran listrik dari PLN atau mempunyai Generator sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.2. Tipe Budidaya.&lt;br /&gt;Berdasarkan letak, biaya dan operasi pelaksanaannya, tipe budidaya dibedakan menjadi :&lt;br /&gt;- Tambak Ekstensif atau tradisional.&lt;br /&gt;Petakan tambak biasanya di lahan pasang surut yang umumnya berupa rawa bakau. Ukuran dan bentuk petakan tidak teratur, belum meggunakan pupuk dan obat-obatan dan program pakan tidak teratur.&lt;br /&gt;- Tambak Semi Intensif.&lt;br /&gt;Lokasi tambak sudah pada daerah terbuka, bentuk petakan teratur tetapi masih berupa petakan yang luas (1-3 ha/petakan), padat penebaran masih rendah, penggunaan pakan buatan masih sedikit.&lt;br /&gt;- Tambak Intensif.&lt;br /&gt;Lokasi di daerah yang khusus untuk tambak dalam wilayah yang luas, ukuran petakan dibuat kecil untuk efisiensi pengelolaan air dan pengawasan udang, padat tebar tinggi, sudah menggunakan kincir, serta program pakan yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.3. Benur&lt;br /&gt;. Benur yang baik mempunyai tingkat kehidupan (Survival Rate/SR) yang tinggi, daya adaptasi terhadap perubahan lingkungan yang tinggi, berwarna tegas/tidak pucat baik hitam maupun merah, aktif bergerak, sehat dan mempunyai alat tubuh yang lengkap. Uji kualitas benur dapat dilakukan secara sederhana, yaitu letakkan sejumlah benur dalam wadah panci atau baskom yang diberi air, aduk air dengan cukup kencang selama 1-3 menit. Benur yang baik dan sehat akan tahan terhadap adukan tersebut dengan berenang melawan arus putaran air, dan setelah arus berhenti, benur tetap aktif bergerak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.4. Pengolahan Lahan&lt;br /&gt;Pengolahan lahan, meliputi :&lt;br /&gt;- Pengangkatan lumpur. Setiap budidaya pasti meninggalkan sisa budidaya yang berupa lumpur organik dari sisa pakan, kotoran udang dan dari udang yang mati. Kotoran tersebut harus dikeluarkan karena bersifat racun yang membahayakan udang. Pengeluaran lumpur dapat dilakukan dengan cara mekanis menggunakan cangkul atau penyedotan dengan pompa air/alkon.&lt;br /&gt;- Pembalikan Tanah. Tanah di dasar tambak perlu dibalik dengan cara dibajak atau dicangkul untuk membebaskan gas-gas beracun (H2S dan Amoniak) yang terikat pada pertikel tanah, untuk menggemburkan tanah dan membunuh bibit panyakit karena terkena sinar matahari/ultra violet.&lt;br /&gt;- Pengapuran. Bertujuan untuk menetralkan keasaman tanah dan membunuh bibit-bibit penyakit. Dilakukan dengan kapur Zeolit dan Dolomit dengan dosis masing-masing 1 ton/ha.&lt;br /&gt;- Pengeringan. Setelah tanah dikapur, biarkan hingga tanah menjadi kering dan pecah-pecah, untuk membunuh bibit penyakit.&lt;br /&gt;- Perlakuan pupuk TON ( Tambak Organik Nusantara ). Untuk mengembalikan kesuburan lahan serta mempercepat pertumbuhan pakan alami/plankton dan menetralkan senyawa beracun, lahan perlu diberi perlakuan TON dengan dosis 5 botol/ha untuk tambak yang masih baik atau masih baru dan 10 botol TON untuk areal tambak yang sudah rusak. Caranya masukkan sejumlah TON ke dalam air, kemudian aduk hingga larut. Siramkan secara merata ke seluruh areal lahan tambak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.5. Pemasukan Air&lt;br /&gt;Setelah dibiarkan 3 hari, air dimasukkan ke tambak. Pemasukan air yang pertama setinggi 10-25 cm dan biarkan beberapa hari, untuk memberi kesempatan bibit-bibit plankton tumbuh setelah dipupuk dengan TON. Setelah itu air dimasukkan hingga minimal 80 cm. Perlakuan Saponen bisa dilakukan untuk membunuh ikan yang masuk ke tambak. Untuk menyuburkan plankton sebelum benur ditebar, air dikapur dengan Dolomit atau Zeolit dengan dosis 600 kg/ha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.6. Penebaran Benur.&lt;br /&gt;Tebar benur dilakukan setelah air jadi, yaitu setelah plankton tumbuh yang ditandai dengan kecerahan air kurang lebih 30-40 cm. Penebaran benur dilakukan dengan hati-hati, karena benur masih lemah dan mudah stress pada lingkungan yang baru. Tahap penebaran benur adalah :&lt;br /&gt;- Adaptasi suhu. Plastik wadah benur direndam selama 15 30 menit, agar terjadi penyesuaian suhu antara air di kolam dan di dalam plastik.&lt;br /&gt;- Adaptasi udara. Plastik dibuka dan dilipat pada bagian ujungnya. Biarkan terbuka dan terapung selama 15 30 menit agar terjadi pertukaran udara dari udara bebas dengan udara dalam air di plastik.&lt;br /&gt;- Adaptasi kadar garam/salinitas. Dilakukan dengan cara memercikkan air tambak ke dalam plastik selama 10 menit. Tujuannya agar terjadi percampuran air yang berbeda salinitasnya, sehingga benur dapat menyesuaikan dengan salinitas air tambak.&lt;br /&gt;- Pengeluaran benur. Dilakukan dengan memasukkan sebagian ujung plastik ke air tambak. Biarkan benur keluar sendiri ke air tambak. Sisa benur yang tidak keluar sendiri, dapat dimasukkan ke tambak dengan hati-hati/perlahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.7. Pemeliharaan Udang.&lt;br /&gt;Pada awal budidaya, sebaiknya di daerah penebaran benur disekat dengan waring atau hapa, untuk memudahkan pemberian pakan. Sekat tersebut dapat diperluas sesuai dengan perkembangan udang, setelah 1 minggu sekat dapat dibuka. Pada bulan pertama yang diperhatikan kualitas air harus selalu stabil. Penambahan atau pergantian air dilakukan dengan hati-hati karena udang masih rentan terhadap perubahan kondisi air yang drastis. Untuk menjaga kestabilan air, setiap penambahan air baru diberi perlakuan TON dengan dosis 1 - 2 botol TON/ha untuk menumbuhkan dan menyuburkan plankton serta menetralkan bahan-bahan beracun dari luar tambak.&lt;br /&gt;Mulai umur 30 hari dilakukan sampling untuk mengetahui pekembanghan udang melalui pertambahan berat udang. Udang yang normal pada umur 30 hari sudah mencapai size (jumlah udang/kg) 250-300. Untuk selanjutnya sampling dilakukan tiap 7-10 hari sekali. Produksi bahan organik terlarut yang berasa dari kotoran dan sisa pakan sudah cukup tinggi, oleh karena itu sebaiknya air diberi perlakuan kapur Zeolit setiap beberapa hari sekali dengan dosis 400 kg/ha. Pada setiap pergantian atau penambahan air baru tetap diberi perlakuan TON.&lt;br /&gt;Mulai umur 60 hari ke atas, yang harus diperhatikan adalah manajemen kualitas air dan kontrol terhadap kondisi udang. Setiap menunjukkkan kondisi air yang jelek (ditandai dengan warna keruh, kecerahan rendah) secepatnya dilakukan pergantian air dan perlakuan TON 1-2 botol/ha. Jika konsentrasi bahan organik dalam tambak yang semakin tinggi, menyebabkan kualitas air/lingkungan hidup udang juga semakin menurun, akibatnya udang mudah mengalami stres, yang ditandai dengan tidak mau makan, kotor dan diam di sudut-sudut tambak, yang dapat menyebabkan terjadinya kanibalisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.8. Panen.&lt;br /&gt;Udang dipanen disebabkan karena tercapainya bobot panen (panen normal) dan karena terserang penyakit (panen emergency). Panen normal biasanya dilakukan pada umur kurang lebih 120 hari, dengan size normal rata-rata 40 - 50. Sedang panen emergency dilakukan jika udang terserang penyakit yang ganas dalam skala luas (misalnya SEMBV/bintik putih). Karena jika tidak segera dipanen, udang akan habis/mati.&lt;br /&gt;Udang yang dipanen dengan syarat mutu yang baik adalah yang berukuran besar, kulit keras, bersih, licin, bersinar, alat tubuh lengkap, masih hidup dan segar. Penangkapan udang pada saat panen dapat dilakukan dengan jala tebar atau jala tarik dan diambil dengan tangan. Saat panen yang baik yaitu malam atau dini hari, agar udang tidak terkena panas sinar matahari sehingga udang yang sudah mati tidak cepat menjadi merah/rusak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PAKAN UDANG.&lt;br /&gt;Pakan udang ada dua macam, yaitu pakan alami yang terdiri dari plankton, siput-siput kecil, cacing kecil, anak serangga dan detritus (sisa hewan dan tumbuhan yang membusuk). Pakan yang lain adalah pakan buatan berupa pelet. Pada budidaya yang semi intensif apalagi intensif, pakan buatan sangat diperlukan. Karena dengan padat penebaran yang tinggi, pakan alami yang ada tidak akan cukup yang mengakibatkan pertumbuhan udang terhambat dan akan timbul sifat kanibalisme udang.&lt;br /&gt;Pelet udang dibedakan dengan penomoran yang berbeda sesuai dengan pertumbuhan udang yang normal.&lt;br /&gt;a. Umur 1-10 hari pakan 01&lt;br /&gt;b. Umur 11-15 hari campuran 01 dengan 02&lt;br /&gt;c. Umur 16-30 hari pakan 02&lt;br /&gt;d. Umur 30-35 campuran 02 dengan 03&lt;br /&gt;e. Umur 36-50 hari pakan 03&lt;br /&gt;f. Umur 51-55 campuran 03 dengan 04 atau 04S&lt;br /&gt;(jika memakai 04S, diberikan hingga umur 70 hari).&lt;br /&gt;g. Umur 55 hingga panen pakan 04, jika pada umur 85 hari size rata-rata mencapai 50, digunakan pakan 05 hingga panen.&lt;br /&gt;Kebutuhan pakan awal untuk setiap 100.000 ekor adalah 1 kg, selanjutnya tiap 7 hari sekali ditambah 1 kg hingga umur 30 hari. Mulai umur tersebut dilakukan cek ancho dengan jumlah pakan di ancho 10% dari pakan yang diberikan. Waktu angkat ancho untuk size 1000-166 adalah 3 jam, size 166-66 adalah 2,5 jam, size 66-40 adalah 2,5 jam dan kurang dari 40 adalah 1,5 jam dari pemberian.&lt;br /&gt;Untuk meningkatkan pertumbuhan udang, perlu penambahan nutrisi lengkap dalam pakan. Untuk itu, pakan harus dicampur dengan POC NASA yang mengandung mineral-mineral penting, protein, lemak dan vitamin dengan dosis 5 cc/kg pakan untuk umur dibwah 60 hari dan setelah itu 10 cc/kg pakan hingga panen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENYAKIT UDANG.&lt;br /&gt;Beberapa penyakit yang sering menyerang udang adalah ;&lt;br /&gt;1. Bintik Putih. Penyakit inilah yang menjadi penyebab sebagian besar kegagalan budidaya udang. Disebabkan oleh infeksi virus SEMBV (Systemic Ectodermal Mesodermal Baculo Virus). Serangannya sangat cepat, dalam beberapa jam saja seluruh populasi udang dalam satu kolam dapat mati. Gejalanya : jika udang masih hidup, berenang tidak teratur di permukaan dan jika menabrak tanggul langsung mati, adanya bintik putih di cangkang (Carapace), sangat peka terhadap perubahan lingkungan. Virus dapat berkembang biak dan menyebar lewat inang, yaitu kepiting dan udang liar, terutama udang putih. Belum ada obat untuk penyakit ini, cara mengatasinya adalah dengan diusahakan agar tidak ada kepiting dan udang-udang liar masuk ke kolam budidaya. Kestabilan ekosistem tambak juga harus dijaga agar udang tidak stress dan daya tahan tinggi. Sehingga walaupun telah terinfeksi virus, udang tetap mampu hidup sampai cukup besar untuk dipanen. Untuk menjaga kestabilan ekosistem tambak tersebut tambak perlu dipupuk dengan TON.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Bintik Hitam/Black Spot. Disebabkan oleh virus Monodon Baculo Virus (MBV). Tanda yang nampak yaitu terdapat bintik-bintik hitam di cangkang dan biasanya diikuti dengan infeksi bakteri, sehingga gejala lain yang tampak yaitu adanya kerusakan alat tubuh udang. Cara mencegah : dengan selalu menjaga kualitas air dan kebersihan dasar tambak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Kotoran Putih/mencret. Disebabkan oleh tingginya konsentrasi kotoran dan gas amoniak dalam tambak. Gejala : mudah dilihat, yaitu adanya kotoran putih di daerah pojok tambak (sesuai arah angin), juga diikuti dengan penurunan nafsu makan sehingga dalam waktu yang lama dapat menyebabkan kematian. Cara mencegah : jaga kualitas air dan dilakukan pengeluaran kotoran dasar tambak/siphon secara rutin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Insang Merah. Ditandai dengan terbentuknya warna merah pada insang. Disebabkan tingginya keasaman air tambak, sehingga cara mengatasinya dengan penebaran kapur pada kolam budidaya. Pengolahan lahan juga harus ditingkatkan kualitasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Nekrosis. Disebabkan oleh tingginya konsentrasi bakteri dalam air tambak. Gejala yang nampak yaitu adanya kerusakan/luka yang berwarna hitam pada alat tubuh, terutama pada ekor. Cara mengatasinya adalah dengan penggantian air sebanyak-banyaknya ditambah perlakuan TON 1-2 botol/ha, sedangkan pada udang dirangsang untuk segera melakukan ganti kulit (Molting) dengan pemberian saponen atau dengan pengapuran.&lt;br /&gt;Penyakit pada udang sebagian besar disebabkan oleh penurunan kualitas kolam budidaya. Oleh karena itu perlakuan TON sangat diperlukan baik pada saat pengolahan lahan maupun saat pemasukan air baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: teknis-budidaya.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5343438090319808433-7940352518968973329?l=budidaya-di.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://budidaya-di.blogspot.com/feeds/7940352518968973329/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2009/11/budidaya-udang.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/7940352518968973329'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/7940352518968973329'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2009/11/budidaya-udang.html' title='Budidaya Udang'/><author><name>Budidaya Pertanian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02468176543501833983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5343438090319808433.post-6069790555181131073</id><published>2009-11-12T06:15:00.000-08:00</published><updated>2009-11-12T06:16:28.342-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Ikan'/><title type='text'>BUDIDAYA IKAN BANDENG.</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;BUDIDAYA IKAN BANDENG. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. Pendahuluan.&lt;br /&gt;Ikan bandeng merupakan adalah satu jenis ikan penghasil protein hewani yang tinggi. Usaha intensifikasi budidaya perlu dilakukan karena rendahnya produktivitas bandeng dengan budidaya tradisional. Peningkatan sistem budidaya juga harus diikuti dengan penggunaan teknologi baru.&lt;br /&gt;PT. NATURAL NUSANTARA memberikan teknologi yang diperlukan dengan prinsip K-3 (Kuantitas, Kualitas dan Kesehatan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. Sifat Biologis Ikan Bandeng.&lt;br /&gt;Bandeng termasuk golongan ikan herbivora , yaitu bangsa ikan yang mengkonsumsi tumbuhan. Mampu mencapai berat rata-rata 0,6 kg pada usia 5 - 6 bulan dengan pemeliharaan yang intensif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. Penyediaan Benih Ikan Bandeng.&lt;br /&gt;Usaha penyediaan benih (nener) secara kontinyu dengan mutu yang baik dilakukan dengan sistem pembenihan yang intensif pada kolam-kolam khusus, yaitu kolam pematangan induk, pemijahan, peneneran dan kolam pembsaran. Dalam pembenihan bandeng langkah yang dilakukan adalah :&lt;br /&gt;1. Pemilihan induk yang unggul . Induk yang unggul akan menurunkan sifat-sifatnya kepada keturunannya, Ciri-cirinya :&lt;br /&gt;- bentuk normal, perbandingan panjang dan berat ideal.&lt;br /&gt;- ukuran kepala relatif kecil, diantara satu peranakan pertumbuhannya paling cepat.&lt;br /&gt;- susunan sisik teratur, licin, mengkilat, tidak ada luka.&lt;br /&gt;- gerakan lincah dan normal.&lt;br /&gt;- umur antara 4 5 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Merangsang pemijahan. Kematangan gonad dapat dipercepat dengan penggunaan hormone LHRH (Letuizing Hormon Releasing Hormon) melalui suntikan.`&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Memijahkan. Pemijahan adalah pencampuran induk jantan dan berina yang telah matang sel sperma dan sel telurnya agar terjadi pengeluaran (ejakulasi) kedua sel tersebut. Setelah berada di air, sel sperma akan membuahi sel telur karena sistem pembuahan ikan terjadi diluar tubuh. Pemijahan dilakukan pada kolam khusus pemijahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Penetasan. Telur yang mengapung di kolam pemijahan menetas setelah 24 - 26 jam dari awal pemijahan. Telur yang telah menetas akan menjadi larva yang masih mempunyai cadangan makanan dari kuning telur induk, sehingga belum perlu diberi pakan hingga umur 2 hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Merawat benih. Setelah berumur 9 hari larva dipindahkan ke kolam pemeliharaan nener . Di kolam ini larva diberi pakan alami berupa plankton. Penumbuhan plankton dilakukan dengan pemupukan dan pengapuran. Pemupukan yang tepat adalah dengan pupuk TON (TAMBAK ORGANIK NUSANTARA) yang mengandung berbagai unsur mineral penting untuk pertumbuhan plankton, diantaranya N,P,K,Mg, Ca, Mg, S, Cl dan lain-lain, juga dilengkapi dengan asam humat dan vulvat yang mempu memperbaiki tekstur dan meningkatkan kesuburan tanah dasar kolam dengan dosis 5 botol TON/ha atau 25 gr (2 sendok makan)/100 m2 pada tiap pemasukan air. Waktu peneneran 8 minggu. Pakan yang diberikan berupa tepung dengan kadar protein 30%. Untuk menambah nutrisi pakan pencampuiran pakan dengan NASA dengan dosis 2 - 5 /kg pakan sangat diperlukan, karena NASA mengandung unsur-unsur mineral penting yaitu N,P,K,Mg,Fe,Ca,S dan lain-lain, vitamin, protein dan lemak untuk meningkatkan pertumbuhan dan kesehatan nener.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IV. Pembesaran Ikan Bandeng.&lt;br /&gt;Setelah dipelihara di kolam peneneran selama 8 minggu, bandeng dipindahkan ke kolam pembesaran. Teknis pembesaran bandeng meliputi beberapa hal, yaitu :&lt;br /&gt;1. Persiapan lahan.&lt;br /&gt;Tahap ini dilakukan sebelum pemasukan air. kegiatan yang dilakukan selama persiapan lahan adalah :&lt;br /&gt;- Pencangkulan dan pembalikan tanah. Bertujuan untuk membebaskan senyawa dan gas beracun sisa budidaya hasil dekomposisi bahan organik baik dari pakan maupun dari kotoran. Selain itu dengan menjadi gemburnya tanah, aerasi akan berjalan dengan baik sehingga kesuburan lahan akan meningkat.&lt;br /&gt;- Pengapuran. Selama budidaya, ikan memerlukan kondisi keasaman yang stabil yaitu pada pH 7 - 8. Untuk mengembalikan keasaman tanah pada kondisi tersebut, dilakukan pengapuran karena penimbunan dan pembusukan bahan organik selama budidaya sebelumnya menurunkan pH tanah. Pengapuran juga menyebabkan bakteri dan jamur pembawa penyakit mati karena sulit dapat hidup pada pH tersebut. Pengapuran dengan kapur tohor, dolomit atau zeolit dengan dosis 1 TON /ha atau 10 kg/100 m2.&lt;br /&gt;- Pemupukan. Fungsi utama pemupukan adalah memberikan unsur hara yang diperlukan bagi pertumbuhan pakan alami, memperbaiki struktur tanah dan menghambat peresapan air pada tanah-tanah yang tidak kedap air (porous). Penggunaan TON untuk pemupukan tanah dasar kolam sangat tepat, karena TON yang mengandung unsur-unsur mineral penting, dan asam-asam organik utama memberikan bahan-bahan yang diperlukan untuk peningkatan kesuburan lahan dan pertumbuhan plankton. Dosis pemupukan TON adalah 5 botol/ha atau 25 gr/100 m2.&lt;br /&gt;- Pengelolaan air. setelah dilakukan pemupukan dengan TON, air dimasukkan hingga setinggi 10 - 20 cm kemudian dibiarkan beberapa hari, untuk menumbuhkan bibit-bibit plankton. Air dimasukkan hingga setinggi 80 cm atau menyesuaikan dengan kedalaman kolam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pemindahan nener. Setelah plankton tumbuh (warna air hijau) dan kecerahan sedalam 30 - 40 cm, nener di kolam peneneran dipindahkan ke kolam pembesaran dengan hati-hati dengan adaptasi terhadap lingkungan yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pemberian Pakan. Sesuai dengan sifat bandeng yang termasuk hewan herbivore, maka ikan ini suka memakan tumbuh-tumbuhan yang ada di kolam. Tumbuhan yang disukai bandeng adalah lumut, ganggang dan klekap. Untuk mempercepat pertumbuhan, perlu pakan buatan pabrik, dengan standar nutrisi yang dibutuhkan untuk tumbuh optimal dengan kadar protein .minimal 25 - 28 %.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai hewan herbivora, unsur tumbuhan dalam pakan memang sangat penting,. Oleh karena itu, sebaiknya bahan baku unsur protein harus didominasi dari sumber tumbuhan atau nabati dari tepung kedelai atau bungkil kacang tanah. Sebagai acuan pemberian pakan adalah : Jumlah pakan 5 - 7% dari berat badan. Waktu pemberian 3 - 5 kali sehari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penambahan NASA pada pakan buatan merupakan pilihan yang tepat untuk meningkatkan pertumbuhan dan ketahanan tubuh bandeng. NASA mengandung mineral-mineral penting, protein, lemak dan vitamin akan menambah kandungan nutrisi pakan. Dosis pencampuran NASA dengan pakan buatan adalah 2 - 5 cc/kg pakan dengan cara :&lt;br /&gt;1. Timbang pakan sesuai dengan kebutuhan bandeng.&lt;br /&gt;2. Basahi pakan dengan sedikit air agar pencampuran dengan NASA dapat merata.&lt;br /&gt;3. Campurkan NASA sesuai jumlah pakan yang diberikan dengan dosis 2 - 5 cc/kg pakan.&lt;br /&gt;4. Pakan siap untuk diberikan.&lt;br /&gt;Pemberian pakan dengan menyebarkan secara merata pada seluruh areal kolam, agar seluruh bandeng dapat pakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;V. Pengendalian hama dan Penyakit Ikan Bandeng.&lt;br /&gt;Penyakit penting yang sering menyerang bandeng adalah :&lt;br /&gt;1. Pembusukan sirip, disebabkan oleh bakteri. Gejalanya sirip membusuk dari bagian tepi.&lt;br /&gt;2. Vibriosis. Disebabkan oleh bakteri Vibriosis sp , gejalanya nafsu makan turun, pembusukan sirip, dan bagian perut bengkak oleh cairan.&lt;br /&gt;3. Penyakit oleh Protozoa. Gejalanya nafsu makan hilang, mata buta, sisik terkelupas, insang rusak, banyak berlendir.&lt;br /&gt;4. Penyakit oleh cacing renik. Sering disebabkan oleh cacing Diploctanum yang menyerang bagian insang sehingga menjadi pucat dan berlendir.&lt;br /&gt;Penyakit dari bakteri, parasit dan jamur disebabkan lingkungan yang buruk, dan penurunan daya tahan tubuh ikan. Penurunan kualitas lingkungan disebabkan oleh tingginya timbunan bahan organik dan pencemaran lingkungan dari aliran sungai.. Bahan organik dan kotoran akan membusuk dan manghasilkan gas-gas yang berbahaya. Ketahanan tubuh ikan ditentukan konsumsi nutrisinya. Maka cara pengendalian penyakit harus menitikberatkan pada kedua faktor tersebut. Untuk mengatasi penurunan kualitas lingkungan dapat dilakukan perlakuan TON dengan dosis 5 botol/ha atau 25 gr (2 sendok makan)/100 m2 yang mengandung unsur mineral dan asam-asam organik penting yang mampu menetralkan berbagai gas berbahaya hasil pembusukan kotoran dalam kolam dan unsur mineral akan menyuburkan plankton sebagai pakan alami. Untuk mencukupi kebutuhan nutrisi dalam jumlah yang ideal, perlu diberikan pakan dengan standar protein yang sesuai serta dengan penambahan/pencampuran NASA pada pakan buatan. NASA dengan kandungan mineral-mineral penting, vitamin, asam organic, protein dan lemak akan menambah dan melengkapi nutrisi pakan, sehingga ketahanan tubuh untuk hidup dan berkembang selalu tercukupi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: teknis-budidaya.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5343438090319808433-6069790555181131073?l=budidaya-di.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://budidaya-di.blogspot.com/feeds/6069790555181131073/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2009/11/budidaya-ikan-bandeng.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/6069790555181131073'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5343438090319808433/posts/default/6069790555181131073'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budidaya-di.blogspot.com/2009/11/budidaya-ikan-bandeng.html' title='BUDIDAYA IKAN BANDENG.'/><author><name>Budidaya Pertanian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02468176543501833983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5343438090319808433.post-7440731495001953778</id><published>2009-11-11T03:31:00.001-08:00</published><updated>2009-11-11T03:31:50.038-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya Jahe'/><title type='text'>BUDIDAYA JAHE</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;BUDIDAYATANAMAN JAHE&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PENDAHULUAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jahe merupakan salah satu komoditas ekspor rempah-rempah Indonesia, disamping itu juga menjadi bahan baku obat tradisional maupun fitofarmaka, yang memberikan peranan cukup berarti dalam penyerapan tenaga kerja dan penerimaan devisa negara. Sebagai komoditas ekspor dikemas berupa jahe segar, asinan (jahe putih besar), jahe kering (jahe putih besar, kecil dan jahe merah), maupun minyak atsiri dari jahe putih kecil (jahe emprit) dan jahe merah. Volume permintaannya terus meningkat seiring dengan permintaan produk jahe dunia serta makin berkembangnya industri makanan dan minuman di dalam negeri yang menggunakan bahan baku jahe. Pada tahun 1998, ekspor jahe Indonesia mencapai 32.807 ton dengan nilai nominal US $ 9.286.161. Tahun 2003 turun menjadi 7.470 ton dengan nilai US $ 3.930.317 karena mutu yang tidak memenuhi standar. Namun&lt;br /&gt;permintaan jahe mengalami peningkatan setiap tahun. Kondisi ini di Indonesia, direspon dengan makin berkembangnya areal penanaman dan munculnya berbagai produk jahe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengembangan jahe skala luas sampai saat ini perlu didukung dengan upaya pembudidayaannya secara optimal dan berkesinambungan. Untuk mencapai tingkat keberhasilan budidaya yang optimal&lt;br /&gt;diperlukan bahan tanaman dengan jaminan produksi dan mutu yang baik serta stabil dengan cara menerapkan budidaya anjuran. Adanya penolakan ekspor jahe Indonesia di negara tujuan terutama Jepang, karena tingginya cemaran mikroorganisme, mengakibatkan anjloknya pendapatan petani jahe. Hal ini perlu segera diantisipasi dengan menerapkan budidaya anjuran terbaik diantaranya dengan penggunaan bahan tanaman sehat yang berasal dari varietas unggul. Selain itu, karena kualitas simplisia bahan baku industri hilir ditentukan oleh proses budidaya dan pascapanennya, maka pembakuan standar prosedur operasional (SPO) budidaya jahe dibuat guna mendukung&lt;br /&gt;GAP (Good Agricultural Practices).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERSYARATAN TUMBUH TANAMAN JAHE&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk budidaya jahe diperlukan lahan di daerah yang sesuai untuk pertumbuhannya. Untuk pertumbuhan jahe yang optimal diperlukan persyaratan iklim dan lahan sebagai berikut : iklim tipe A, B dan C (Schmidt &amp;amp; ferguson), ketinggian tempat 300 - 900 m dpl., temperatur rata-rata tahunan 25 - 30º C, jumlah bulan basah (&gt; 100 mm/bl) 7 - 9 bulan per tahun, curah hujan per tahun 2 500 – 4 000 mm, intensitas cahaya matahari 70 - 100% atau agak ternaungi sampai terbuka, drainase tanah baik, tekstur tanah lempung sampai lempung liat berpasir, pH tanah 6,8 – 7,4. Pada lahan dengan pH rendah dapat diberikan kapur pertanian (kaptan) 1 - 3 ton/ha atau dolomit 0,5 – 2 ton/ha untuk meningkatkan pH tanah. Pada lahan dengan kemiringan &gt; 3% dianjurkan untuk dilakukan pembuatan teras, teras bangku sangat dianjurkan bila kemiringan lereng cukup curam. Hal ini untuk menghindari terjadinya pencucian lahan yang mengakibatkan tanah menjadi tidak subur, dan benih jahe hanyut terbawa arus. Persyaratan lahan lainnya yang juga penting bagi penamaman jahe adalah lahan bukan merupakan daerah endemik penyakit tular tanah (soil borne diseases) terutama bakteri&lt;br /&gt;layu dan nematoda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menjamin kesehatan lahan, sebaiknya lahan yang digunakan bukan bekas jahe, atau tidak ada serangan penyakit bakteri layu dilahan tersebut dan hanya dua kali berturut-turut ditanami jahe. Tahun berikutnya dianjurkan pindah tempat untuk menghindari kegagalan panen karena kendala penyakit dan adanya gejala allelopati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAHAN TANAMAN JAHE&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jahe (Zingiber officinale Rosc.; Ginger) adalah tanaman herba tahunan yang tergolong famili Zingiberaceae, dengan daun berpasangpasangan dua-dua berbentuk pedang, rimpang seperti tanduk,&lt;br /&gt;beraroma. Selama ini di Indonesia, berdasarkan pada bentuk, warna dan aroma rimpang serta komposisi kimianya dikenal 3 tipe jahe, yaitu jahe putih besar, jahe emprit dan jahe merah. Jahe putih besar (Z. officinale var. officinarum) mempunyai rimpang besar berbuku, berwarna putih kekuningan dengan diameter 8,47 – 8,50 cm, aroma kurang tajam, tinggi dan panjang rimpang&lt;br /&gt;6,20 – 11,30 dan 15,83 – 32,75 cm, warna daun hijau muda, batang hijau muda dengan kadar minyak atsiri didalam rimpang 0,82 – 2,8%. Jahe putih kecil (Z. officinale var. amarum) mempunyai rimpang kecil berlapis-lapis, aroma tajam, berwarna putih kekuningan dengan diameter 3,27 – 4,05 cm, tinggi dan panjang rimpang 6,38 –11,10 dan 6,13 – 31,70 cm, warna daun hijau muda, batang hijau muda dengan kadar minyak atsiri 1,50 – 3,50%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jahe merah (Z. officanale var. rubrum) mempunyai rimpang kecil berlapis, aroma sangat tajam, berwarna jingga muda sampai merah dengan diameter 4,20 – 4,26 cm, tinggi dan panjang rimpang 5,26 – 10,40 dan 12,33 – 12,60 cm, warna daun hijau muda, batang hijau kemerahan dengan kadar minyak atsiri 2,58 – 3,90%. Balittro telah melepas varietas unggul jahe putih besar&lt;br /&gt;(Cimanggu-1) dengan potensi produksi 17 - 37 ton/ha. Sedangkan calon varietas unggul jahe putih kecil dan jahe merah rata-rata potensi produksinya masing-masing untuk jahe putih kecil adalah 16 ton/ha dengan kadar minyak atsiri 1,7 – 3,8%, kadar oleoresin 2,39 – 8,87%. Sedangkan jahe merah potensi produksinya 22 ton/ha, kadar minyak atsiri 3,2 – 3,6%, kadar oleoresin 5,86 – 6,36%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEMBENIHAN TANAMAN JAHE&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benih yang digunakan harus jelas asal usulnya, sehat dan tidak tercampur dengan varietas lain. Benih yang sehat harus berasal dari pertanaman yang sehat, tidak terserang penyakit. Beberapa penyakit penting pada tanaman jahe yang umum dijumpai, terutama jahe putih besar, adalah layu bakteri (Ralstonia solanacearum), layu fusarium (Fusarium oxysporum), layu rizoktonia (Rhizoctonia solani), nematode (Rhodopolus similis) dan lalat rimpang (Mimergralla coeruleifrons, Eumerus figurans) serta kutu perisai (Aspidiella hartii). Rimpang yang telah terinfeksi penyakit tidak dapat digunakan sebagai benih karena akan menjadi sumber penularan penyakit di lapangan. Pemilihan benih harus dilakukan sejak pertanaman masih di lapangan. Apabila terdapat tanaman yang terserang penyakit atau tercampur dengan jenis lain, maka tanaman yang terserang penyakit dan tanaman jenis lain harus dicabut dan dijauhkan dari areal pertanaman. Pemilihan (penyortiran) selanjutnya dilakukan setelah panen, yaitu di gudang penyimpanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemeriksaan dilakukan untuk membuang benih yang terinfeksi hama dan penyakit atau membuang benih dari jenis lain. Rimpang yang akan digunakan untuk benih harus sudah tua&lt;br /&gt;minimal berumur 10 bulan. Ciri-ciri rimpang tua antara lain kandungan serat tinggi dan kasar, kulit licin dan keras tidak mudah mengelupas, warna kulit mengkilat menampakkan tanda bernas. Rimpang yang terpilih untuk dijadikan benih, sebaiknya mempunyai 2 - 3 bakal mata tunas yang baik dengan bobot sekitar 25- 60 g untuk jahe putih besar, 20 - 40 g untuk jahe putih kecil dan jahe merah. Kebutuhan benih per ha untuk jahe merah dan jahe emprit 1 – 1,5 ton, sedangkan jahe putih besar yang dipanen tua membutuhkan benih 2 - 3 ton/ha dan 5 ton/ha untuk jahe putih besar yang dipanen muda. Bagian rimpang yang terbaik dijadikan benih adalah rimpang pada ruas kedua dan ketiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum ditanam rimpang benih ditunaskan terlebih dahulu dengan cara menyemaikan yaitu, menghamparkan rimpang di atas jerami/alang-alang tipis, di tempat yang teduh atau di dalam gudang penyimpanan dan tidak ditumpuk. Untuk itu biasa digunakan wadah atau rak-rak terbuat dari bambu atau kayu sebagai alas. Selama penyemaian dilakukan penyiraman setiap hari sesuai kebutuhan, untuk menjaga kelembaban rimpang. Benih rimpang bertunas dengan tinggi tunas yang seragam 1 - 2 cm, siap ditanam di lapangan dan dapat beradaptasi langsung, juga tidak mudah rusak. Rimpang yang sudah bertunas tersebut kemudian diseleksi dan dipotong menurut ukuran. Untuk mencegah infeksi bakteri, dilakukan perendaman didalam larutan antibiotik dengan dosis anjuran. Kemudian dikering anginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BUDIDAYA TANAMAN JAHE&lt;br /&gt;Untuk mencapai hasil yang optimal didalam budidaya jahe putih besar, jahe putih kecil maupun jahe merah, selain menggunakan varietas unggul yang jelas asal usulnya perlu diperhatikan juga cara budidayanya.&lt;br /&gt;A.Persiapan lahan tanaman jahe&lt;br /&gt;Sebelum tanam dilakukan pengolahan tanah. Tanah
